Part 16 - Vas Bunga

1883 Kata

Asila berdiri dengan wajah manisnya. Dia yang merasa penasaran dengan wanita yang berada di foto yang kini tengah ditanyakan pada papanya itu. Namun Hendra masih menatap putri kecilnya dengan senyum kasih.“Pa, kenapa diam? Ini foto mama Asila ya, Pa?” tanya Asila lagi. “Bukan, Sayang. Itu foto Oma waktu masih muda.” “Oma cantik ya, Pa.” “Iya.” Hendra menutupi sebuah kebenaran yang tak ingin diketahui anaknya. Kepergian sang mama dengan sengaja itu membuat Hendra seakan tak ingin mengenalkan Rosma pada Asila. “Pa, Ayo kita main.” Hendra tak pernah bisa menolak ajakan sang putri. Meski lelah tubuhnya, semua yang diinginkan sang putri harus terwujudkan. *** Hari pernikahan Nuna semakin dekat. Namun sampai detik ini dirinya belum juga mendapatkan informasi tentang keberadaan N

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN