Bab 4

1041 Kata
Samudra memasuki Runag rawat Gwenny ini hari ketiga Gwenny di rawat. di sana dia melihat Gwenny masih menutup mata, dia terlihat sangat lelah sekali. jujur ini sangat pedih sekali rasanya. padahal sebelumnya dia tidak sepeduli ini pada Gwenny, dia juga tidak memiliki rasa apa pun yang membuatnya harus mencemaskan Gwenny. Tapi kenapa saat ini, detik ini dia malah terjebak dengan rasa aneh seperti ini? takut, takut untuk kehilangan Gwenny. "Gwen, Lo dan gue baru menikah. Urusan Lo sama gue belum kelar, sekarang kalau Lo mati, gimana sama kesalahan lo ke Gue? Lo nggak ada niatan gitu? buat menebus semuanya?" Samudra menyimpan wajahnya pada tangan Gwenny. "Terus apa yang harus gue sampaiin sama orang tua Lo?" Samudra benar-benar sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. "Gwenny, kamu kenapa?" tanya Samudra. mereka baru saja bermin sepeda tapi tiba-tiba saja Gwenny berhenti dan mencari kursi yang ada di taman. Sore ini mereka bermain sepeda di area rumah mereka, di sama ada taman yang biasa mereka jadikan tempat bermain. "Aku capek, Sam. aku juga rasain d**a kau sakit banget." "kamu naik sepeda nya gak pelan-pelan kali." "Bisa jadi." Samudra menatap wajah Gwenny. apa rasa sakit yang dulu sering Gwenny rasakan adalah tanda dari sakitnya? Apa selama ini dia yang tidak peka? "Gwen, Sorry. kalau Lo sembuh gue janji nggak bakal bikin Lo kesel. Lo harus sembuh, Plis, Gue nggak mau di salahin sama orang tua Lo karena anggap gue nggak bisa jagain Lo." Gwenny tidak merespon apa pun. hal itu semakin membuat samudra semakin takut. Dia benar-benar takut jika Gwenny tidak lagi bisa membuka mata. ☘️☘️☘️ "Ayah, Gimana ya sekarang kabar Gwenny. gimana nanti kalau Misalnya Samudra tahu sama penyakit Gwenny? apa dia masih bisa terima Gwenny? Gana kalau dia ninggalin Gwenny karena dia nggak mau punya istri yang penyakitan?" "Ibu, jangan bicara begitu. Semuanya akan baik-baik saja. samudra anak yang baik, dulu dia dan Gwenny pernah menjadi sahabat yang baik. Ayah yakin mereka sekarang pasti baik-baik saja. Ayah juga yakin sekarang mereka pasti saling terbuka, menceritakan kesalahan masing-masing, dengan begitu mereka akan kembali berbaikan seperti dulu lagi. Tapi gimana kalau enggak ayah?" Ibu percaya sama ayah. semuanya akan baik-baik saja." Perempuan paruh baya itu hanya bisa terdiam berusaha percaya dengan ucapan sang suami berusaha yakin kalau Samudra tidak mungkin meninggalkan anaknya. Tapi jika seandainya samudera melukai putrinya, maka dia tidak akan tinggal diam, dia akan membalas perbuatan sang menantu. ☘️☘️☘️ Hari ini, Gwenny sudah diperbolehkan pulang setelah hampir sepekan di rawat di rumah sakit. Memeng, Samudra sedikit berbeda semenjak pulang dari rumah sakit, dia jauh lebih perhatian kepada Gwenny. "Lo belum hubungin orang tua gue, Sam" "astaga sumpah demi apapun Gwen, gue lupa. ini kemarin mereka juga sempat nelpon tapi gue nggak sempet angkat duh bisa-bisa mereka bakal mikir yang nggak-nggak ini tentang Lo." Gwenny menghembuskan nafas secara perlahan. Dia paling tahu bagaimana jika ibunya sudah mengkhawatirkan kondisinya ibunya itu tidak akan pernah berhenti untuk terus menekan mencari tahu tentang kondisinya. dulu bunyi sumpah tidak pernah mengangkat teleponnya karena iya merasa malas dan malu dengan teman-temannya karena dianggap anak yang manja. tapi sekarang dia sadar itu semua dilakukan oleh ibunya karena ibunya benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisinya dan ibunya itu tidak ingin terjadi hal buruk kepadanya. Dia hanya takut bagaimana jika ibunya nekat untuk menyusulnya ke sini. "sekarang hubungin Ibu gue bilang kalau gue itu baik-baik aja lu nggak usah bilang apa yang terjadi sama gue selama satu minggu ini gua bilang aja lo sengaja enggak ngangkat telepon ibu gue karena lu pengen senang-senang di sini." "tapi lo yakin nggak mau ngasih tahu mereka-mereka orang tua lo loh. Gue rasa mereka perlu tahu bagaimana kondisi lo sekarang nanti kalau terjadi apa-apa sama itu pasti gue yang bakal disalahin." "enggak lu tenang aja semuanya bakal baik-baik aja kok. kasih tahu mereka tentang kondisi gue sama aja bikin mereka itu khawatir Sam. gue nggak mau Ibu gue itu cemas di sana dan bisa-bisa dia bakal nyusul kesini dan ujung-ujungnya dia tahu tentang kondisi gue. gue juga pengen hidup normal tanpa harus terus dibayangi oleh rasa takut mereka. sekarang lu udah tahu apa yang terjadi sama gue. lo mau ninggalin gue itu nggak jadi masalah buat gue." Samudra tertawa sarkas. mana mungkin, apa yang dikatakan Gwen itu sama sekali tidak benar. justru dia pun diam-diam ikut mengkhawatirkan tentang kondisinya. 'enak aja lu nggak bisa mikir yang macem-macem tentang buku gue ini laki-laki baik nggak mungkin gue ninggalin lo gitu aja Lo pikir gue mau jadi duda? udah terikat pernikahan penting kita itu nggak bisa main main Gwenny." Gwen terdiam beberapa saat. "gue tahu Sam. kita emang sering berbeda pendapat. tapi gimanapun dulu lo pernah jadi sahabat gue. lu pernah nah menjadi teman terbaik gue. gua nggak ngerti gimana awal mulanya ini semua bisa terjadi. tapi perkataanmu yang kemarin itu benar-benar bikin gue sakit hati. lo pikir gue mau ngelanjutin pernikahan ini? enggak Sam. nggak ada satupun seorang perempuan yang mau hidup dengan pernikahan yang seperti ini. pernikahan itu adalah salah satu hal yang sakral, sekali seumur hidup ini gue juga cuma pengen ngertiin hidup gue kok orang yang cinta sama gue. bisa apa orang tua dan orang tua gue maksa kita buat nikah dan kita sama sekali nggak bisa menolak ini semua. dan seharusnya juga nggak pernah bilang hal yang kayak kemarin." Samudra tampak menarik nafas kemudian menghembuskan secara perlahan. "oke untuk berkata inside itu gue bener-bener minta maaf. sumpah demi apapun Gue nggak bermaksud bikin lo sakit hati dan bahkan bikin lu tersinggung. oke gue akuin kemarin itu gue udah kelihatan sekarang ini nebus kesalahan gue itu gue bakal rawat lo sampai Lo benar-benar sembuh. anggap aja kita lagi ngulang masa kecil kita yang waktu itu kita bersahabat. anggap aja kita itu lagi reunian sama masa-masa kecil kita dulu Tapi satu hal yang gue bilang sama lo gue jangan pernah merasa geer atas semua apa yang bakal gue lakuin kalau nanti karena itu semua murni cuma buat bikin lu sembuh." "terserah, Sam. gue nggak mu mikirin yang macem-macem." "janji sama gue harus sembuh. Gue bakal bantuin buat nyari orang yang mau kasih jantungnya buat lo lagi itu meninggal nanti." "emang ada?" "Ada, banyak. mereka yang baik bakal kasih semua organ-organ mereka buat orang yang membutuhkan, biasanya mereka bakal bikin surat itu saat mereka masih hidup." "Oke, Terimakasih, ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN