Bab 6

1021 Kata
"Lepaskan dia," ujar Devan. "Y ... Ya?" Adit kebingungan. "Lepaskan wanita itu." Adit melirik Aluna. "Ta ... Tapi, melihat dari sikapnya, dia adalah seorang pemberontak. Tidak akan menguntungkan bagi anda jika memiliki b***k seperti itu Devan menatap Adit dengan tatapan tajam, yang membuat pria itu langsung berkeringat kuat. "Apa kalian tidak dengar? Cepat lepaskan wanita itu !" ujar Adit. Orang-orang melepaskan Aluna, yang langsung berjalan mendekati Devan. Ia menarik kerah pakaian Devan, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman singkat. Adit terkejut bukan main, Jack memalingkan pandangannya, orang lain tak tahu harus bereaksi apa. Aluna melepaskan ciuman, ia menatap Devan yang terkejut dengan tindakan Aluna. "Aku harap, tindakanmu ini menjawab 'iya' pada pertanyaanku." Aluna merapikan pakaian Devan. la menarik tangan kanan Devan, lalu mengecup punggung tangan itu. "Devan Wilson, aku akan menjadi istrimu." "Kenapa kau melakukan itu?" Aluna menoleh. "Apanya?" Devan sedikit kesal. "Apa kau pura-pura tidak tahu?" "Sejujurnya aku kurang peka." "Tentang kecupan itu ... " "Oh, itu ... " Aluna memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya, "Apa masalahnya?" "Bagaimana bisa seorang wanita mencium laki-laki seperti itu?" "Kau merasa harga dirimu terlukai?" Aluna mendekati Devan. "Kau boleh menciumku duluan sekarang." "Apa?" Devan terkejut saat melihat wajah Aluna sangat dekat. Saat melihat bibir Aluna, ia teringat dengan ciuman tadi. "Aduh!" Aluna memegangi dahinya yang disentil oleh Devan. "Hei, apa yang kau lakukan?" "Kau tidak bisa menggoda seseorang seperti itu." "Siapa yang menggodamu? Bukannya kau merasa harga dirimu terlukai karena dicium duluan oleh wanita? Jadi aku membiarkanmu mencium duluan, agar harga dirimu kembali." "Kenapa kau sangat mudah membiarkan seseorang menciummu?" "Kau, kan, calon suamiku. Memang aneh?" Aluna terdiam sesaat, hingga ia mendapatkan pemikiran aneh." Hei, jangan bilang, itu ciuman pertamamu?" "Kenapa kau berpikiran begitu?" "Karena kau malu-malu." Aluna tertawa kecil, "Aku tidak menyangka ini. Seorang calon pemimpin Wilson belum pernah berciuman sebelumnya!" Devan menghela nafas. "Itu tidak benar. Aku sudah sering berciuman." "Oh, ya? Lalu kenapa kau malu begitu?" "Aku tidak malu, kau yang salah paham." "Ah, masa?" Devan menatap ke luar jendela "Kita sudah sampai." Aluna sontak menoleh ke luar jendela juga. la tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat mansion keluarga Wilson yang begitu elegan dan mewah. Jack membuka pintu. Devan keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya kepada Aluna. "Oh, aku sering melihat ini di film." Aluna menerima tangan Devan, lalu keluar dari mobil. Aluna terkejut saat melihat belasan pria sedang berdiri, membentuk jalan lurus menuju pintu masuk mansion. Mereka semua memiliki aura khas seorang mafia. "Aku juga melihat ini di film!" ujar Aluna. "Ya, tapi ini bukan film. Berhentilah mengoceh." "Hei, aku tidak mengoceh!" Aluna mengikuti Devan yang berjalan duluan. Aluna bisa merasakan, tatapan para pria yang berjejer begitu menusuk padanya. Kebanyakan memandang remeh terhadap Aluna. Orang lain pasti sudah ketakutan karena intimidasi ini. "Tuanku, akhirnya anda pulang." Aluna merasa aneh saat melihat wanita tua dengan wajah penuh kasih sayang menyambut mereka. Apalagi saat wanita itu menggenggam tangan Devan dengan tenang. "Tuanku, apakah wanita cantik di belakang ini, Aluna?" tanya Mery. "Iya." Devan menggenggam tangan Aluna. “Ini Mery, kepala pelayan, sekaligus ibu asuhku." Aluna langsung mengerti. "Halo, aku Aluna Miley, senang bertemu denganmu." "Cantiknya." Mery menyentuh pipi Aluna, Nyonyaku sangat cantik." "Ah ... " Aluna bingung. Bagaimana caranya ia menghadapi Mery? Dirinya sudah terbiasa dengan sikap kasar orang lain. Ini pertama kalinya, ada orang yang bersikap lembut, selain ibunya. Mery menggenggam tangan Aluna "Nyonyaku, tolong jagalah tuanku dengan baik. Dia adalah orang yang penuh kasih sayang," ujar Mery. "Pe ... Penuh kasih sayang?" Aluna melirik Devan yang memalingkan wajahnya. Yang benar saja? Orang yang menculik orang lain untuk bicara disebut penuh kasih sayang? "Tentu saja." Aluna menggenggam balik tangan Mery, "Tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan PENUH KASIH SAYANG." "Terimakasih ... " Mery menangis. Aluna terkejut. "A ... Apa kau baik-baik saja? Kenapa menangis? Apa aku membuat kesalahan?" Devan merangkul Mery. "Mery, bagaimana jika kau istirahat? Kau, kan, baru sembuh." "Saya harus melayani nyonya ... " "Ada pelayan lain yang bisa melayaninya." Devan melirik Jack, "Antar Mery ke kamarnya." "Baik." Jack membawa Mery. Aluna masih bingung. "Hei, apa ibu asuhmu baik-baik saja? Apa aku menyakitinya?" "Dia memang sensitif." "Hufft, syukurlah ... " "Aku akan mengantarmu ke kamar, dan para pelayan membantumu bersiap." "Bersiap untuk apa?" "Makan malam." "Tunggu sebentar." Aluna menarik lengan Devan saat pria itu hendak masuk lebih dulu, "Tas yang aku bawa tadi, apa kau menemukannya? Semua barangku ada di sana." "Aku tidak bisa menemukannya. Kau tidak perlu khawatir, semua kebutuhanmu, termasuk pakaian, uang, dan perhiasan akan dipenuhi di sini." "Oh? Baiklah." Aluna mengikuti Devan memasuki mansion. Sekali lagi, Aluna dibuat terpana dengan isi mansion yang tidak kalah mewah dari luarnya. Ada banyak pajangan antik, lukisan, serta guci yang bernilai jutaan dolar. Jiwa miskin Aluna memberontak! Apa-apaan ketidak adilan yang ia rasakan selama ini? Aluna melirik kesal Devan, karena ia iri dengan kehidupan Devan. "Kau menatapku seakan bisa menembakkan laser dari matamu," ujar Devan. "Aku bisa menembakkan laser kalau aku mau," gerutu Aluna. "Kenapa kau malah marah?" "Karena kau sangat kaya!" "Dan kau sangat miskin?" Aluna kembali menggerutu. "Jangan diperjelas, bodoh." "Sekarang, semua yang ada di tempat ini juga milikmu." Mata Aluna membulat. "Apa? Sungguh? Benarkah itu? Semua ini adalah milikku juga? Kau tidak bohong?" "Rupanya benar informasi yang diberikan Jack. Kau mata duitan." "Memangnya ada, orang yang tidak suka uang?" "Setidaknya, mereka bukan penggemar fanatik uang, seperti dirimu." "Setidaknya, si fatanik ini tidak hobi menculik orang untuk diajak bicara." "Jangan mengungkitnya terus." Para pelayan dan penjaga yang mengikuti dari belakang mendengar semua pembicaraan mereka. Semua orang terkejut, karena ada orang lain yang mampu bicara "kasar" dan "berani" pada tuan mereka. Memang ada beberapa orang yang berani bicara kasar pada Devan, tapi mereka adalah orang-orang berkuasa dan tidak takut mati. Sedangkan posisi Aluna saat ini, masihlah seorang wanita jalanan, belum menjadi nyonya. Bahkan, mantan kekasih Devan yang dulu sangat dicintai oleh Devan, tidak berani bicara kasar padanya. Aluna bisa merasakan pandangan menusuk dari orang-orang di belakang. Ia merangkul bahu Devan, untuk menarik pria itu mendekat. "Hei, kenapa mereka menatapku seperti itu?" bisik Aluna. "Mereka hanya kepo." "Kepo sih kepo, tapi pandangan mereka terlalu menusuk." Devan ke belakang, memberikan tatapan tajam, membuat semua orang langsung menundukkan kepala mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN