Tentang Excel

2342 Kata
Kalau niatnya aja sudah tidak baik, jangan salahkan sifat dasar manusia yang selalu bertahan dan menyerang dalam keadaan terdesak. [Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy] Jenna mengirimkan banyak stiker di group chat yang beranggotakan Nasima, Abella, Farahdiba, Mauza, Rai, dan Hwan Spam Stickers Group Nasima Tukang Garem: | Mulai kumat nih bocah. Lo ngapain sih Jenno jam segini baru ngerusuhin grup begini? [08.31PM] Me: | S.O.S nih, Nas. Gue barusan aja ketemuan sama "yang katanya calon imam" gue. Kalo cuma lihat foto doang kan gue bisa ngeles kayak yang udah-udah. [08.31PM] Ibu Kost Kak Bella: | Gas pol ya Papih Yodha. Belum juga seminggu balik udah mulai aja acara "open house"-nya. [08.31PM] Me: | Nah itu dia Kak. Baru juga merasakan pengapnya udara Jakarta. Papi langsung sibuk nyodorin Jenna ke anak sahabat-sahabatnya. Jadi pengen buru-buru balik ke Oxford lagi. ㅠㅠ [08.32PM] Bunda Diba: | Makanan kali Jenn pake disodorin segala. Emang bagian mana yang kurang keren? Wajahnya, sifatnya atau otaknya? Kagak mungkin mobilnya, isi dompetnya atau keluarganya kan? Secara dia anak dari sahabat Papi. [08.32PM] Me: | Masih diinget aja dah Bunda Diba, mah. Kan udah Jenna bilang bagian deskripsi keren itu cuma bercandaan doang. [08.32PM] | Bang Rai, Hwan Oppa, sama Bang Mauza don't be sider please. ㅡ_ㅡ" [08.32PM] Oppa Idaman: | No Comment Jaein. Susah kalau orang tua sudah bertindak. [08.32PM] Babang Rai: | reply to @Oppa Idaman (2) [08.33PM] Babang Rai: | Pasti udah dipertimbangkan sama Om dan Tante sebelum diundang secara resmi ke rumah. [08.33PM] Me: | Jadi maksud Oppa sama Bang Rai. Jenna disuruh pasrah aja nih? ㅠㅠ [08.33PM] Bang Mauza Tengil: | Lo, sih. Bukannya kemaren udah dikasih pilihan pas kita masih di Alice? Kenapa juga lo jual mahal? Bukannya langsung gercep. Pusing sendiri kan lo sekarang. Mamam tuh dijodohin kek jaman batu! [08.33PM] Me: | Makasih loh Bang Tamtam atas sarannya yang tidak membantu sama sekali. Emang susah ngomong sama Kang Garem beryodium! [08.33PM] Me: | Lagian kan kemaren masih dalam tahap preambule a.k.a pembukaan doang. Masa gue suruh ketemuan sama mereka semua macam gue ini piala bergilir? [08.33PM] Bang Mauza Tengil: | Ya bukan gitu juga Jenno. Masa diantara puluhan cowok kemaren gak ada yang menarik sama sekali buat nyobain say hi dululah paling kagak? [08.34PM] Bang Mauza Tengil: | Lo kagak basa-basi seadanya sama mereka terus lebih milih mainin online game lo kan? [08.34PM] Me: | Kebanyakan sih setelah ngobrol selama 30 menit pertama kami masih asik aja tuh ngobrol via skype. Trus menit berikutnya karena kayaknya udah habis bahan pembicaraan yaaa~ Jenna daily lah, Bang. Daripada gabut setelah say see ya, ‘kan? [08.34PM] Bunda Diba: | Kalau kebanyakan bertahan 30 menit, terus sisanya? [08.34PM] Me: | Sisanya 15 menitan. Wkwkwkwk [08.34PM] Ibu Kost Kak Bella: | Parah banget lo Jenno! Masa dicuekin gitu aja padahal pada bening-bening kek perhiasan desain spesialnya Mama Estela? Pantesan pada gak ada kelanjutannya kalau gitu mah, sungguh para pria lajang nan malang. Ckckckck [08.35PM] Oppa Idaman: | Sepertinya mereka memang bukan tipe kamu ya Jaein? [08.35PM] Nasima Tukang Garem: | Bukannya gitu Oppa. Emang si Jenno aja yang rada-rada [08.35PM] Babang Rai: | Ya udah, pasrah aja dijodohin. Gak ada pilihan lain buat ngeles lagi kan? [08.35PM] Me: | Tapi Jenna gak suka, gimana dong? Dari responnya sesorean ini dia kelihatan lebih tengil dari Bang Mauza + lebih kutub dari Bang Rai! [08.35PM] Bang Mauza Tengil: | Semprul Lo! Selamat menikmati adekku yang slebor. Gue afika udah waktunya push rank [08.36PM] Nasima Tukang Garem: | R.I.P turut berduka sayangkuh [08.36PM] Nasima Tukang Garem: | P.S. Login bareng dong Bang Tamtam. Gendong gue pliiisss #send stiker puss in boots [08.36PM] Bunda Diba: | No Comment! afk jg dipanggil tuan besar Aryasatya [08.36PM] Bang Rai: | reply to @Bunda Diba (2) mau ngecek berkas lagi. [08.36PM] Oppa Idaman: | reply to @Bang Rai (3) aku balik sama laporan dulu [08.37PM] Ibu Kost Kak Bella: | reply to @Oppa Idaman (555) cake gue hampir gosong [08.37PM] Me: | Yang kalian semua lakukan ke saya itu, JAHAD!! ㅠㅠ [08.37PM] ✧✧✧ Setelah curhat unfaedah yang tidak memberikan penyelesaian apa pun semalam. Akhirnya malam minggu ini Jenna harus rela berdandan cantik untuk acara yang katanya makan malam romantis dengan Excel. "Cantik banget sih anak gadisnya Mamih." Mami Machiko sempat khawatir jika Jenna akan berulah lagi seperti yang sudah-sudah. Mami tampak terkejut saat masuk ke kamar Jenna karena pemandangan kali ini berbeda. Tidak ada acara rengekan atau merajuk seperti yang dulu. Jenna juga tampak sudah berdandan rapi tidak seperti biasanya yang berpura-pura bangun kesiangan atau kesorean hingga melakukan segala sesuatunya dalam mode super lambat. "Mami bisa aja. Padahal Jenna paling noob soal dandan, alat make-up aja gak punya. Emang udah dari cetakannya kan begini, Mi? Kagak perlu dipoles kek mau ngelenong," celetuk Jenna tampak tak antusias. "Huss! Kamu mah kalau ngomong kebiasaan. Behave Jenna, ‘kan sebentar lagi jadi calon istri." Mami mulai melancarkan jurus keyakinan sepihak. "Masih calon-to-be. Masih jauuuuhhhh dan belum tentu juga ‘kan bakal jadi sama Excel?" Jenna mulai mengeluarkan mode penolakan sambil memasang wajah innocent. "Emang Excel kurang apa? Kita semua tahu jelas siapa dia dan keluarganya." Mami mulai membela Excel. "Yang anak Mami tuh Jenna apa Excel coba? Emang kebahagiaan Jenna gak penting ya buat Mami sama Papi? Gak cukup Bang Willy yang harus rela dijodohin?" Jenna mulai terbawa emosi. "Jelas Mamih sama Papih peduli sama kebahagiaan kamu. Udah jangan nangis, mana udah cantik gini. Jangan sia-siain bedaknya,"—Mami hendak keluar kamar, tetapi berhenti saat akan membuka pintu—"kamu harus tahu, Nak. Papih menerima perjodohan pasti dengan satu syarat. Anak-anaknya harus merasa yakin sebelum menyetujui proses lamaran. Keluarga kita bukan seperti keluarga kebanyakan yang menikahkan keturunannya demi bisnis atau apa pun semata. Kami tidak pernah mengorbankan anak-anak kami. Karena itu prinsip yang ditanamkan dari kedua kakek kalian," jelas mami Machiko sebelum beranjak keluar dari kamar Jenna. Malam ini Jenna habiskan dengan "menjadi gadis penurut". Dari tadi Jenna hanya mengikuti rencana Excel. Mulai dari pilihan resto, menu, sampai tempat-tempat yang mereka kunjungi. Bukannya mendadak pasrah lalu setuju dengan perjodohan ini. Hanya saja Jenna ingin tahu benarkah dugaannya tentang sifat Excel. Sekaligus merencanakan banyak hal, seandainya dia harus menghentikan perjodohan ini nantinya. Karena Jenna sudah tahu satu hal. Tidak ada pernikahan karena paksaan di keluarganya. ✧✧✧ Subuh tadi Jenna dan para sahabatnya baru saja mendarat di bandara Oxford menggunakan pesawat jet pribadi yang sama milik Raizel. Mereka harus berada di Indonesia selama dua minggu karena menghadiri pernikahan dari kakak Farahdiba. Termasuk Hwan yang datang langsung bersama keluarganya dari Seoul. Keluarga mereka memang sudah saling mengenal setelah mereka mengelola Alice bersama-sama. Setelah turun dari mobil yang dikendarai Mister Stanley sendiri. Akhirnya ketujuh sahabat ini kembali ke apartemen mereka. Hwan sedang mengambil salah satu mobilnya yang sengaja dia letakkan di area parkir basement apartemen terlebih dahulu karena dia dan Rai tidak tinggal di tempat yang sama dengan Mauza dan yang lainnya, melainkan di mansion mereka sendiri. Dia dan Rai memang sengaja meletakkan satu mobil cadangan atas ide Mauza. Jadi, mereka bisa langsung menggunakan kendaraan pribadi mereka tanpa perlu mengganggu yang lain setiap kali mereka membutuhkan. Lagipula mobil dari hadiah balapan Mauza juga ada yang diletakkan di garasi manor Raizel. Tak masalah bagi mereka untuk berbagi lahan parkir di properti milik mereka sendiri. "Finally, home sweet home." Nasima yang sudah menahan panggilan alam langsung melarikan diri ke dalam unitnya tanpa mempedulikan kopernya karena dia harus buru-buru menuntaskan hajatnya. "Itu bocah kebiasaan. Tiap bangun tidur pasti ribut nyari toilet." Jenna hanya bisa menghela napas setelah hampir terjungkal karena senggolan brutal dari Nasima. "Aku ambil mobil dulu ya, Rai. Lalu kita langsung balik," cetus Hwan setelah mengambil kopernya yang baru saja diturunkan oleh salah satu anak buah Mister Stanley dari bagasi mobil lain yang dikemudikan anak buahnya karena barang bawaan mereka sangat banyak setelah kembali dari tanah air. Selalu seperti ini setiap kali mereka pulang. "Kak Rai sama Hwan Oppa gak istirahat dulu di tempat Mauza? ‘Kan kita habis perjalanan jauh," celetuk Farahdiba melontarkan idenya. "Boleh gak, Tam? Kalo boleh gue telepon Hwan sekarang mumpung dia belum sampai parkiran," tanya Rai meminta persetujuan. "Gitu aja pake nanya. Tempat gue ‘kan selalu terbuka buat kalian, Bang," jawab Mauza enteng setelah meregangkan tubuh kakunya. "Ciee, yang baru jadian. Gak rela bener jauh-jauhan," goda Bella sambil menggerakkan alisnya naik turun. "Loh, kalian kapan jadiannya? Perasaan pas liburan kemaren baru kode-kodean doang." Mauza mulai penasaran karena melewatkan cerita seru yang bukan gosip tentunya. "Loh, kapan Kak Diba sama Bang Rai kode-kodean? Kok Jenna kagak tau?" Jenna yang paling bungsu juga paling telat update mulai ikutan kepo. "No comment. Tanya aja sama Farah." Rai yang baru selesai mengabari Hwan lalu mengambil alih koper Farah untuk dibawa masuk dengan sikap cool-nya. ✧✧✧ Para gadis langsung berkumpul di unit Farahdiba untuk memastikan berita terhangat selama mereka liburan. "Jadi, gimana cerita detailnya, Kak? Jadi kepo nih," tanya Jenna setelah dia menjarah sekotak s**u strawberry kesukaannya dari kulkas Farah. "Buruan kasih tahu, Kak. Gue juga kay po laaaa. Terakhir gue lihat tuh Kak Farah pergi berdua mulu sama Babang Rai sebelum nikahannya Mas Ardan sama Kak Elle." Nasima mulai pasang mode penyebar fakta sambil memangku setoples kue sus kering favoritnya. "Eh, don't be so kay po laaa. Pergi berdua itu ‘kan dalam rangka menyelesaikan misi dari Ibund sama Ayah. Tahu sendiri nikahan mas Ardan dipercepat gara-gara kontrak mereka ketahuan. Gak nanggung-nanggung dipercepatnya aja enam bulan," jawab Farah diplomatis sekaligus berkelit sambil membawa jus mixberry segar favorit mereka yang baru saja dia buat. “Hwidiih, lidat banget kalo pada becanda pakai Singlish. Kami nanya tuh proses jadiannya, Akak sayaaang. Bukan mukadimah sebelum prosesnya, Kak." Jenna yang mulai kelaparan makin tidak sabaran mendengar jawaban Farah. "Tenang anak-anak. Duduk manis, dengarkan dengan seksama sambil makan croque madame bikinan Kakak, nih. Now let's have a chin wag karena makanan kita udah jadi semua, tinggal nganterin punya para pria setelah mereka kelar bebersih dan ngabarin kita." Bella mulai menyuapkan sepotong roti lapis yang dikenal juga sebagai sandwich khas Prancis ke mulut adik-adiknya. "Okay laa, can laa, Aunties. Jadi, begini ceritanya, kita mulai deket tuh gara-gara Jenna yang asal ceplos aja bilang kami berdua lebih cocok jadi pasangan beneran daripada sekedar kolega bisnis di Alice waktu itu. Terus gegara acara kemaren itu, ‘kan karena ribet banget makanya Bang Rai makin sering ke rumah buat bantuin. Nah, kami jadian pas malem resepsinya Mas Ardan sama Kak Elle." Farah merangkum jawaban sesuai permintaan dari pemirsa. "Hwidiih, like a fairy tale yak. Gak nyangka mulut Jenno yang ceplas-ceplos mendatangkan jodoh sejati buat Kak Diba." Nasima menanggapi sambil bertepuk tangan berlebihan dan tawa kencang yang dibuat-buat karena melihat wajah merona Farahdiba. “Seandainya mulut gue bisa mendatangkan jodoh impian gue juga." Tatapan Jenna mulai menerawang sambil berkaca-kaca. "Yaelah, Kenapa sedih sih, Jenn? ‘Kan udah ada Babang Excel," goda Bella dengan maksud menyelidik. "Iya, lo kayak yang jomblo sendirian aja diantara kita-kita, Jenn," timpal Farah. "Harusnya kalian tanya. Gue masih lanjut kagak sama tuh si Excel word power point?!" Jenna mulai meluapkan isi hatinya dengan frustasi. "Lo curcol mah curcol aja, Jenno. Jangan mulai nyolot! Ntar gue timpuk pake club sandwich extra cheese ditaburin cabe bubuk level sepuluh nih." Nasima yang teringat gelagat aneh Excel saat mereka tidak sengaja bertemu di PIM dulu mulai mengorek fakta-fakta dari sisi Jenna. "Adek gak boleh mode galak, ya! Nih Kakak ambilin cabe bubuk level tiga puluh yang kamu cariin dari tadi." Bella yang sudah mendengar info dari Nasima memberikan kode pada adiknya untuk tetap tenang agar Jenna lebih leluasa meluapkan perasaannya. "Gue ‘kan udah bilang dia itu tengil ditambah sok cool kuadrat. Terakhir ketemu sebelum kita sibuk bantuin Kak Diba sama Ibund Cleo. Dia bilang kalo kita udah balik ke sini, kami gak bakal bisa sering ketemuan kayak permintaan para orang tua," terang Jenna menjelaskan permasalahannya. "So, itu artinya lo udah mulai suka sama Excel makanya gak mau jauhan kitu?" selidik Bella lagi. "Oh, tentu tidak pemirsa! Gak mungkin laaa, secara dia itu gak menunjukkan tanda-tanda PDKT yang baik dan benar. Tiap pergi selalu dia yang tentuin mau ke mana, ngapain aja, sampe apa yang kita makan dia semua yang ngatur. Gue kayak anak polos yang gak punya hak buat berpendapat. Terus dia juga gak coba cari tahu tentang gue. Dia cuma bahas tentang apa yang dia suka, apa yang dia gak suka, termasuk dia mau gue seperti apa nantinya! Dikirain gue robot, apa? Tinggal diprogram doang semua bisa sesuai keinginan dia! Kan jadi unfaedah gitu, gue buang-buang waktu cuma buat orang egois macem dia!" jelas Jenna panjang lebar penuh dengan emosi. "Jadi, maksud lo dia ada hidden agenda gitu? Terus lo gak coba cerita ke Mami?" kali ini Farah yang bertanya curiga. "Menurut Kakak? Emang Mami bakal percaya tanpa ada bukti nyata depan mata, tapi untungnya Mami sempet bilang kalo hubungan ini gak akan ada paksaan. Kami cuma kenalan dulu kalau cocok baru lanjut, kalo gak Papi sama Mami juga gak akan terusin. Katanya sih, tapi moga aja beneran begitu," imbuh Jenna lagi dengan nada super dongkol. "Ya udah deh. Gak usah dipikirin! Untung kalian masih belum terlanjur makin jauh ini, ‘kan? Banyak doa aja lo, biar segera dijauhkan dari makhluk kamvredo cem dia." Nasima ingin memberitahukan temuannya tentang Excel, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. "Bener kata Nasima. Sekarang mending kalian istirahat di sini dulu. Gue mau ke bawah bentar, nganterin sarapan croque monsieur punya para pria. Tumben lama bener mereka chatnya. Pada ketiduran apa gimana coba?" Farah menyudahi pembicaraan mereka sebelum kesedihan sekaligus kekesalan Jenna makin berlarut-larut. ✧✧✧ Jenna PoV Ngapain sih gue pake acara sedih segala cuma gara-gara orang yang gak penting. Eh, tapi ini di mana? Sejak kapan gue ada di sini? bukannya tadi gua ada di tempat Kak Diba? Itu siapa lagi, yang berdiri di depan jendela?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN