Bab 9

1421 Kata
Gwenny mengusap mendorong tubuh Samudra agar menjauh darinya, pandangannya beralih ke kiri dan kenan, melihat orang-orang yang juga memperhatikannya. Jujur, dia merasa malu dicium di tempat umum seperti ini, sekalipun Samudra sudah berstatus menjadi suaminya tetap saja, dicium tepat di keningnya tadi masih membuatnya merasa malu. Samudra juga heran kenapa tiba-tiba Gwenny menjauh darinya. Apa dia malu? "Ada apa? Kamu kenapa?" "Kamu ngapain nggak izin dulu?" "Kenapa aku harus izin, Gwen? Aku cium istri aku sendiri, apa aku salah bertindak romantis begini? aku cium kening kamu pertanda aku sayang sama kamu. Atau kamu malu diliatin orang?" "Ya, aku paham kok. Aku nggak akan melakukan itu lagi tanpa seizin dari kamu." "Maaf, nggak gitu maksud aku, Sam." "Udah, nggak apa-apa, kok. Kamu mau kemana lagi?" "Boleh nggak beli itu?" "Beli apa?" "Itu." Gwenny menunjuk Balon Helium yang di jual oleh seorang perempuan paruh baya. "Ngapain kamu pengen beli itu?" "Nanti aku kasih tau kamu. Tapi kamu beliin dulu, beli dua ya. Satu buat kamu, satu buat aku." Samudra mengembuskan napas pelan, kemudian menganggukkan kepala, menyetujui permintaan sang istri. "Oke, tunggu di sini." Samudra berlari mendekati penjual balon itu, membeli dua balon berwarna biru dan merah muda. Tidak lama setelah itu dia segera kembali mendekati Gwenny. "Ini buat apa sih?" Gwenny mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Memberikan sehelai kertas pada Samudra dan sebuah pulpen. Kening Samudra berkerut bingung. "Buat apaan, Gwen?" "Kamu tulis semua harapan dan cita-cita kamu di kertas ini. Kali mercaya gak kalau surga ada di atas sana?" Gwenny menatap langit yang tinggi, Samudra mengikuti arah padangan Gwenny. "Waktu kecil aku pernah mikir, kalau kita naik pesawat kita bisa sampai di surga. Tapi ternyata surga itu jauh banget. Setelah naik pesawat kita tetap nggak pernah sampai di surga." Samudra terdiam mendengar perkataan Gwenny. "Anggap aja kita lagi kirim surat ke Tuhan dengan cara kayak gini, kita tulis apa yang kita pengen, nanti suratnya kita ikat di balon ini dan kita terbangin deh." Mendengar itu, Samudra tertawa pelan. Tapi tidak apa, sepertinya ini adalah hal yang lucu dan berkesan. "Oke, kamu mau nulis apa?" "Rahasia doang, nggak boleh lihat. Aku juga gak bakal lihat apa yang kamu tulis." "Oke..." 'Paris, adalah kota sejuta cahaya penuh cinta. Sama halnya seperti sejak aku lahir ke dunia, kedua orang tuaku menganggap aku adalah cahaya yang akan terus memberikan bahagia dan cinta diantara mereka. Mama dan papa selalu berharap agar hidup aku selalu dipenuhi rasa bahagia. Sekarang, aku bisa merasakan bahagia itu, Tuhan. Bersama laki-laki pilihan mereka dan mungkin juga laki-laki pilihan-Mu. Tuhan, bolehkah aku meminta satu hal lagi. Aku jatuh cinta, Tuhan. Aku jatuh cinta pada laki-laki yang sekarang ada di hidupku. Aku tahu, hidupku bisa kapan saja berakhir, Tapi bolehkah aku minta sedikit waktu agar lebih lama lagi? Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama Samudra. Aku ingin menemani dia sampai tua. Aku mohon, tolong berikan aku waktu lebih banyak lagi bersamanya.' Gwenny menggulung kertas yang sudah dia tuliskan. "Gimana? Udah?" tanya Gwenny "Sebentar..." 'Tuhan, jika engkau mampu mengubah takdir seseorang, apakah Kau bisa mengubah takdir Gwenny? Apakah engkau bisa memberinya kesempatan untuk sembuh? Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin dia terus hidup dan bahagia. Seandainya Engkau sudah mempersiapkan segala rencana terbaik untukku, bolehkah engkau memberikannya pada Gwenny? Aku ingin dia bahagia, aku ingin dia terus di sini, menemaniku dan menjadi saksi bahwa aku mencintainya.' "Udah, apa sekarang kita terbangin?" "Ayok!" Gwenny dan samudra berdiri, bersiap untuk menerbangkan balon harapan mereka. "Satu, dua, tiga!" Gwenny dan samudra serentak melepaskan balun Helium itu. Keduanya sama-sama tertawa lepas, bergenggaman tangan dan menatap penuh cinta. Kali ini, tidak ada keraguan, cinta bisa mereka hadirkan dan memastikan akan hidup bahagia. *** Hari sudah mulai larut, Samudra dan Gweny kembali ke Apartment. Gwenny berada dalam gendongan Samudra. Tepatnya Gwenny sudah terlelap di atas punggung Samudra. Setelah sampai di Apartemennya, Samudra membaringkan tubuh Gwenny di atas kasur. Tidak lama setelah itu Gwenny terbangun dan menyadari dirinya sudah berada di dalam kamar. "Sam, kok aku udah sampai di sini? Kamu nggak bangunin aku tadi? Kamu jauh banget gendong aku." "Kamu udah bangun?" Samudra yang sibuk dengan aktivitasnya mencari obat pereda alergi, suhu dingin menjadi musuh dari kecil. Ruam merah akibat alergi yang ditimbulkan lumayan banyak disekujur badan Samudra. Demi sang pujaan hati apa pun dilakukan agar Gwenny bahagia. Maskipun hujan salju melanda kota Paris akan tetap dia jalani. Demi cinta seorang istri yang pernah dia kecewakan. "Kamu ngapain, Sam?" "Dingin juga di luar." Gwennya mendekati Samudra, meraih tangan Samudra yang penuh dengan ruam merah. "Ini kulit kamu kenapa kayak gini? Kamu alergi dingin?" Samudra mengangguk . Sesekali meringis merasakan perih di kulit akibat alergi yang kambuh. "Memang dari kecil nggak bisa terlalu lama di udara dingin, walau pakai mantel sekali pun" Samudra melepas baju hangat yang super tebal. Benar saja, tubuhnya sudah penuh dengan ruam merah dan bentol-bentol dibeberapa bagian. "Aku bawa kok obatnya, tapi lupa dimana." "Sini, aku bantuin carinya." kata Gwenny pelan. Perempuan itu ikut mencari obat yang dimaksud oleh Samudra. "Apa ini obatnya?" Gwenny memperlihatkan obat yang dia temukan. Salep berukuran sedang. "Iya, yang itu, tolong oleskan yang di punggung. Ini harusnya nggak sampai begini." Gwenny mengambil kembali salep yang sempat diberikan pada Samudra. Perlahan tangan Gwenny bergerak pelan mengoleskan salep itu di punggung Samudra. "Maafin aku, ya. Aku udah bikin kamu kayak gini. Kalau seandainya aku nggak minta keluar kamu nggak bakal kayak gini. Besok, kalau seandainya aku kuat, aku bisa sendiri aja. Aku nggak mau kamu kayak gini lagi." Gwenny benar-benar merasa bersalah, seandainya dia tidak berkeinginan untuk pergi ke menara Eiffel, pasti Samudra tidak akan seperti ini. "Bukan salah kamu juga. Karena ini kita yang mau, bukan berarti kamu penyebabnya, hanya alergi biasa satu jam atau dua jam lagi akan normal lagi, jangan terlalu di pikirkan." Samudra beralih duduk sejajar dnegan Gwenny. "Aku yang seharusny berterimakasih ke kamu, aku bukan laki-laki yang baik, atau pun bisa membuat kamu bahagia, hanya ini yang bisa aku lakukan, menara eiffel tempat yang kamu impikan, bukan?" "Gwenny mengangguk pelan. "Iyaa, itu emang bener. Tapi tetap aja, ini salah aku, kan. Coba tadi aku nggak minta keluar, pasti kamu nggak gini, Sam. Ini merah banget, gimana kalau sampai parah?" Samudra yang melihat gweny seperti ini, tertawa kecil. "Nggak apa apa, aku baik baik aja. Kan ini cuma alergi, atau karena aku nggak pakai baju, jadi kamu malu?" "Ihh apaan sih. Pakai lagi bajunya!" Gwenny mendorong tubuh Samudra pelan. Enggan melihat Samudra. "Iya, iya, gitu doang masa marah sih, Sayang." *** "Kamu tau, Jihan? Aku kangen banget sama Gwenny. Ini pertama kali aku sama dia pisah sejauh ini dan belum ketemu dalam waktu yang lama." Jihan yang sedang memilih buah Apel segar hanya tersenyum tipis. Tentu dia juga merasakan hal yang sama. Samudra juga anaknya satu-satunya. Pasti dia sangat merindukan Samudra yang juga jauh di sana. "Sama, Aruni. Aku juga kangen sama mereka. Tapi kita nggak bisa maksa mereka pulang cepat. Menurut aku, kita harus kasih dia ruang dan waktu supaya bisa bersama. Kamu tentunya mau dong mereka saling cinta?" Aruni mengangguk, dia dan Jihan juga sudah bersahabat sejak kecil, makanya sampai saat ini masih seperti mimpi bahwa mereka sudah menjadi besan. Padahal dulu untuk menjodohkan anak mereka hanya candaan semata, tetapi benar adanya, ucapan adalah doa. Anak mereka benar-benar menikah. "Kalau punya anak semata wayang, kalau ditinggal suka ngerasa sepi ternyata." "Bener loh, Run. Duh, nanti kalau misalnya kita punya cucu, suruh dilebihkan deh, biar Samudra dan Gwenny nggak ngerasain kayak kita." Aruni tertawa pelan. Dia tidak tahu apakah anaknya itu bisa melahirkan atau tidak, kondisinya yang sakit membuat Aruni terkadang mencemaskan Gwenny jika suatu saat nanti dia melahirkan seorang anak. Sebab seseorang yang terlahir dengan kelainan jantung bawaan yang parah, akan memiliki resiko tinggi jika dia melahirkan seorang anak. Akibat penyakit jantung dalam kehamilan, akan terjadi peningkatan denyut jantung pada ibu hamil dan semakin lama jantung akan mengalami kelelahan. Arnu takut jika akhirnya pengiriman oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin melalui ari – ari menjadi terganggu dan jumlah oksigen yang diterima janin semakin lama akan berkurang. Itu artinya bukan hanya Gwenny yang akan terancam nyawanya, tetapi juga calon anaknya. Aruni pernah konsultasi ke dokter jantung yang menangani Gwenny, Jika Gwenny melahirkan nanti dia harus membutuhkan penanganan khusus dari dokter kandungan dan juga dokter Jantung. Membayangkan itu saja, rasanya Aruni sudah tidak sanggup. Bagaimana jika nanti Jihan tau kalau Gwenny sakit? Apa dia masih bisa menerima Gwenny? "Kenapa diam, Run?" "Gak apa-apa Jihan. Semoga mereka diberikan keturunan secepatnya. Aku juga nggak sabar kok pengen punya cucu." Jihan mengangguk setuju. Semoga saja Samudra dan Gwenny secepatnya diberikan seorang anak. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN