"Sekarang sudah selesai." Devan melepaskan rangkulan Aluna, "Karena kau akan menjadi nyonya di sini, kau tidak boleh takut pada mereka."
"Apa wajahku terlihat takut?" Aluna berekspresi datar.
"Wajahmu memang tidak terlihat takut, tapi aku tak bisa mengetahui isi hatimu. Setelah kau resmi menjadi Nyonya Wilson, maka kau akan jadi incaran banyak orang. Kau harus terbiasa dengan penculikan, pengejaran, atau percobaan pembunuhan."
"Tidak masalah. Aku sudah biasa menghadapi itu." Aluna jadi ingat, setelah kematian ibunya, ia hidup di jalanan dan sering dikejar-kejar oleh orang yang ingin menjualnya ke pelelangan b***k, karena wajah Aluna yang begitu cantik. Aluna pernah beberapa kali tertangkap dan berhasil kabur. Aluna juga pernah melihat pembunuhan terjadi di depan matanya, Tapi semua itu tak pernah membuatnya trauma.
Aluna selalu bertanya pada dirinya sendiri, jangan-jangan dia seorang psikopat?
"Kita sampai."
Aluna tersadar dari pikirannya saat mendengar perkataan Devan. Mereka berada di depan sebuah ruangan dengan dua pintu berukuran besar. Ada dua orang pria yang berjaga di depannya.
"Tempat apa ini?" tanya Aluna.
"Kamarmu," jawab Devan.
Devan membuka pintu kamar, membiarkan Aluna masuk ke dalam. Aluna tak bisa menyembunyikan ekspresi kagum dan terkejutnya. Kamar itu sangat luas. lima kali lebih luas dari kost yang ia tempati.
Ranjang berukuran king size yang terlihat nyaman, sebuah meja rias dengan alat-alat kecantikan yang lengkap, sebuah sofa single dan sofa panjang dengan meja kecil di antaranya, pajangan-pajangan antik nan elegan, perapian, dan masih banyak lagi.
"Aku sungguh boleh menempati kamar ini?" tanya Aluna.
"Kau belum lihat lebih dalam."
"Hah?"
Devan membawa Aluna memasuki kamar. Ada dua pintu lain di kamar. Pintu sebelah kanan dan pintu sebelah kiri. Devan mengajak Aluna memasuki pintu sebelah kanan.
"Oh, ya ampun ... " Aluna terpesona dengan ruangan yang ada di balik pintu.
Ruangan itu dipenuhi pakaian wanita, mulai dari pakaian kasual, formal, pakaian musim dingin, musim panas, dan pakaian-pakaian bermerk. Terdapat juga meja kaca berukuran besar yang merupakan tempat untuk menaruh perhiasan.
"Aluna, tenanglah. Kau tidak boleh terlihat kampungan di depan orang ini!"Aluna menepuk pipinya sendiri.
"Ka ... Kalau begitu, ayo lihat pintu yang satunya!" Aluna melarikan diri dari siksaan untuk orang miskin.
Pintu sebelah kiri adalah kamar mandi pribadi. Terdapat bathub yang cukup besar, berbagai macam sabun mandi dengan aroma yang berbeda, ruangan yang bersih dan aroma yang menenangkan, kembali membuat jiwa miskin Aluna menjerit.
Kamar mandi yang ada di kost nya dulu begitu kotor. Lantainya berwarna kuning, toiletnya mengeluarkan bau tak sedap, dan airnya berwarna hitam. Aluna juga tak dapat protes, karena harga sewa yang murah. Makanya, Aluna sering mandi di tempat kerjanya.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu, aku akan menunggumu di meja makan," ujar Devan.
"Sejujurnya, aku tidak bernafsu makan." Aluna menatap Devan dengan sedikit tak enak.
"Aku mengerti, kau pasti capek. Istirahatlah hari ini. Besok pagi, kita akan membicarakan banyak hal."
"Ya ... baiklah."
Aluna mengikuti Devan yang berjalan keluar kamar. Sebelum pria itu keluar, Aluna menarik pakaian Devan dengan pelan.
"Terimakasih," ucap Aluna dengan sedikit malu.
"Kenapa berterimakasih?"
"Karena, sudah membawaku kemari."
"Jangan berterimakasih. Ini adalah simbiosis mutualisme."
"Aku tetap tidak mengerti dengan mafia." Aluna mendorong Devan dari kamar. "Selamat malam!"
Aluna menutup pintu kamar. Ia langsung melompat ke ranjang. Aluna bisa merasakan, betapa nyamannya ranjang itu.
"Wah ... Ini benar-benar kamar impianku"
"Ini pasti bernilai ratusan ribu dolar."
Aluna menatap ke arah jendela berukuran besar, yang menampilkan pemandangan langit malam, dipenuhi ratusan bintang, awan, dan rembulan yang bersinar terang.
"Ibu, apa kau bisa melihatku?" Aluna tersenyum geli. "Putrimu jadi orang kaya sekarang."
Namun Aluna tahu, memasuki dunia seperti ini, akan membuat hal yang dihadapinya semakin banyak.
"Ibu tidak perlu khawatir, aku bisa menghadapi semuanya." Aluna menepuk d**a kirinya. "Putrimu ini, kan, hebat!"
Aluna menarik bantal dan memeluknya. la memejamkan matanya, lalu pergi ke dunia mimpi.
----------------
Pagi Hari
"Nyonya, tolong bangun."
"Eum ... limat menit lagi ... " Aluna memeluk bantal lebih erat.
Mery duduk di sisi ranjang dan menepuk lembut pipi Aluna. "Tuanku sudah menunggu. Nyonya harus bersiap untuk sarapan, ayolah!"
"Sebentar lagi ... aduh!"
Aluna langsung duduk saat merasakan sesuatu di pipinya. Ia menatap Mery yang sedang tersenyum setelah mencubit pipinya dengan keras.
"Apakah kau boleh mencubit seorang nyonya seperti itu?" gerutu Aluna.
"Saya juga sering mencubit Tuan." Mery menarik Aluna. "Sekarang, ayo kita bersiap!"
Mery membawa Aluna ke kamar mandi. Air untuk mandi telah disiapkan. Aluna terkejut saat Mery hendak membuka pakaiannya.
"Ehh, apa yang kau lakukan?" Aluna mundur beberapa langkah, sampai punggungnya menyentuh dinding.
"Saya membantu anda melepaskan pakaian."
"Ta ... Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapi!" Mery mendekati Aluna.
"A ... Aku bisa mandi sendiri!"
"Jangan malu. Anda harus terbiasa. Lagipula, kita ini sama-sama perempuan."
Mery menarik Aluna, membuat wanita muda itu terkejut karena kekuatan Mery yang besar.
"Bagaimana bisa seorang wanita tua memiliki kekuatan sebesar ini?"
Setelah dipaksa berkali-kali, Aluna akhirnya mengalah. Kini ia telah telanjang bulat dan masuk ke bak mandi yang berisi air. Mery memasukkan sabun dan wewangian ke dalam sana.
"Harum ..." Aluna menyentuh busa.
"Ini aroma lavender, bisa menenangkan pikiran dan mengurangi stres."
Aluna hanya mengangguk. Mery mulai menggosok tubuh Aluna, mulai dari lengan, sampai kaki. Ia juga memberikan pijatan lembut yang membuat Aluna merasa nyaman.
"Kau sangat berbakat," ujar Aluna.
"Ini adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki pelayan Wilson."
"Jadi, semua pelayan di mansion bisa melakukan ini?"
"Tentu saja." Mery mengambil shower. "Tutup mata, Saya akan membilas rambut anda."
Selesai mandi, ada dua pelayan lain yang telah menunggu di dalam kamar. Mereka membawa dua setelan pakaian yang telah dipilih.
"Anda suka yang mana?" tanya Mery.
"I ... Itu ..."
Aluna tak tahu harus memilih yang mana. Keduanya cantik, elegan, dan terlihat mahal. Namun masalah nya, keduanya adalah gaun.
"Apa tidak ada yang lain selain gaun?" tanya Aluna.
Mery tersenyum. Ia mengambil gaun berwarna putih, lalu mencocokkannya dengan tubuh Aluna.
"Anda akan sangat cantik jika memakainya," ujar Mery.
"Tapi, aku tidak pernah memakai gaun sebelum nya. Aku takut tidak nyaman ..."
"Karena itulah, anda harus membiasakan diri mulai sekarang. Setelah pernikahan, Tuan akan mengajak anda pergi ke pesta, di sana anda harus mengenakan gaun."
"Ya ... baiklah ..."
Mery dan kedua pelayan langsung membantu Aluna memakai gaun. Mereka juga membubuhi wajah Aluna dengan make up tipis dan merapikan rambut Aluna.
"Bagaimana menurut anda, nyonya?"