Ada Apa dengan Jenna?

2364 Kata
Kalau ada reparasi seluruh isi kepala, aku mau jadi orang pertama yang cobain. Masa iya aku mengalami puber yang terlambat? Mana ini buat kedua kalinya pula. Bah!  [Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]   Jenna terbangun di ranjang nyamannya. Dia seperti habis bermimpi panjang, perasaannya sangat tak nyaman. Dia memutuskan untuk naik ke unit Farahdiba dan membicarakan hal-hal yang mengganggu tidur nyenyaknya selama beberapa hari belakangan ini. Dia kira karena pesta kejutan ulang tahunnya yang membuatnya kelelahan sampai ia sangat suka tidur lebih dari delapan jam. "So, akhirnya adeknya Kakak yang paling bungsu mau ngomongin hal penting yang udah bikin dia gundah gulana juga, nih?" goda Farahdiba. "Yeah, short of pengakuan dosa, maybe?" kata Jenna tak yakin di sela cengirannya. "Udah sampai tahap apa, tuh?"  "Kali ini udah tahap maniac, Kak, tapi belum sampai savage sih. Ahahaha," canda Jenna menjawab pertanyaan Farahdiba, walaupun ekspresinya berkata lain. Farah berjalan ke arah Jenna sambil membawa nampan berisi seember es krim strawberry ditambah potongan mixberries segar favorit mereka, "Oke, Kakak udah siap dengerin. Mau cerita dari mana dulu?"  "Dari awalnya dong, biar alurnya gak bikin Kakak sesat," jawab Jenna santai sambil mencelupkan sendok ke dalam ember es krim dan dibalas Farah dengan sentilan di dahi Jenna karena sudah berani mengoloknya sesat.  "Jadi, gini, Kak. Inget gak waktu gue jatoh dari sofa setelah kejadian duo makhluk lucknut itu?" "Hmm, yang lo sampai salto, kayang, roll belakang itu?" Farah membalas perkataan Jenna dengan sedikit lawakan agar Jenna sedikit melupakan rasa gugupnya. "Buset! Udah segala senam lantai Kakak sebutin sesuai cabang PON," ujar Jenna sambil memasang ekspresi kaget yang dibuat-buat, "Nah, waktu itu ‘kan gue sempet jatoh pas tidur siang. Di sini, nih!" Jenna melanjutkan ceritanya sambil menjejakkan kaki ke sofa yang dia duduki. “Itu lo mimpi apaan emang? Berantem jilid dua sama duo lucknut?" Farah meletakkan sendoknya dan mulai fokus mendengar cerita Jenna. "Ish, bukanlah! Gue kasih tahu, tapi Kakak dilarang heboh dan biarin gue kelarin ceritanya dulu karena sesi Question and Answer hanya ada di akhir, deal?" tanya Jenna mencoba mengulur waktu. "Iye, buruan dong ceritanya, Jejen!" sergah Farah tidak sabar. "Gue mimpiin cowok, Kak!" Jenna menjawab singkat yang direspon dengan ekspresi terkejut oleh Farah. "Seinget gue ‘kan gue ketiduran di sini ditemeni Nanas tuh, tapi eh tapi di mimpi gue setting-nya di kamar gue dong, Kak! Waktu itu, tuh cowok lagi berdiri di depan jendela kamar gue, ‘kan. Sayangnya gue gak bisa ngelihat wajahnya dengan jelas karena posisi dia membelakangi gue, tapi silhouette dia yang uwow itu rasanya real banget terpampang nyata. Belum lagi aura maskulinnya, ditambah efek cahaya surgawi yang terpancar dari jendela di sela-sela tirai putih yang gak tertutup sempurna. Epic bangetlah pokonya mah! Udah mirip scene film tanpa efek CGI tahu, Kak?! Jantung gue aja sampai berdegup kencang bahkan sampai gue kebangun karena jatoh! Gila gak tuh?! Padahal baru dikasih teaser doang, belum preview." Jenna mengawali ceritanya dengan menggebu-gebu. Tanpa sadar es krim di sendoknya sudah meleleh sempurna dan hampir menetes di atas sofa. Farah yang menyadari hal itu segera mengingatkan Jenna, "uwow sih uwow, Jenno, tapi tuh es krim jangan sampai netes di sofa juga kali! Bisa nyuci sofa, mau duduk dimana kita ntar?!"   "Eh, iya. Mon maap, gue merasa dejávu pas ceritain dia. Ngomong-ngomong soal dejávu nih, Kak. Gue lanjut lagi ya, itu cowok akhirnya bisa gue lihat wajah adonisnya, bentuk tubuh sempurnanya, bahkan suara serak yang ehem itu. Semuanya deh, penyebab gue pengen berkembang biak dalam sekedip mata." Jenna kembali menceritakan sosok Alister Abimara kepada Farah dengan sangat detail agar Farah bisa membayangkan dengan jelas bagaimana dan apa saja yang Jenna rasakan. Termasuk setiap adegan yang terasa seperti mimpi untuknya tanpa terlewat satu pun. "Jadi, gitu toh ceritanya," komentar Farah mulai paham. "Benar sekali. Hebat banget 'kan tuh orang?!" Jenna masih merespon dengan semangat. "Hebat, Jenn. Emang hebat sih soalnya sampai bisa bikin seorang Jenno Himeka Saba susah bedain mana nyata, mana maya," respon datar Farah bagaikan sengatan yang membuat Jenna sadar dan hampir menangis. "Gue kelihatan hopeless and lifeless banget ya, Kak? Semacam no life gitu istilah gamers-nya." Nada suara Jenna menyiratkan rasa putus asa. Farah menatap dengan perasaan iba. Adik kecilnya harus mengalami hal-hal menyakitkan sampai membuatnya harus membentengi diri dan perasaannya, "Ughh, Adek kesayangan Kakak. Needs hug, Dear?"  "I need a boy, Kak." Jenna mencebikkan bibir dengan mata berkaca-kaca. "Tuh kan! Jadinya malah pengen nampol, tapi udah terlanjur sayang banget gue sama lo. Pengen gue hiiih! Cekik juga, nih!" Farah mengekspresikan rasa kesal sekaligus gemas karena Jenna selalu mencoba menutupi perasaannya yang sesungguhnya. "Kalau Kak Diba sampai tega nampol bonus cekik ntar Kakak nyesel loh, gak punya tim hore yang dukung Kakak sama Bang Rai," canda Jenna, tak ingin Farah ikut larut dalam perasaan bersalah atau apa pun namanya. "Yee dasar, tapi Kakak sih akan berdoa buat si Bungsu Jejen biar siapa tuh? Ali?"  "Alister Abimara, Kak!" Jenna tak terima nama indah Alister yang notabene bule blasteran surga disebut dengan nama penuh kearifan lokal oleh Farahdiba. "Iya, iya. Babang Alister Abimara yang rupawan tiada tandingan. Semoga aja di dunia ini beneran ada good boy bernama Alister Abimara yang berjodoh dengan Jenna Himeka Saba biar Adeknya Kakak yang bohay ini gak sedih-sedih lagi, gak sesat lagi, jauh dari galau dan halu akut." Farah berbicara dengan nada lembut, tapi perkataannya mirip luka dituang sari jeruk purut. "Idih! Kak Diba mah ujung-ujungnya ngehina lagi, 'kan?!" protes Jenna, "Mmm, Seandainya, nih. Kalau ya, kalau aja beneran dia tiba-tiba nongol kayak di mimpi Jejen gimana, Kak?" tanya Jenna  "Maksudnya nongol tiba-tiba di kamar lo gitu?!" pekik Farah tak habis pikir. "I-iya. Terus adegannya sama persis kayak cerita Jejen tadi gitu ...."  "Siap-siap aja tuh si Alister jadi sasaran duel si Tamtam, pria sok cool dengan jiwa kebapakan yang barbarnya ngalahin Hulk," sambar Farah tidak membiarkan adik bungsunya berpikiran ngawur. "Lhah! 'Kan kakak udah tahu ceritanya? Masa kagak belain kami, sih?" todong Jenna. “Yah, itu 'kan mimpi! Kagak bisa disamain dong. Lagian ya, Jenno. Bukan hal yang berlebihan kalau kami sampai bereaksi kayak gitu. Bagaimana pun lo ‘kan adek bungsu kami. Terus tiba-tiba ada cowok di kamar lo, lagi lihatin lo tidur. Ya wajar aja kalau kami pengen ngehajar dia, lah! Dikira reka adegan sleeping beauty apa?!" geram Farah dengan analisa Jenna yang semakin asal. “Ya, iya, sih. Masuk akal alibinya. Eh, tapi 'kaaan—" "Tapi 'kan udah waktunya lo bangun dan siap-siap buat kelarin lukisan-lukisan lo. Kakak juga mau pergi sebentar," sela Farah agar Jenna berhenti mengatakan hal-hal yang aneh. "Mau pacaran, ya?!" Jenna menyipitkan mata sambil melirik tengil ke arah Farah. "Kagak! mau cari Alister buat dikenalin ke Nanas!" geram Farah  "Yang Anda lakuin ke aku itu jahad banget, dah! Kakak nih sejenis bawang merah, ya?!" rajuk Jenna dengan nada memelas yang dibuat-buat. "Kakak milih bawang bombay aja biar ada manis-manisnya walaupun seuprit." Farah menggoda Jenna habis-habisan lalu segera melesat pergi ke arah pintu dan meninggalkan Jennna sendirian di unit miliknya. "Dasar kakak super tega! Eh, tapi berhasil juga sih cara dia bikin gue gak sedih lagi. Kira-kira Alister itu ada gak sih di dunia nyata? Sifat dia sama kayak di mimpi gue gak, ya? Apa namanya juga sama? Astagaa! Gue haus belaian pria blasteran surga!" teriak Jenna frustasi sendiri.   ✧✧✧   Sementara di unit milik Mauza, "Tam! Lo udah nemuin sosok cewek yang tabrakan sama Jenna kapan hari?" "Belum, Nyonya," jawab Mauza santai. "Belum? Kok tumben lama banget?" geram Farah. "Belum jelas maksudnya. Apa lo mau lihat? Kali aja bisa bantuin gue memecahkan misteri ini." "Boleh deh, gue penasaran banget sama malam misterius itu." Mauza sengaja memasang layar proyektor di ruang tengah unit miliknya, agar dia dan Farah bisa melihat lebih detail setiap adegan yang terekam melalui CCTV di sekitar apartemen milik mereka. Mulai dari pintu depan lobi apartemen sampai sudut terluar pintu playground. Belum lewat sepuluh menit mereka fokus memerhatikan adegan saat Jenna terlihat mulai muncul dari persimpangan arah mini market 24 jam di dekat area apartemen mereka, tiba-tiba bel unit Adhitama Mauza berbunyi nyaring lengkap dengan suara falsetto seorang gadis melalui intercom. "Abaaang, ada di dalem kagak? Bukain pintunya doooong," teriak Jenna melalui intercom. "Tam, Jenna tuh! Lo matiin gih proyektornya. Ntar dia ketakutan kayak kemaren lagi, bisa habis kita!" Farah dibuat panik dengan kedatangan Jenna yang mendadak. Di tengah keterkejutan mereka, Mauza yang panik malah terlonjak dan memencet tombol untuk membuka pintu unit miliknya. Sedangkan Farah yang berniat mematikan proyektor malah menekan tombol untuk memutar adegan Jenna yang baru saja tertangkap kamera pengintai sedang berjalan mendekati taman bermain. "Lah, Kak Diba! Pada ngapain hayo? Lama banget sih, loh! I-itu kaaan—" Jenna tergagap menyaksikan tampilan di layar proyektor.  "Jen, lo duduk dulu deh. Kita bisa jelasin," ajak Farah menuntun Jenna untuk duduk di sofa yang terletak tak jauh dari tempat Jenna berada. "Kakak sama Abang lagi ngapain? Kok ada Jenna di situ? Terus CCTV itu dari mana? Kok bisa ada sama Abang?" cecar Jenna pada mereka berdua. Mauza menghela napas sebelum berkata, "Biar gue yang jelasin. Sebenernya gue lagi selidikin kejadian waktu itu, Jen. Karena lo gak biasanya ketakutan sampai segitunya. Dibanding reaksi lo saat kejadian sama si cecunguk satu itu kemaren atau bahkan saat lo sama Nasima lagi jaman bangor-bangornya kalian dulu yang selalu bikin kami semua puter otak menyelamatkan dua Adek yang bandelnya nyamain gue sebagai Abang paling muda di keluarga kita. Kalian gak pernah menunjukkan rasa takut berlebihan padahal kalian tahu, kadang kalianlah yang keterlaluan," ungkap Mauza dengan alasan logisnya. "Oo—key, jadi ini CCTV udah lama ada sama Abang?" tukas Jenna. "Lumayan, tapi gue belum bisa fokus cek satu per satu karena lo tahu sendiri tugas akhir sama Alice lebih utama buat gue, tapiii bukan berarti lo gak penting ya, Jen. Yah, lo tau ‘kan maksud gue." Jenna mengangguk-angguk tanda paham, "Berarti belum ada kesimpulannya nih?" Farah membantu Mauza untuk meluruskan keadaan, "Kita belum nemuin titik terangnya, Jen. Gue baru aja mau ikutan cek rekaman-rekaman itu. Kalau gak nemu juga kita mau coba cari rekaman dari sekitar area ini juga, itu pun kalau dapet sih. Karena yang jelas pilihan bertanya ke Mr. Stanley secara langsung adalah pilihan terakhir karena itu artinya sama aja kayak kita kasih laporan sama orang-orang rumah," terang Farah lagi. "Karena ini menyangkut gue juga. Gue boleh ikutan lihat ‘kan, Kak? Bang?" pinta Jenna. "Asal lo gak memaksakan diri sih it's okay, tapi kalau lo ngerasa gak nyaman jangan lo tahan. Lo percaya sama kami berdua, 'kan?" sahut Farah memastikan. “Banget! Yah, tapi apa pun itu yang bakal kita temuin nanti, boleh gak kalau ini jadi rahasia kita bertiga aja?" tanya Jenna. "Kenapa yang lain gak boleh tahu?" Mauza heran mendengar pertanyaan Jenna. “Selain malu, gue juga gak mau yang lain kepikiran, Bang. Apalagi nih, kalau sampe orang tua kita tahu. Gue gak mau bikin keadaan makin rumit cuma karena hal sepele gini," alasan Jenna mencoba meyakinkan keduanya. "Oke, Kakak janji. Cukup kita bertiga aja yang tahu soal kejadian sesungguhnya malem itu." Farah menyetujui ide Jenna. "Iya, bukan berarti gue gak sayang sama yang lain loh, Kak." "Iya, Kakak paham. So, boleh kita mulai lagi?" tanya Farah pada Jenna dan Mauza. Setelah Jenna memberi persetujuan, mereka bertiga akhirnya kembali fokus dengan kumpulan file rekaman yang mulai mereka teliti satu per satu tanpa melewatkan satu adegan sedetik pun. "Bang, gak ada rekaman di dalem playground juga? Wajahnya tuh gak nampak jelas karena rambut panjang dia ngehalangin kalau dilihat dari sudut-sudut ini. Tuh, dia dari awal emang nunduk terus gitu. Siapa yang gak ngeri coba?" Jenna seketika kembali begidik ngeri. "Coba kita cek rekaman yang lain ya," ajak Mauza. Sudah beberapa jam, mereka habiskan untuk mengamati rekaman CCTV yang tak sedikit jumlahnya, tetapi dari beberapa sudut yang terekam tetap saja wajah dari seseorang yang bertabrakan dengan Jenna tidak tampak cukup jelas. Terlebih saat seharusnya kamera pengintai yang merekam wajah wanita itu dari sudut paling strategis saat mereka terjatuh, malah wajah wanita itu terhalang payung hitam milik Jenna yang terlepas saat mereka bertabrakan. "Astagaa! Frustasi gue. Kenapa kagak ada yang jelas, sih?!" geram Jenna frustasi. "Tenang, Jen. Yah, emang kudu sabar gini kalau mau cari tahu lewat CCTV," ujar Mauza. "Setidaknya ada satu hal yang udah bisa kita pastikan. Itu cewek emang orang, Jen. Bukan syaiton." "Ih, Kak Diba. Lihat nih, gue langsung merinding pas kakak nyebut ‘itu’. Apalagi setelah pantengin itu CCTV, dejávu tahu gak?" sewot Jenna. "Yah, ‘kan gue cuma kasih tahu aja, Dek. Biar lo gak perlu merasa takut lagi tanpa alesan yang tidak jelas," balas Farahdiba. "By the way, gue kesian sih lihat tuh Nonik. Udah kehujanan malah pakai lo tabrak pula, Jen. Sampai kejengkang gitu coba. Udah gitu hampir lo injek tangannya. Sadeeess!" Mauza malah melontarkan kalimat lelucon di saat tidak tepat. “Abang aja yang gue injek kakinya, mau tak?! Mumpung Jenna butuh pemanasan sebelum olahraga nih!" kesal Jenna sambil melotot ke arah Mauza. “Bisa melebar jadi kerak telor ntar kaki gue. Lo ‘kan kecil gini tenaga dahsyat juga, Jen." Mauza pura-pura bergidik ngeri. “Mulai lagi dah ini bocah berdua. Cara lo buat hibur orang tuh kadang terlalu anti mainstream, Tamara! Heran ya gue, kayak gini juga masih banyak aja yang ngerubungin," heran Farah sambil melempar cushion ke arah Mauza. Mauza menangkap cushion sambil berkelakar, "Karena mereka tahu sepupu lo ini pria berkualitas, Lanaya."  "Songong, Lo! Hajar aja, Jen. Jangan sampai lolos. Geli banget gue denger kalimat cheesy-nya si Tamara!" hardik Farah melihat kelakuan saudara sepupunya. "Woiya jelas, Bund. Abang jangan protes ya! Gue cuma nurutin perkataan salah satu bunda gue doang, Bang. Gue ‘kan anak baik yang penurut. Sini, Bang. Gue massage kakinya biar gak pegel!" goda Jenna sambil mencoba menginjak kaki Mauza. "Lo aja yang sini! Mau gue lipet kayak tiker?!" gertak Mauza. ✧✧✧ Sore hari itu Mauza dan Farah membuat Jenna sejenak melupakan pikiran liarnya tentang Alister. Tanpa mereka sadari di tempat lain yang tidak jauh dari area apartemen mereka, “Selamat sore, Miss. Bisakah saya menerima pesanan Anda?" "Yes. Tolong bantu saya untuk mendapatkan apa yang ada di daftar ini—?" "Sure. Silakan tunggu sebentar. Saya akan menyiapkan semuanya secepat mungkin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN