Sekalipun kau sangat logis, tapi terkadang urusan rasa tak selalu bisa sejalan dengan logika.
[Alister Abimara, Jenna Himeka Saba — Irudimena: Fantasy]
Krucuuuukkk!
Astaga! Perut gue malu-maluin banget dah. Suaranya bisa falsetto gini. Mana embusan napas cowok yang ada di atas gue makin berasa panas lagi. Eh, tapi kok ekspresi sama sinar matanya biasa aja, ya? Gak sesuai sama apa yang pernah dibilang Bang Mauza. Berarti dia gak lagi dalam mode pervért dong.
Sampai ekor mata gue menangkap sudut bibirnya yang berkedut. Sial! Ini orang nahan ketawa. Sialnya lagi gue baru sadar kalau bukan napasnya yang berasa panas, tapi semua ini gara-gara muka gue yang blushing akut!
Kok jadi gini, sih? Harusnya gue gak boleh diem aja, ‘kan? Gue harus bikin dia pergi sekarang juga sebelum yang lain tahu kalo ada cowok asing di flat gue. Bisa kacau kalau tiba-tiba dilaporin ke Tuan Besar Saba! But that’s not a bad idea sih. He looks perfeact apalagi kalo dilihat dari jarak sedekat ini. Wait! Jennaaaa sempet-sempetnya pikiran lo halu gini pagi-pagi! Ya, tapi kagak salah dong? Secara fisik dia jauh lebih oke daripada semua pria yang udah dikenalin atau dijodohin ke gue. Lagian bapak Barend Yodha Saba pasti bakalan berhenti bersusah payah nyariin calon jodoh buat gue. Oh my, Papi dengan segala logika pembenarannya itu. Gue bahkan belum genap dua puluh lima tahun, tapi udah disuruh jadi bini orang. Pengen nangis aja boleh gak sih gue?
Eh, tapi tunggu deh. Sebelum gue ngusir cowok aneh ini, gue harus cari tahu dulu siapa dia dan kenapa dia bisa "nyangkut" di flat gue, terus udah berapa lama dia ada di sini? Kalau diinget lagi, dia tadi juga bilang bakalan tinggal bareng sama gue, ‘kan? Dia fikir gue cewek apaan coba?! Seenaknya aja bilang tinggal bareng!
Adu argumen di otak gue berhenti seketika saat dia udah berdiri dan mundur dua langkah. Paham banget dia kalau gue udah gak nyaman dengan posisi kami dari tadi. Sekarang gue bisa lihat mukanya yang memerah menahan tawa dengan sangat jelas.
“Kalo mau ketawa gak usah ditahan gitu. Lo makin ngeselin!” Oke. mode jutek gue mulai muncul.
“Sorry, ekspresi kamu lucu sekali,” ucapnya di antara tawanya yang bikin jantung gue menari samba
Oh my, bisa-bisanya dia makin charming kalau lagi ketawa gini! Look that dimple on his cheeks. Tangan gue udah gatel banget pengen nyentuh itu lesung pipi.
“Sudah puas menatap wajah saya?” pertanyaan si misterius terlontar tiba-tiba.
“Hah?! O-Oh, I-Iya.” WHAT!! Itu barusan gue yang ngomong gelagepan gitu? Kok bisa gue jadi senorak ini sih! Jenna lo lagi kekurangan elektrolit, ya? Kejang-kejang sampai koma dong gue kalau kekurangan elektrolit atau otak lo kekurangan oksigen Jenn?! Aduh, kok gue makin ngelantur gini!
“So, Bisa kita makan sekarang? Kalau kamu terus menatap saya seperti itu nanti wajah saya bisa berlubang loh,” godanya dengan intonasi yang selalu bikin gue meriang panas dingin. Iya, menggoda karena gue udah salah tingkah sejak dimulainya adegan memalukan beberapa menit yang lalu!
Kámpret banget ini alien! Bisa-bisanya dia bikin gue mati kutu gini! Pasti karena gue kelaperan makanya antara otak, saraf motorik dan sensorik gue jadi kagak sinkron gini. Aishh! Malu-maluin banget deh!
Gue beranjak dari tempat tidur dan langsung melesat masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Saat gue keluar dari kamar mandi, gue melihat cowok aneh namun penuh pesona tiada tara itu masih berdiri seperti lagi menunggu di dalam kamar. Gue pura-pura gak memerhatikannya dan berjalan mendahuluinya ke arah pantry. Sekarang giliran dia yang terus memerhatikan gerak-gerik gue. Kalau gini terus mana bisa gue konsentrasi bikin sarapan coba! Ya udahlah, mending bikin yang cepet dan gak ribet aja. Lagi pula gue masih harus menginterogasi apa tujuan dia ada di flat gue.
Seperti biasa ritual gue di pagi hari saat memasuki pantry adalah membuat segelas air hangat ditambah satu sendok makan madu dan beberapa irisan lemon.
“Lo mau juga atau lo mau kopi, teh mungkin?” tanya gue beruntun.
“Samakan dengan kamu saja. Sepertinya minuman itu lebih sehat dari pada kopi atau teh di pagi hari,” jawabnya tak kalah panjang.
“Gue bikinin sarapan yang simple aja, ya?” ucap gue sambil meletakkan minuman di hadapannya.
“Sure.”
“Lo gak ada alergi protein, ‘kan?” tanya gue lagi. Beranjak ke arah kulkas.
“Nope! Saya tidak punya alergi apa pun.”
“Lo suka sayur?” kali ini gue mulai memilah dua buah tomat, satu timun dan seikat daun salad keriting yang ada di kulkas.
“Saya suka semua makanan yang kamu buat,” ujarnya dengan nada sedikit menggoda sama seperti tadi.
Jelas aja, jawaban absurd itu membuat gue hampir menjatuhkan sekotak s**u ukuran besar, sekaleng kornet dan sebungkus butter yang sedang gue genggam. Gue sontak menoleh ke arahnya dengan ekspresi wajah terheran-heran.
“Kayak lo pernah cobain makanan bikinan gue aja?!” selidik gue sambil menyipitkan mata menelisik.
“Memang seperti itu yang terlihat,” katanya dengan senyuman yang tak pernah luntur.
“Emang paling bisa ya, lo!” Gue kembali konsentrasi pada bahan makanan yang akan gue olah.
“Bukankah dari tadi saya sedang memerhatikan kamu?” jawabnya santai
“Manis banget kalimat lo! Pantesan gue ngerasain punggung gue bentar lagi bolong gara-gara tatapan lo!” balas gue mengingat kalimat yang sempat terlontar dari bibir seksinya tadi.
“Hahaha, jadi ceritanya kamu sedang membalas perkataan saya tadi?”
“Kind of that!” jawab gue singkat sambil mengedikkan bahu.
Setelahnya gue sengaja gak mengeluarkan satu patah kata pun karena gue harus secepatnya menyelesaikan masakan gue. Akhirnya french toast istimewa ala chef Himeka selesai juga gue bikin. Seperti biasa plating food itu penting walaupun masakan yang kita buat sederhana kata Kak Bella. Jadi, gue udah terbiasa menyajikan masakan dengan cantik agar semakin menggugah selera.
“Bisa tolongin gue ambil gelas buat kita minum ntar? Lo pasti udah tau di mana letaknya, dan lo bisa pilih sendiri mau air dingin di kulkas or from that tap kalau lo gak suka minum dingin,” titah gue
“Oke. Kamu mau yang mana biar saya ambilkan sekalian?” tanyanya sambil membelakangi gue untuk meraih gelas.
“Air dingin aja biar seger.”
“Saya ambilkan satu botol ini, ya?” timpalnya mengambil sebotol air dingin yang terletak paling ujung di rak kulkas.
Akhirnya kami menikmati sarapan dalam diam. Sesekali gue memergoki dia curi-curi pandang. Mau bikin gue gak fokus makan rupanya?! Kali ini gue gak akan terkecoh oleh triknya untuk kesekian kali
Sekitar tiga puluh menit kami sudah menyelesaikan sarapan kami.
“Lo masih mau minum air dingin lagi atau lo mau soda? coffee or tea maybe?” Gue rasa sebentar lagi gue udah bisa mulai menginterogasi cowok misterius ini.
“It’s ok. Saya lebih suka air putih.”
Bagus deh gue jadi gak perlu berlama-lama memulai rencana gue. Saat gue akan beranjak untuk mencuci piring bekas makanan dan dua gelas yang tadinya berisi air madu. Ternyata dia dengan cekatan mengambil alih spons cuci piring yang terletak disamping kran bak cuci piring.
“Benar pakai yang ini, ‘kan?” tanyanya menyadarkan gue dari keheranan.
“Lo mau ngapain?” tanya gue dengan tatapan mata menyelidik.
“I'm helping you washing this cutlery, Dear,” balasnya cuek dan mulai mencuci gelas terlebih dahulu. Ternyata dia tidak bisa diremehkan. Hal sekecil ini dia bisa tahu atau memang ini sudah menjadi pengetahuan umum? Entahlah.
“Iya gue tahu! Maksud gue, lo ngapain bantuin gue? ‘Kan lo tamu di sini!” Gue udah mulai sedikit kesal.
“Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu tadi sudah membuatkan saya sarapan yang lezat dan penuh gizi,” alasanya dan lagi-lagi dia memberikan gue senyum manis andalannya. How cute. Whoopsie! sadarlah Jenna Himeka Saba putri bungsu dari bapak Barend Yodha Saba dan Ibu Ekacitta Machiko Saba. Lo mood swing banget, sih?! Sebentar kesel, gak lama happy, terus jadi halu. Ntar lama-lama lo bakalan mengidap bipolar loh, Jenno!
Tuh kan, dia emang paling bisa mengalihkan duniaku. Halah, bahasa gue bikin geli banget. Gue sampai lupa, ‘kan dari tadi belum mulai juga sesi Question and Answer seputar maksud dan tujuan kedatangan dia ke sini.
“Kali ini gue biarin lo nyuci peralatan makan,” celetuk gue gak mau berdebat soal hal gak penting lagi.
“Saya tidak keberatan kalau harus kebagian tugas mencuci peralatan makan dan membersihkan rumah. Lagi pula tidak mungkin saya membiarkan kamu mengerjakan tugas rumah sendirian saat saya juga tinggal bersama kamu.”
Oookay, itu tadi kalimat yang panjang dengan konotasi mengerikan di akhir kalimat! Ini maksudnya dia beneran ngajakin tinggal bareng gitu?! Padahal gak ada ikatan apa pun loh di antara kita? Iya sih gue tahu di benua ini bukanlah hal tabu buat seorang cewek tinggal satu atap sama cowok sebelum nikah. Beda halnya dengan di Indonesia yang bakal kena pandangan buruk soal yang satu ini. But, hey! Gue masih waras. Lagian walaupun ada Bang Mauza yang juga tinggal seatap bareng gue dan yang lain, tapi flat kami terpisah, ‘kan? Pintunya aja beda-beda. Gak bisa disamakan dong!
Eh, tapi bagus juga dia mulai menyinggung soal ini. Jadi gue gak perlu repot-repot cari bahan pembicaraan buat mengawali bahasan tentang dia.
“Gue gak ada bilang setuju, ya! Lo mau tinggal bareng gue itu apa alesannya? Lagian PD banget lo. Segitu yakinnya gue bakalan kasih izin lo buat tinggal bareng sama gue di sini?!” respon gue gak kalah panjang sama jawaban mengerikan yang tadi gue dengar.
"Saya sudah bilang dari awal, ‘kan? Kalau kamu mau tahu tentang saya syaratnya ijinkan saya stay di sini sama kamu. Hanya sementara saja sampai tugas saya selesai," jelasnya sambil mengeringkan kedua tangannya dengan handuk tangan yang tergantung di depannya, "tapi kalau untuk tinggal bersama selamanya. Ya, itu sih bisa kita bicarakan nanti. Mungkin?" imbuhnya, membuat gue menautkan alis.
Wah bener-bener ini orang. Bikin jantung gue mendadak gak sehat aja, "Gue bakal putuskan setelah gue dapet jawaban yang gue mau. Inget! di sini gue yang berkuasa. Ini tempat gue!"
"Oke kalau itu yang kamu mau. So, kita mulai dari mana sesi QnA ini?"
"Identitas lo?"
"Nama saya Alister. Lengkapnya Alister Abimara. Usia saya dua puluh enam tahun dan di tempat saya berasal, saya adalah seorang profesor," terangnya singkat, padat dan sedikit jelas.
Wow! Maksudnya dia Profesor muda gitu? Oke. masih muda, genius, good looking, dan dari cara dia tadi berinteraksi sama gue dia kelihatan banget tipe cowok yang perhatian. Dilihat sekilas sepertinya dia lumayan atletis juga. Poin pluslah. Oke gue ralat, makin plus poinnya kalau dijadiin calon menantu bungsu keluarga Saba.
"Lo bilang tempat lo berasal? Berarti lo emang bukan dari sini, ‘kan? Jadi, gimana bisa lo sampai masuk ke flat gue?" cecar gue sambil mengamati dia.
"Kamu tidak sadar semalam ada badai? Mungkin itu yang membuat saya bisa sampai kesini."
"Maksudnya, apa hubungannya sama badai?"
"Saya juga belum bisa menjelaskan pastinya bagaimana. Hanya saja yang saya ketahui saya terlempar ke sini bertepatan dengan badai semalam. Saya hanya mengikuti titik koordinat yang saya dapatkan. Mana saya tahu kalau akhirnya saya berakhir di ruang tengah flat kamu."
Bentar deh. Sepertinya gue harus mencerna kalimatnya dengan baik biar gak ada salah paham di antara kita.
"Maksudnya terlempar dan titik koordinat? Jawaban lo kayak lo bukan berasal dari dimensi ini?"
"Exactly! Saya mau memastikan satu hal dulu. Sekarang abad berapa?"
"Dua puluh satu laaa. Pertanyaan lo ada-ada ...,"—mata gue terbelalak sempurna seketika—"jangan bilang lo?!"
"Bukan dari abad ini? Benar! Saya datang dari abad kedua puluh lima."
What the ...! God must be kidding me. Pantes aja manusia sempurna nan langka macem dia pastinya yaaah, langka banget sampai harus loncat antar abad segala!
"time travel maksud lo?!"
"Yes!"
"Tujuan lo ke mana? Karena gue yakin bukan ke flat gue pastinya."
"Itu yang sedang saya cari tahu."
"Emang di abad dua puluh lima lo tinggal di mana? Kalau dilihat dari penampilan lo bukan dari Indonesia atau mungkin lo blasteran?"
"Hahahaha, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa karena saya bisa berbicara bahasa Indonesia dengan fasih padahal wajah saya tidak seperti orang Indonesia pada umumnya?"
Pertanyaan gue malah dibales pakai pertanyaan juga! Padahal kedua pertanyaan itu udah jelas, dan pertanyaan dia juga udah jelas-jelas gak butuh jawaban.
"Tinggal jawab doang, malah balik nanya!"
"Saya tinggal di benua ini juga, tapi tentu keadaannya tidak sama seperti saat ini. Soal bahasa, saya suka mempelajari bahasa asing. Selain karena itu lebih menantang, alasan lainnya karena saya suka menemani dua orang spesial yang sangat menyukai bahasa dan kebudayaan yang beragam di dunia. Like travelling, tapi tidak membutuhkan biaya. Lagi pula kalau kami harus keliling dunia dan meninggalkan lab. untuk waktu yang lama rasanya itu sangat mustahil."
"Wait, tapi kenyataanya lo ada di sini sekarang."
"Tadinya karena memang saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk pergi ke sini, tapi karena ternyata saya bertemu kamu lebih dulu. Bolehkah saya jawab kalau mungkin saja ini adalah takdir indah dari Tuhan?"
Lagi dan lagi. Dia tipe manusia penuh rayuan, ditambah senyumannya yang bisa bikin gue gagal jantung.
"Manis banget kalimat lo! Trus lo pikir gue bakal terjebak gitu aja?! Sorry ya!"
Mulut boleh berkata lain dari otak dan hati, tapi gue gak boleh kelihatan gampangan! Apalagi gampang kasih kesempatan terutama setelah kejadian si kámpret kemaren!
"Saya serius loh. Kamu mau dengar satu kenyataan yang baru saya sadari?"
Tuh kan, abang Al ini emang paling pinter banget bikin orang penasaran laaa.