Bab 5

1006 Kata
"Kemana mereka membawanya?" tanya Devan. "Ke barat." "Jalankan mobil. Aku sendiri yang akan menyelamatkannya." Begitu membuka mata, Aluna sudah berada di sebuah sel. Ini seperti yang pernah ia lihat di film, saat seorang pemeran masuk penjara. "Dimana ini? Ugh.." Aluna memegangi kepalanya yang masih pusing karena efek obat bius. "Leon, b******n sialan itu. Beraninya dia bermain kotor denganku!" Aluna melirik sekitar. Rupanya, bukan hanya dia yang ada di ruangan itu. Ada tiga orang wanita lain yang nampak cantik namun lusuh. "Hei, kita ada di mana?" tanya Aluna. Mereka tak menjawab. "Permisi, kalian tidak tuli ataupun bisu, kan?" "Untuk apa menjawab pertanyaanmu? Pada akhirnya, kita semua akan berakhir di Neraka," balas salah satunya. "Hah? Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku hanya bertanya di mana ini, karena aku penasaran," balas Aluna. "Ini pelelangan budak." Aluna terkejut. Pelelangan b***k, adalah sebuah tempat ilegal yang dibawahi oleh mafia atau sejenisnya. Tempat itu menjual manusia yang bisa digunakan sebagai b***k. Menjadi b***k, artinya hak atas kehidupanmu tidak menjadi milikmu lagi. Orang yang telah membelimu, adalah orang yang dapat memutuskan kehidupanmu. "Lucunya hidupku, sudah seperti film saja." Aluna menyandarkan punggungnya di dinding ruangan yang dingin. Aluna melirik ke luar sel. Di sana ada sel lain, isinya para laki-laki muda tampan yang siap dijual untuk memuaskan nafsu para wanita kaya yang kesepian atau para pria gay. "Kau begitu santai." Aluna menatap ke arah ketiga wanita. "Ya?" "Orang lain sangat ketakutan pada apa yang akan terjadi dengan mereka. Tapi kau terlihat santai, seakan tidak peduli pada apapun." "Sejujurnya aku tidak takut, tapi juga tidak santai. Aku sudah biasa dengan situasi seperti ini," balas Aluna. Sekarang, Aluna harus menunggu situasi yang tepat untuk melarikan diri. "Hei, para wanita bodoh di sana!" seorang pria yang merupakan pegawai di tempat ini melempar masuk empat buah roti dan sebotol air. Ketiga wanita langsung mengambil roti dan memakannya dengan cepat. Aluna melirik pria yang melempar roti, pria itu tertawa puas saat melihat mereka. "Hei, berani sekali kau menatapku seperti itu?" pria itu kesal dengan tatapan Aluna. "Memang tatapanku bagaimana?" "Kau itu hanya b***k, jangan meninggikan dirimu atau kau akan mati!" pria itu meletakkan ibu jarinya di leher, lalu membuat gerakan seperti pisau yang menyayat leher. "Bodo amat." "Apa katamu?!" "Kau tuli, ya? Kenapa semua orang di tempat ini tuli semua, sih?" "Wanita jalang ini!" "Blebleble!" Pria itu tersulut emosi. Dia langsung membuka sel. Ketiga wanita di sana buru-buru berdiri dan pergi ke pojokan agar tidak terkena masalah. "Berdiri!" "Siapa kau berani menyuruhku berdiri?" Aluna memainkan kuku-kukunya. "Kubilang, cepat berdiri!" pria itu menarik lengan Aluna, sehingga Aluna menatapnya. "Wajahmu cantik, kau pasti ahli menggoda. Apakah sudah banyak orang yang mencicipimu, hahahaha." Aluna tersenyum kecil. "Kenapa? Mau mencobanya?" "Apa?" pria itu terkejut. Aluna meletakkan tangan kanannya di leher, lalu menggerakkannya ke bibir dengan ekspresi menggoda. "Ini service gratis, mau tidak?" Aluna mengedipkan sebelah matanya. Wajah Pria itu menegang. Aluna berdiri, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher pria tersebut. Aluna berbisik dengan nada sensual. "Ayo pergi ke tempat yang sepi." Jack membukakan pintu mobil untuk Devan begitu mereka sampai. "Selamat datang, Tuan Wilson." Adit, pemilik pelelangan b***k menyambut kedatangan Devan. Dia terlihat berkeringat dan kacau, karena kedatangan Devan yang tiba-tiba. "Tidak biasanya anda datang tanpa menghubungi. Apakah ada sesuatu?" tanya Adit dengan nada bergetar. Terakhir kali, saat Devan datang tanpa menghubungi, salah satu petinggi tempat ini membuat masalah dengan Wilson, sehingga Devan mengobrak-abrik pelelangan b***k dan menyebabkan kerugian besar. "Aku ingin melihat b***k yang datang baru-baru ini," ujar Devan. Adit terkejut. Itu aneh, karena Devan tidak pernah tertarik untuk memiliki b***k. Bahkan ada rumor yang mengatakan, setelah putus dari kekasihnya, Devan tidak berselera lagi pada kehidupan percintaan dan seksual. "Apa kau akan diam saja?" "Y.. Ya?" Adit buru-buru menyingkir dari jalan." Saya akan memandu anda!" Aluna dibawa, oleh pria yang diketahuinya bernama Alan, berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi sel. Aluna tidak tahu, apakah dia harus kasihan atau tidak peduli pada orang-orang yang akan dijual. "Hei, Alan. Kau mau kemana? Pelelangan belum dimulai!" "Aku harus melakukan pemeriksaan pada jalang ini sebentar!" Alan menarik Aluna. "Baiklah, tapi jangan lama-lama!" "Aku tahu~" Alan membawa Aluna menuju sebuah ruangan penyimpanan yang berisi barang-barang, seperti tali, borgol, lantai, cambuk, obat perangsang, dan yang lainnya. "Kita tidak punya banyak waktu, jadi akan kulakukan dengan cepat." Alan mendorong Aluna ke dinding, lalu mengapit Aluna dengan tubuh gempalnya. "Tunggu sebentar.." Aluna memeluk Alan, "Tolong pelan-pelan, sudah lama sekali aku tidak melakukannya." "Sudah kubilang, aku akan melakukannya dengan cepat." Alan menarik rambut Aluna, "Kau begitu menggoda.." Saat mereka akan berciuman, Aluna menghantam perut Alan dengan bogemnya. "Uhuk!" Alan memegangi perutnya. "K.. Kau!" Aluna menendang kepala Alan dengan kuat, pria itu terpental ke arah rak, membuat seisi rak terjatuh dan menimpanya. Alan pingsan. Aluna mengambil kunci dari saku Alan untuk membuka pintu, lalu keluar dari ruang penyimpanan. "Hei!" Aluna melihat seorang pegawai yang memergokinya. Aluna berlari ke arah pegawai, menghajarnya hingga pingsan. Namun hal itu membuat keributan, sehingga para pegawai dan penjaga datang. "Siapa wanita itu?" "Sepertinya b***k yang kabur!" "Cepat, tangkap dia!" "Kenapa tidak ada habisnya, sih?' Aluna menghajar satu persatu orang yang mendatanginya. Hingga Aluna sadar, kalau ia akan mencapai batasnya. Kalau ia tidak pergi sekarang, dirinya tidak akan bisa melarikan diri selamanya. Aluna melihat sebuah pintu di ujung lorong. la menarik nafas, lalu berlari dengan cepat, menghindari orang-orang yang berusaha menerjangnya. Saat Aluna berhasil membuka pintu, orang-orang itu juga berhasil menangkapnya. "Sialan, lepaskan aku!" Aluna memberontak. "Keributan macam apa ini?" Aluna menoleh ke depannya. Rupanya Adit ada di sana, bersama Devan yang menatap Aluna dengan wajah datar. "b***k ini berusaha kabur." "Hanya karena seorang b***k, kalian sampai membuat keributan begitu? Dan lagi, dia hanya seorang wanita!" Adit berteriak. "Maafkan kami, bos!" "sel!" "Sudahlah. Masukkan kembali wanita itu ke dalam" "Baik!" Aluna menatap Devan yang hanya diam. Pandangan Devan kepada Aluna, seakan sedang menilai sesuatu. Devan sedang memperhatikan, apa yang akan Aluna lakukan selanjutnya. "Apa tawaranmu tadi masih berlaku?!" Aluna berteriak kuat. "Apa yang wanita ini bicarakan? Cepat masukkan dia ke dalam sel!" Adit menatap kearah Devan, "Tuan Wilson. Saya minta maaf atas keributan ini. Padahal anda sudah jauh-jauh datang.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN