Eenie Meenie Miney Mo. Sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Selalu ada dua pilihan yang bisa kita ambil, dan tentang pertemuan? Walaupun itu seperti misteri, tapi kita tidak akan bisa menghindarinya. Yah, persis seperti takdir.
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Saat ini waktu menunjukkan hampir tengah malam. Jenna baru saja selesai mengemasi koper-koper yang akan dibawanya ke Indonesia, mendadak ia merasakan lapar yang luar biasa.
'Ini kalau gue naik ke unitnya Kak Diba buat bongkar isi kulkasnya pasti Kak Diba udah tidur. Kalau turun ke unitnya Kak Bella juga gak mungkin. Tadi Kak Bella udah bilang mau istirahat lebih cepet. Apa gue chat Nasima aja, ya? Siapa tau dia masih maraton anime jadi bisa gue ajakin cheat hour sama-sama.' Jenna menimbang-nimbang dalam hati.
Mereka memang sepakat untuk tinggal di sebuah gedung apartemen yang sama, hanya saja berbeda lantai. Orang tua mereka pun menyetujui ide itu karena lebih memudahkan dalam hal penjagaan. Jadilah satu gedung apartemen eksklusif itu resmi orang tua mereka beli sebagai hadiah kesuksesan mereka mengelola kafe Alice's Tea Chamber.
"Duh, nomer Nasima pake kagak aktif lagi. Mana kelihatannya udah mulai mendung mau hujan pula, tapi perut gue udah meronta-ronta minta diisi. Apa boleh buat, gue kudu lari ke mini market 24 jam di ujung jalan kalau gak mau pingsan konyol cuma gara-gara kelaperan. Bego banget sih, kemaren isi kulkas malah gue kosongin gak bersisa." Jenna berjalan keluar gedung apartemen. Ia menenteng jas hujannya tanpa membawa payung sambil menggerutu akibat tingkah bodohnya yang tidak ingin menyisakan makanan di unit miliknya saat mereka pulang kampung.
Sesampainya Jenna di mini market 24 jam tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, tepat seperti perkiraannya. Membuat dia mau tak mau menyantap makanan yang sudah dia beli di dalam mini market sambil memandangi pekatnya malam ditambah guyuran hujan dari balik kaca jendela. Hujan malah semakin deras saat Jenna selesai menyantap semua makanan yang dia beli. Wajar jika semakin jarang orang berkeliaran saat ini.
'Bodo amatlah, gue beli payung aja deh biar celana gue gak kebasahan. Daripada gue tidur di sini malam ini, ‘kan makin gak lucu,' batin Jenna memutuskan untuk tetap kembali sebelum hari semakin larut. Berbekal sebuah rain coat edisi khusus keluaran desainer ternama yang dia beli sebelum memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan sebuah payung berwarna hitam polos. Jenna berjalan perlahan ke arah apartemennya. Dia harus melewati sebuah taman bermain yang menjadi bagian dari fasilitas umum apartemennya.
Samar-samar dia melihat sekelebat bayangan berada di dekat ayunan yang terletak di sudut taman. Antara panik dan takut dia mulai mempercepat langkahnya. "Seseorang" itu tampak seperti baru saja terjatuh, dia bangun perlahan lalu mulai berdiri dan berjalan tertatih. Semakin mendekat, semakin terlihat jelas bahwa itu adalah sesosok wanita yang mengenakan midi dress berwarna putih, tapi sepertinya itu bukan dress, melainkan gaun tidur.
'Aaaagghhhh, sialan! Udah ujan deres masa gue ketemu syaiton? Gak mungkin ada mbak-mbak yang lagi main ayunan malem-malem gini, ‘kan? Siapa lagi kalau bukan syaiton?!' jerit hati Jenna mulai panik sambil mengeratkan genggamannya pada gagang payung yang dibawanya. Sedikit berlari Jenna mencoba mendahului agar tidak berpapasan dengan si mbak-mbak berbaju putih itu.
Brugh!
Suara benturan sedikit teredam derasnya hujan. Dia dan si gadis berbaju putih bertabrakan tepat di depan pintu playground. Keduanya mengaduh dan jatuh terduduk di atas paving block.
Jenna yang tekejut dan ketakutan lantas berteriak panik. Ia bergegas bangun dan segera melarikan diri tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Dia bahkan melupakan payung yang baru saja dibelinya.
Dengan setengah merintih, gadis berbaju putih itu mengatakan sesuatu dengan nada lirih, "Help me, please." Malang baginya, Jenna yang berlari ketakutan tak mendengar kalimat itu karena sudah tak tampak lagi batang hidungnya.
Lagi-lagi Jenna menabrak sesuatu di depan lift karena terus saja menoleh ke belakang setelah lari terbiri-b***t memasuki lobi apartemen.
"Aaarrgghhh, syaiton!!" jerit Jenna dalam kepanikan saat mengira makhluk yang bertabrakan dengannya tadi membuntutinya sampai ke dalam apartemen.
"Bangke! Kagak sopan, Lo! Udah nubruk, ngatain gue golongan makhluk astral, teriak di telinga gue, sekarang lo injek kaki gue sambil mukul-mukul lagi! Basah semua, nih!" Mauza berteriak penuh murka. Ia baru saja melewati pintu samping penghubung area parkir di basement ketika mereka bertabrakan tepat di depan lift. Mauza tak melihat kedatangan Jenna karena ia sedang sibuk merogoh semua kantongnya untuk mencari ponsel yang khawatir ia tinggalkan lagi di dalam mobil.
"Abaang— Jenna takut. Tadi ada syaiton di playground." Jenna menjelaskan dengan raut wajah antara lega dan merasa bersalah karena Mauza menjadi korban kepanikan sekaligus ketakutannya.
“Sukurin! Lagian ngapain lo kelayapan tengah malem gini? Ketemu syaiton nonik-nonik kan, Lo!" Mauza yang masih kesal tidak berusaha menenangkan Jenna.
"Bang Tama jahat banget, sih! Jenna beneran takut nih, Bang. Sampai rasanya pengen ngompol di celana," cecar Jenna masih ketakutan.
"Jorok lo! Lagian ini ujan deres banget. Salah lihat kali lo!" hardik Mauza masih tak percaya.
"Beneran Bang. Tadi aja syaitonnya nubruk aku di depan pintu playground, makanya celana aku jadi kotor kayak gini, ‘kan?" Jenna masih begidik ngeri dengan wajah pucat pasi.
'Jenna beneran takut nih. Sampai gak sadar pakai kata ganti "aku", bukan "gue" kayak biasanya,' monolog Mauza dalam hati. Seketika ia merasa sangat bersalah karena sudah membentak si adik bungsu dari tadi.
"Ya udah, lo tenang dulu! Lo ambil minum dulu di flat gue gih," titah Mauza.
"Abang mau kemana?!" tanya Jenna yang mengira Mauza akan menemaninya masuk ke unit pria itu.
"Gue mau ngecek dulu. Itu beneran syaiton atau orang. Kalau ada yang mau berbuat jahat di sini ‘kan bakalan panjang urusannya," jelas Mauza yang hendak melangkahkan kaki ke luar gedung.
"Jangaann!! Aku takut sendirian. Kalau nanti ‘itu’ nyamperin aku lagi, gimana?"
"Ya udah. Gue temenin lo masuk. Lo berani tidur sendiri, ‘kan?"
"Mana mungkin! Abang mau nemenin tidur di flat aku? Tapi gak boleh mésum ya!" mode perusak momen ala Jenna mulai aktif.
"Dasar bocah kecentilan, Lo! Maksud gue kalo lo takut, ya gue anterin lo ke flat-nya si Lanaya, lah," jelas Mauza sambil menatapnya horor.
Sesampainya di unit Farahdiba. Jenna menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu dengan detail tanpa terlewat satu bagian pun. Mulai dari perutnya yang kerocongan sampai tabrakan berulangnya dengan Mauza.
"Ya udah Jenn. Lo buruan bebersih terus langsung tidur! Jangan lupa jeans lo langsung masukin ke mesin cuci. Ntar biar kakak yang jemur di dalem kamar mandi," kata Farah setelah melihat Jenna sudah lebih tenang.
Kamar mandi di apartemen mereka memang memiliki sistem pemanas ruangan. Jadi saat musim dingin ubin di dalam kamar mandi tidak akan membuat kaki membeku.
"Menurut lo, itu orang mau berniat buruk atau butuh pertolongan, Tam?" tanya Farah penasaran setelah memastikan Jenna sudah memasuki kamar mandi.
"Lo yakin itu orang?" tanya Mauza kembali yang masih menelaah cerita Jenna.
"Kalo syaiton jelas nembus lah, Tam. Kagak mungkin nabrak dong," jelas Farah
“Gue mau cek CCTV di sekitar gedung dulu." Mauza beranjak dari tempatnya dan hendak menuju pintu.
"Apa pun hasil temuan lo nanti, kasih tau gue duluan ya, Tam. Lo ‘kan tahu kita yang bertanggung jawab buat keselamatan mereka." Farah mengingatkan Mauza yang sudah berada di ambang pintu.
"Tenang aja. Cuma lo yang tahu Mr. Stanley masang CCTV tambahan di sekitar area ini."
✧✧✧
Pagi harinya Nasima dibuat kebakaran jenggot karena tak bisa menemukan Jenna.
Me:
| Kak Diba. Kakak tau Jenna di mana? [05.32AM]
Me:
| Kemarin dia minta disamperin ke flatnya tapi tuh bocah malah ilang. [05.32AM]
Me:
| Handphonenya juga ga aktif, tapi koper-kopernya masih ada sih ini. [05.33AM]
"Bunda" Diba:
| Iya, Jenna ada sama kakak. Dia masih mandi tuh. [05.35AM]
"Bunda" Diba:
| Kalau ke sini tolong sekalian bawain kopernya Jenna. [05.35AM]
Me:
| Kok tumben dia pergi ke situ gak ngabarin dulu? [05.35AM]
"Bunda" Diba:
| Hpnya masih mati, ketinggalan di bawah habis dia charge sebelum pergi katanya. Oh iya, jangan lupa cek flatnya sekali lagi sebelum lo tinggalin. [05.36AM]
Me:
| Ya udah, 15 menit lagi gue langsung ke tempat kakak sambil bawain semua barang dia deh. [05.38AM]
✧✧✧
Lima belas menit kemudian. Nasima, Bella, dan Mauza sudah berkumpul di flat Farah.
"Lo ke mana aja bocah? Katanya minta dibangunin terus dijemput kayak princess Disney. Malah kabur duluan ke sini!" cecar Nasima saat melihat Jenna yang hendak mengambil s**u kemasan dari kulkas Farah.
"Gue semalem habis ketemu 'itu', 'kan. Akhirnya sama Bang Tamtam dianterin ke sini deh," jawab Jenna dengan nada lesu, lalu meminum s**u kemasan rasa strawberry favoritnya.
"Maksud lo ‘itu’, yang selalu bikin lo parno? Terus apa hubungannya sama Bang Tamtam?" tanya Nasima penuh selidik.
"Iya, 'itu' loh. Jadi, pas gue lari ke dalem gedung setelah ketemu 'itu', terus gue malah nabrak Bang Tamtam di lobby dong." Jenna menjelaskan dengan tatapan ngeri mengingat kejadian semalam.
"Buseeet, tapi lo gak kenapa-napa, ‘kan?!" selidik Nasima lagi
"Kalian ngomongin ‘itu’? syaiton maksudnya?" tanya Bella ikut masuk dalam perbincangan.
"Huss! Kakak nyebutnya pake 'itu' aja!" teriak Jenna dan Nasima bersamaan.
"Kata orang kalau langsung disebutin. Apalagi nama dan jenisnya, 'mereka' bisa merasa terpanggil terus dateng nyamperin kita!" tambah Nasima sambil begidik ngeri.
"Udah jangan kebanyakan takhayul lo berdua! Dasar bocah-bocah labil." Mauza menanggapi dengan tatapan dan suara dinginnya lalu diam-diam memberikan kode pada Farahdiba.
"Ayo kita turun, Hwan Oppa sama Kak Rai udah nungguin di bawah dari tadi. Kita harus berangkat ke bandara sekarang juga sebelum kesiangan." Kali ini Farahdiba yang berusaha menghentikan pembahasan tentang peristiwa semalam.
Mereka berdua tidak ingin membuat Bella, Nasima, dan Jenna jadi khawatir dan ketakutan terus-menerus. Sementara sumber masalahnya belum jelas diketahui.
✧✧✧
Semalam di suatu tempat lintas dimensi,
“Hai, Ans Saudariku.” Suara seorang wanita menginterupsi keheningan malam di sebuah laboratorium yang terletak di dalam kediaman utama tak berpenghuni.
“Zlyn saudariku, kaukah itu?” Seorang wanita baya terhenyak, ia terlihat berkaca-kaca seketika.
“Iya, maaf aku baru bisa menemuimu sekarang. Aku sangat tahu apa yang sedang kau risaukan, tapi bolehkah jika kukatakan untuk tak perlu khawatir? Para cucu kita sudah memiliki takdir mereka masing-masing dari Sang Pencipta yang sesungguhnya dan aku bersyukur kita bisa menyelamatkan mereka dari para pencipta di sini. Biarkan mereka menjalani takdir mereka. Kau masih percaya padaku, ‘kan, Saudariku?”
“Selalu, siapa yang bisa kupercaya dan mengerti tentang semua keresahanku jika bukan kau, Saudariku. Lalu apakah aku juga bisa menyelamatkan cucu sulungku? Dia membuat hatiku hancur karena apa yang dia lakukan. Aku takut dia satu-satunya yang tak bisa kita selamatkan dari semua hal mengerikan yang terjadi pada kerabat kita selama ini.”
“Oh Ans, Saudariku Ans. Kau tak lupa dengan apa yang dikatakan mendiang suamiku bukan? Cucu sulungmu itu berbeda maka tak heran jika takdirnya pun akan berbeda dari kebanyakan orang di sini. Percaya saja jika Sang Pencipta akan selalu menuntunnya. Kita hanya perlu memberinya sedikit bantuan seperti petunjuk yang kita dapatkan dari Sang Pencipta yang sesungguhnya. Bagaimanapun kita hanya bisa selalu bergantung pada Sang Pencipta yang sesungguhnya untuk menyelesaikan nasib malang yang meliputi keluarga kita, dan tahukah kau? Dia sudah dekat, mereka akan bertemu sebentar lagi.”
“Ah, aku juga ingat apa yang pernah kau katakan. Bahkan tak ada satu makhluk pun yang bisa menghalangi gadis pilihan itu, ‘kan? Terima kasih karena sudah mengingatkanku, Saudariku. Apa sekarang kau benar-benar harus pergi?” tanya Ans dengan wajah sendu. Ia bersusah payah menahan air matanya.
“Sang Pencipta sudah sangat berbaik hati padaku dan tugasku memang sudah selesai. Aku titipkan mereka semua padamu, semua cucu kita dan para cucu tak langsung kita. Kau harus kuat sebagai tetua dari kerabat Lieben dan Abimara yang tersisa. Kami semua percaya kepadamu, Ans Lieben. Oh, Ans Abimara. Aku selalu saja lupa.” Zlyn terkekeh, ia menggoda saudarinya untuk yang terakhir kali, malam ini benar-benar menjadi yang terakhir kalinya mereka bisa berbincang. Kekuatannya sudah habis, dia tak akan bisa muncul untuk menemui satu-satunya saudari yang tersisa dari keluarganya sebab sudah waktunya setiap orang bersiap untuk takdir besar mereka yang baru saja dimulai malam ini.