Saudara Ipar

2071 Kata
Saat para kakak mengetahuinya maka misi pertama pun harus segera dimulai, karena menghindar tak akan pernah menjadi pilihan. [Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy] Setelah Jenna memakai pakaian dan mengambil tas selempang hitam favoritnya, dia berjalan menghampiri Alister yang sedang diobati lukanya oleh Hwan. Sementara Bella membantu mengobati goresan di tangan Mauza. Jenna dan Alister saling bertukar pandang, sementara yang lain melihat mereka dengan tatapan penuh tanya, curiga, heran dan amarah karena merasa dibodohi oleh dua orang yang baru diketahui sebagai pasangan di depan mereka. Saat Alister dan Mauza selesai diobati, Jenna duduk di antara Alister dan Mauza. Dia khawatir Mauza akan bertindak barbar dan menghajar Alister kembali. "Jadi, siapa yang mau cerita lebih dulu?" tanya Bella setelah merapikan kotak obat milik Hwan. "Ja-jadi, tadi tuh Al mau kasih surprise, tapi gue aja yang bereaksi berlebihan, Kak." Jenna menjawab lebih dulu sebelum Alister buka suara dan membuat segalanya semakin di luar kendali. "Ah, yang bener? Kalian gak lagi reka adegan sinetron penuh tangisan kayak di televisi, 'kan?" Nasima mencoba memancing Jenna. “Ya kagak lah, masa soal serius gini dibikin lelucon! Kami emang beneran udah jadian kok. Kalau gak percaya tanya aja tuh sama kak Diba yang selalu tahu segalanya." Jenna menatap Farah dengan tatapan harap-harap cemas. Sedangkan yang lain menatap curiga pada pemilik nama yang baru saja ditatap tak percaya setelah Jenna menyebutkan namanya. Setelah berdehem dan mengatur intonasi, serta detak jantungnya. Farah mulai buka suara, "Iya. Beberapa hari yang lalu Jenna sempet cerita. Tadinya gue juga gak percaya. Sama seperti lo! lo, dan lo." Farah menunjuk wajah Mauza, Bella, dan Nasima bergantian menggunakan tatapan dan dagunya. "Terus kenapa lo gak cerita sama kita? Sama gue deh paling gak!" protes Mauza. "Yah, lo ‘kan tahu sendiri kita akhir-akhir ini sibuk apa? Lagian gue juga punya pria yang harus gue perhatikan. Gue pikir Jenno bakalan bawa cowoknya ke Alice, tapi malah ada kejadian macem gini. Jadi, ya jangan langsung nuduh gue juga kali, Tam!" Farah memasang wajah sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dadá. Melihat situasi yang semakin memanas, akhirnya Hwan pun angkat bicara, "By the ways, apa kalian tidak lapar? Kita bisa bahas ini sambil makan malam di atas, 'kan?" Hwan mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengulur waktu. Dia tahu ada gelagat aneh dari kegelisahan Alister, kekhawatiran Jenna dan ketakutan Farahdiba. Akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang-bincang di rooftop lantai tiga studio Jenna sambil memanggang daging yang baru saja di pesan Abella dari toko butcher halal langganannya. Sementara Jenna menarik Alister ke studio dan memberinya petunjuk untuk tetap diam dan mengikuti cerita yang Jenna buat, "Lo gak mau lebih bonyok dari ini, ‘kan? Jadi, mendingan lo ikutin saran gue. Setelah mereka semua pergi baru kita bicarain lagi soal yang tadi, ‘kay?" Alister menatap Jenna dengan pandangan rumit, "Tadi yang mana? Soal lo yang membiarkan tubuh lo ngehimpit gue atau soal handuk laknat lo yang bikin muka gue jadi gini?!" Jenna tidak menyangka Alister yang dia temui berbanding sangat jauh dengan Alister yang ada di mimpinya. "Awas kalau lo sampe berani macem-macem! Gue gak bakal belain lo lagi!" ancam Jenna. "Siapa juga yang minta dilindungi cewek barbar kayak lo!" Alister mendecih lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil beberapa minuman kaleng dari kulkas Jenna. ‘Astaga pengen gue hiiih! Pites juga nih laki! Beda banget sama si alien penuh cinta di mimpi gue!’ teriak Jenna dalam hati. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib Alister. Mungkin lebih tepatnya dia terlanjur memimpikan Alister versi budák cinta ketimbang Alister versi tsundere yang membuatnya geram sekaligus gemas sendiri. "Udah pacarannya?"—Farah mengagetkan Jenna dan Alister—"Jangan kebanyakan diskusi, kadang sesuatu yang spontan lebih meyakinkan di saat-saat seperti ini." Kalimat Farah mengawali konspirasi terselubung di antara mereka bertiga. Alister memastikan mereka bertiga segera pergi dari studio Jenna dan kembali ke rooftop. Dia tak suka berada terlalu lama di tempat ini. "Lama bener ambil minuman doang. Kalian gak macem-macem ‘kan tadi?!" Mauza menatap curiga ke arah tersangka utama hari ini. "Ada gue mana berani mereka macem-macem di dalem." Farah mencoba meredam kecurigaan Mauza dan yang lainnya. "So, kalian udah kenal berapa lama?" Bella mencoba mengungkap fakta yang tertunda. "Belum lama, baru beberapa minggu setelah kejadian Ex waktu itu," sela Jenna tenang. Sementara Alister terlihat sempat mengeraskan rahangnya sekilas. Untungnya tak ada yang mengetahui ekspresinya yang sempat berubah tadi. "Kenal di mana?" tanya Nasima. "Gue gak sengaja nabrak Jenna di persimpangan deket sini pas kami lagi sama-sama nerobos hujan. Tadinya gue mau kasih surprise ke dia. Mau ingetin soal kejadian awal mula kita ketemu, tapi malah gue gak paham sikon. Jadinya bikin semua orang salah paham gini." Alister menjawab tak kalah tenang. Semua orang jadi ingat lagi soal Jenna dan si Nonik yang juga bertabrakan saat hujan. "Berhasil sekali ya kamu, Al. Tidak cuma Jenna yang terkejut, tapi kami semua juga kena. Anyways, sorry kalau bukan karena aku yang heboh lebih dulu, tidak mungkin Mauza dan yang lainnya salah paham." Kali ini Hwan yang ikut serta ambil peran. "Kok lo yang minta maaf sih, Hyung? Tersangka utamanya ‘kan mereka berdua," komentar Mauza masih tak ingin menurunkan kewaspadaannya dengan tatapan tajam menyelidiknya. "Sumber dari segala sumber kehebohan kita selama ini ‘kan cuma Jenna Himeka Saba seorang. Kalau-kalau kalian semua lupa." Farah mencoba mengalihkan pertanyaan pada Jenna agar acting adik dan calon adik iparnya tidak terbongkar lebih cepat. "Iya, iya. Gue emang selalu salah, yang paling heboh gak tahu tempat, situasi dan kondisi," jawab Jenna sambil memanyunkan bibirnya. "Jangan lupa, lo juga yang paling petakilan dan barbar di antara kita semua." Nasima menambahkan sifat Jenna yang direspon dengan suara tawa yang menggelegar dari pria yang duduk tepat di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan Alister. Jenna yang tidak terima memasukkan sepotong daging panas ke dalam mulut Alister. "Aargh, panas! Bar— banget, Baby. Kalau bibirku melepuh ntar gak bisa kasih jatah charging kiss sama kamu loh." Alister hampir saja keceplosan kalau Jenna tidak melotot ke arahnya. Namun sayang seribu sayang, kalimat Alister selanjutnya malah jauh lebih berbahaya. Terang saja dia segera dihadiahi dengan cubitan di perut six pack miliknya. "Apa sih, Babe? Jangan ngomong sembarangan deh di depan Kakak-kakak aku." Jenna mencubit roti sobek Alister, tapi pria itu tidak tampak kesakitan berkat otot perutnya yang kencang. "Geli banget gue denger kalimat cheesy kalian berdua. Aneh bener seorang Jenna Himeka Saba yang biasa ngajak gelut bisa salah tingkah sampai merona kayak gini," ejek Nasima sewot. Respon Nasima membuat Jenna gemas sendiri dalam hati, ‘Astaga! belum tahu aja si Nanas kalo gue salah tingkah karena si Alister rupawan, tapi gak tahu diri ini udah kebanyakan skinship dari tadi. Mulai ngacak poni, cubit pipi, rangkul pinggang sampai sekarang dia lagi genggam tangan gue persis balon helium yang gampang terbang di bawah meja. Pinter banget acting laki satu ini!’ Alister mengulum senyum, dia malah sengaja menggosokkan ibu jari di punggung tangan Jenna dengan tatapan datarnya, sementara mulutnya sibuk mengunyah daging panas yang diberikan Jenna dengan penuh ‘perhatian’ Mauza salah sangka ketika memerhatikan arah pandangan Jenna yang melihat ke bawah meja, "Jen, kondisiin mata dan pikiran lo! Jangan ngeres aja bawaannya. Itu liur udah nyaris netes ke pemanggang daging noh!" Mauza meledek Jenna. Membuat yang lain ikutan tertawa dan menimpali candaan Mauza. “Seneng banget ya kalian! Terusin aja, kamu juga!" hardik Jenna tidak terima saat dituduh otak mésum. "Weits, jangan ngambek gitu dong, Manis. Ntar aku bisa diabetes kalau kamu mulai menggemaskan gini." Alister hendak memeluk gemas Jenna saat yang lain bereaksi berlebihan dengan memalingkan badan dan berpura-pura mual. "Emang cocok nih berdua. Pasangan paling menggelikan abad ini," tukas Bella. "Dunia dan isinya serasa jadi penonton kalau ini mah, geli banget woy!" Mauza melemparkan selembar selada keriting ke arah Jenna yang ditangkap oleh Alister. "Jangan gitu dong, Bang. Kalau Jenna luka gimana?" Alister membela Jenna. "Heh, cumi-cumi! Mana ada ketimpuk sayur selembar bisa luka? Lo berlebihan banget sih." Nasima semakin geli mendengar perkataan Alister dan melihat tingkah laku Jenna. "Kalau sayurnya jatuh ke pemanggang daging ini, terus sisa airnya kena minyak yang keluar dari daging, ntar My Baby bakal kena cipratannya. Mana tega gue lihat My Baby kesakitan. Mending gue aja," bela Alister memberi alasan. "Oh, kurang sakit rupanya? Sini gue tambahin! Mau di sebelah mana? My Baby udah macem produk bayi aja," tantang Mauza, semakin kesal dengan adegan budák cinta di hadapannya. "Mending kita buruan kelarin makan malam yang kebanyakan gula ini, kuping gue udah makin panas melebihi p****t panggangan ini kalau di sini lebih lama lagi," sarkas Nasima sembari merapikan alat makan yang dia gunakan. "Ngomong-ngomong lo tinggal dimana, Al?" tanya Bella membuat semua orang kembali tersadar. "Di sini!" celetuk Jenna cepat, membuat yang lain melotot tajam ke arahnya. "Maksud Jenna, apartemen gue lagi direnovasi sementara. Jadi, daripada gue stay di hotel mendingan gue di sini dulu sambil nemenin dia," urai Alister kembali mengendalikan keadaan. "Iya juga sih, gue suka kepikiran kalau Jenna di sini sendirian. Lo udah tahu kebiasaan dia yang lupa makan, mandi, bahkan tidur kalau udah sibuk sama lukisan atau desainnya, ‘kan? Lagian di sini sendirian mana aman." Farah mencoba memberikan alasan logis. Pernyataan Farah membuat Alister berdehem pelan, "Nah itu, kalau ada gue ‘kan bisa ingetin dia biar gak lupa makan, mandi, dan tidur," tutur Alister sambil memandang wajah Jenna dan mengerling saat Jenna balas menatapnya. "Ya, tapi lo gak macam-macam sama Adek gue, 'kan?" selidik Mauza dengan pandangan mengintimidasi. "Kalau sayang itu gak ngerusak. Santai aja, Dude. Gue lebih sayang My Baby daripada sibuk mengutamakan nafsu doang. Walaupun gue suka gemes sendiri sih tiap lihat dia." "Udah, udah! Ayo pada balik aja. Kasian perut gue yang udah keisi daging lezat nan istimewa ini kalau harus susah dicerna gara-gara pasangan hangat-hangat kuku ini." Nasima semakin geli dengan kelakuan pasangan baru jadi-jadian di depannya. "Sebagai hukuman atas kelakuan kalian berdua yang udah bikin kami jadi konstipasi, kalian yang harus membereskan tempat ini," perintah Hwan tiba-tiba. "Setuju, biar mereka puas-puasin tuh kelakuan budák cinta mereka yang bikin gue nyesel udah ikutan makan malam di sini." Nasima dan yang lainnya segera beranjak meninggalkan Alister dan Jenna. "Jangan lupa lo anterin Adek gue balik sebelum tengah malam loh, Al! Awas aja kalau lo kekepin di sini!" ancam Mauza untuk yang terakhi kalinya. Setelah Mauza, Bella, Farah dan Nasima memasuki mobil Hwan. Jenna dan Alister membersihkan meja makan malam yang baru saja mereka gunakan. "Pinter juga acting lo, My Love," cibir Jenna. Alister mengembuskan napas panjang lalu menatap Jenna lekat-lekat, "Gue ‘kan ngikutin mau lo doang, My Baby. Lagian apa lo gak sadar kalo Hwan udah curiga dari awal?" Jenna kaget dengan asumsi Al, "Hah, se-rius?! Kok lo bisa tahu?!" "Udah jelas ini, lo pikir kenapa dia tiba-tiba ajakin kita makan malam? Kenapa harus di sini, di antara banyaknya restoran di depan situ? Ditambah mengalihkan saudara-saudara lo yang lain dengan ide pulang bersama?" Alister menjabarkan analisanya. "Iya juga sih, tapi bagus juga kita punya sekutu selain kak Diba. Kalau gini pasti makin aman. Untung aja Hwan Oppa yang sadar lebih dulu, kalau yang lain ‘kan bisa runyam." "Lagian kenapa lo tiba-tiba bilang kita udah jadian? Satu lagi, dari mana lo tau nama gue?" desak Alister penasaran. Ada sesuatu yang janggal di sini. "Harusnya gue yang tanya, ngapain lo nyasar ke ruang ganti? Tuan sok pintar!" "Lah, gue emang pintar kok, kalau gak mana mungkin gue bisa bikin saudara-saudara lo menyerah lebih cepat dan pergi tepat setelah makan malam? Kalau bukan karena ide cerdas gue ini yang memainkan adegan sok manis di depan kalian?" "Jadi, yang tadi itu cuma pura-pura?" cicit Jenna tak sadar. Padahal ia tadi sempat berharap Alister bisa membuka hati untuknya. "Loh, bukannya udah sangat jelas, ya? ‘Kan ini ide lo buat bikin kita seolah-olah lagi kasmaran, jatuh cinta, lovey-dovey di depan saudara-saudara lo." "Wah lo emang paling jago bikin gue naik darah. Nyesel banget tadi gue udah nolongin lo, tahu gitu gue biarin aja lo dihajar Bang Mauza sampe masuk Unit Gawat Darurat!" "Halah, palingan lo yang gak tega lihat gue luka-luka sampai masuk rumah sakit. Segala tindakan itu pasti ada alasannya, gak ada tindakan random yang tiba-tiba walaupun dalam keadaan terdesak sekali pun!" Alister mencoba terus menyudutkan Jenna. Bahkan dia seperti terlihat membuat Jenna merasa jengah padanya di setiap kesempatan yang ada. "Astaga! Jago banget lo ngedebat gue?! Lo cuci aja nih semuanya sendiri!" Jenna pergi meninggalkan Alister di pantry, lalu menuju ruangan melukisnya sementara Alister menyelesaikan tugas mencuci perkakas dengan senyum misterius di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN