25

1034 Kata
Seminggu kemudian.... Candra mengernyitkan keningnya, tumben rumah Ananta sangat sepi, biasanya mainan Biru terserak di teras, juga ada suara Livia dan Devi yang kadang ia dengar sebelum masuk ke ruang tamu. Ia langkahkan kakinya dan menemukan tukang kebun di samping rumah besar itu. Dan saat ia menoleh ke depan pagar terbuka dan sebuah mobil baru saja masuk, tapi yang ke luar dari mobil itu hanya sopir keluarga Ananta. "Mang, ibu dan bapak ada?" tanya Candra. "Kalau bapak baruuu saja diantar ke bandara, mau ke Jakarta kata bapak tadi selama dua hari," sahutnya. "Kalau yang lain?" tanya Candra lagi. "Oh kalau ibu ngantar non Livia sama den Adam, sama putranya juga si Biru, ke mana ya, ah lupa, eh itu si Narti coba saya tanya ya, Nartiii sini, kamu tahu ibu ke mana?" Mang karyo berteriak memanggip Narti yang berlari kecil ke arah mereka berbicara. "Oh tanya ibu to, ibu ngantar non Livi pindah rumah,  tadi buanyak bawaannya," ujar Narti dan Candra tersentak kaget. "Pindah, pindah ke mana?" tanya Candra tercekat dan menyesal ia tak segera ke rumah ini, setelah mamanya memaksanya berbulan madu dengan Feyna ke Jepang, meski di sana mereka malah tak sekamar. "Nggak tahu juga den, lah mendadak kok non Livi pindahnya, kayaknya jauh deh lah wong tadi mereka juga bawa pembantu dari sini, takut non Livinya nggak bisa ngerawat den Biru sendirian," sahut Narti lagi. "Ayolah bik masa serumah ini nggak ada yang tahu pindah ke mana Livia dan suaminya?" tanya Candra lagi. "Beneran kami nggak tahu, kalau tahu pasti kami bilangin, lagian buat apa bohong," ujar Narti dan Mang Karyo mengiyakan. Candra melangkahkan kakinya menuju mobil dengan langkah gontai. Ke mana kamu Livi, apa ini rencana suamimu untuk menjauhkanmu dariku... Candra duduk di belakang kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju tempat tak pasti. **** "Aaaah akhirnya sampai di rumah ini lagi,  rumah penuh kenangan ya Livi?" Devi segera masuk dan menciumi Biru dalam gendongannya yang terlihat lelah. "Bi Sum masuk ayo, saya tunjukkan kamarnya, Livi kamu, Adam dan Biru pakai kamar tamu saja, besar loh kamar itu, sudah sana, bawa masuk travel bagnya Dam," Devi masuk ke kamar tamu dan menidurkan Biru yang mulai memejamkan matanya. Adam segera meletakkan dua travel bag besar, dan beberapa tas lainnya. "Rumah sebesar ini selama ini siapa yang merawat Bu?" tanya Adam. "Ada, yang biasa membersihkan,  sudah sangat ibu percaya, makanya nih rumah bersih terus," sahut Devi. "Ayo istirahat dulu, bentar lagi bunda telpon salah satu karyawan toko roti agar membelikan makanan," sahutnya lagi. **** Feyna terlihat resah, sudah sangat larut dan Candra belum kembali. Feyna mencoba menelpon mama Candra tapi juga tak ada di sana, akhirnya karya kecapean, ia tertidur di sofa. Jam hampir menunjukkan pukul dua dini hari saat Feyna mendengar deru mobil masuk, ia segera membuka pintu, terlihat suaminya yang berjalan agak sempoyongan. Dan tercium bau tak biasanya. Feyna menyentuh pipi suaminya. "Mas minum, mas dari mana?" tanya Feyna. Candra tak menyahut dia segera ke kamarnya, membuka jaketnya, lalu seluruh bajunya, menyisakan boksernya lalu segera berbaring dan memejamkan matanya. Feyna masuk ke kamarnya dan menemukan suaminya yang telah tertidur dengan nyenyak, ia ambil selimut dan hendak menyelimuti badan suaminya yang hampir tak mengenakan baju. Namun gerakannya terhenti, ia duduk di dekat suaminya yang telah lelap bahkan dengkur halusnya mulai terdengar. Ia sentuh perlahan d**a keras suaminya, perutnya yang bergelombang. Lalu menurunkan wajahnya menciumi d**a keras itu, dengan mata berkaca-kaca. Tanpa terasa tangannya menyentuh milik suaminya dan terdengar suara erangan suaminya dan samar-samar ia dengan memanggil nama seseorang, dadanya berdenyut perih saat ia tahu suaminya menginginkan wanita lain yang menyentuhnya. Feyna tak peduli ia turunkan bokser suaminya, meski malu ia berusaha mengalihkan pandangannya. Lalu menyentuhkan pelan menggenggamnya dan menggerakkan tangannya secara teratur. "Livi, Livia akhirnya kau datang," Candra bangkit dan mendorong Feyna dengan kasar, menarik baju tidur tipisnya, meraup d**a keras itu dengan mulutnya, memutar lidahnya menyesap dan menyedotnya dengan kasar. Teriakan kesakitan Feyna tak dihiraukan oleh Candra berkali-kali ia memanggil nama Livia, lalu dengan kasar menarik celana dalam Feyna hingga robek, membuka lebar paha istrinya dan tanpa aba-aba ia melesakkan miliknya, teriakan kesakitan Feyna kembali terdengar, lama-lama hanya tinggal suara rintihan dan isakan. Hentakan Candra yang terus memburu, bahkan mendorong tubuh Feyna hingga ia tidur menyamping dan kembali Candra melesakkan miliknya menghujam kasar dari belakang, tangisan pilu kesakitan Feyna bagai angin lalu, kekuatan Candra tak sebanding dengan kelelahan dan kesakitan Feyna, dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkan Candra, pengaruh alkohol sepertinya masih sangat kuat,  hingga hentakan terakhir Candra, benar-benar membuat Feyna lunglai, dadanya yang sakit karena dihisap secara brutal dan bagian bawah tubuhnyapun terasa kebas dan ngilu yang tak tertahankan. Candra melepaskan miliknya, ia terpejam lagi dan bergumam sesekali. Terima kasih Livi, akhirnya kau datang, jangan pergi lagi, aku tak mampu jauh darimu..jangan pergi lagi... Feyna menangis lirih, bukan hanya tubuhnya yang hancur tapi hatinya juga tak bisa dibayangkan kepingannya, saat bercintapun yang terbayang ternyata wanita lain, dirinya hanya dijadikan alat, hanya perantara menyampaikan kerinduan pada wanita lain. Dengan tertatih Feyna menuju kamar mandi, terasa perih saat kakinya dilangkahkan. **** Pagi hari Candra bangun dengan kepala yang masih pening, ia membuka matanya merasakan ada selimut yang menutupi badannya, ia bangkit dan kaget menemukan dirinya yang tak memakai sehelai pakaianpun. Ia mencari-cari, ia buka lebar-lebar selimutnya dan terlihat ada bercak-bercak darah di sprei tempat tidurnya. Seketika gerahamnya mengeras, ia melangkah ke luar kamar berteriak-teriak namun tak menemukan siapapun, sejak memutuskan pindah ke apartemen yang baru dibelikan mamanya mereka memang hanya berdua. Candra hanya menemukan sandwich dan kopi yang telah dingin, ia lirik jam ternyata telah pukul delapan pagi. Ia ambil ponsel dan dengan napas memburu ia telpon istrinya. Saat tersambung ia berteriak penuh amarah. "Apa yang kau lakukan padaku, kau sengaja membuatku melakukan semuanya kan, ceceran darahmu ada disprei, kau kira aku akan berubah menjadi iba padamu jika mengandung anakku, jangan bermimpi, mulai nanti malam kita jangan sekamar," Candra melempar ponselnya, melangkah cepat ke kamar mandi dan menghidupkan shower, membasahi kepalanya agar meredakan seluruh amarahnya. **** Feyna menangis pedih, ia ingat malam yang seharusnya ia lewati dengan manis menjadi menyakitkan saat Candra melakukannya dengan kasar. Lalu telpon dari Candra tadi seolah semakin melengkapi penderitaannya. Apa yang membuat aku tak layak untukmu, salahkah jika aku ingin melakukannya denganmu karena kau suamiku... ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN