Lambat laun Meli bersikap semakin menjauhi dari Rafi. Apa yang dilihatnya tentang sebuah goresan nama di atas kerta sputih itu, membuat Meli seakan sangat tak menyukainya. Dirinya yang hanya bisa menerka tanpa bisa menanyakan. Sedangkan Rafi dalam benaknya selalu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Meli. Tak ada lagi makanan yang dibuatkan Meli untuknya. Jangankan makanan, senyum sapa pun terasa sangat jauh untuk dihadirkan. “Kamu kenapa Mel?” “Gak apa-apa.” “Sikapmu akhir-akhir ini padaku sangatlah aneh. Bisakah kamu bercerita padaku?” “Jangan tanya itu lagi Rafi, justru kamu yang aneh.” “Kenapa denganku?” “Kamu lebih suka melamun, bahkan kemari saja kamu sama sekali tak menghiraukan kata-kataku.” “Kapan aku melamun?” “Siapa Nirmala?” Pertanyaan yang diajukan

