Kalau ini mimpi, bolehkah aku memilih untuk tetap tertidur selamanya agar selalu bisa bersamamu? Cih! Kok jadi picisan banget sih hari ini.
[Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Saat ini hanya Jenna seorang yang masih bertahan di apartemen mereka. Sedangkan yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mauza, Bella, dan Farahdiba sedang memiliki jadwal perjalanan bisnis sejak awal minggu ini. Meninggalkan Nasima dan Jenna yang bertugas mengurus Alice selama para kakak tidak berada di tempat. Nasima pergi lebih dulu ke Alice karena Wilfred mengabari Jenna jika dia ingin ngobrol sebentar dengan adik semata wayangnya.
“Dek, tadi Aa habis ngobrol via skype sama Rai. Farah sama Mauza udah cerita banyak soal kejadian di Covent Garden tempo hari,” ujar Wilfred melalui sambungan percakapan video.
“Kalau gitu Aa bisa kan bantuin jelasin ke Papi sama Mami? Jenna males kalau disuruh bahas soal ini lagi,” respon Jenna terlihat enggan sekali membahas soal si mantan tak tahu diri itu.
“Tenang aja, lagian sekarang Aa makin tenang karena tahu adek kesayangan Aa ini bakal baik-baik aja selama di sana. Gak sia-sia dulu Aa sempet stalking temen-temen kamu itu.”
“Mereka udah bukan di level temen lagi, A. ‘Kan Papi sendiri yang bilang mereka anak-anak Papi sama Mami juga. Pastilah mereka bakalan jagain Jenna yang imut ini. Aa fokus aja ke kak Yumna, Langit sama dedek kembar yang lagi ada di perut kak Yumna juga.”
“Iya, Onty nocturnal, bawel dan narsis. Jaga kesehatan, ya. Jangan sibuk ngegame atau marathon drama-drama terus. Lagian bukannya kamu harus nyiapin pameran tunggalmu, ‘kan? Kemaren lancar ngobrolnya sama temen Kakakmu yang kurator itu?''
“Iya, Aa yang lebih bawel. Tolong sampein makasih sama Kak Yumna. Berkat ide dari istri tercinta Aa tuh akhirnya aku bisa lepas dari urusan perjodohan dan stay di sini lebih lama dengan alasan pameran tunggal lukisan-lukisanku.”
“Doain semoga Yumna lahiran tepat waktu biar ponakan-ponakan Onty udah kuat diajakin travelling pertama kali ke Eropa buat dateng ke pameran pertamanya Onty kesayangan kami. Kalau soal perjodohanmu, kami cuma bisa bantu buat menunda. Papi sama Mami pasti masih syok juga setelah tahu kelakuan orang yang digadang-gadang jadi bagian dari keluarga kita. Sepertinya setelah ini seleksinya bakal makin ketat deh, Dek. But, apa pun itu pastinya kami gak mau terburu-buru lagi. So, untuk sementara waktu take your time dan fokus aja sama pameranmu, ‘kay?”
“Aamiin, gak sabar ketemu kalian. Jangan lupa kabarin kalau si Duo Dedek udah lahir ya, A. Walopun Jenna gak bisa nemenin pas mereka lahir, tapi Ontynya yang selalu ngangenin ini gak bakal lewatin skype-an tiap hari sama mereka. Ntar Jenna bikinin lukisan newborn mereka aja deh buat kado kalian.”
“Hahaha, beneran ya? Kami tunggu loh, ntar Aa tagih beneran kalau kelupaan. Ya udah, Aa istirahat dulu ya.”
“Iya, Salam buat semuanya ya, A.”
✧✧✧
"Astagaa, sungguh melelahkan dan meresahkan! But, makasih banyak, Ya Tuhan. Meskipun caranya sungguh menyakitkan, tapi rencana nikah muda ini bisa ditunda paling gak sampai tahun depan. Daripada baper gak jelas mending gue bikin samyang carbonara extra cheese pake toping lengkap ala chef Himeka aja deh buat late lunch, sekalian bikin stok buah potong baru gue berangkat ke Alice." Jenna mulai menyusun rencana untuk sisa hari ini.
Setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas yang mengalihkan rasa kecewanya selama di Alice dan saling menyapa dengan beberapa pelanggán setia sejak sore tadi, akhirnya Jenna bisa bergegas mandi sebelum dia semakin malas bersentuhan dengan air karena sebentar lagi waktunya makan malam.
Malam ini Jenna dan Nasima berencana menikmati hidangan yang lebih memenuhi angka kecukupan gizi. Setelah melalui proses menimbang, mengingat, dan memerhatikan akhirnya duo bungsu ini memilih untuk memasak sendiri di unit milik Jenna karena tadi siang gadis itu sudah khilaf mengonsumsi karbo instant ditambah dengan camilan penambah dosa dan massa tubuh selama ia menghabiskan waktu di Alice. Sungguh ironis saat dia terbiasa dengan latihan taekwondo, tetapi masih saja tergoda dengan makanan penggoda iman seperti itu.
"Jejeeen, ayo makan dulu! Makan malam spesial kita udah jadi nih," teriak Nasima dari arah pantry. Jenna bergegas keluar dari walk-in closet miliknya setelah menyusun pakaian yang sudah berbau wangi dan rapi agar lebih sedap dipandang.
“Hwidiih, emang ya penerus The Perfecto Club tuh emang tangannya pada ajaib semua. Kalau gue gak jadi salah satu saksi hidup perjuangan lo, pasti gue gak akan percaya tampilan unfeminin lo ini ternyata bisa menguasai dapur setiap rumah pengantin baru,” tukas Jenna sambil menyendok makanan khas keluarga Valerian yang memiliki banyak resep rahasia.
“Asem bener kalimat lo, Jen. Apa hubungannya tangan gue sama dapur rumah pengantin baru?”
“Karena pengantin baru biasanya belum jago masak kayak para ibu-ibu.”
“Kalau pengantin barunya elo mah gue percaya banget,” sarkas Nasima yang ditanggapi kekehan Jenna.
“Jen, gue besok subuh kudu berangkat ke London nih, ada kelas khusus weekend ini yang mau gue ikutin punyanya chef terkenal itu tuh. Ini tuh kesempatan langka banget karena dia langsung dateng sendiri besok. Jadi, gue mau mempersiapkan diri secara all out. Lo gak apa-apa ‘kan kalau gue tinggal sama anak buahnya Mister Stanley Always Know? Gak akan sendirian ini kok atau lo mau ikutan gue ke London? Siapa tahu butuh referensi buat salah satu lukisan lo gitu?” ajak Nasima memberikan tawaran yang cukup menggiurkan.
“Gak usah deh, weekend malah Alice biasanya rame banget ‘kan. Lagian ntar lo jadi gak bebas kalau tiba-tiba punya agenda tak terduga. Toh di sini juga gue gak bener-bener sendirian kayak kata lo tadi, ‘kan? Udah, lo up skill aja tuh keahlian. Siapa tahu ntar lo ketemu calon jodoh lo pas pergi sendirian gitu. Biar kayak di drama-drama gitu, Nas,” jawab Jenna penuh canda padahal sebenarnya terselip doa yang sangat tulus di sana. Mereka berdua malah akhirnya tertawa geli saat menyadari kalimat bagai plot ala novel dari bibir Jenna.
Karena Nasima sudah memiliki rencana sendiri untuk akhir pekannya dan harus tidur lebih awal, akhirnya Jenna menghabiskan waktu dengan menonton list drama Korea sekaligus film Hollywood yang ingin dia selesaikan selama akhir pekan ini sebelum kembali sibuk di studionya, “Oh my, kapan gue bisa ketemu cowok yang bener kayak babang rupawan ini? Cowok yang memenuhi kriteria husband material, ditambah body peluk-able, disempurnakan bibir lumat-able. Gak jago main gitar gak apa deh, asal jarinya panjang-panjang biar enak pas digandeng. Tuhan, please kirimin satuuu aja yang model begitu untuk hambamu yang tersayang dan imut ini." Doa dan fantasi Jenna mulai bermunculan dengan liar. Sanggahannya sih akibat insiden sakit hati yang baru saja terjadi, menjadikan tingkat halunya melesat menembus jagat raya.
✧✧✧
‘Silau banget, sih. Pasti udah pagi nih. Mimpi gue semalem indah banget deh. Cowok yang sempet muncul di mimpi gue pas ketiduran di flat Kak Diba akhirnya dateng lagi. Walaupun wajahnya samar, tapi masih mending karena kali ini gue bisa denger suaranya. Peningkatan laaa daripada tampak belakang doang kayak kemaren,' batin Jenna masih senyam-senyum sambil sesekali menutupi wajahnya dengan duvet berwarna putih favoritnya.
Jenna sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Sebelum instingnya segera mengambil alih. Mata cokelat terangnya memindai ke sekeliling kamar bernuansa pastel miliknya, sampai netranya bertemu dengan iris emerald yang mampu menghipnotis Jenna seketika.
Dia mengucek matanya berulang kali. Memastikan bahwa sosok yang ada di depannya ini bukanlah fatamorgana apalagi sejenis sosok makhluk ciptaan Tuhan yang selalu membuatnya merinding hingga nyaris meriang diliputi kengerian.
Setelah saling adu pandang selama beberapa menit. Akhirnya Jenna meyakini bahwa sosok di depannya saat ini adalah orang. Beneran, nyata! Karena Jenna sudah memastikan dia memiliki bayangan dan kaki pria ini menapak di atas lantai marmer apartemennya.
Namun tunggu dulu, apartemen ini ‘kan memiliki tingkat keamanan tinggi dan super canggih. Tidak mungkin anak buah Mister Stanley Always Know yang ada di lobi membiarkan orang asing bebas masuk keluar ke gedung ini. Mungkinkah intruder bisa menyusup ke apartemen canggih ini dengan mudah atau ini ada hubungannya sama Nonik-nonik mencurigakan malam itu?! OH NO!
Jenna's POV
"Siapa, Lo?! Jangan macem–macem ya! Gue DAN-3 taekwondo. Berani deketin gue, kelar hidup lo!” gertak gue sok galak, padahal tubuh gue mulai merinding antara takut bercampur, takjub? Aneh banget perpaduannya, ‘kan?!
Oh my, tenang Jenno jangan panik dan tetep kontrol ekspresi lo. Lo pasti bisa memikirkan jalan keluarnya. Inget! Setenang air agar bisa menguasai keadaan. Gue mulai komat–kamit dalam hati merapalkan mantra pengendali jiwa raga. Berusaha menguasai keadaan dan kesadaran saat mata polos gue digoda habis-habisan sama penampakan makhluk blasteran surga di depan gue. Dia bener-bener gak baik buat kesehatan karena bikin gue lupa berkedip apalagi bernapas.
"Kamu yang menginginkan saya kemari, apa kamu tidak ingat?” tanya makhluk seksi sekaligus misterius yang masih betah berdiri ala super model di depan gue.
Wah! Coba–coba ngarang cerita nih orang. Gantengnya paripurna sih, tapi kok tukang ngayal gini?
"Semalam kamu yang panggil saya, ‘kan?” tambahnya.
Wuapa?! Kapan? “Kalau lo mau nge-prank gue, lo salah besar! Jangan-jangan lo suruhannya Bang Tamtam ya? Atau si Nanas? Gak mungkin kalau Kak Bella apalagi Kak Diba ....” Intonasi gue semakin lirih, tak yakin. Kepala rasanya mulai pening gara-gara diajakin mengungkap fakta, padahal lambung gue dalam keadaan meronta minta diisi.
Gue bisa mati berdiri kalau terus begini. Hati dan pikiran gue makin gak sejalan karena cowok di depan gue ini. Bayangin aja, badannya manly mirip cowboy; Kulit putih bersih ala Oppa–Oppa Korea; Tatapan mata tajam dari iris emeraldnya persis hutan sss yang sanggup menyesatkan gue; Bibir tipis di atas, tapi sedikit tebal di bawah yang selalu tersenyum manis bagaikan kembang gula; Terus ditambah ekspresi wajahnya yang meneduhkan itu loh. Oh, jangan lupakan that deep, low, husky and raspy voice yang bikin gue pengen berkembang biak seketika! Rasanya sekrup di otak gue udah mulai kendor satu per satu, alamak!
Ya Tuhan, apa salah hamba? Gue gak mengidap sleepwalking terus bawa pulang anak orang sembarangan, ‘kan? Atau malah ini efek samping keracunan karena sembarangan minum obat yang udah expired gitu? Makanya gue mulai berhalusinasi. Bisa-bisanya dia bikin gue gagal segala-galanya, mulai dari gagal berpikir logis sampai gagal mengingat cara bernapas dengan benar. Gue jadi susah mencerna keadaan absurd yang menimpa gue pagi-pagi begini, 'kan! Bahkan gue belum sempat sarapan apalagi cuci muka dan gosok gigi. Astaga!
“Saya akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi dengan satu syarat. Mulai sekarang kita akan tinggal bersama, dan kamu tidak bisa menolak,” tegasnya dengan nada riang, padahal tersembunyi perintah di balik senyuman manis yang sukses bikin kepala gue makin nyut-nyutan dan badan meriang. Apakah ini tanda jatuh cinta? Nope, sepertinya karena gula darah gue doang yang lagi ngedrop. Masa gue segampang ini demen sama makhluk yang gak jelas?!
"Dasar orang gila, Lo! Gue gak mau tahu! Pergi sekarang juga!” bentak gue pengen mencak-mencak, tapi jaim.
"Saya tidak akan bisa pergi dan meninggalkan kamu sendirian di sini sejak semalam," tukasnya percaya diri.
Okay fix, ini orang emang lagi mabuk, tapi kenapa malah gue yang merasa ada dalam keadaan tipsy state?!
Wait! Apa tadi dia bilang, menginginkannya semalam? Masa iya gara-gara asal ngucap yang semalem? Beneran doa sebelum tidur yang langsung menembus langit, dong? Ya, tapi gak gini juga kali. Masa tiba-tiba nongol di kamar gue! Hanya dalam semalam doang?! Dengan keadaan gue yang masih muka bantal lagi! What the fudge! Bikin gue makin frustasi aja nih makhluk rupawan yang adonisnya paripurna!
Gue mulai menajamkan mata dan telinga biar bisa terlepas dari keadaan absurd ini. Sabodo teuinglah mau doa yang terkabul atau apa pun. Oke! Gue sadar walaupun gue gebuk ini orang pakai tongkat baseball di samping nakas, gak mungkin juga gue bisa ngalahin dia tanpa dapet luka sedikit pun. Whatever deh, yang penting serang dulu. Terus kabur secepat mungkin buat minta bantuan. Gue bisa hubungin tim keamanan setelah masuk lift nanti.
Oke, sekarang saatnya! Saat gue melihat dia lengah, gue langsung bergerak ke arah nakas untuk mengambil tongkat baseball. Ternyata di luar dugaan dia bisa nangkis tongkat itu dan merebutnya dari tangan gue. Gue bahkan gak sadar dia bisa menghampiri gue secepat ini dan sekarang posisi kami bener–bener bisa bikin orang yang lihat jadi salah paham. Astaga! Bisa-bisanya kami terjatuh dengan posisi semacam ini di atas ranjang.
“Saya tidak menyangka akan tinggal bersama gadis yang sangat menarik. Sungguh sambutan yang tak terduga di pagi hari,” ucapnya sambil menatap lekat kedua mata gue.
Buset. Ini mukanya bisa dijauhin dikit kagak?! Bukan cuma muka, tapi juga badannya kalo bisa! Gak lucu ‘kan kalau dia tiba–tiba bisa denger suara detak jantung gue yang makin menggila. Oh my, napasnya kerasa panas banget nyentuh kulit wajah gue.
Napas gue mulai memburu, suara gue tertahan, mata gue makin pedih gara-gara gak sanggup berkedip. Untung gue gak mulai halu dengan lihat background bunga-bunga, walaupun sekarang separuh wajah adonisnya makin tampak sempurna akibat terpapar sinar matahari pagi atau mungkin belum sampai ke tahap itu? Karena gue juga yakin sekarang kemampuan sistem saraf perifer di otak gue berhenti sejenak semenjak posisi gue berada di bawah babang yang rupawannya paripurna blasteran surga ini. Entahlah! Yang jelas kalo gini terus bisa bikin gue berharap lebih. Please kelopak mata, jangan tiba-tiba merem ya! Gue mohon kerja samanya. Jangan ikutan norak kayak jantung gue!
Gue masih sibuk dengan pikiran super liar gue sampai telinga gue menangkap sebuah suara ....