Kehadiran seseorang di hidup kita ibaratnya seperti tamu. Ada yang tinggal, banyak pula yang hanya singgah. Namun, kalau yang singgah adalah tamu dengan motif merusák rumah dan isinya maka jangan salahkan si tuan rumah yang tidak bersikap ramah.
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Setelah melewati penerbangan panjang selama belasan jam menggunakan pesawat jet pribadi milik Raizel. Mereka berenam akhirnya menginjakkan kaki di tanah air tercinta.
"Mulai besok jangan ada yang berani gangguin gue! Selama seminggu ini gue bakalan sibuk banget dan jarang di rumah." Mauza membayangkan sesuatu sambil tersenyum tengil.
"Akhirnya lo bisa ketemu sama pacar-pacar lo ya, Tam," goda Farah.
"Pacar-pacar? Emangnya Bang Mauza punya berapa banyak pacar di Indonesia, sih?" celetuk Jenna mulai penasaran.
"Gue gak nyangka ternyata Bang Mauza playboy internesyenel juga. Kirain cuma Emma doang yang lagi Abang deketin?!" Nasima mulai melayangkan tuduhan sepihak.
"Sembuwarangan aja nih bocah-bocah! Lo juga jangan menggiring opini publik gitu dong, Lanaya. Lagian gue kelihatan deket sama Emma bukan perkara romansa, Bocil-bocil. Gue sering ketemuan sama dia soalnya kami lagi bahas soal kerjaan aja," protes Mauza.
"Hahaha, pacar-pacar tuh maksudnya soto. Mauza kalau udah berhubungan sama soto, apa pun jenisnya walaupun jauh juga dia bela-belain sampai dapet. Bucin kok sama soto!" mendengar jawaban Farahdiba mereka berlima pun tertawa terbahak-bahak. Kecuali Mauza tentu saja.
"Kalau gue sih, udah kangen berat sama jajanan tradisional. Onde-onde, putu mayang, klepon, kue pancong. Belum lagi macem-macem jenis serabi." Abella yang memang penggemar dessert juga mulai membayangkan jajanan khas yang hanya ada di Indonesia.
"Nasi uduk, nasi kuning, nasi padang. Gue datang!" Jenna juga heboh dengan daftar kuliner favoritnya.
"Gue paling kangen sambal terasi sama pete pake kerupuk kaleng yang keriting itu, tapi harus yang agak gosong. Beuuhh, nikmat mana yang kau dustakan!" Ekspresi Nasima sudah tampak seperti orang yang tidak makan berbulan-bulan.
"Kak Rai gak ada makanan yang dikangenin dari Indonesia gitu?" pancing Farah mencoba membuat Rai bersuara.
"Masakan Bunda." Seperti biasa, Rai si tsundere yang paling irit bicara menanggapi dengan wajah datarnya.
Jawaban datar Rai menjadi penutup pembahasan kuliner malam ini sebelum mereka berenam menghampiri para sopir keluarga masing-masing.
✧✧✧
"Mamiiiii, Jenna pulang. Aa, Kak Yumna sama Langit ada di dalam ‘kan, Mi? Jenna kangen banget udah lama gak ketemu mereka selama jarang pulang dalam masa pengembaraan mencari gelar bergengsi," cerocos Jenna, ia baru saja turun dari mobil dan langsung menghambur kepelukan mami tercintanya.
"Gitu ya, yang disamperin duluan Mami. Terus yang ditanyain cuma Langit, Willy sama Yumna." Papi Yodha yang merasa dinomor duakan berpura-pura merajuk.
"Yee, Papi gitu aja merajuk. Kalo Papi tuh jelas orang yang amat sangat paling Jenna kangenin pake banget." Jenna memeluk sang papi dengan erat sambil melayangkan rayuannya.
"Aa sama Kakak kamu teu jadi pulang. Sekarang ayo kita masuk dulu," ajak mami Machiko sambil merangkul pundak Jenna.
"Kenapa? Aa janji bakalan balik juga pas kami telponan tempo hari. Sekalian ngerayain baby shower-nya Kak Yumna" Alis Jenna bertaut karena tidak biasanya Willy mengingkari janjinya.
"Kandungan Kakak kamu teh masih kudu dijaga bener karena ada twin babies jadi belum boleh melakukan perjalanan jauh," jawab mami Machiko memberikan penjelasan.
"What! Jenna beneran jadi Onty dari bocah kembar dong? Iiih, Mami. Kenapa baru dikasih tahu sekarang? Semoga kali ini cewek biar kita ntar ada temen shopping-nya ya, Mi." Jenna antusias mendengar berita kehamilan Yumna.
"Malah belanja yang kamu pikirin, Nak. Mau cewek atau cowok lagi yang penting dia lahir sehat, selamat dan lengkap." Mami Machiko tampak tidak sabar ingin bertemu dengan calon cucu kedua dan ketiganya.
“Jadwal wisudamu kapan pastinya, Jen?"
'tumben Papi nanyain pertanyaan beginian. Bukannya kemarin gue udah kasih tahu ke Mami, ya?' batin Jenna mulai mencurigai sesuatu.
"Kemarin pas kelar ujian ‘kan udah Jenna kabarin ke Mami, Pi. Ini undangan resminya juga udah keluar. Kenapa emangnya?" Jenna memasang wajah innocent-nya seolah tak tahu ada maksud tersembunyi dari pertanyaan papinya.
"Bagus deh. Berarti bentar lagi Papi sama Mami udah bisa ketemu sama calonmu, ‘kan? Jangan bilang kamu lupa sama perjanjian kita. Kamu boleh ambil jurusanmu yang sekarang tanpa harus ambil program bisnis kalau sebelum wisuda kamu udah kenalin calon suamimu," tegas Papi Yodha langsung to the point.
"Papi mulai, deh. Anaknya baru dateng juga udah diajakin bahas itu lagi." Benar tebakan Jenna. Sepertinya Papi Yodha masih tidak rela Jenna memilih jurusan yang tidak berhubungan langsung dengan bisnis keluarga mereka.
"Kamu ‘kan tahu sendiri Willy masih fokus sama perusahaan kita yang di luar negeri. Jadi sebagai putri satu-satunya keluarga Yodha Saba kamu yang harus bantu meng-handle perusahaan di Indonesia, tapi berhubung kamu tidak mau mengurus perusahaan, ya wajar ‘kan kalau Papi berharap sama suami kamu nantinya," ucap Papi Yodha mengingatkan kesepakatan mereka kembali.
"Kalau ternyata Jenna dapet suami yang gak mau nerusin perusahaan Papi, gimana coba?" Jenna masih bersikeras dengan pendapatnya.
"Berarti tidak ada pilihan lain. Kamu harus menerima perjodohan yang sudah Papi siapkan. Sudah cukup Papi sama Mami jauh dari keluarga. Sekarang waktunya kami berdua main sama cucu dan memanjakan mereka tanpa perlu pusing mengurus perusahaan lagi. Toh, kalian berdua sudah dewasa," jelas Papi Yodha panjang lebar. Ternyata inilah alasan terbesar tuan dan nyonya Saba memaksa Jenna untuk segera menikah.
"Kita bahas ini besok aja, Jenna capek mau istirahat dulu." Jenna yang mulai bimbang setelah mendengar penjelasan papinya memilih melarikan diri ke kamarnya.
✧✧✧
"Jenna mau ke mana kamu pagi-pagi begini, Nak?" Mami Machiko yang sedang menyiapkan sarapan penasaran melihat Jenna sudah rapi padahal matahari belum tinggi.
"Mau ketempat Kak Diba, Mi."
"Hari ini kita akan kedatangan tamu. Jadi kamu wajib standby di rumah," potong Papi Yodha yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Kalo gitu sebentar doang, Pi. Sampai sebelum makan malam deh?" tanya Jenna mencoba menawar.
"No!" tolak Papi mentah-mentah.
"Kalau jam empat?" tawar Jenna sekali lagi, tapi papinya tetap bergeming.
"Sampai lunch aja deh, ya?" Kali ini Jenna mangeluarkan ekspresi Puss in bots andalannya.
"No, Jenna! Buat kali ini aja Papi tidak mau ada tawar-menawar lagi. Kamu harus stay di rumah," tegas papinya mengakhiri percobaan tawar-menawar Jenna.
"Udah, sekarang ayo kita sarapan dulu. Jenna, nanti Mamih mau bicara sama kamu," ucap mami mengakhiri ketegangan antara ayah dan anak bungsu keluarga Saba.
✧✧✧
Selesai sarapan mami Machiko mengajak Jenna berbicara empat mata di kamar Jenna.
"Kali ini aja, Nak. Kamu turutin permintaan Papih sama Mamih," tawar mami membuka percakapan.
"Permintaan soal perjodohan bisnis lagi pasti? I smell something fishy here." Jenna menyuarakan pikirannya yang sudah mulai menebak-nebak sejak semalam.
"Huss! Sama orang tua kok nuduh kitu. Percaya deh, orang tua mana pun di dunia ini selalu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya."
"Apa dong sebutannya kalau bukan perjodohan dan pernikahan bisnis? Palingan juga ujungnya sama aja, cinta datang karena terbiasa, ‘kan?" tebak Jenna dengan senyuman miris. Gini banget jadi anak keluarga pebisnis, semua serba berbau bisnis.
Mami hanya tersenyum. Tidak mengucapkan sepatah kata pun, lalu beranjak meninggalkan kamar Jenna.
'Udah gue duga. Papi gak akan percaya gitu aja dan ngebiarin gue nyari laki gue sendiri. Padahal gue gak mau mikirin soal pernikahan dulu. Gue bahkan belum dua puluh lima tahun, astaga Tuhan,' jerit hati Jenna miris.
✧✧✧
Malam ini, seperti yang sudah direncanakan. Rumah Jenna kedatangan tamu yang merupakan salah satu kolega bisnis keluarga Saba.
"Selamat datang, Dan. Silakan masuk," sambut papi Yodha pada tamu spesial mereka yang baru memasuki rumah. Ajakan papi ditanggapi dengan senyuman dan anggukan dari rekan bisnis yang katanya teman lama papi Yodha.
"Lama tidak bertemu. Kalian apa kabar?" Kali ini giliran mami Machiko yang beramah-tamah dengan para tamu.
"Kami baik. Rasanya sudah lama kita tidak bertemu untuk berbincang di luar urusan bisnis,” jawab teman papi Yodha yang bernama om Danu.
"Excel teh sibuk apa sekarang?" tanya mami Machiko pada satu-satunya pria muda yang duduk di ruang tamu keluarga Saba.
"Sekarang Saㅡ" jawaban Excel terjeda saat menatap sosok Jenna yang baru saja turun dari lantai dua.
"Eh, Jenna sudah turun. Duduk sini, Nak." Mami Machiko memanggil Jenna untuk bergabung.
"Sudah lama tidak bertemu ya, Jenn. Terakhir kali saat pernikahan Willy dan Yumna empat tahun lalu," sapa tante Danu yang hanya ditanggapi dengan senyum simpul oleh Jenna.
"Jadi, sibuk apa tadi, Cel?" sambung papi melanjutkan pertanyaan mami yang sempat terjeda.
"Saya sekarang mengelola perusahaan yang ada di Birmingham, Om," jawab Excel lugas.
"Oh, perusahaan baru lagi?" tanya papi Yodha mulai antusias.
"Iya. Dia yang ngotot bikin jauh-jauh di sana. Padahal dia bisa ambil alih perusahaan di sini aja kalau mau," timpal om Danu mulai membanggakan putranya.
"Mungkin ini yang namanya jodoh. Makanya Excel bisa kepikiran bikin perusahaan di Birmingham." Mami Machiko menanggapi dengan senyuman sambil memandang Jenna melalui ekor matanya yang melihat putri bungsunya sama sekali tidak tertarik dengan acara istimewa malam ini.
Pembicaraan ramah-tamah malam itu ditutup dengan makan malam bersama dan sesi pendekatan dadakan untuk Jenna dan Excel. Lebih tepatnya mereka berdua "dipaksa" untuk berbicara berdua agar semakin akrab. Well, itu sih harapan para Ibu saja.