"Begini Candra, maaf, jika mungkin nanti kamu tersinggung, kamu dan Livia sudah menikah, artinya apa, ada batasan-batasan yang harus kamu pahami dalam pergaulan orang yang sudah menikah, kami tak melarang kau berteman dengan Livia, tapi tatapan matamu padanya tak bisa membohongi kami, awalnya kami biarkan saat Livia belum menikah tapi saat Livia sudah menikah dan perhatian kamu tidak berubah padanya, maka kami selaku orang tua perlu menyelamatkan dan meluruskan hal yang tidak benar itu, kami ingin pernikahan anak-anak kami aman, sudah tidak pada tempatnya kau memberi perhatian lebih pada Biru dan Livi, ada orang yang lebih berhak yaitu Adam, kamupun punya hak seperti itu pada istrimu, kamu kan sudah menikah, maka perhatian kamu harusnya pada istrimu, lagi pula kamu mendapat yang lebih dari pada seorang Livia yang telah mempunyai anak dan aku yakin mamamu tidak akan menerima wanita seperti Livia seandainya kau memilihnya," ujar Ananta dengan wajah tanpa senyum dan terus menatap Candra.
"Jadi, artinya om dan tante tidak akan memberitahu di mana Livia?" tanya Candra lagi.
"Apakah perlu kami berbicara secara tersurat, harusnya kamu bahagia, ini awal-awal pernikahanmu, dan yang pasti kamu menerima wanita itu kan, jika kamu mau kamu bisa menolak, kamu laki-laki bisa mengatakan apa yang kamu mau," ujar Ananta dengan kalimat yang semakin tidak enak di dengar sampai Devi harus mengelus pahanya perlahan.
"Seandainya saya bisa, saat itu saya hanya ditelpon agar segera berkumpul dengan keluarga besar di rumah keluarga kami di Singapura, karena memang mama ulang tahun, tapi yang terjadi sungguh mengejutkan setelah semuanya duduk, lalu ke luar beberapa orang, saya seperti dikepung dan terjadi pernikahan itu, harusnya saya sadar karena sejak awal saya melihat wanita itu dengan seluruh keluarganya, bahkan kakek neneknya, saya pikir hanya semacam reuni antar keluarga, ternyata saya dijebak, tatapan iba kakak-kakak saya, dapat saya rasakan karena saya akan bernasib sama seperti mereka, menikah dengan cara tidak benar dan kakak-kakak saya meski sudah punya anak, mereka memiliki wanita lain karena wanita pilihan mama tidak bisa kami cintai, kami bertiga kakak beradik punya selera sama, lebih suka jika wanita kami tidak terlalu sibuk jika perlu tak usah bekerja karena kami akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu apakah disebut sebuah pernikahan jika kami sama-sama sibuk, saya hanya sedih bahwa selama hidup saya, akan saya jalani dengan wanita yang tidak saya cintai," ujar Candra dengan suara serak, ia merasakan dadanya yang sakit tiba-tiba.
Devi duduk berpindah mendekati Candra, mengusap bahunya.
"Sayang, kamu sudah seperti anak bagi kami, jika kami menasehati kamu karena kami juga ingin melihat kamu bahagia, dengarkan tante, maaf jika kata-kata tante kamu anggap tidak penting, tante mau tanya, apakah istrimu mencintaimu?" tanya Devi.
"Dia yang mengejar-ngejar saya, mengajak kami menyambung hubungan yang pernah putus, mengapa saya putuskan karena setelah mencoba bertunangan, saya tetap tak bisa mencintainya," sahut Candra menghela napas berat.
"Artinya dia sangat mencintaimu, dengarkan tante sayang, pandang wajah istrimu saat tidur, kamu lihat hal baik dari dia, jangan bawa emosimu, jika kamu melihatnya dalam kemarahan, hanya kebencian yang bisa kamu rasakan, kamu harusnya merasa beruntung, akan lebih baik kita dicintai mati-matian dari pada kita mencintai tapi diabaikan, jika kamu mau mencoba maka cinta itu akan datang dengan sendirinya, saran tante jangan tiru kakak-kakamu, jangan sakiti hati istrimu dengan mencari wanita lain, mamamu wanita, anakmu mungkin juga wanita, bagaimana perasaanmu jika wanita yang kamu cintai disakiti dengan cara seperti itu, berpikirlah jernih anakku, aku pernah melihat satu kali wajah istrimu saat ke rumah sakit menjenguk Livia, kami berpapasan saat ia bersama Adam menuju kamar Livia, jika dilihat ia wanita sabar, belajarlah mencintai dia, jangan sampai terlambat dan kamu menyesal, kami, tante dan om minta maaf, tidak bisa memberi tahu di mana Livia yang jelas dia jaaaauuuh dari kami," Devi kembali mengusap bahu Candra.
"Saya terlambat datang tante, terlambat mengenal Livia, seandainya ia belum memiliki seseorang, saya akan nekad membawanya pergi, pergi dan menjauh dari keluarga saya," ujar Candra dan Ananta - Devi hanya bisa saling pandang.
"Jangan sayang, kamu jangan punya pikiran untuk membuat keluargamu sedih," ujar Devi.
"Masyarakat melihat kami seolah keluarga ideal, bahagia, semuanya menikah dengan dokter, mereka melihat foto keluarga kami, mama, papa, kami dan istri kami, berfoto bersama dengan jas kami, dan tawa bahagia dalam foto palsu itu, mereka tak pernah tahu kami hidup dalam luka dan sakit bahkan mama dan papa juga begitu ternyata, kami pernah melihat papa bersama wanita entah siapa, tapi menurut info dari kakak, wanita itu salah satu istri papa, papa tidak suka mama yang dominan, sedang mama, maaf om, tante, saya pernah melihat mama memandangi foto seseorang, lamaaa dengan mata berkaca-kaca, dan kata kakak-kakak itu foto om Ananta, maaf tante, kami tidak tahu masa lalu mama dan om Ananta, tapi sampai saat ini mama menyimpan foto itu dalam buku kerjanya yang selalu ada di meja kerjanya," ujar Candra dan melihat wajah Ananta mengeras.
"Yah mamamu menyukai om, tapi om tidak, kami saling mengenal sejak kecil karena orang tuaku bersahabat dengan kakek nenekmu, itu saja, kami tidak pernah bersama dalam arti pernah dekat, om memang menghindari hal itu, maaf mamamu terlalu dominan, dan om tidak suka itu," jawaban lugas Ananta membuat Candra menatap wajah laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah ini.
"Nah om berkata seperti itu, itu yang saya rasakan saat ini pada istri saya, dia dominan dalam hal kebutuhan hidup, dia tidak pernah meminta uang pada saya bahkan saat kami bulan madu, semua dia siapkan, saya hanya diam saja seperti laki-laki bayaran yang hanya menurut pada orang yang menyewanya, pelampiasan saya, saya jadi kasar padanya, dia sabar memang tante, om, cenderung mengalah jika saya marah," suara Candra kembali pelan.
"Bersyukurlah sayang, dia benar-benar mencintaimu, datangi istrimu dengan cara yang benar, ada yang halal di dekatmu, jangan mengharap wanita lain, yang akan membawamu pada dosa," ujar Devi, Candra diam saja.
"Tante dan om, akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, mau mencoba kan, tante yakin istrimu adalah jodoh dari Tuhan meski menurutmu jalannya tidak benar, benar menurutmu tapi tidak kata Tuhan, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan Candra," Devi tersenyum lembut dan menggenngam tangan laki-laki muda itu.
"Seandainya mama seperti tante, mampu menenangkan hati saya, tidak salah om lebih memilih tante," ujar Candra lirih.
"Hei itu mamamu, harus tetap kamu cintai walau bagaimanapun dia, kita sebagai anak tidak pernah bisa memilih, siapa orang tua kita, kewajiban kita menghormati orang tua kita, seperti apapun mereka," ujar Devi lagi.
"Saya boleh sekali-sekali main ke sini om, tante?" tanya Candra dengan wajah sedih.
"Rumah ini selalu terbuka untukmu,"sahut Ananta berusaha tersenyum.
"Saya pulang om, tante, sampaikan salam saya pada Livia, " ujar Candra sambil bangkit dari duduknya.
"Maaf jika om tidak akan menyampaikan salammu," ujar Ananta dengan lugas dan Candra kembali menelan kekecewaan.
Setelah punggung Candra menjauh dan terlihat memasuki mobilnya, Devi berbalik menatap suaminya tanpa senyum.
"Bisa Bapak jelaskan pada saya Pak Ananta, benar tidak ada apa-apa antara Bapak dengan mama anak itu?"
"Ya Allaaah, aku sudah sudah mengira ini akan berlanjut," Ananta mengusap wajahnya dan menarik tangan istrinya masuk ke kamar, menutup pintu, lalu menangkup pipi istrinya dan meraup bibirnya hingga Devi memukul-mukul d**a suaminya karena kaget.
****