Bab 16

1876 Kata
"Syaratnya gampang kok, gak cuma gratisan perement doang, Ada hadiah makan burger gratis di sebelaaaahhh! Wuhuuu keren kan, syaratnya itu permen kapasnya buat Om dulu, karena Om mau kasih ke istri Om yang lagi ngidam." Gwenny menggelengkan kepala kemudian tertawa pelan. "Papa kamu pinter, sayang. Bisa merayu anak kecil dia." Gwenny menyentuh perutnya sambil sesekali mengusap pelan perutnya. "Om, ngidam itu apa?" tanya salah satu seorang anak perempuan, kita-kita usianya baru lima tahun. "Nanti kalo gede bakal tau apa itu ngidam, oke? Semuanya ambil burgernya dulu yaaaa!!!" Para anak kecil itu pun langsung berlari menuju penjual Burger yang tak jauh dari penjual permen kapas. "Demi istri yang lagi ngidam, suami harus encer ya mas, otaknya. Kalau telat mikir dikit, suami jadi korban ocehan." Penjual permen kapas terkekeh pelan. "Masalahnya bang bukan gitu sih, ck.." Samudra mendekatkan obrolan di telinga penjual permen kapas. "Saya, di suruh tidur di luar, bang." Penjual perment kapan tertawa sambil menutup mulut. "ancamannya gitu ya, Mas." Kemudian penjual kapas membuatkan permen kapas berkarakter anak panda. "Nih, Mas. Buruan kasih ke istrinya." Tapi, ini jadi kan mas bayarin anak-anak itu?" "Jadi bang , tenang aja." Sumudra mengerluarkan dompet dan membukanya, dia lantas tidak memberikan uang dalam bentuk cash ataupun atm, tapi cek kertas sebesar 100 jt hanya untuk membeli permen kapas saja "Loh, Mas. Ini kertas, masa perment saya di beli pakai kertas? "Ini cek mas, nanti bisa ditukarkan di bank, kalo gak paham bisa hubungi amanjer saya." Samudra membagikan kartu naama reza. "Nih bang, disini ada 100 jt, bisa ditukar" "Se--seratus juta? Ya Allah, Mas. Ini saya gak mimpi? Harga permen kapas sama burger gak sampai segitu loh mas!" Bahkan kebetulan penjual Berger adalah anak dari penjual perment kapas itu. "Ambil aja mas nggak apa apa, kan saya beli.. yaudah itu bayarnya, makasih yaa " bawa 1 permen yang di inginkan gweny. "Gwenny melompat beberapa kali saking girangnya. "Makasiiihhh..." Gwenny mengecup pipi Samudra. "Ihh lucu, permennya. Aku jadi nggak tega makannya." "Samaa samaaa.. gimana enaka gak ? Seharga 100 jt untuk istri yang lagi ngidam gak ada apa apanya" "Kamu kenapa keluarin uang sebanyak itu sih? Kan kamu capek kerjanya." "Kan semuanya demi kamu juga, ngga apa apa dong.. yang penting kamu happy Gwenny menikmati permen seharga 100 juta yang Samudra belikan. "Bentar, tali sepatu aku lepas." Samudra langsung memasanhkan tali sepatu gweny. "Aku aja..." "Gwenny? Kamu Gwenny kan?" Seorang laki-laki mendekati Gwenny, "Sumpah demi apapun aku udah lama banget cari kamu." "Rangga?" Samudra yang mengenali suara ini langsung beranjak berdiri. Betapa terkejutnya Samudra melihat rangga hari ini. Pasang muka tak suka. Tangan gweny selalu di genggam Samudra agar tidak jauh darinya "Lo siapa? Pacar Gwenny?" Senyum samudra mengisyaratkan tidak enak. "Oh. Jadi lu nggak tau siapa gue?" "Udah. nggak usah diladenin." Gwenny menarik tangan Samudra. Mencegah Samudra agar tidak melanjutkan pertengkaran dengan Rangga. "Kapan gue ketemu sama Lo? Gue cuma kenal sama Gwenny. Perempuan yang pernah deket sama gue." "Lo lupa siapa gue?" Samudra Sudah emosi lebih dulu Rangga malah mengabaikan Samudra. Matanya fokus menatap Gwenny. "Apa kabar? Kamu melanjutkan kuliah di mana?" Samudra langsung mencengkram keras baju Rangga. "Sekali lagi lo macam macam, lo berurusan dengan gue, inget itu" "Woles, bro. Lu nggak usah terlalu berlebihan deh. Lu baru kenal sama Gwenny. Gue mah udah dari SMA, ya gak Gwen." kata Rangga dengan sombong. dia bahkan benar-benar tidak bisa mengenali Samudra. Gwenny hanya bergidik jijik, enggan melihat Rangga. Rangga mendorong tubuh Samudra. "Gue udah lama cari dia, dan kebetulan ketemu di sini. Sekalian kita adu kekuatan kita. Kalau Lo kalah, artinya Gwenny pulang sama gue, biar gue yang antar dia pulang!" "Gweny istri gue! Lu gak ada hak untuk itu "Istri?" Rangga tertawa pelan. "Nggak usah ngaco Lo." "Dia emang beneran suami gue, Kak. Gue sama dia udah nikah dua bulan yang lalu. Sekarang malahan gue lagi hamil anak dia." Tapi Rangga benar-benar masih tidak percaya, dia berjalan mendekati Gwenny, berusaha ingin menggapai tangan Gwenny. "Jangan sentuh gweny!" Sanudra membogem kuat pipi Rangga Rangga yang tidak terima lantas membalas pukulan Samudra. Gwenny berusaha menghalangi agar suaminya tidak di pukul. Namun sayang, gerakan Gwenny yang cepat ingin melindungi, malah membuat pukulan Rangga ikut menghantam bahunya. Gwenny sampai terpental, meringis menahan sakit saat bagian perut saat pinggulnya menghantam tanah. Melihat Gwenny yang menjadi korban pukulan Gwenny, lantas emosi Samudra semakin menggebu. di hajarnya Rangga habisa-habisan. Gweny di tolong orang orang sekitar, Sementara Samudra masih menghajar Rangga sampai babak belur. Tidak terima karena sudah menyakiti istrinya. "Lo siapa? Nggak usah belagu Lo! Bacot lah." Beberapa orang akhirnya memilih untuk memisahkan Samudra dan Rangga. "Sudah! Apa masalah kalian, kenapa kamu hajar dia? Kamu nggak liat dia udah gak berdaya?" tanya salah seorang bapak-bapak yang memisahkan mereka "Sudah sudah! Kita bawa ke kantor polisi terdekat saja ini!" Mereka memisahkan Samudra dan Rangga "Pak, jangan. Ini, ini cuma salah paham. Tolong jangan bawa suami saya." "Tapi mbak ini kasian Mbak, bisa bikin ricuh ini." Gwenny yang sempat kena pukul dan terpental masih merasa pusing. Tidak lama setelah itu, Gwenny tak lagi sadarkan diri. Samudra melotot, langsung merangkul tubuh sang istri. "Gwenny!" pandangan Samudra beralih ke Rangga. "Kalau sampai istri gue kenapa-napa, gue bakal bikin perhitungan sama Lo! gue bukan Samudra si cupu yang bisa Lo remehkan lagi!" Samudra lantas berdiri, kemudian membawa Gweny untuk dilarikan ke klinik terdekat. mendengar itu semua, tentu Rangga kaget. dia Samudra? tanya Rangga tak percaya. *** Gweny dilarikan ke klinik terdekat. "Sam..." "Sstt. Sudah, kamu gak usah banyak gerak, kalo masih terasa pusing kita pindah ke rumah sakit." "Perut aku sakit, aku takut dia kenapa-napa." "Sebentar, aku panggil susternya" Samudra keluar mencari suster, meminta untuk pindah ke rumah sakit terdekat "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" "Sus, saya mau surat rujukan pindah ke rumah sakit terdekat , boleh kan sus? Istri saya sedang hamil muda saya takut terjadi suatu hal" "Baik, Pak. Saya akan siapin surat rujukan untuk istri bapak." Suster lantas pergi meninggalkan Samudra. "Sam..." "Kita pindah ke rumah sakit, sekarang. Kamu nggak apa apa kan? Gwenny menyentuh pipi Samudra yang membiru. Luka pukulan dari Ardi baru mulai sembuh, tapi sekarang wajah Samudra kembali lebam-lebam. "Harusnya kamu tadi nggak ladenin dia." "Gimana aku gak ladenin, dia yang bikin aku naik pitam Gwen! Kamu pikir itu gak jadi ancaman buat aku?" "Ancaman apa?" "Jelas--jelas dia mau menghasut kamu, bisa jadi dia bakal rebut kamu dari aku!" "Aku juga belum tentu mau sama dia." Gwenny mencoba untuk duduk. "Aku gak akan tau bagaimana akal busuk dia selanjutnya, tapi aku merasa ada firasat yang gak baik kedepannya." "Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh. Aku selalu bawa p3k di tas. Luka kamu mau aku obatin?" Gwenny masih sempat memikirkan Samudra. Tidak peduli meski sakit di badan dan perutnya Samudra menepis tangan Gwenny yang menyentuh wajahnya "Masih sempet kamu mikirin luka aku, yang kamu pikirin sekarang diri kamu, yang lebih membutuhkan pertolongan itu kamu Gwenny!" "Tapi kamu kena pukul, Sam." "Prioritas utama sekarang itu kamu, jangan hirauin luka aku, besok juga sembuh" *** Gwenny menatap layar 3D yang ada di sampingnya. Di sana dia melihat calon anaknya yang masih begitu kecil. "Untuk janinnya, tidak apa-apa. Tapi tolong ya, jangan sampai jatuh dan terbentur dibagikan pinggul. Ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan keguguran. Yang kamu rasakan tadi dinamakan Kontraksi dini, biasanya ini memang sering terjadi saat awal kehamilan, yakni trimester pertama. Kondisi seperti ini terjadi saat tubuh masih sedang dalam proses penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat adanya kehamilan. Jika kamu merasa perut terasa kencang, jangan khawatir. Jenis kontraksi tersebut disebabkan oleh meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim." kata Dokter Sisil. kebetulan dia mengenal Gwenny karena dia adalah pasien dari Dokter Aretha. "Soal jantung istri saya bagaimana dok? Masih bisa untuk dilanjutkan kehamilannya? Atau ada solusi lain dok. Saya hanya memastikan kalau istri dan anak saya baik baik saja, anak saya tidak akan terjadi apa apa. Sebaiknya dokter cek secara detail lagi." "Untuk kondisi jantung Gwenny, nanti saya akan bicara dengan dokter Aretha. Karena dia dokter pribadi Gwenny. Sebetulnya kondisi ini memang membahayakan bagi Gwenny, apalagi jika nanti kehamilannya semakin membesar akan terjadi peningkatan denyut jantung dan semakin lama jantung akan mengalami kelelahan. Akhirnya pengiriman oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin melalui ari – ari menjadi terganggu dan jumlah oksigen yang diterima janin semakin lama akan berkurang. Ada satu hal yang sangat kita takutkan jika seorang yang memiliki kelainan jantung nekat untuk melanjutkan kehamilannya, dia bisa kehilangan nyawanya saat melahirkan nanti." Samudra terasa seperti tersambar petir di siang bolong, bingung harus melakukan apa setelah ini. Menyelamatkan bayinya atau Gweny, sebab keduanya sangat penting. Samudra takut jika hanya salah satu yang selamat, atau bahkan lebih buruknya lagi, keduanya tidak bisa diselamatkan. "A...apa ada, cara lainnya dokter? Saya ingin yang terbaik untuk keduanya agar bisa selamat dan hidup secara normal." "Kita berdoa saja, semoga nanti ada keajaiban. Saya juga tidak mungkin menyuruh kalian untuk mengangkat janin ini sekarang. Tapi, jika memang kondisi itu sangat membahayakan si ibu. Kita harus memilih yang terbaik, selamatkan ibu atau anak." Gwenny langsung duduk dari pembaringannya. "Enggak, aku nggak mau kalau anak aku harus jadi korban. Sam, aku mohon, nanti selamatkan nyawa dia, jangan peduliin aku. Aku pengen ngelahirin dia." "Ini terlalu bahaya untuk kamu Gwen, kehilangan kamu, aku gak tau harus apa Gwen. Anak bisa kita adobsi," Gwenny menggelengkan kepala. Tidak mau. "Kita lihat dulu kondisi Gwenny. Sam, kita bisa bicara di luar? Biarkan Gwenny istirahat." "Cari solusinya Dok, jangan sampai saya kehilangan keduanya , pasti ada obatnya kan dok? "Begini, Samudra. Saya sengaja membawa kamu keluar dari ruangan karena saya tidak ingin Gwenny mendengar ini. Hal ini akan membuat dia stres, saya tidak ingin hal itu terjadi. Obat yang dikonsumsi oleh Gwenny saat ini adalah obat dengan dosis tinggi, jika Gwenny tetap mengonsumsi obat itu, maka akan terjadi kerusakan pada otak janin. Berkemungkinan anak kamu akan terlahir cacat. Namun jika Gwenny tidak mengonsumsi obatnya, kamu pasti tau kan apa yang terjadi dengan istri kamu?" Menahan air mata yang sudah membendung hampir tumpah ruah ternyata jauh lebih menyakitkan harus mendengar penjelasan dari dokter. Wajah samudra tampak gusar, tidak tau harus berbuat apa. Harus mengikuti saran mana yang dia pilih. Nyawa keduanya sangat berarti. Kalau pun boleh dipindahkan , leboh baik samudra yang menanggung sakit yang diderita gweny. "Tolong dokter, tolong kami dok, pasti ada cara lain, saya bisa menukarnya dengan apapun sekali pun dengan nyawa saya sendiri" Samudra memohon dengan amat sangat tulus. air matanya tak dapat lagi berhenti. Ternyata, Gwenny yang memang merasa penasaran, berhasil mendengar pertanyaan dokter dengan Samudra. Dia keluar dari ruangan seakan tidak mendengar apa pun. "Sam..." "Sam, aku pengen banget pulang. Bisa, kan?" "Nggak, kamu masih butuh perawatan yang lebih intensive lagi, kalau kamu pulang akan bahaya dengan anak kita" "Dokter, kalua di sini saya bakal makin stres, saya baik-baik aja, saya mohon. Izinkan saya pulang." "Saya sarankan untuk mengikuti arahan medis buk, pikirkan lagi seperti apa resikonya , kalau begitu saya permisi keluar ya.. ada beberapa pasien yang masih menunggu" dokter keluar, yang tersisa hanya samudra dan gweny saja di rungan itu Sam, kamu liat aku. Liat aku." Gwenny tersenyum, meyakinkan Samudra bahwa dia baik-baik saja. "Kamu nggak mau kan bikin aku stres, kamu bilang sama aku kalau kamu bakal penuhi apa lun yang aku minta. Sekarang aku cuma mau pulang, istirahat di rumah sama aja." Samudra menangis merintih dihadapan gweny. Ayo, Sam. Pulang... Please...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN