"Baik-baik di sini ya Livi, Adam, titip Biru," Devi memeluk Livia dan menciumi pipi Biru.
"Iya ibu, saya akan menjaga Livi dan Biru," sahut Adam, Devi dijemput oleh sopir yng akan membawanya ke bandara.
Biru sempat menangis saat Devi akan menuju mobil hingga terpaksa ia kembali menggendong cucunya.
"Anak ini kok ya ngerti aja kalau mau ditinggal," ujar Devi memeluk Biru dengan wajah sedih. Setelah agak lama barulah Biru bisa tenang dan Devi menyerahkan Biru pada Adam, sekali lagi Devi menoleh, ia terlihat gamang meninggalkan Biru. Lalu melambaikan tangan dan menutup pintu mobil.
****
Devi bergegas menuju boarding pass saat tak sengaja ia melihat wajah seseorang yang sangat ia kenal, berkaca mata hitam dan berlalu agak jauh dari tempatnya berdiri.
Victor, ada apa dia kembali ke Bali...Ya Tuhan, semoga saja mereka tidak pernah bertemu lagi...
Devi segera melanjutkan langkahnya dengan hati resah.
****
"Mas ke toko roti dulu Livi, kalau ada apa-apa nelpon ya," ujar Adam.
"Mas sama siapa?" tanya Livia.
"Bentar lagi dijemput sopir kantor, tadi aku sudah nelpon, aku masih belum hafal daerah sini, tapi aku yakin sehari dua hari pasti bisa berangkat ke kantor sendiri," ujar Adam, meraih kepala Livia dan menciumnya.
"Terima kasih Livi, semoga ke depannya kita baik-baik saja, nggak ada gangguan lagi," Adam meraih dagu Livia dan menciumnya sekilas.
"Den Adaaaam ndang berangkat, nanti telat kalau pake acara ciuman lama," suara Bi Sum terdengar nyaring dan Adam terkekeh.
Wanita tua yang masih terlihat cekatan meski badannya gempal ini selalu saja bisa membuatnya tertawa.
"Titip Livi sama Biru ya bi," ujar Adam sambil melangkahkan kaki ke luar.
"Inggiiih, siaaap," sahut Bi Sum.
"Non, den Biru kayak sedih aja dari tadi, biasanya masih ngoceh eh ini diam saja, kenapa ya?" tanya Bi Sum, sambil sesekali mengusap pipi Biru yang enggan membuka mulut saat ia suapi.
"Kayaknya dia masih kepikiran sama orang-orang yang biasa dia lihat bi, kok tiba-tiba nggak ada gitu paling pikirannya," sahut Livia.
"Oalah," Bi Sum menggendong Biru dan membawanya ke teras, mulai menyuapi lagi.
Livia mengikuti langkah keduanya, ia lihat Biru yang hanya mematung memandangi jalan raya yang ramai. Setiap memandangi lekat wajah Biru kembali bayangan laki-laki itu hadir, dan mati-matian Livia berusaha menepisnya.
Ia akan benar-benar berusaha keras untuk belajar mencintai laki-laki yang telah sabar menunggunya, mencintainya dengan sepenuh hati dan Livia yakin tidak akan sulit.
****
Victor mulai menjalani hari-harinya menjadi dosen tamu di salah satu perguruan tinggi negeri di Bali, ada keinginan kuat berkunjung ke Ubud, ke tempat yang membuat Biru ada.
Namun selama empat hari pertama ia masih sibuk.
Pikirannya kembali mengingat wajah Biru, ia buka ponselnya dan melihat beberapa foto Biru, wajah dirinya ada di sana.
Matanya berkaca-kaca dan sesekali tampak menciumi foto Biru di ponsel itu.
****
"Non Livi di sini nggak ada kerjaan nggak bosan, coba cari kegiatan apa gitu, buka usaha apa, dari pada cuman diam?" tanya Bi Sum.
"Iya saya berpikir ke sana juga bi, akan saya diskusikan sama mas Adam, karena saya pernah bilang mau ikutan ngurus toko eh nggak boleh, maunya Livi, di samping rumah bunda ini kan tersisa tanah sangat luas, Livi pengen bangun galeri seni kayak yang di Jogja kayak punya ayah, artinya tetap ada staf, ada karyawan gitu, Livi bisa mantau dari rumah," ujar Livi.
"Ya ndak papa itu bagus cepet bilango bapak, bapak kan banyak uangnya, ndang telpon sana eh jangan sih, bapak dua hari ke Jakarta, rembukan sama den Adam dulu saja non Livi," ujar Bi Sum.
"Eh mana Biru Bi Sum?" tanya Livi.
"Itu dari tadi gambar terus, ndak selesai-selesai," sahut Bi Sum.
Livia mendekat dan terlihat takjub melihat hasilnya.
"Waaah ini gambar apa sayang?" tanya Livia.
"Meong mama," sahut Biru sambil tersenyum. Livia mengusap rambut Biru terbayang laki-laki yang menghadirkan Biru yang setahu Livi sering membuat sketsa-sketsa penelitian bangunan-bangunan bersejarah, Livia pernah melihat saat dulu laki-laki itu pernah berusaha mendekati bundanya dan beberapa kali pernah membuat sketsa di teras, di rumah yang sekarang ia tempati.
Livia menggeleng pelan, perlahan tapi pasti semua yang ada pada Biru adalah cermin laki-laki itu.
Livi mengusap perutnya, berharap segera hamil, agar pikirannya tak selalu pada laki-laki yang tak dia inginkan.
****
Livia kaget saat tiba-tiba ada tangan besar melingkar dipinggangnya.
Ia menoleh dan Adam sudah siap tidur hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek.
"Aku kok nggak dengar, kapan mas datang?" tanya Livi berbalik menghadap suaminya dan Adam menatap d**a istrinya yang ia yakin tak menggunakan apa-apa dibalik baju tidurnya. Livia melirik jam dan terlihat sudah menunjukkan pukul dua belas lewat.
Livia sadar ke mana pandangan Adam tertuju dan menarik selimut menutupi dadanya.
Adam tersenyum dan ikut merebahkan badan di samping istrinya.
"Kok malem sih mas?" tanya Livi.
"Banyak yang mas pelajari, mas lihat laporan keuangan dari tiga toko roti, tadi sempat nelpon bang Sena juga, sempat ketemuan dan dia berterima kasih karena aku segera datang membantu, yah maklum abang sibuk, perusahaan papa mertuanya kan banyak dan skala besar, dia sudah nggak mikir yang kecil menurut dia kayak toko roti itu yang bagiku sangat besar, ditambah satu cabang yang baru jalan setahun setengah kayaknya ya sayang?" tanya Adam.
"Yaaah itu toko baru saat aku mengalami saat-saat sulit dan pindah ke Jojga ikut bunda," sahut Livia pelan.
Adam menciumi ujung kepala Livia.
"Sudah lama Biru tidur?" tanya Adam.
"Yaaah lama, sudah sejak tadi, bareng akulah, dia tidur dan akunya ikutan tidur mas," Livia merasakan tangan suaminya mengelus dadanya dari luar baju tidurnya, menarik ujungnya berulang hingga Livia merasa detak jantungnya semakin cepat.
"Ssstttt mas, Biru tidur loh, nanti...ah," Livia menutup mulutnya. Adam tiba-tiba menggendonganya membawa ke kursi yang tak jauh dari kasur. Mendudukkannya dipangkuan Adam.
"Mas, nanti Biru bangun," suara Livia lirih dan Adam hanya tersenyum miring mengangkat baju tidur Livia hingga kepinggangnya.
"Kita di sini saja dan ah sepertinya malam ini kamu memang menggoda mas ya, kenapa nggak pake apa-apa dibalik baju tidur ini?" bisikan Adam ditelinga Livi membuat Livi merasa geli. Adam mengangkat badan Livia dan menurunkan celana pendeknya.
Lalu mendudukkan kembali dan menarik baju tidur Livia hingga dadanya terbuka sempurna.
"Mas ssshhh geli,"
Adam menangkup kedua d**a Livia, menjilatinya bergantian, tubuh Livia menegang dan meremas rambut lebat suaminya.
Perut Livia merasakan milik suaminya yang keras sempurna, ia gerakkan pinggangganya hingga Adam mengerang dan memegang miliknya, melesakkan perlahan agar Livia tak merasakan sakit, karena selalu saja Livia merasakan sakit tiap mereka seperti ini.
"Sakit?"
"Sedikit mas,"
"Boleh mas lanjutkan?"
"Iyah,"
"Bergeraklah sayang, mas ingin kamu yang lebih aktif, mas bantu hmmm, yah terus begitu,"
Saat melihat istrinya kelelahan Adam mengangkat badan Livia menidurkannya di single bed tak jauh dari ranjang besar mereka.
Menciumi ceruk leher istrinya dan menumbuk semakin cepat.
"Sakit?"
"Nggak eegghhh mas,"
"Maaas nggak kuat Livi,"
"Iyah,"
Adam mempercepat gerakannya, lalu meraih kaki Livia dan diletakkan dipundaknya, mereka saling memandang, sama-sama tersenyum.
"Lebih cepat mas, akuh kayaknya...,"
"Iyah baiklah,"
Adam bergerak semakin liar memegang erat paha Livia sambil menciuminya, dan mengerang keras saat mereka bersama-sama sampai.
Adam memeluk tubuh kecil Livia, mendekap tubuh basah itu dan meminta maaf berulang, Adam takut istrinya kesakitan, melihat tubuh mungil itu bergerak kasar sejak tadi.
"Nggak papa mas, meski agak sakit, ada enaknya juga," bisik Livia. Adam tertawa lirih.
"Kamu kayak niat banget sayang, kok nggak pake daleman?" tanya Adam dan Livia mengangguk.
"Aku ingin segera hamil anak mas Adam," sahut Livia dan Adam memeluk semakin erat, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih," ujarnya dengan suara tercekat di leher, ia terlalu bahagia hingga matanya penuh dengan air mata.
"Ah mas, aku mau ke kamar mandi duluan ya khawatir Biru bangun," ujar Livia melepaskan pelukannya.
"Iya, kamu duluan," Adam menatap tubuh istrinya yang bergerak ke kamar mandi, ada kebahagiaan yang membuncah di hatinya, karena tanpa diminta Livia ingin memiliki anak darinya, yang sejak awal Adam tak berani berpikir tentang itu, mengingat Biru yang selalu butuh pendampingan.
****
Pagi-pagi sekali Devi kaget saat ia melihat Candra duduk di ruang tamu, pembantunya memberi tahu jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Hei Candra pagi banget, ada apa ya?" tanya Devi, tak lama Ananta juga muncul dan duduk di dekat istrinya.
"Maaf mengangganggu om dan tante, karena kayaknya om dan tante sama-sama baru pulang dari perjalanan jauh, boleh saya tahu, Livia ada di mana, mengapa ia tiba-tiba menghilang?" tanya Candra.
Devi dan Ananta saling pandang, dan Ananta memajukan tubuhnya, ia harus membuat anak muda di depannya ini sadar bahwa pernikahan bukan main-main.
****