Saat ini aku sedang berada di ambang kenyataan dan kehaluan. Apakah aku harus percaya sebuah kebetulan ataukah ini yang disebut the law of attractions?
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Kembali ke unit Adhitama Mauza Aryasatya,
"Ampun Baaang, udah! Lepas, ketek lo bau banget sih! Heran gue, ketek busuk gini bisa-bisanya cewek pada bejejer kayak antri duit jamsos." Rambut Jenna sudah mencuat berantakan dari ikat rambut warna hitam kesukaannya, masih menutup hidung sembari berusaha melepaskan diri dari jurus kuncian Mauza dengan tambahan efek semerbak ala pria dewasa.
"Bilang dulu yang lengkap, 'Ampun Bang Mauza yang rupawan tiada tara, Jejen gak bakalan berani nantangin Abang yang paling keren sedunia lagi', kalau gak bilang persis kayak gitu jangan harap gue mau lepasin!" gertak Mauza semakin gemas mengunci pergerakan Jenna.
"Diiih, itu namanya pembohongan publik, Bang! Masih cakep juga Al ke mana-mana daripada Bang Mauza," ejek Jenna masih belum puas membuat Mauza kesal.
“Siapa lagi tuh? Cowok halu dari mana? Emangnya lo kira anak ayam kayak lo bisa ngalahin babe bison kayak gue?! Hah!" Pergulatan itu diakhiri dengan jeweran Farah di telinga Mauza dan ditutup dengan suara yang membawa aroma busuk dari Mauza.
"Gelo si Tamtam, ih. Beraninya lo kentutin gue!" Satu bantal sofa berwarna hitam yang dilempar Farah mendarat tepat di tengkuk Mauza.
"Sadis lo, Lanaya! Cuma perkara kentut yang gak seberapa doang lo malah tega melakukan tindakan Kekerasan Di Rumah Tetangga," protes Mauza mirip bocah kalah berantem.
"Dih, yang bener aja lo, Babe Bison! Kekerasan tuh elo yang udah melakukan tindakan percobaan menghilangkan nyawa seseorang! Lo gak lihat itu keadaan si Jenno, muka dia udah biru lo ketekin. Malah ditambah ekstra bau dari dua sumber gitu! Lo makan apaan, sih?! Baunya astoge!" Farah membuat ekspresi mual yang dilebih-lebihkan.
"Gue tadi 'kan baru kelar olahraga sebelum lo pade ngajakin gue nonton adegan kekerasan Princess Jejen yang nyaris mematahkan tangan Nonik-Nonik tak berdosa di malam hujan, dingin, dan sepi," cerocos Mauza tak merasa berdosa sama sekali.
"Mandi sono! Emang cocok dah julukin diri sendiri kayak babe bison. Udah pas sama bentukan tubuh dan aromanya," cecar Jenna. Boleh saja ia kalah dalam hal self defense dibandingkan Mauza, tapi tidak akan pernah mengalah dalam hal adu mulut pedas dengan siapa pun.
"Okay, gue sadar gue lagi bau. Namanya juga orang baru kelar olahraga. Tuh, lo gak perhatiin dumbbell gue aja belum gue masukin lagi ke rak bersama kawan-kawannya yang lain. Soal kentut itu manusiawi lagi Lanaya, Jenjen. Gue ini manusia pemakan segala, belum berencana jadi kuda lumping yang makan kemenyan. Udah deh, pada bubar sono." Mauza pura-pura merajuk sambil mengibas-ngibaskan kaos yang baru saja dilepasnya ke arah Jenna dan Farah.
Farah yang mudah gemas ingin sekali mencubit bibir Mauza, tapi dia mengurungkan niat karena teringat aroma luar biasa dari baju dan ketiak Mauza. "Lo kok ngambekan gitu sih, Tam? Kayak anak gadis yang dipaksa kawin buat nebus hutang orang tuanya aja deh. Lo minta gue puk-puk sambil gue peluk gitu?"
"Ah elah, gue mau mandi ini. Kalian mau nungguin gue keluar dari kamar mandi pake handuk doang gitu? macem model-model cover boy majalah dewasa gitu?" Mauza tertawa tengil akibat imajinasi liarnya.
"Gue mah ogah, Bang! Gue cabut aja, dah. Emang susah ngajak ngomong Babe Bison. By the ways jangan lupa loh tugas Abang menemukan siapa si Nonik-Nonik itu. Gue merasa bersalah udah bikin dia kesedak air hujan malem-malem," titah Jenna sambil melarikan diri dari kejaran Mauza yang tidak terima diperintah oleh adik kecilnya.
"Ngajak gelut mulu dah tuh bocah! Heran gue, punya Adek dua biji aja kagak ada manis-manisnya semua," sungut Mauza beranjak masuk ke arah kamar mandi.
"Yaaah, Si Oon. Lah, gue pan juga adeknya. Gitu tuh kalau kebanyakan bucin soto sama tebar pesona ke cewek-cewek segala rupa. Suka lupa sama sekitar," oceh Farah sambil mengecek isi kulkas Mauza.
"Gue denger, Farahdiba Lanaya Aryasatya! Asal lo tahu, Abang lo ini gak pernah sembarangan maen apalagi ‘main’ sama cewek-cewek random. Lo tahu jelas selera gue macem apa!" teriak Mauza dari dalam kamar mandi.
Farah yang tersadar jika dia sudah ketahuan mengolok abang sepupunya malah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
✧✧✧
Di area pertokoan yang berada di dekat persimpangan studio Jenna,
Jenna berjalan sambil menggerutu sembari membetulkan penampilannya yang terlihat masih berantakan, "Bang Mauza mah emang super tega, beraninya nyiksa adek-adeknya doang. Padahal di depan cewek-cewek yang kelakuannya aneh itu dia bisa sok berubah gentleman banget. Masa dia gak nyadar banyak di antara cewek-cewek itu punya agenda tersembunyi pas deketin dia? Emang susah punya Abang yang selalu bikin khawatir. Salah sendiri otak brilliant, kepribadian bikin melting, muka oke, badan hot, style kece, kartu dominan hitam unlimited, jago balapan. Belum lagi tunggangannya McLaren Senna warna hitam yang aduhai cakep bener dah tuh mobil. Kapan ya, dia bolehin gue pinjem itu mob— aaw!" pekik Jenna saat celotehannya tiba-tiba terhenti, pasalnya ia sempat terhuyung hampir jatuh terjerembab mencium paving block.
"I'm so sorry, Miss. Kau tidak apa-apa? Aku sedang terburu-buru." Seorang perempuan tampak berjalan tergesa setelah keluar dari sebuah toko lalu menabrak Jenna yang malangnya sedang tidak fokus saat berjalan.
"Yeah, I'm good. It's okay, Ini juga salahku karena tidak memerhatikan langkahku. Apakah kau baik-baik saja?" Jenna balik bertanya pada perempuan yang saat ini berdiri tepat di hadapannya. Perempuan yang tampak cukup aneh bagi Jenna karena separuh wajahnya tertutupi oleh model rambut wavy yang panjangnya lima senti meter di bawah bahu, berwarna dark brunette dengan tambahan balayage warna rose gold.
"Yes, absolutely. Ka-lau kau tak keberatan, bisakah aku pergi sekarang? Aku benar-benar harus pergi dan tak boleh terlambat sedikit pun. Sekali lagi maafkan aku, Miss," tutur perempuan itu lagi dengan nada suara terburu-buru.
"Tak masalah, ini juga salahku. Yeah, sure silakan lanjutkan urusanmu." Jenna meyakinkan perempuan itu bahwa dirinya tidak terluka.
Baru beberapa langkah Jenna sontak membalikkan badan. Dia ingin mengejar perempuan tadi, tetapi sudah kehilangan jejaknya. Bahkan perempuan yang bertabrakan dengannya tadi seperti tak pernah ada sebelumnya.
"Tadi sekilas mirip banget deh sama Nonik-Nonik yang tabrakan waktu itu, tapi suaranya agak beda. Eh atau sama, ya? Apa kemaren karena efek suara hujan deras? Ah, sabodo teuinglah. Entar juga ketemu lagi kalau rumah dia deket sini." Jenna pun melenggang pergi melanjutkan perjalanannya ke studio miliknya sekaligus dojo yang terletak di satu gedung namun berbeda lantai dan pintu masuk.
"Jaein, tumben telat datang? Dua jam pula terlambatnya. Gak ketiduran lagi, 'kan?" Hwan yang sudah selesai berlatih dan tampak baru saja keluar dari area ruang ganti menyapa Jenna yang baru memasuki dojo.
"Gak ketiduran dong, Oppa, tapi habis ada misi rahasia sama Bang Mauza dan Kak Diba." Jenna menjawab pertanyaan Hwan sambil meletakkan tas selempangnya di loker.
"Kalau misi rahasia berarti Oppa tidak boleh tahu, ya?" Hwan mulai penasaran.
"Namanya juga rahasia, Oppa. Jadi, cukup sampai sini aja," jawab Jenna diplomatis
"Mau ditemani latihan?" tawar Hwan
"Lhah, ‘kan Oppa barusan kelar mandi. Masa mau cari keringet lagi? Ntar habisin sabun kayak lagi apaan aja, ahahaha," lawakan Jenna membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Seperti chaebol pemilik perusahaan kosmetik maksud kamu?" tebak Hwan asal.
"Bundanya Kak Diba dong yang punya perusahaan nutrisi kesehatan dan kecantikan premium itu."
"Iya, ya. Kok kita jadi bahas Bunda Cleo, ahahaha. Ngomong-ngomong are you alright, Jaein?" Hwan menelaah ekspresi Jenna.
"Yes, I'am. Kenapa Oppa mendadak tanya gitu? Emangnya ada yang aneh sama Jenna?"
"Nope. Yah, a 'lil bit, sih. Belakangan ini kamu seperti banyak pikiran. Ada masalah? Rumit? Boleh aja cerita sama Oppa kalau kamu mau. Butuh advice atau telinga? Oppa selalu siap sedia yang mana pun Jaein butuhkan," cakap Hwan sambil mengacak poni Jenna.
"Sekarang sih yang lagi urgent tuh butuh pasangan, Oppa. Biar hati ini ada yang menempati gitu. Kata orang tempat yang dibiarkan tak bertuan terlalu lama bakal mudah ditempati sama hal lain atau bahkan makhluk lain," tutur Jenna dengan cengiran tengil yang menghiasi wajahnya.
"Superstition sekali kamu, mmm apa tuh bahasa Indonesianya?" tanya Hwan sambil mencoba mengingat pelajaran bahasa Indonesia dadakan dari saudara-saudaranya. Terkadang mereka akan saling memberikan kuliah singkat dengan topik random, tapi selalu bisa dikategorikan sebagai P3K yang bisa menyelamatkan mereka dalam situasi tak terduga. Seperti misalnya segala hal yang berhubungan dengan nyawa, menyelamatkan muka, menjatuhkan lawan dengan cara elegan, dan lain sebagainya. Itu seperti survival kits ala mereka.
"Takhayul?" jawab Jenna sedikit berteriak seraya keluar dari salah satu bilik setelah mengganti bajunya.
"Yes, that one. So, mau cerita sambil latihan?"
“Next time aja deh, Oppa. Kali ini gak separah kejadian kemaren, kok. Lagian Oppa pasti mau istirahat 'kan habis latihan? Oh atau mau lanjut ke rumah sakit, maybe? Jenna sih gak yakin kalau Oppa mau ketemuan sama siapaaa~ gitu buat dating," goda Jenna yang masih penasaran kenapa pria se-perfect Hwan masih belum memiliki kekasih.
Hwan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak habis pikir, "Kok mendadak jadi kesal ya dengerin kamu ngoceh seperti ini? Pantas Mauza selalu gemas banget sama kamu."
"Gemas apaan? Tadi aja Jenna diketekin bonus kentut sama tuh Abang Babe Bison." Jenna menggerutu sambil memutar bola matanya jengah saat mengingat adegan sadis beberapa saat lalu.
Hwan membelalak tak percaya, "What? Kalian habis berdebat soal apalagi kali ini?"
"Apa Oppa tahu soal Nonik yang tabrakan sama Jenna kapan hari itu?" terka Jenna.
"Kejadian sebelum kalian balik ke Indonesia itu?" tebak Hwan
“Yep, malam ngeri-ngeri sedap itu. Kok Oppa tahu sih?" Jenna dibuat kaget karena Hwan juga mengetahui kejadian yang satu itu.
“Jelas tahu dong. 'Kan waktu kalian balik ke Indonesia, kalian pada heboh bahas soal ini selama beberapa hari di grup. Memang ada apa?" Hwan mencoba melanjutkan topik pembahasan
"Oh iya, bener. Jadi, kita tuh mau cari tahu siapa sebenernya si Nonik yang sepertinya cantik itu, tapi masalahnya belum nemu secuil pun titik terang," sahut Jenna.
"Oh, I see. So, kamu sama sekali tidak ingat apa pun soal malam itu? Suaranya? Wajahnya? Postur tubuh atau apa pun yang bisa dijadikan clue gitu? Kalau mengutip quote kesukaan Bang Willy, 'Selalu ada petunjuk dalam setiap kejadian'. Coba fokus deh, Jaein," ujar Hwan.
Jenna menghadapi kesulitan saat menjawab pertanyaan Hwan. 'Gimana cara bilang ke Oppa kalau tadi kami udah sempat cek CCTV di sekitar apartemen? Bang Mauza sama kak Diba 'kan udah pesen jangan kasih tahu siapa pun soal CCTV tambahannya. Lieur euy, tapi pantas dicoba karena Oppa 'kan orangnya teliti dan suka hal-hal berbau riddle,' monolog Jenna dalam hati.
"Mmm~ ada sih, Oppa. Tingginya tuh sekitar 168cm, rambutnya kira-kira sepunggung, kulitnya putih agak pucat, wajahnya gak kelihatan jelas, dan suaranya samar gitu. Entah karena dia nahan sakit atau karena laper makanya lirih banget suara si Nonik itu. Oh, iya. Rambutnya brunette, tapi karena basah kuyup jadi Jenna gak tahu bentuk aslinya." Jenna mencoba menjelaskan tanpa membocorkan tentang rekaman CCTV rahasia.
"Masih kurang detail ya, udah hanya itu aja yang bisa kamu ingat?" interogasi Hwan.
"Iya. Oppa 'kan tahu sendiri Jenna paling parno sama apa, lagian penampakan si Nonik mirip banget sama 'itu', makanya Jenna main hajar aja walaupun kalau dipikir-pikir lagi sih kasian juga dia. Bukannya Jenna tolongin malah tinggalin gitu aja di tengah malam ditambah hujan lebat," ucap Jenna sambil menerawang mengingat kejadian tempo hari.
"Apa ini alasannya kamu kurang fokus akhir-akhir ini? Karena kamu merasa bersalah?" terka Hwan.
"I-iya, ini juga sih."
Hwan mencium gelagat mencurigakan, "Memangnya yakin tidak ada lagi yang lain?"
"Yah, itu. Soal perjanjian sama Papi juga. 'Kan udah makin deket aja deadline tanggal soft launching Jenna. Peluncuran semuanya mulai dari pameran, debut di perusahaannya Papi, sampai calon imam. Bohong banget kalau gak kepikiran. Jenna masih kagok kalau disuruh ngurusin perusahan segede itu, Oppa. Jenna takut gak bisa mengelola dengan baik seperti A Willy atau Papi sama Mami, apalagi dilihat dari sejarahnya. Kalau Jenna mampu gak mungkin juga Jenna bersikeras ambil jurusan design, 'kan?" Kali ini Jenna menutupi dengan alasan yang lebih logis daripada dia harus membocorkan soal kisah Alister Abimara
"Yep, you are right, Jaein. Lebih susah mempertahankan daripada mendapatkan,"—dukung Hwan menyetujui alasan Jenna—"sepertinya kamu memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Kalau gitu Oppa pergi dulu, ya. Sudah makin lapar nih dan harus lanjut cek berkas di hospital." Hwan mengacak gemas poni Jenna lalu dia pun segera pergi meninggalkan dojo.
✧✧✧
Setelah melakukan pemanasan, Jenna segera memulai latihan taekwondo-nya seorang diri. Sudah tiga jam dia berlatih, karena tidak bisa fokus Jenna terus saja melakukan kesalahan.
"Huft, payah banget sih gue! Kenapa mikirin Alister terus?! Gue udah disihir sama babang alien rupawan. Malang bener nasib gue, bukannya terjebak kenangan mantan malah terjebak bayangan makhluk rupawan yang gue gak yakin dia nyata atau ilusi!" teriak Jenna frustasi sambil merebahkan diri di atas matras.
"Ya Tuhan, tolong hambamu ini. Jangan sampai kejadian si Ex terulang lagi. Lebih baik kirimkan saja pria seperti Alister, walaupun gak romantis abis sampai jadi budák cinta juga gak apa-apa. Mau dia tipe tsundere yang peredaran darahnya lambat sampai bikin dia sedingin es juga bakalan hamba terima. Asal masih banyak benernya aja. Masa iya dapet BS lagi alias Barang Sisa yang kelakuannya mirip kuadhal loreng. Jenna tobat kalau dapat yang model Alister. Gak akan nyusahin Papi sama Mami lagi deh,"—Jenna meluapkan isi hati yang semakin frustrasi dan pasrah sekaligus—"gak ada gunanya juga gue teriak-teriak gak jelas kayak gini. Mending mandi aja deh terus balik ke flat. Entah kenapa gue jadi gak berani tidur di studio lagi." Jenna pun bangkit dan segera masuk ke kamar mandi di area loker.
Jenna menghabiskan waktu dua jam hanya untuk membersihkan diri di sela isakan tidak berdayanya. Saat dia keluar dari pintu kamar mandi dan akan mengambil baju gantinya, seseorang menabrak tubuhnya. Jenna yang tersentak hampir terjatuh merasakan tubuhnya tertarik ke belakang.
Jenna hanya bisa menutup matanya dan melindugi kepalanya agar tak terbentur lantai, bukannya merasa kesakitan karena terhantam lantai, dia malah merasakan tubuhnya terjatuh dipermukaan yang keras, padat, namun terasa hangat.
Saat membuka mata, Jenna dikejutkan oleh sosok pria yang saat ini berada di antara tubuhnya dan lantai area loker yang dingin.
"Aaaaa~!"
"Uwaaaaa~!"
Satu suara mezo sopran dan satu suara bariton menggema di seluruh area dojo.
"Si-siapa lo!" Jenna sontak bangkit dan mendorong si pria yang kembali terjatuh ke lantai.
"Ouch! Kepala gue. Tenaga cewek bisa kuat juga!"
"Al-Alister?!"
Pria yang merasa dipanggil namanya sontak menengadahkan wajah ke arah gadis yang menyebut namanya, sementara Jenna ikut terkejut karena Alister benar-benar muncul di depannya.
"Lo, kenal gue?" tanya Alister yang sudah bisa berdiri tegak di hadapan Jenna, sambil memegangi kepala belakangnya. Sorot matanya menatap khawatir.
"Uwoow!" Bukannya menanggapi pertanyaan Alister, Jenna malah memasang wajah bodoh.
Berselang sedetik Alister segera memalingkan wajahnya, "Heh, Cewek Barbar! Handuk lo lepas!" bentak Alister dengan wajah meronanya.
"Ap ..., Aaaaa!" Jenna memegang erat tepi handuk yang hampir terlepas sempurna dari tubuh montok nan mulusnya, dan segera mengencangkan lagi lilitan handuk laknat yang hampir memperlihatkan kemolekan tubuhnya tanpa malu di depan Alister.
"Ada apa ini! Siapa kamu?!" Suara bass lain, menggema di ruangan yang terasa semakin mencekam dan dingin bagi Jenna.
"Op-pa?!" Jenna tergagap.
Belum sempat Jenna menjawab, pria yang tak lain adalah Hwan itu segera mencengkeram kerah baju Alister dan menyeretnya keluar area loker.
"Apa yang kamu lakukan di dalam?! Jawab! Sebelum saya pukuli kamu!" ancam Hwan mengintimidasi.
"Gak ada, tadi gue jatoh terus ditimpa sama cewek barbar itu," sahut Alister membela diri.
"Bicara yang benar! Saya mendengar kamu meneriakkan lepas, handuk lalu teriakan Jenna," cecar Hwan tanpa melepaskan kerah kemeja Alister.
"Apa?! Lepas handuk Jenna?!" Satu lagi suara bariton menggema di area latihan dojo.
"Bangké, Lo! Berani-beraninya lo berbuat cábul ke Adek gue! Mau lihat sosok gue jadi malaikat pencabut nyawa rupanya!" Tanpa bisa dilerai Mauza langsung menghajar Alister dan tanpa disangka Alister melawan setiap pukulan Mauza.
"Stooop! Berhenti, Tam! Oppa, lerai dong!" Farah yang baru saja masuk bersama Abella dan Nasima tampak terkejut melihat pergulatan dua pria berbadan besar yang tingginya hampir dua meter itu saling adu jotos di tengah dojo.
Hwan baru saja akan melerai sebelum satu suara lain menginterupsi
"Jen, baju Lo!" perkataan Abella membuat semua yang ada di dalam dojo mengalihkan pandangan mereka ke arah gadis yang hanya bisa berdiri dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi handuknya.
Tanpa berniat menanggapi kalimat Bella, Jenna pun berkata, "Please stop, Bang. Dia laki Jenna." Seketika tangan Mauza dan Alister terlepas dan digantikan dengan sahutan teriakan kaget bercampur heran dan tidak percaya dari semua orang yang ada dalam dojo, kecuali Jenna tentu saja.
Nasima segera memakaikan long coat miliknya kepada Jenna.
"Lo mending ganti baju dulu gih,"—perintah Nasima yang direspon dengan tatapan memohon oleh Jenna—"gue ngerti. Gue yang bakal pastiin Bang Mauza gak akan ngehajar cowok lo lagi."