Bolehkah kalau aku memohon agar kau benar-benar nyata sebagai jawaban dari doaku dipertambahan usiaku ini? Entah kenapa aku mulai berharap lebih padamu.
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Tak terasa tinggal satu bulan lagi Jenna dan Nasima akan resmi mendapatkan gelar akademik yang sudah mereka usahakan dengan kerja keras dan penuh perjuangan. Selain itu ada satu hal lagi yang menggembirakan karena besok Jenna Himeka Saba akan genap berusia dua puluh dua tahun. Itu artinya setelah pameran tunggalnya digelar untuk pertama kalinya beberapa bulan lagi, dia harus segera menghadapi pembicaraan serius soal posisinya di perusahan keluarga Murakami Saba.
Semuanya sekarang sudah semakin jelas, bahwa orang tuanya bermaksud ingin memberikan kedua buah hati mereka kesempatan untuk melebarkan sayap agar bisa segera mengambil alih perusahaan keluarga secepatnya. Jenna sempat berpikir untuk langsung melanjutkan kuliahnya sampai tingkat doktoral. Tadinya itu sekalian dijadikan sebagai alasan untuk memperpanjang masa penangguhan perjanjian nikah muda yang harus dia lakukan, tapi setelah kejadian beberapa waktu lalu dan kesempatan yang diberikan oleh kenalan kurator dari kakaknya, Yumna. Pada akhirnya malah membuat Jenna kembali berdiplomasi dengan kepala keluarga Saba dan pilihannya hanyalah Indonesia atau Amerika. Karena sebenarnya kedua perusahaan ini cukup sulit untuk ditentukan mana perusahaan utama dan cabangnya jika dilihat dari sejarahnya.
Perusahaan Murakami yang bergerak di bidang alat berat sebenarnya pada awalnya berpusat di Kanada, tapi kakek Jenna ingin memboyong kembali keluarganya ke tempat kelahiran istrinya di Indonesia. Jadilah kantor pusat perusahaan Murakami Enterprise Corp. saat itu hendak dipindahkan ke Indonesia, sedangkan perusahaan Saba yang bergerak di bidang konstruksi memang dari awal adalah perusahaan keluarga dari papi Jenna yang terletak di Amerika. Saat itu papi Jenna bermaksud menyunting mami Machiko dan berniat menggabungkan kedua perusahaan saat tahu mereka sama-sama anak tunggal. Pada akhirnya kedua perusahaan keluarga ini dimerger dan jadilah Murakami Saba Corp. yang terletak di Amerika dan Indonesia. Awalnya papi ingin mendirikan perusahaan di Singapura saja agar aksesnya lebih mudah, tapi rupanya salah satu syarat menikahi Mami Machiko adalah mendirikan perusahaan Murakami Saba Corp. di Indonesia atau lamaran ditolak. Begitulah pada akhirnya, kedua perusahaan ini sama-sama penting entah itu di Amerika atau Indonesia. Kalau soal keberadaan keluarga Wilfred di Kanada, itu karena properti keluarga Murakami masih ada di sana dan ternyata Yumna lebih nyaman tinggal di Kanada daripada di Amerika, jadilah setiap libur panjang atau akhir pekan mereka akan menghabiskan waktu di Kanada.
Kembali lagi pada keputusan Jenna untuk mengambil alih salah satu perusahaan keluarga. Dengan logika pembenaran yang tepat, papi Barend mengatakan jika dia tak boleh membuat saudaranya yang lain terpaksa bolak-balik ke Oxford saat semua orang harus serius dengan bisnis keluarga masing-masing. Soal Alice bisa mereka cari jalan keluarnya karena sudah menjadi tanggung jawab mereka yang memang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Jenna seketika kembali tersadar dengan pengorbanan ketiga kakak mereka yang rela bolak-balik Oxford dan sekitaran Inggris Raya karena sudah mulai terjun dalam bisnis keluarga masing-masing. Tak heran jika mereka memiliki jet pribadi yang sudah dipersiapkan untuk mereka sendiri karena sudah sepakat untuk masih bertahan di Oxford hanya demi menemani Jenna dan Nasima, tapi satu bulan lagi sudah tak ada alasan untuk sering kembali ke Oxford kecuali mengunjungi Alice sesekali. Papi Yodha bilang jika Jenna sangat ingin melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat doktoral maka dia bisa melanjutkan kuliah di Amerika sambil mengambil alih perusahaan keluarga Murakami Saba yang juga ada di sana dan tak harus tinggal di Kanada seperti kakaknya. Toh di Amerika juga mereka memiliki beberapa properti karena memang para saudara sepupu papi Jenna masih banyak yang tinggal di sana. Jika Jenna mengambil alih perusahaan di Amerika maka Wilfred sekeluarga bisa kembali ke tanah air untuk mengurus perusahaan di sini dan menggantikan sang Papi sepenuhnya. Pilihan yang manapun tetap mmenyenangkan bagi keluarga kecil Wilfred karena Yumna juga bisa kembali dekat dengan keluarga besarnya yang ada di Indonesia.
Jenna bimbang dengan keputusan yang sudah pasti menentukan masa depannya. Setidaknya topik ini membuatnya sedikit melupakan tentang Alister Abimara, meskipun tak pernah efektif karena saat malam tiba ia sering kali seperti mendengar suara khas pria itu seolah dia sangat dekat dengannya dan jika Jenna akhirnya terbangun, nyatanya seperti tak pernah ada sedikit pun jejak Alister di sekitarnya, “Pada akhirnya emang gue harus mendukung Aa biar gak stres sendirian mikirin perusahaan sebesar ini. Kalau dilihat lagi emang kasian juga sih lihat Aa kudu bolak-balik New York sama Indonesia setelah Papi pensiun total karena Mami juga udah gak sabar main sama ketiga cucunya tiap hari. Lagian kalau masih ngotot tinggal di sini lebih lama lagi kayaknya gue yang udah gak sanggup karena negara ini rasanya mulai bikin gue sesak dengan semua mimpi tentang Alister dan pengalaman paling ngeri soal Nonik-nonik waktu itu yang masih belum jelas siapa orangnya. Gue ke Amerika aja kali, ya? Ntar di Indonesia ketemu sama om Danu sekeluarga, ‘kan gue masih males aja gitu berurusan sama mereka lagi,” putus Jenna pada akhirnya.
Dia segera mengirimkan surel pada papi dan kakaknya jika dia sudah mantap memilih mulai belajar mengambil alih perusahaan di Amerika setelah pameran tunggalnya di London selesai diadakan dalam beberapa bulan ke depan. Jenna juga mulai menyusun kembali jadwalnya untuk mempersiapkan dan membiasakan diri dari sekarang, sekaligus membuktikan kalau dia mampu meneruskan bisnis keluarga tanpa harus mengandalkan keberadaan seorang pria sebagai pasangannya, “Ini bukan perkara bisa atau gak seperti alasan yang selalu gue pakai untuk menyangkal hal-hal yang gak gue inginkan soalnya males mengerjakan sesuatu setengah hati. Kayak Aa dan saudara-saudara gue yang lain bilang kapan hari, ini soal mau atau kagak gue mengembangkan diri. Toh kalau gak dicoba juga mana gue bisa tahu bakalan enjoy atau stres beneran, bakal bisa atau kagak jadi Boss Lady. Lagian ini pilihan yang lebih bagus daripada terperangkap di sini dengan semua kenangan yang bikin gue nyeri,” monolog Jenna sambil menerawang ke luar jendela apartemennya.
“Huft, tapi gue masih yakin sebulan lalu tuh beneran Alister deh. Gue bisa rasain sentuhannya, napasnya, tatapan matanya. Gak mungkin kalau ini cuma imajinasi gue aja,” gumam Jenna lagi-lagi. Dia sudah tak doyan lagi menonton drama dari negeri mana pun setelah melihat sosok Alister Abimara yang lebih menggoda alam bawah sadarnya dan menjual akun gamenya pada salah seorang rekan satu timnya. Tadinya sih dia tak berniat menjual, tapi si teman bilang jika Jenna tak ingin bermain lagi maka pasti banyak yang menginginkan akunnya. Toh bukan soal uang di sini, melainkan ketenangan banyak orang. Timnya tak akan kekurangan anggota, Jenna tak harus merasa bersalah dengan anggota yang lain, dan si pemilik akun yang baru lebih leluasa karena tak akan khawatir saat memainkan karakter milik Jenna. Gadis ini bahkan tak menyadari jika sejak kemarin para saudaranya sedang merencanakan pesta kejutan untuknya, alasanya karena mereka akan meninggalkan Oxford setelah hari kelulusan duo bungsu beberapa bulan lagi, makanya beberapa hari ke depan mereka sengaja ingin menghabiskan waktu bersama di Alice seperti biasa. Tempat itu sekarang sudah semakin ramai. Jadi, mereka tidak bisa terlalu lama menghabiskan waktu bersama di sana sebab pasti akan terasa tak nyaman untuk mereka atau pun para pelángaan.
Sebuah notifikasi surel muncul di ponsel canggihnya. Aa kesayangannya menanyakan soal persiapan pindahannya ke Amerika dan tentang pameran tunggalnya yang Jenna jawab dengan tanggapan detail jika semuanya sudah mulai ia persiapkan dan tinggal menunggu eksekusinya saja. Setelah itu dia baru akan memutuskan jadi mendaftar untuk program doktoralnya atau entah bagaimana rencana ke depannya.
Jenna bermaksud untuk mandi sebelum hari semakin sore. Tak butuh waktu lama karena dia tak terbiasa menghabiskan banyak waktu untuk ritual mandinya. Ia sudah berdiri di walk-in closet untuk berganti baju saat mendapatkan telepon dari kurator yang akan bertanggung jawab untuk pameran tunggalnya. Mereka harus mendiskusikan tentang beberapa hal sementara Jenna menyelesaikan beberapa lukisan lagi yang sekarang masih ada di studio karena beberapa lukisan yang sudah jadi sudah diangkut ke galeri di London untuk mengamankan karya seni tersebut. Jenna jadi semakin semangat karena ini kesempatan emas untuknya. Dia bisa sekaligus merealisasikan keinginannya untuk mengadakan pameran tunggal sebelum benar-benar terjun ke dalam dunia bisnis. Rasanya dia memiliki semangat berlebih saat mengingat Tuhan sangat sayang padanya karena selalu memberinya kesempatan untuk mewujudkan impiannya di saat tak terduga seperti sekarang. Padahal dia tadinya sudah hampir melupakan keinginannya yang satu ini setelah mengalami hal-hal buruk belakangan ini.
Jenna selesai memakai sepatu kitten heels yang manis untuk menyempurnakan penampilannya. Rok terusan selutut berwarna pastel yang tampak sederhana, tapi modis dengan tas kecil yang hanya muat untuk ponsel dan dompet khusus kartu-kartunya menemani perjalanan Jenna ke studio miliknya. Dia pergi terburu-buru tanpa mengabari siapa pun, bahkan security di lobi mengira Jenna pergi untuk mencari makan malam dan sekedar berbelanja untuk mengisi kebutuhan kulkasnya seperti biasa karena para saudaranya baru kembali ke Oxford esok hari dan itu pun entah jam berapa. Dia rupanya terlalu bersemangat sampai menurunkan kewaspadaannya. Toh ada seorang pengawal yang dia tahu akan menjaganya diam-diam seperti biasa meskipun Mister Stanley tahu dia sedang mengarah ke studionya.
Sesampainya di studio, dia berniat menelepon kurator kenalannya. Saat ia sedang menyalakan lampu-lampu di studionya mendadak dia merasakan ada angin yang menyelinap masuk dari pintu utama, “Dih, dingin banget, apa tadi gue lupa nutup pintunya habis nyuruh Lizbeth buat nyari makan malam sementara gue ngelarin lukisan gue? Kok perasaan gue jadi gak enak gini, sih. Mana di bawah ternyata pada gak ada yang latihan lagi,” gumam Jenna sambil meletakkan kembali ponselnya di samping tasnya di atas meja pantry.
Sekelebat Jenna melihat sosok yang bergerak cepat. Dia mulai merinding saat membayangkan itu adalah makhluk horor atau mungkin saja orang yang berniat jahat. Kenapa juga dia tadi tidak memakai jeans seperti biasanya, tapi pembicaraan penting tak bisa menoleransi kostum yang salah, pikirnya lagi.
Dia mengamati pintu yang memang tak tertutup sempurna. Setelah memastikan pintu studionya tertutup rapat, ia kembali masuk untuk mengambil ponselnya. Baru juga tangannya terulur ke arah meja, tiba-tiba dia merasakan seseorang atau sesuatu sudah berdiri di belakangnya. Jenna ingin berbalik, tapi pergerakannya langsung dikunci dan dia segera dibuat tertelungkup di atas meja serba guna di dekat pantry, “Si-siapa kamu?! Lepas!!” berontaknya. Jenna tak bisa menoleh karena kepalanya sudah ditahan dan ditekan agar tak bergerak sesenti pun dari atas meja saat kedua tangannya dibuat tertahan di tengkuknya, lalu ia merasakan benda dingin di kedua pergelangan tangannya ‘A-pa ini borgol?!’ Jenna panik saat memikirkan dia mungkin akan disekap. Ketika ia masih memikirkan cara untuk menyelamatkan diri, kedua kakinya tiba-tiba dipaksa terbuka lebar.
Ia kembali melawan dan ingin membalikkan tubuh, tapi seseorang di belakangnya serta merta menindihnya sambil terus memaksa kakinya terus terbuka lebar. Sudah jelas kalau ini adalah tubuh seorang pria. Otak Jenna mutlak tak bisa bekerja normal saat merasakan jemari dingin yang menggerayangi pahanya bergantian. Jenna semakin ketakutan saat menyadari apa yang sedang terjadi sekarang. Dia terkesiap seketika saat bagian bawahnya ditangkup serta merta dari belakang, lalu dengan gerakan konstan jemari itu menggoda area sensitifnya di bawah sana, tepat di atas permukaan celana dalamnya. Jenna menjerit antara ngeri, takut, bercampur hasrat yang terlecut dengan cara yang paling tak senonoh, “Aargh! Stop! Sssh- stoop, ple-ase stoo-opp,” Jenna tergagap, semakin terisak saat selembar kain di bawah sana terasa dikoyak paksa. Dia shock karena dilecehkan seperti ini, ‘Ya Tuhan, tolong hambamu. Al! Alister tolong aku,’ ratap Jenna dalam hati, dia terus menyebut nama Tuhan dan Alister bergantian di sela isakannya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat saat merasakan sesuatu yang terasa asing mulai menjalari tubuhnya ketika sesuatu mendesak bagian intinya secara perlahan. Jenna semakin menggigil ketakutan saat merasakan bagaimana sentuhan antar permukaan kulit di bawah sana membuat kewanitaannya terasa semakin basah semenjak bagian tubuhnya di bawah sana diberikan rangsangan bertubi-tubi. Jenna mulai kuwalahan, lututnya bergetar seiring rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan sisa kekuatan dalam keputusasaannya ia mencoba meneriakkan satu nama dengan bibir bergetar dan napas tersengal, “Al-lister Abimaaa- aaarrghhh!” Ia menjerit histeris saat merasakan ada sesuatu yang mencoba menerobos tubuhnya di bawah sana. Jenna lemas, lalu pandangannya menjadi gelap seketika.