Victor melangkah pelan memasuki guest house yang dulu pernah ia tempati dan ia pandangi tempat tidurnya.
Ia duduk dan matanya berkaca-kaca menyesali segala yang telah berlalu. Tempat tidurnya ia sentuh, tempat itu saksi hadirnya Biru, anak kecil yang hadir karena ia dan Livia berada pada tempat yang tidak seharusnya, ia dalam kondisi mabuk, Livia yang menemukannya di jalan dan mengantarkan ke kamar ini, terjadinya perbuatan itu, di luar kesadarannya.
Livia yang masih polos berulang datang ke kamarnya lagi, mengajaknya melakukan lagi namun ia tolak karena ia bukan orang b******k, tapi ia semakin merasa b******k saat ia tak pernah terpikir bahwa dirinya telah meninggalkan sesuatu di dalam tubuh kecil Livia.
Tak pernah berpikir untuk sekadar menjenguknya ke negara ini, negara yang telah banyak menghadirkan kisah beragam dalam hidupnya.
Lalu ia ke luar lagi, resepsionis sempat kaget dan Victor mengatakan ia akan segera kembali.
****
"Biruuu jangan lari-lari le nanti capek loh," Bi Sum mengejar Biru yang terlihat senang bermain bola yang baru ia dapat dari papanya.
"Naaah di sini, di teras saja sama Bi Sum, duduk, main lempar-lempar saja,"
"Bi c*m, duduk nini," teriak Biru dan Bi Sum menurut, duduk di dekat Biru, sedang bolanya ia lempar ke Bi Sum, dan dengan pelan Bi Sum mengembalikan bola itu ke dekat Biru.
Tak lama terdengar langkah, ternyata Livia yang akan ke luar rumah.
"Bi Sum, titip Biru bentar ya, aku di Telpon kak Nira, di suru ke kantornya, kayaknya akan dapat proyek baru nih," terdengar tawa Livia.
"Eh non bareng siapa?" tanya Bi Sum.
"Ya sendiri lah Bi, bawa motor saja biar cepat," jawab Livia.
"Ya dah hati-hati," teriak Bi Sum.
Di saat yang bersamaan d**a Victor berdegup kencang, melihat bayangan Livia melaju melewatinya dengan cepat.
Aku menerima tawaran mengajar di sini karena ingin tak bertemu denganmu Livia, tapi sepertinya Tuhan sedang menguji kita, mengapa kita ditakdirkan bertemu lagi...
Victor tergugu melihat Livia semakin menjauh, dan dadanya makin berdegup kencang saat dari balik pagar ia mendengar tawa anak kecil. Ia dekati dan matanya berkaca-kaca melihat tawa ceria Biru, dengan rambut coklatnya nampak keringat di keningnya.
Sayang, kita bertemu lagi, papa akan berusaha mendekati papamu, apapun akan aku lakukan agar kau tahu bahwa aku papa yang membuatmu ada....
****
"Haduuuu sudah beberapa hari di sini baru ketemuan," ujar Nira sambil memeluk Livia.
"Iya kak, beres-beres rumah dululah, apa kabar Za?" tanya Livia.
"Sehat, ada di rumah sama mama dan babysitternya," sahut Nira.
"Ada apa kak Nira pengen ketemu aku?" tanya Livia.
"Gini, kalau kamu mau, aku mau buka cabang galery seni di sini kayak punya ayah Nanta, artinya galery itu nantinya isinya kerajinan Jogja dan Bali gitu," ujar Nira.
"Yaaa kok nyambung sih, aku sempat ngomong gitu ke Bi Sum, saat dia nanya aku kok nggak ada kegiatan, aku terpikir kesana, cuman ya aku mau bangun galerynya deket rumah jadi nggak ninggalin Biru, tapi tetap bisa ngawasin galery gitu,"ujar Livia.
"Maksudmu?" tanya Nira.
"Deket rumah itu tanah punya bunda, remcanaku mau minta ijin bunda mau bangun galery di sana," sahut Livia.
"Emang boleh?" tanya Nira lagi.
"Ya ini mau tanya dulu ke bunda, pasti boleh kak," sahut Livia.
"Ok kalau gitu, secepatnya hubungi bunda nanti kita diskusi lagi eh gimana rasanya punya keluarga kecil?" tanya Nira dan Livia tersenyum lebar.
"Bahagia yang jelas kak, aku bersyukur punya suami sabar, aku nggak akan pernah menyia-nyiakan mas Adam, dia cukup sabar menungguku selama beberapa tahun," ujar Livia.
"Yah benar, kita harus bersyukur banget Livi, punya suami yang nggak aneh-aneh, kitanya yang harus tahu diri, aku sibuk juga sih, tapi selalu berusaha nyampe duluan ke rumah sebelum Sena datang, aku ingin ia merasa nyaman bahwa Za masih ada waktu denganku,".ujar Nira sambil tersenyum.
****
Candra memasuki apartemennya saat adzan isyak terdengar. Ia belum melihat tanda-tanda istrinya sudah datang.
Belum ia tutup pintu, tiba-tiba terdengar langkah beberapa kaki. Ia menoleh melihat Feyna dituntun oleh seorang laki-laki, ia tahu laki-laki itu juga seorang dokter.
"Maaf, istri anda sakit," ujarnya canggung. Feyna pun tampak kaget dan tak menyangka suaminya akan sampai lebih dulu.
Candra diam saja tak berkomentar, melihat sekilas dan meninggalkan mereka berdua.
"Maaf Fey, aku salah, aku memaksa mengantarkanmu, sepertinya suamimu marah," ujar laki-laki itu.
"Aku kan sudah bilang Firman, aku bisa pulang sendiri, walau bagaimanapun aku sudah menikah," jawab Feyna lemah.
"Pulanglah," ujar Feyna. Dan Firman melihatnya dengan tatapan kawatir.
"Istirahatlah Fey, kamu terlihat pucat," Firman berlalu dan kembali menoleh memastikan Feyna masuk ke unitnya.
****
Feyna melihat Candra yang berkaos tipis dan memakai celana pendek sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ndra, maafkan yang tadi, dia hanya..,"
"Aku tak peduli, lakukan sesukamu, dengan laki-laki manapun," sahut Candra.
Mata Feyna berkaca-kaca. Ia duduk tak jauh dari Candra
"Ndra tak bisakah kita bicara baik-baik?" tanya Feyna. Candra mengabaikan ponselnya dan menatap wajah Feyna.
"Aku mau tanya, apakah kita menikah dengan cara baik-baik? jika kau punya otak, kau tak akan kerja sama dengan mama, menjebakku, seolah aku penjahat kelamin, datang, digerebek dan dinikahkan, pernikahan macam apa yang mau kamu tawarkan jika caranya tidak benar, aku yakin kamu tahu rencana mama, iya kan?" tanya Candra dengan tatapan marah.
"Aku tak sanggup menolak, itu rencana mamamu," sahut Feyna menunduk dengan takut.
"Aku tidak yakin rencana mama sendiri, malam itu dari pihak keluargaku hanya ada papa mama dan kakak-kakakku, sementara dari pihak keluargamu lengkap dari bayi sampai yang paling tua, aku yakin keluargamu sudah sangat siap untuk menjebakku, lalu kau masih menawarkan apakah kita akan baik-baik saja?" Candra tersenyum getir.
"Sedemikian pahit hidupku, sampai menikahpun tidak dengan cara baik-baik, mengucap ijab qabul hanya dengan bercelana jins dan t-shirt lengan panjang, tak ada nilai sakral di dalamnya, tak ada hal manis yang dapat aku kenang dari prosesi pernikahan kita, sementara kamu sudah siap dengan baju layak, apa salah jika aku beranggapan bahwa keluargamu juga ikut merencanakan pernikahan dadakan itu?" Candra menghela napas, ia bangkit dan menatap Feyna.
"Aku tak ingin menyiksamu, tapi akan lebih baik kita tak memaksa baik-baik saja, kita jalani setahun, lalu kita urus proses cerai, usia kita masih muda, ada waktu untuk memulai dengan yang lain, yang pantas kita cintai,"
Candra melangkah ke kamar, masuk lalu menguncinya.
Feyna menangis sendiri, ia sadar sejak awal jika rencana mamanya dan mama Candra salah, tapi ia tak punya kekuatan untuk menolak.
****
"Mas setuju kan rencana kak Nira?" tanya Livia saat mereka akan tidur dan Adam hanya mengangguk, membuka kancing baju tidur Livia dan dan membuka lebih lebar bagian d**a, lalu menarik ke atas bra Livia hingga dadanya terbuka sempurna.
Ia raup perlahan, lalu semakin jadi menyesap, menjilat dan mengigit pelan ujung d**a Livia, Livia mendesis pelan berusaha tak bersuara, hanya meremas kuat rambu lebat Adam.
"Maaaasss," bisik Livia.
"Kita lanjutkan di bawah,"
Livia kaget saat Adam menggendongnya dan menidurkannya di kasur tipis nan nyaman.
"Kapan belinya? " bisik Livia dan Adam tak peduli.
Kembali ia melabuhkan wajahnya di belahan d**a Livia, tangannya bergerak cepat menurunkan celana pendeknya, lalu menyusupkan tanyannya dipangkal paha istrinya yang selalu saja begini, tak menggunakan apapun, Adam bangkit sejenak, membuka lebar paha istrinya dan kepalanya menghilang diantara pangkal paha istrinya.
Livia menggigit tangannya agar ia tak bersuara, menahan desahan saat lidah Adam mengaduk-aduk pangkal pahanya.
"Mamaaa,".suara Biru terdengar dan Livia reflek bangkit, meraih selimut dan merebahkan diri di dekat Biru mengusap lengannya dan Biru kembali nyenyak.
Livia kembali kaget saat tiba-tiba Adam berada di belakangnya, meremas dadanya dengan lembut.
"Kita lanjutkan sayang, kasihan adikku terlanjur...,"
Livia menahan tawa dan membiarkan suaminya menggendonganya lagi ke kasur single bed, melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.
*****