9 - Ajakan Bercinta

627 Kata
Berangkat dari apartemen mewah sang atasan saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi bersama dengan mengendarai mobil sport mahal dari Davae Hernandez menuju ke kantor pria itu. Mereka berdua hanya membutuhkan 30 menit untuk menempuh jarak. Tidak ada hambatan berarti terjadi, misalkan saja kemacetan yang panjang. New York cukup bisa diajaknya bersahabat pagi ini. Alena tentu berharap hingga nanti malam, kendaraan tidak padat di jalan. "Bagaimana menurutmu, Miss Alena?" Alena segera mengalihkan pandangan dari julangan gedung besar dan berarsitektur modern, berlantai hampir dua puluhan yang baru saja dimasuki oleh kendaraan mewah kemudikan sang atasan. Ia pun menebak bahwa mereka akan menuju ke basement guna memarkirkan mobil sport Davae. Sebagai tanggapan atas pertanyaan diajukan oleh pria itu yang sudah mampu dimengerti maksudnya, kepala dianggukan dengan mantap. "Penilaianku?" "Aku semakin yakin kau adalah pria tampan dengan kekayaan yang melimpah. Dan, kau juga menjadi pewaris tunggal dari perusahaan ini bukan?" tanya Alena dengan gaya bicara santai, tak ada beban. "Hahaha. Terima kasih atas pujianmu, Miss Alena. Kau memuji tidak berlebihan. Sesuai dengan fakta. Itu mengapa aku semakin suka kepadamu saja." Alena tertawa, walau terkesan sedikit dipaksakan agar terluncur cukup kencang. Masih dipusatkannya tatapan pada sosok Davae Hernandez. Saat tertawa, pria itu tambah menawan. Hatinya dibuat bergetar. "Kau semakin menyukaiku? Padahal, kita belum kenal lama. Baru satu hari. Tapi, kau sudah dapat menunjukkan ketertarikan semakin besar kepadaku. Dan, aku takut jika kurang dari satu bulan kau akan bisa jatuh cinta padaku. Wow, aku pasti kaget." Davae berupaya menahan diri cukup keras agar tak mengeluarkan tawa segera. Bagaimana pun, harus tetap berkonsentrasi penuh dan fokus sebab tengah memarkirkan mobilnya. Ia tidak ingin sampai salah.  Dan, setelah menemukan posisi yang tepat, dengan cepat mesin kendaraan mewahnya dimatikan. Lalu, ia menolehkan kepalanya ke samping, yakni pada sosok Alena. Senyuman lebar masih mengembang. Tidak berapa lama kemudian, gelakan pun lolos. Reaksi yang ditunjukkannya tentu mendapat rasa heran dari Alena, tampak nyata pada ekspresi serta tatapan wanita itu memandangnya. Namun, tetap saja memikat. Ia harus mampu dalam mengontrol diri untuk menyecap bibir ranum merah Alena. "Mr. Davae…," Mendengar panggilan dari wanita itu yang begitu lembut, maka Davae berupaya dengan cepat untuk meredam tawanya. Berhasil dilakukan hanya dalam waktu beberapa detik saja. Lalu, kepala terangguk sembari melebarkan senyuman pada Alena. "Ada apa, Miss Alena?" konfirmasinya dalam nada suara yang dibuat seksi, walau teralun berat. "Katakan saja barang-barang ingin kau mau, akan aku belikan nanti sore, setelah selesai bekerja." Alena pun meloloskan kekehannya seraya kedua tangan ditempatkan di masing-masing pipi Davae. Ia merasa gemas saja dengan ekspresi dan tentu juga cara pria itu dalam berkata. Senang sudah pasti mendapatkan tawaran yang demikian. "Kau memang yang terbaik, Mr. Davae. Tapi, aku tidak ingin membeli apa-apa. Terima kasih," jawab Alena dengan suara lembut. Tetap diberi olehnya penekanan agar lebih memperjelas makna. "Kenapa tidak, Sayang? Apakah kau berpikir jika aku membelikanmu barang-barang, aku akan minta kau malam ini juga tidur denganmu? Tidak begitu." Alena mengencangkan tawanya sembari kepala digeleng-gelengkan. "Aku sama sekali tidak punya kesimpulan seperti yang baru kau sampaikan." "Aku memang sedang tidak ingin membeli apa pun. Jika nanti aku mau berbelanja, aku akan gunakan uangku yang sudah kau berikan sebagai bayaran. Aku tidak akan menagih padamu, Mr. Davae." Alena memerlihatkan lebih lebar lagi senyuman menggodanya. "Lagipula, aku pasti tidur bersama kau, Bos. Sesuai kesepakatan di antara kita." "Sekalipun kau tidak membelanjaku barang-barang mewah. Aku masih ingin bercinta denganmu. Aku semakin menginginkan kau saja, Mr. Davae." Davae segera menangkap tangan kanan Alena yang bergerak di atas kemejanya. Seringaian pun ditampakkan. "Jadi, apakah kita perlu memajukan waktu kita untuk bercinta? Misalkan malam ini." Kemudian, dipegang tangan Alena. Diberikannya genggaman yang kuat saat mengangkat menuju ke wajah. Kecupan lembut beberapa kali dilakukan pada telapak tangan Alena yang begitu halus. Ia tak menghentikan kontak matanya dan wanita itu. "Aku juga sangat menginginkanmu bersamaku bercinta yang panas. Pasti akan menyenangkan dan panas, Sayang." Davae melancarkan kalimat godaan guna meyakinkan ajakan ke Alena. Wajahnya lantas didekatkan. "Aku sudah siapkan permainan yang dahsyat untuk kita berdua."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN