..............................
"Kau pasti gagal memperoleh proyek besar jika kegiatanmu hanya memandangiku."
Davae memperlebar senyuman, ketika Alena menatap balik dirinya. "Tidak akan gagal."
"Aku mempunyai dirimu. Kau pasti memberi hasil terbaik dalam membantuku. Aku telah membayarmu mahal. Ingatlah Miss Alena. Kau harus menolongku," imbuhnya santai.
Hari ini akan menjadi momen pertamanya dan Alena berbagi ruangan kerja. Benar, ia sudah mengangkat resmi wanita itu menjadi sekretaris pribadinya. Mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama kurang lebih delapan jam setiap hari selama satu minggu.
Ditambah pula dengan menetap dalam satu apartemen, maka ia dan Alena berinteraksi setiap saat. Sangat rasional jika rasa tertarik dan hasratnya melihat wanita itu semakin menjadi-jadi. Tidak mampu dikendalikan.
Alena terus saja menggoda. Wanita itu selalu memiliki pesona tersendiri untuknya. Kedua mata bahkan enggan dipalingkan dari sosok Alena. Perhatian selalu ditujukannya kepada wanita itu. Sungguh, tak bisa dialihkan.
"Aku juga yakin akan berhasil membantu kau menangani proyek ini. Kau bisa tenang. Aku pasti bekerja dengan kemampuan yang paling baik. Kau tidak usah meragukan."
Davae mengangguk semangat. Menunjukkan bahwa ia menyetujui ucapan Alena. Tawa juga diloloskan sembari melangkah menuju ke arah meja kerja. Tempat di mana, Alena sedang berada. Ia ingin memberi pelukan hangat kepada wanita itu. Membayangkan saja sudah membuat hasratnya muncul.
"Aku harus berhasil. Selain akan membuat Dad bangga. Perusahaan juga bisa untung besar. Yang paling aku tunggu adalah bisa tidur denganmu. Aku sudah tidak sabar bercinta bersamamu," balas Davae santai.
Ia hanya ingin mengatakan terus terang apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan, tak bisa disembunyikan. Dirinya bukan orang yang munafik. Lebih baik mengatakan jujur di hadapan Alena agar wanita itu tahu.
Davae sangat mengakui jika ia tetap pria yang mempunyai hasrat setiap saat dan harus disalurkan sesegera mungkin. Alena merupakan wanita yang sangat ingin ia ajak menghabiskan malam panas dan b*******h.
"Kau tidak akan menanggapi keluhanku ini, Miss Alena?" Davae Fanderz memancing kembali. Ingin segera tahu jawaban Alena.
"Keluhanmu? Aku harus bagaimana? Kita sudah mempunyai kesepakatan. Bukankah kita harus menjalankan? Jika tujuan kau berkeluh untuk bernegoisasi. Tidak bisa."
Davae terkekeh. Kepalanya lantas digeleng-gelengkan. Tak menyangka bahwa Alena dapat mengetahui opsi lain yang ia hendak pilih sebagai solusi. Wanita itu patut mendapatkan julukan sebagai orang cerdas. Disamping juga memiliki kepekaan tinggi.
"Aku belum bisa bercinta denganmu. Tapi, aku akan memberikan sedikit penawaran dan hadiah kecil. Kau mau atau tidak? Kau yang tinggal menentukan, Mr. Davae."
Tawa seketika Davae hentikan. Ia merasakan kaget sekaligus senang akan jawaban Alena. Respons segera ditunjukkan. Anggukan yang semangat dilakukannya beberapa kali dan masih memandang ke arah Alena. Wanita itu telah beranjak bangun, berjalan mendekat.
"Apa hadiah yang kau maksud, Sayang? Bisa kau perlihatkan secara cepat kepadaku?"
Davae kembali dihinggapi perasaan terkejut, saat Alena mengambil posisi duduk di atas pahanya. Sedangkan, kedua tangan wanita itu melingkar erat pada lehernya. Ia menatap semakin lekat wajah cantik Alena yang memancarkan kehangatan nyata.
"Kau sedang menunjukkan bahwa kau itu benar wanita agresif, Sayang?" Davae pun kembali menggoda. Mata kiri dikedipkan. Seringai melebar.
"Kau sangat benar, Sayang. Aku lebih suka untuk memberikan bukti secara langsung daripada hanya kata-kata yang manis. Bukanlah sifatku begitu."
Davae terkekeh, selepas menerima ciuman singkat pada kedua pipi. Jelas saja ia juga senang akan perlakuan manis Alena yang memang sudah ditunggu-tunggunya sejak tadi. Tak hanya rasa bahagia. Debaran jantung juga mengalami peningkatan dalam berdetak. Respons yang tidak bisa dihindari. Sudah sepantasnya ia bahagia akan apa yang didapatkan dari Alena. Semua baru awal. Masih banyak lagi cumbuan-cumbuan panas yang terjadi di antara mereka. Ia cukup meyakini.
"Bagaimana, Mr. Davae? Kau suka?"
Davae mengeraskan tawa. Kepalanya terangguk beberapa kali dengan ringan. "Sangat suka. Ingin yang semakin panas ciuman darimu, Sayang? Kau akan bercinta kapan denganku, Miss Alena?"
Davae meraih tangan kiri Alena. Dilakukan tarikan cepat sehingga wanita itu duduk di sebelahnya. la lalu memeluk dengan posesif. Dilanjutkan memberi kecupan-kecupan ringan di bagian leher. Lembut kulit Alena semakin mampu merangsangnya. Tidak akan yakin sejauh apa bisa mengendalikan diri lagi. Namun, memaksa Alena bukan keinginannya.
"Aku sang menginginkanmu, Miss Alena."