Part 19 - Janji untuk Menikah

1904 Kata

Asila membuka matanya. Tubuhnya yang terasa lunglai itu tak mampu untuk banyak bergerak. Hendra yang menunggu di samping anaknya itu, seketika berwajah binar. Asila telah sadar. Meski dengan kondisi yang belum stabil.“Pa ... pa.” “Iya, Sayang. Asila ingin apa biar papa belikan?” “Mbak Nirmala mana?” Pertanyaan Asila sontak membuat Hendra dalam kepiluan. Pertanyaan pertama yang ditanyakan putrinya saat membuka mata. Hendra hanya tersenyum, mencoba mencari alasan untuk mengalihkan pikiran anaknya itu. “Oh iya, Asila mau dibelikan boneka teddy bear yang besar?” Asila menggelang. Dia lalu membuang wajahnya. Tak mau memandang Hendra lagi. Dalam hatinya Asila hanya ingin bertemu dengan Nirmala. Bukan hadiah atau makanan yang lezat yang selalu dimintanya. “Asila cepat sembuh ya, supaya kita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN