Dare or Dare?

2058 Kata
Wanna marry her? Sini tunjukin keseriusan lo sekarang juga! Tantangin dulu, interogasi kemudian. [Jeritan hati para saudara — Irudimena: Fantasy] Siang hari di kafe Alice's Tea Chamber, "Akhirnya pasangan baru sowan juga, bagus deh kalau udah inget sama Kakak-kakaknya. Besok-besok jangan jadi bocah labil yang sukanya pacaran diem-diem ala jaman baheula, No," sindir Mauza saat melihat Jenna dan Alister memasuki area private kafe, tempat khusus bagi mereka saat menghabiskan waktu di kafe Alice. "Malahan dia ‘kan disuruh cepet-cepet nikah sama Papi Yodha, Bang. Lagian gue heran, apa sih alesannya sampe lo milih backstreet gitu, No?" Nasima yang masih curiga jika ada motif terselubung di balik hubungan Jenna dan Alister memilih untuk bersekutu dengan Adhitama Mauza Aryasatya. Abella baru saja bergabung setelah dia mengecek daftar persediaan dan keperluan kafe, "Kebiasaan deh kalian berdua, mereka baru aja dateng malah main interogasi aja. Udah mirip detektif jadi-jadian. Paling gak biarin mereka pesen minum dulu atau gimana gitu." “Tumben Kakak gak bersekutu sama Bang Mauza juga? Gue malah curiga ada something fishy di balik perhatian Bang Mauza ke Kak Bella yang kelihatan jelas banget semakin ke sini," sembur Jenna yang bermaksud menyindir balik Mauza, tetapi malah ikut menyinggung Abella. "Bener juga ya. Gue kira itu cuma perasaan gue doang loh, Jen. Kalau dipikir-pikir emang agak mencurigakan ya, Anda berdua." Nasima beralih mengamati gerak-gerik Mauza dan Bella bergantian dengan tatapan menyelidik. "Kami ketinggalan apa nih? Kenapa jadi tegang gini suasananya? Pada bahas apaan sih?" Farah dan Rai baru saja datang dan segera bergabung dengan yang lain. "Pasangan baru!" jawab Mauza dan Bella serempak dengan intonasi suara sedikit berteriak. Keduanya mendadak canggung saat menyadari reaksi berlebihan yang mereka tunjukkan. "Bahas ada yang diem-diem backstreet selain gue sama Alister nih, Bund," timpal Jenna, balas menggoda. "Ih, kok pada salah tingkah gitu sih? Kakak juga, ngapain sampai blushing gitu?" Nasima bereaksi semakin heboh melihat respon Bella dan Mauza, membuat mereka semakin yakin jika ada suatu hal yang disembunyikan. "Apa-apaan sih Nanas sama Jejen nih, ‘kan kita mau bahas Jenna sama Alister. Kenapa jadi gue sama Mauza yang disangkut pautkan?" Bella nyaris gelagapan dan merasa tidak nyaman. "Emangnya mau kami jadian atau bahkan sampai nikah, kalian mau apa? Ada masalah gitu? Gak akan ada pihak yang dirugikan juga ‘kan kalau kami beneran deket?" tanya Mauza dengan tatapan tak berdosa kepada yang lain sambil mengerling genit ke arah Bella. "Sukanya malah mancing-mancing keadaan, memperkeruh suasana, menggiring opini publik. Kebiasaan banget lo, Tamara!" Bella dibuat mati kutu dengan kata-kata Mauza. "Emang kenapa sih, Bell? Kami pasti bakalan dukung kok kalau lo bisa menaklukkan sang Don Juan Casanova satu ini." Rai yang sedari tadi diam, kini ikut menimpali. "Udah deh guys, berhenti godain Bella. Kasian tuh mukanya udah mirip tomat rebus, kalau Mauza sih lebih mirip kacang rebus. Ahahaha," goda Farah serasa mendapat angin surga karena bisa membalas mereka sekaligus yang selalu menggodanya dan Rai selama ini. "Lo kenapa diem aja dari tadi? Gak pengen berpartisipasi godain gue sama Bella juga?!" tanya Mauza pada Alister. "Gue ‘kan ada di pihak netral. Lagi pula strategi terbaik bukan selalu menyerang bersama-sama, ‘kan?" jawab Alister diplomatis dengan ekspresi tenangnya. "Menyerang? Negara api kali, pakai menyerang segala," cibir Nasima. "Sewot banget sih lo, Nas. Kalau ada yang gak suka tuh bilang langsung. Jangan main nyindir gini. Apa salah dia?" bela Jenna di depan yang lainnya. “Salahnya cuma satu, tapi fatal banget. Udah berani deketin apalagi jadian sama lo tanpa sepengetahuan kami. Lo pikir kita bakalan diem aja dan gak bakalan mempermasalahkan apa lagi sejak kejadian kemaren? Oh, tidak bisa begitu, Anak Muda!" ucap Nasima menggebu. "Terus lo maunya gimana?" tanya Alister pada Nasima. "Lo bisa main game online, ‘kan? Sini lawan gue. Kalau lo bisa kalahin kami semua di setiap tantangan yang kami kasih. Baru lo bisa lolos jadi calon saudara ipar kami. Gimana, deal?!" tantang Nasima pada Alister. Alister mengangguk setuju, "Okay, deal!" Selama dua jam Nasima dan Alister berduel dalam game online maraton. Saat pertarungan mereka selesai, hari sudah mulai beranjak sore. "Hebat juga lo, Al. Bisa kalahin murid gue. Kali ini lo hadapin gue, tapi bukan di sini. Ayo ikut!" Mauza adalah penantang kedua hari ini. Dia mengajak Alister dan yang lain berpindah tempat. Tepatnya ke manor Raizel. "Kita ngapain ke sini, Bang?" Jenna terlihat kebingungan sekaligus penasaran. "Ntar juga lo bakalan tahu kok." Mauza memasuki halaman samping manor Raizel. Di sana terdapat garasi outdoor dan indoor yang berisi jajaran mobil supercar, klasik, dan tentu saja tipe edisi khusus dengan berbagai merek yang pastinya dipesan dan dibuat khusus sesuai selera pemiliknya. Entah itu dari tipe juga warnanya. “Uwoow, mobilnya pada cakep bener dah! Punya siapa aja nih, Bang?" Nasima dibuat terkagum dengan isi garasi milik Raizel. "Karena ini properti pribadi gue, udah jelas sebagian besarnya punya gue dong, Nas," ujar Raizel dengan suara datar tanpa bermaksud menyombongkan diri sama sekali. "Uwaa, daebak! Emang ya, pria dan mainannya. Gue boleh cobain gak, Kak?" Jenna juga dibuat terkagum dengan koleksi milik Raizel. Mulai dari BMW, Mercedes-Benz, Audi, Volkswagen, Lexus, Cadillac, Aston Martin, Maserati, Bentley, Lotus, Alfa Romeo, Jaguar, Porsche, Buggati, Chrysler, Lamborghini, Ferrari, Koenigseeg, McLaren, bahkan Limousine tampak berjajar rapi di garasi pribadi milik Raizel. Juga masih ada jet pribadi di hanggar Heathrow yang selalu siap untuk Raizel gunakan setiap kali bisnis keluarganya memerlukan kehadirannya langsung. "Kalau ini punya gue. Lo boleh pakai mobil lo sendiri atau pilih salah satu yang ada di sini. Satu jam lagi kita berangkat ke Istanbul," kata Mauza menjelaskan maksudnya. "Gak bisa! Kami para gadis butuh persiapan lebih dari sejam apalagi kalau kita mau ke Istanbul." Farah menyela kompetisi berikutnya yang melibatkan nyawa dan persiapan mental lebih banyak, apalagi selama dua jam tadi Alister sudah berduel dengan Nasima untuk memenangkan beberapa jenis pertandingan game online. "Ya sudah, Nyoya mau kita berangkat kapan? Bebas tentuin, tapi yang jelas besok pagi kita udah harus ada di Istanbul," jawab Mauza enteng lalu masuk ke dalam manor disusul oleh Nasima. "Kak, kakak setuju sama Mauza? Lagian ini semua beneran mobil kalian berdua?" Farah yang mulai khawatir sedang menginterogasi Raizel saat ini. "Ada mobilku juga kok, Far. Sengaja nitip di sini biar maintenance-nya gak ribet." Suara bariton tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. "Oppa dari mana aja? Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Jenna cemas. Saat melihat kegigihan Mauza, Jenna langsung teringat kabar burung yang sempat dia dengar saat pertama kali mulai belajar di Oxford. Adhitama Mauza Aryasatya adalah seorang pembalap sirkuit dan pembalap liar yang terkenal dengan prestasinya. Bagaimana bisa Jenna melupakan tentang hal ini. Dasar Jenna Himeka Saba yang ceroboh! "Kalian berdua bakal biarin Mauza nantang Alister?" Abella mengerti apa yang ada dalam benak Farah dan Jenna saat ini. "Kalian tahu sendiri kalau Adhitama Mauza Aryasatya tidak akan mudah berubah pikiran, kecuali jika alasannya bisa ditolerir. Kami hanya bisa memastikan pertandingan kali ini berlangsung adil dan aman. Benarkan, Rai?" "Yep, Hwan bener. Karena ini menyangkut sumber kekhawatiran para gadis ini. Kami berdua hanya bisa mengamankan situasi. Ayo kita masuk dan bicara di dalam, udara sudah mulai dingin." Raizel segera mengenggam tangan kanan Farah dan mengajaknya masuk ke dalam manor. Di dalam manor para wanita sedang menyiapkan keperluan mereka. Farah, Jenna, Bella dan Nasima sibuk mengemasi segala keperluan yang paling mereka butuhkan termasuk passport setelah tadi Mister Stanley menjemput mereka untuk mengambil barang-barang di apartemen, dan mampir ke butik untuk mengambil beberapa pesanan yang sudah Jenna siapkan untuk Alister. Sisanya, mereka masih punya waktu untuk mendapatkan apa yang mereka perlukan di Istanbul, tempat leluhur keluarga Aryasatya berada. Kalau Hwan sih, dia masih ada beberapa baju ganti di manor Rai karena terkadang mereka harus membicarakan soal bisnis keluarga sampai larut malam. Saat para gadis sibuk mempersiapkan keperluan mereka, para pria masih membahas persiapan yang diperlukan sebelum mereka berangkat ke Istanbul satu jam lagi. ✧✧✧ Tiga jam sebelum makan malam, mereka semua segera menuju landasan helipad di bagian belakang manor untuk melanjutkan perjalanan ke hangar pribadi milik keluarga Schultz yang berada di area Heathrow Airport. Mereka menggunakan pesawat jet pribadi berciri khas logo keluarga Schultz dan mendarat langsung di Istanbul Atatürk International Airport. Tidak berselang lama kini mereka berdelapan sudah memasuki salah satu kediaman utama milik keluarga besar Aryasatya. "Kazim, tolong antarkan tamu kita ke kamarnya masing-masing. Setelah itu katakan pada Gulbahar untuk menghidangkan makan malam dalam setengah jam lagi." Setelah Mauza menginstruksikan kepala pelayan kediaman keluarga Aryasatya dia pun menghilang ke dalam kamarnya. Kazim mengantar para tamu ke kamar mereka masing-masing kecuali Farah yang menggandeng Jenna dengan sedikit tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya. "Jen, lo yakin semua bakalan baik-baik aja? Ini kita berurusan sama Mauza loh, Jen. Terus lo udah ngobrolin apa aja sama Alister? Kejadian kemarin terlalu cepat. Kita bahkan belum punya rencana matang. Seumur-umur baru kali ini gue separno ini." Farah berbicara tanpa jeda bahkan nyaris dalam satu tarikan napas. "Mau gimana lagi, Kak? Gak mungkin ‘kan gue ngaku sekarang, apalagi Bang Mauza lagi mode senggol bacok begini. Oh iya, apa Hwan Oppa gak bilang apa pun kemarin?" "Bilang apa? Kemarin dia sibuk mendengarkan semua sangkaan dan perdebatan kami soal lo dan Alister. Sumpah itu Nanas sama Mauza kritis banget. Gue dibikin migrain sama pertanyaan mereka, tapi untungnya sih Hwan Oppa bantuin dikit ...,"—Farah menautkan kedua alisnya tanda ia memahami sebuah clue—"wait! Jangan bilang—" "Berarti bener dugaan Alister semalem. Hwan Oppa ada di pihak kita. Hari ini pun dia memihak kita. Kalau Kak Rai gimana?" "Lo ‘kan udah tahu Kak Rai bilang dia netral. Kalau gak, mana mungkin dia kasih McLaren Speedtail buat dipakai sama Alister?" "Iya juga sih Kak." Belum selesai Jenna berbincang-bincang dengan Farah, salah satu pelayan yang bernama Fahime memanggil mereka berdua untuk turun ke area ruang makan. Jenna bertemu dengan Alister di ujung anak tangga lalu mereka turun bersama. "Lo udah siap buat balapan Gran Turismo besok pagi?" "Siap dong, My Baby." "Gue serius, Alister. Lo bisa gak sih, berhenti bersikap terlalu santai gini?" "Kenapa lo kelihatan khawatir?" "Ya jelas khawatir, lah. Lo gak tahu 'kan siapa itu Adhitama Mauza Aryasatya di sirkuit balap?" “Tenang aja Jenna Himeka Saba. Gue bukan orang yang mudah menyerah, juga bukan lawan yang bisa disepelekan. Lo lihat aja besok, My Baby." "Udahan belum bisik-bisik ala budák cintanya? Sampai kagak sadar kalau ngehalangin jalan gini, lo berdua." Jenna terlonjak kaget mendengar perkataan Nasima yang berada tak jauh di belakangnya. "Astaga! Santai Nanas. Bang Mauza, Hwan Oppa sama Kak Rai aja masih belum turun ini," protes Jenna menanggapi perkataan Nasima. Jantungnya masih berdebar kencang karena takut ketauan. "Lo ‘kan tahu gue manusia yang paling gak bisa nahan laper. Mereka bertiga kemana sih? Kak Diba, kita boleh makan duluan gak nih?" "Kesian banget Adek barbar gue. Nih ganjel dulu pake salad sayur sama buah. Bentar juga mereka bakalan gabung sama kita," jawab Farah menyodorkan mangkuk salad di depannya ke arah Nasima. Abella menghela napas melihat kelakuan adik semata wayangnya, "Malu-maluin aja lo, Dek!" "Maksud Kakak? Gue harus malu di depan cowoknya Jejen gitu? Ogah banget dah gue!" kelit Nasima. Hwan yang baru bergabung menatap ke arah Nasima. Gadis itu terlihat masih makan dengan cara yang wajar nan elegan, yang tak wajar adalah porsi dan kecepatan kunyahannya, "Makan tuh berdoa dulu, terus kunyah baik-baik biar pencernaan kamu tidak kerja terlalu berat, Nanaaas," gemas Hwan pada adik bungsu mereka. Nasima terkekeh saat ketahuan, "Iya, iya. Siap laksanakan, Pak Dokter. Udah kumpul semua, 'kan? Berarti kita bisa langsung keluarin semua menu, dong. Lupakan urutan, gue mau langsung ke main course aja," sergah Nasima. Mereka pun makan malam dalam keadaan tenang lalu segera berpencar kembali untuk menyiapkan energi esok hari. Jenna yang terus memerhatikan Alister merasa sedikit tenang karena Alister tidak tampak terprovokasi oleh Mauza dan Nasima. Dia bertanya-tanya dalam hati apa yang ada di benak seorang Alister Abimara hingga rela mengikuti permainan sampai sejauh ini padahal mereka berdua belum banyak bicara apalagi membuat kesepakatan lebih jauh. Alister yang sadar sudah diperhatikan sejak tadi memberi kode pada Jenna lewat senyuman dan tatapan mata. Alister versi nyata ternyata lebih sukar ditebak dan lebih sulit ditaklukkan daripada Alister dalam fantasi apalagi mimpinya. "Istirahat lebih cepat, jangan pacaran sampai larut malam," titah Bella mengingatkan Jenna dan Alister saat mereka semua akan kembali ke kamar masing-masing. Tanpa disangka, seseorang yang baru saja mereka lewati memerhatikan Alister dengan seksama. Terutama pada bagian jam tangan Alister yang sekilas tampak biasa saja, tapi jelas berbeda jika diperhatikan lebih teliti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN