Siapa bilang air mata perempuan itu hanyalah tanda kelemahan belaka?
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Braaak!
"Aaaww!!" pekik Jenna. Dia sudah tersungkur di atas karpet bulu berwarna krem. 'Sialan! Jadi, barusan gue cuma mimpi?!' teriak batin Jenna yang masih kesakitan karena siku kirinya tertindih oleh badannya saat dia terjatuh. Dia belum juga beranjak bangun dari karpet senyaman bulu sungguhan itu. Masih setia dengan posisi telentangnya setelah mengamankan sikunya yang berharga karena masih banyak lukisan yang ingin ia selesaikan, dia mulai mengingat kembali mimpi anehnya beberapa saat lalu.
"Astoge ni anak! Lo ganggu mimpi indah gue aja sih, Jenno!" sungut Nasima. Bukannya membantu Jenna untuk berdiri, Nasima yang merasa tidurnya terganggu malah marah-marah kepada Jenna.
"Tega banget lo, Nanas! Bukannya bantuin gue berdiri malah sibuk ngomel-ngomel kitu. Gue teh tadi juga lagi mimpi indah tau!" gerundel Jenna yang sempat terkejut karena bentakan Nasima, sambil mencebikkan bibirnya, dia pun bangkit hendak duduk di sofa.
"Lo gak kenapa-napa 'kan, Jenn?" Farah yang baru kembali dari unit Mauza terkejut dengan suara berdebam dari ruang tengah.
"Kakak kirain lo tadi lagi senam lantai, Jenn." Bella yang baru keluar dari kamar mandi berbelok ke arah pantry untuk mengambilkan Jenna segelas air hangat.
"Ada yang luka gak? Lo tadi mimpi apaan sampai akrobat gitu?" Farah membantu Jenna duduk kembali di sofa, lalu mulai memeriksa tubuh Jenna untuk mencari adakah luka yang terbuka.
"Nih, minum dulu." Bella menyodorkan segelas air mineral pada Jenna.
"Makasih, Kak Bella. Gak ada yang luka kok, Kak Diba," ucap Jenna masih malu sekaligus ragu membicarakan tentang mimpinya.
"Yakin, gak ada cidera apa gitu?" Kali ini Nasima yang bertanya dengan raut wajah bersalah sebab tadi sempat membentak Jenna karena membuatnya terlonjak dari tidur siang mereka.
"Gak berasa ada yang perih kok, berkunang-kunang juga kagak. Beneran deh," jawab Jenna meyakinkan para gadis.
Nasima dan kedua kakak mereka masih memandangi si bungsu yang ceroboh dengan tatapan menyelidik.
"Gue mau balik ke flat dulu deh. Mau lanjut tidur dipelukan teddy bear gue aja daripada jatuh lagi di sini." Jenna sengaja mengalihkan pandangan setelah berbicara pada mereka bertiga.
“Kalo gitu kita balik juga yuk, Kak," ajak Nasima pada Bella.
"Ya udah. Jenna ntar kalo lo ngerasa ada yang sakit langsung bilang sama Kakak, ya. Jangan ditahan-tahan lho," desak Farah sambil mengantar mereka menuju ke arah lift.
"Woiya jelas, Bunda. Udah, gak usah mulai khawatir berlebihan gitu dong, Kak Diba."
Begitu pintu lift terbuka, Jenna langsung melesat sebelum para gadis di depannya kembali membahas mimpinya.
✧✧✧
"Aduh Jenna Himeka Sabaaa, lo apa-apaan sih? Sumpah malu banget! Baru kali ini gue mimpiin cowok sampai pake acara jatuh segala. Mana gue tadi cuma lihat tampak belakangnya doang lagi. Semoga mereka gak banyak tanya kalau bahas kejadian memalukan tadi atau lebih baik kalau mereka lupa aja sekalian." Jenna jadi histeris sendiri sambil mondar-mandir mirip setrikaan yang belum panas.
"Tapi kalo diinget-inget lagi, diantara semua cowok yang gue kenal gak ada yang punya bentuk tubuh kayak cowok di mimpi gue tadi deh. Makin penasaran ‘kan gue sekarang jadinya atau jangan-jangan gue jadi kebawa mimpi karena akhir-akhir ini jadi keseringan nonton drama Korea?"
“Oh iya, DraKor! Gue ‘kan masih punya list drama yang mau gue tonton. Mending gue tonton sekarang aja deh, daripada mikirin punggung cowok yang gak jelas siapa pemiliknya." Jenna segera menyambungkan layar proyektor di kamarnya dengan sinyal internet, lalu mulai menonton drama yang sudah ditunggu-tunggu olehnya sambil menunggu waktu makan malam tiba.
✧✧✧
Akhir pekan setelah mereka kembali dari Nusantara.,
Hari ini mereka bertujuh berencana pergi ke London untuk jalan-jalan dan sedikit berbelanja pastinya. Mereka memutuskan untuk mengunjungi salah satu distrik di timur kota Westminster dan selatan Camden. Apalagi kalau bukan Covent Garden.
Menjelang sore hari setelah lelah berkeliling mereka memutuskan untuk makan malam lebih cepat. Sampailah mereka di Sushisamba, karena para gadis ingin menikmati hidangan khas Jepang sementara para pria ingin makan masakan Brazil dan Peru. Mereka memilih duduk di area balkon yang menghadap langsung ke arah Covent Garden Piazza.
Sesaat sebelum desserts mereka dihidangkan, tidak sengaja netra cokelat Jenna menangkap sosok Excel sedang berdiri di salah satu sudut Covent Garden Piazza. Dia tidak sendiri, seorang gadis berambut pirang sedang bergelayut manja di lengannya. Jenna yang penasaran segera pamit ke toilet restoran namun segera menyelinap dengan cepat ke arah Excel berada.
Jenna mengikuti mereka yang berjalan ke salah satu area pertokoan. Samar-samar Jenna mendengar gadis bercat rambut blonde itu membicarakan tentang gadis yang dijodohkan dengan Excel. Oke, jadi dia tahu siapa Jenna. Dengan entengnya dan tanpa merasa bersalah Excel menjawab bahwa hubungannya dengan Jenna hanyalah demi melancarkan bisnis yang sedang dirintisnya. Bagian terparah dari percakapan itu adalah jika nanti Excel berhasil menikahinya, dia akan mengajak Jenna tinggal jauh dari keluarga dan sahabat-sahabatnya, tetapi gadisnya itu akan tetap tinggal di samping mereka. Jadi, hubungan Excel dan si Buceri (alias bule ngecat sendiri) tidak perlu diakhiri. Excel akan mendapatkan apa yang dia inginkan dan membuat Jenna tidak akan berani membuka mulut apalagi meminta cerai.
"Jenna. Nanti kalau kita udah di UK kita cuma bisa ketemu pas weekend dua minggu sekali. Gue pasti bakalan sibuk sama bisnis gue di sana. Ini ‘kan juga demi masa depan kita." Jenna tiba-tiba teringat dengan ucapan Excel saat terakhir kali mereka bertemu di Jakarta. 'Oh, Jadi ini maksud lo dengan sibuk! Sibuk menyusun siasat untuk menghancurkan keluarga dan masa depan gue?! Bukannya sibuk nyiapin pertunangan akal-akalan lo doang!' batin Jenna dengan napas memburu menahan emosi.
Disaat-saat seperti ini Jenna selalu teringat perkataan Grand Master-nya yang juga ayah dari Nasima, "Nasima, Jenna. Saat kalian dihadapkan dengan situasi yang menyulut emosi, kalian harus tetap tenang. Menanggapi kemarahan dengan kemarahan hanya akan memperburuk situasi."
"Tapi, Pa. Misal nih kita dibully atau kita dalam posisi yang bener. Kita boleh dong serang duluan sebelum mereka melukai kita?"
"Kamu ini, Khailina. Tujuan seseorang belajar bela diri apa pun jenis dan sebutannya adalah untuk self defense. Bukan untuk menyakiti orang lain. Jadi, kalau kalian mendahulukan okol bukannya akal maka kalian sudah jelas kalah setengah babak. Karena itu, sebisa mungkin jangan terpancing emosi. Baca situasi, segera buat strategi. Jika bisa mengindar, maka hindari. Jika keadaan tidak menguntungkan maka bertahan dari serangan lalu membalas serangan seefektif mungkin untuk mencari celah menyelamatkan diri. Ingat ya, seseorang yang memegang kendali adalah dia yang bisa menggunakan logikanya walau dalam keadaan terdesak sekalipun dan selalu bertindak setelah mempertimbangkan resiko."
'Dear Excel. Kali ini lo salah pilih lawan! Sepertinya seorang Jenna Himeka Saba harus mengembalikan lo ke jalan yang benar!' ucap batin Jenna berapi-api setelah sedikit bernostalgia dengan salah satu motto hidupnya sembari menunggu sampai mereka berada di area yang sedikit sepi.
"Menjijikkan!" Jenna tiba-tiba mengejutkan mereka berdua.
Excel dan si Buceri terkejut lalu membalikkan badan, "Je-jenna! Ngapain lo di sini?!" Excel yang terkejut menepis lengan si Buceri.
"Biasa aja kali, Ex. Gak perlu ditepis gitu tangannya. Ntar dia oleng, jatuh, terus mukanya nyium paving ‘kan bisa rusak hidung hasil oplasnya,"—Jenna mulai mempermainkan emosi mereka—"beruntung banget gua jalan ke sini hari ini. Gue jadi semakin sadar kalo Tuhan itu sayaaang banget sama gue. Bagus deh, gue tahu semuanya sebelum terlambat! So, gak ada salahnya ‘kan gue kasih tahu keluarga kita kalau perjodohan ini udah GAK PERLU DILANJUTIN!" tegas Jenna.
"Jangan berani yaㅡ" bentakan Excel terjeda karena kode tangan dari Jenna yang menyuruhnya diam.
"Kalo lo pikir gue cuma cewek yang taunya shopping, manja, lemah dan bisa dibodohin seperti yang lo bilang tadi! Sepertinya kalimat itu lebih cocok buat cewek di samping lo itu deh!" sindir Jenna menyeringai sambil mengarahkan handphone ke telinga kirinya.
"Mau apa lo?!" Excel berjalan mendekat.
"Jangan berani lo nyentuh gue! atau—" Jenna mundur beberapa langkah.
Excel kira Jenna ketakutan dengan gertakkannya. Padahal Jenna sedang bersiap untuk memasang kuda-kuda Ap Seogi.
"Atau apa?!" Excel semakin mendekat dan hendak meraih handphone Jenna.
Secepat kilat Jenna kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket ber-zipper-nya dan menepis tangan Excel menggunakan Olgul Makki, lalu memukul batang hidungnya menggunakan Olgul Jireugi dan menendang ‘adik’ Excel dengan lututnya. Walaupun Jenna tau dua teknik ini dilarang dalam kompetisi, tapi Jenna sudah tidak tahan dengan kelakuan Excel yang semakin merendahkannya. Excel yang tidak siap akhirnya tumbang kesakitan.
Si gadis buceri yang melihat hal itu hendak mendekat membantu Excel, tetapi kalah telak terlebih dulu setelah mendapat tatapan mengintimidasi dari Jenna. Apalagi ternyata Nasima dan yang lain sudah berada di belakang Jenna.
Sahabat-sahabat Jenna berjalan mendekat ke arahnya. Nasima bertepuk tangan setelah menyaksikan tumbangnya Excel di tangan Jenna.
"Tontonan yang lebih menarik dari pada penampilan di Royal Opera House." Mauza merangkul pundak Jenna sambil mengacungkan jempolnya.
“Lhoh, Kok kalian ada di sini?!" Raut wajah Jenna yang kebingungan sangat kontras dengan apa yang dia lakukan beberapa saat lalu.
"Lo lupa kalau kita punya Farahdiba dengan sifat Goose Mother-nya. Jelas dia yang instingnya langsung peka setelah sadar lo gak balik setelah lima menit." Bella mencoba menjelaskan.
"Gue gak bakal tinggal diem. Gak ada yang bisa—" ujar Excel tidak terima dan berusaha berdiri ditopang si Buceri sambil menutupi hidungnya yang terus mimisan dan pangkal pahanya yang sudah ngilu tak terhingga.
"Gue yang bakal bikin lo diem! Ayo kita balik sekarang." Dengan ekspresi dan suara datarnya Rai menyela kalimat Excel dan mengajak yang lain pergi meninggalkan Tempat Kejadian Perkara.
"Mending kamu segera ke rumah sakit biar lukamu cepat ditangani," kata Hwan datar meskipun tatapannya terlihat sangat meremehkan Excel. Sepertinya sebentar lagi dia akan menelepon anak buah atau rekannya untuk mencari tahu si cécunguk ini berani meminta pertolongan medis ke mana setelah membuat ulah yang menjijikkan seperti barusan. Ia dan Raizel pasti akan memastikan pria menyedihkan ini tak berani mendekati adik bungsu mereka lagi.
✧✧✧
"Jennoo!! handphone lo bunyi terus nih dari tadi." teriak Nasima dari ruang tengah unit milik Farah.
"Kalo penting angkat aja sih, Nas. Gue masih separo jalan nih, belum tuntas." balas Jenna berteriak dari dalam kamar mandi.
"Jorok banget lo jadi cewek!" Mauza ikutan menanggapi dengan teriakan, tetapi tangan dan matanya tetap fokus ke layar ponsel canggih miliknya yang khusus diluncurkan untuk para pecinta permainan daring.
"Bisa gak, kalian berhenti teriak-teriak? Untung kita gak punya tetangga yang berdekatan di gedung ini." Bella melayangkan protesnya sambil membawa vla pudding kesukaan mereka dari pantry.
"Kalian heboh banget sih, sampai kedengeran begitu gue keluar dari lift." Farah yang baru kembali dari parking lot untuk mengantarkan Rai dan Hwan berdecak heran dengan kelakuan saudara-saudaranya.
"Mana ada kedengeran sampe luar, Kak? Orang apartemen kita aja kedap suara." Nasima berbicara dengan mulut penuh puding.
"Kedengeran dong. ‘Kan tadi kalian teriak-teriak pas Kakak buka pintunya," sanggah Farah.
"Siapa sih yang nelponin si Jenno? Berisik banget dari tadi!" Mauza yang mulai terganggu konsentrasinya melirik ke layar ponsel Jenna.
"Ngapain lagi ni bocah?! Gak jera juga gangguin Jenna!" Bella yang melihat kata ‘Ba$tard’ terpampang di layar ponsel Jenna sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Paling dia mau mohon-mohon sama Jenna. Kak Rai tadi sempet bilang kalau dia sama Oppa udah ambil tindakan." Farah berkata sambil mengedikkan bahu.
"Biar mampooss!! Beraninya gangguin adik iparnya Raizel Adelard Schultz." Mauza menggoda Farah dengan ekspresi jahil nan tengil andalannya.
"Makin sayang deh sama Babang Rai sama Oppa Idaman yang makin idaman juga." Jenna langsung memeluk manja Farah dan memblokir nomor Excel.
Mereka tahu, Rai dan Hwan dengan koneksi juga pengaruh keluarganya bisa dengan mudah membuat Excel jera hingga tidak berkutik.