Nirmala membuka matanya. Dia yang tidur dengan berselimut tebal itu pun segera dibuka dan melipatnya. Matanya menatap di jam dinding yang ada tertempel di dinding, menunjukkan pukul lima pagi. Nirmala segera membangunkan tubuhnya. Kemudian melangkah ke kamar mandi. Tak lama Nirma terbiasa dengan aktivitasnya seperti biasa. Membangunkan Asila dan segera memandikannya. Asila yang terbiasa dengan sentuhan mesra itu pun semakin terlihat sangat bahagia. “Ma, aku sayang banget sama mama.” “Mama juga sayang sama Asila, jadi anak yang pintar ya, gak boleh nakal-nakal.” “Mama jangan tinggalkan aku, ya.” “Mama tidak akan meninggalkan kamu, sayang.” “Janji ya, Ma. Asila ingin punya mama sampai Asila mati.” “Ssstt... jangan bilang begitu.” Keduanya pun seling berpelukan dengan sangat hangat.

