29

1183 Kata
"Nggak papa kan mas?" tanya Livia saat menceritakan rencananya pada Adam setelah selesai aktivitas melelahkan mereka. "Nggak, lakukan selama itu tidak berkurang perhatianmu pada Biru, kasihan kalau sampai kamu sibuk, Biru malah bersama Bi Sum terus," tanya Adam kembali mengusap lembut d**a Livia menciumi ujung dadanya dengan gerakan pelan sambil memejamkan matanya. "Maaas," "Hmmmm," "Jangan lagi, aku capek, mas tadi lama, tumben,?" tanya Livia dan Adam terkekeh pelan. "Karena kamu kelihatan nggak capek makanya mas agak lama, kalau kamu capek ya mas cepetin, mas kan nggak mau cuman mas yang merasakan nikmatnya, kita b******a Livia, kita melakukannya dengan cinta, jadi aku harus memastikan bukan hanya aku yang puas, tapi kamu juga," Livia memeluk suaminya, matanya berkaca-kaca ia merasa bahwa Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang lebih padanya. "Maafkan aku," suara Livia menjadi serak. "Kenapa minta maaf, kamu sudah bikin hidupku sempurna Livi, terima kasih tetap memilihku setelah peristiwa menakutkan itu," Adam juga terdengar parau karena menahan tangis. "Aku belum jadi istri yang baik mas," sahut Livia, air matanya telah mengalir. "Ah tidak, tidak Livia apa yang kau lakukan padaku lebih dari sekadar istri yang baik, dan sekarang....," Adam mengangkat wajahnya, mengusap rambut basah di kening istrinya. "Kenapa mas?" tanya Livia, saat Adam kembali meremas dadanya, napas Livia kembali lebih cepat saat tangan itu memainkan ujung dadanya, mencubit dan menariknya pelan. "Mas ingin lagi?" tanya Livia merasakan milik suaminya yang kembali mengeras. Adam menahan senyumnya ia hanya mengangguk pelan. "Jika kamu tidak capek sayang," suara Adam mulai berat, Livia berbalik memunggungi suaminya, dan menoleh sambil tersenyum. "Nggak papa, lakukan saja mas," sahut Livia sambil mengusap paha suaminya dan Adam mengerti, mendekatkan badannya, mengangkat  satu paha istrinya dan melesakkan pelan miliknya. "Kalau capek bilang sayang, aku akan lebih cepat," Livia hanya mengangguk, merasakan miliknya yang kembali sesak dan penuh, lalu tumbukan keras dan dalam mulai ia rasakan. Tubuh kecilnya terlonjak, Livia memejamkan matanya saat suaminya mulai menciumi tengkuknya, dan menjilati lehernya. "Lebih cepat mas, aku kayaknya...," Livia mulai merasakan hentakan yang semakin cepat dan kasar, suaminya memeluknya erat, dan geraman tertahan Adam mengakhiri aktivitas mereka. "Terima kasih,  sayang, maaf, maaf jika kamu capek, besok nggak usah ke mana-mana tidurlah," Adam meraih tisu dan mengusap pelan milik istrinya dan miliknya. Livia benar-benar lelah, ia hanya tersenyum dan memejamkan matanya, lalu terlelap di pelukan suaminya. Adam menatap lembut wajah istrinya yang terlelap, menyesal telah membuatnya lelah. Ia betulkan posisi istrinya dan meraih selimut, lalu menutup badannya hingga d**a. Adam bangkit menuju kamar mandi, segera ia bersihkan badannya dan secepatnya menyiapkan s**u untuk Biru. Rengekan Biru membuat Adam mendekat ke kasur besar itu memberikan s**u pada anaknya lalu menemaninya di kasur, menciumi ujung kepala Biru dan ikut terlelap di sampingnya. **** Pagi hari Candra merasakan kepalanya yang agak berat, ia belum juga ke luar kamar setelah sholat subuh, ia memilih kembali merebahkan badannya. Terdengar ketukan dan pintu terbuka. Feyna masuk dan duduk di samping suaminya yang bergelum dalam selimut. Ia sentuh kening Candra, Candra menepisnya. "Badanmu panas, kau sakit?" tanya Feyna. "Kita sama-sama dokter, pertanyaanmu aneh," sahut Candra. "Aku buatkan jahe hangat, jangan minum obat, kamu hanya kelelahan, istirahat yang cukup itu saja," Feyna bangkit menuju dapur. "Nggak usaaah," teriak Candra, ia kembali bergelung dalam selimutnya. **** "Mau ke mana ini mas?" tanya Livia saat Adam membawanya dan Biru berputar-putar sekitar Ubud dengan motor, bertiga. "Ingin jalan-jalan saja, lebih enak naik motor gini, kita ke bang Sena ya, kemarin dia ingin kita ke rumahnya mumpung Sabtu," ujar Adam. **** "Hei, ayo masuk, wah senangnya, sini Biru main sama adik Za," teriak Nira saat melihat Adam, Livia dan Biru. "Maaf, kami belum sempat main ke kalian," ujar Nira. "Ah nggak papa, kak Nira dan bang Sena pasti sibuk," sahut Livia, dan terlihat Sena yang baru muncul dengan wajah segar habis mandi, bersalaman dengan Adam dan terlihat memegang sebuah map. Lalu menyerahkan pada Livia. "Itu hasil dari tiga toko roti dan satu cafe itu Livia, Ejak juga aku beri salinannya, jadi selama aku yang mengurusnya itu hasilnya, sudah aku bagi dua, kamu dan Ejak," ujar Sena. "Yah kok bagi dua, ya bagi tigalah sama abang," sahut Livia, Sena menggeleng dan tersenyum. "Sudahlah, bukan aku meremehkan, tapi aku sudah lebih dari cukup, terimalah," ujar Sena tersenyum dan mengusap bahu Nira yang ada di dekatnya. "Makasih banyak ya bang," sahut Livia. Sena mengangguk dan mengajak ketiganya sarapan, namun Adam dan Livia menolak karena sudah sarapan di rumahnya. Akhirnya Adam dan Livia menemani Sena dan Nira di ruang makan, sedang mereka menikmati kudapan dan teh hangat. Sedang Biru dan Zamora terlihat tenang bermain berdua dengan mencorat coret buku gambar serta caryon yang telah disiapkan oleh Nira. **** "Ke luarlah aku mau tidur, aku lelah," ujar Candra. "Pikiranmu yang lelah, kita sama-sama lelah Ndra, bisakah kita berdamai, meski kau tak menyukaiku, setidaknya kita tak bermusuhan, akan aku ikuti kemauanmu, kita serumah sampai saatnya tiba kau menceraikanku, tapi biarkan aku melayanimu selama kita suami istri," ujar Feyna, Candra diam saja. "Akan aku buatkan kau bubur, tidurlah dulu," Feyna melangkah ke luar dari kamar Candra. Di dapur Feyna mulai mengaduk-aduk beras yang telah hancur dan ia tambahkan air lagi. Aku tidak akan menyerah Ndra, aku yakin kau akan mencintaiku, aku akan melayanimu, menuruti semua maumu, tapi tidak untuk bercerai, aku mencintaimu, sangat, akan aku lalukan apapun agar kita tidak berpisah.... Mata Feyna berkaca-kaca, ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, asal ia mau bersabar. Karena yang Feyna tahu, Candra adalah orang baik, hanya saat ini situasi yang membuat hubungan mereka menjadi tidak nyaman. **** "Wah kok banyak ya mas, penghasilan ketiga toko dan cafe itu?" Livia menatap tak percaya,laporan keuangan yang ia terima dari Sena. "Simpanlah, untuk masa depan Biru, ia harus mendapat pendidikan terbaik," ujar Adam setelah mereka sampai di rumah mereka lagi. "Biru kacapean kayaknya mas, dia langsung tidur begitu sampai rumah," ujar Livia. "Tapi aku senang ia terlihat sehat selama berada di Ubud, hanya satu hal yang aku pinta sama kamu sayang, ke manapun kamu pergi, kasi tahu mas ya, soalnya...," suara Adam tiba-tiba terhenti. "Kenapa, mas ada apa?" tanya Livia melihat wajah bingung suaminya. "Aku melihat laki-laki itu lagi dua hari lalu, aku datangi dia, kami berbicara lama, dia akhirnya bercerita jika dia berniat menjauhimu, makanya ia tidak di Jogja lagi, ia menerima tawaran menjadi dosen tamu, di salah satu universitas di Denpasar, ia hanya berjalan-jalan ke Ubud dan melihatmu dan Biru,  ia tak mengira kita ada di sini, ia mengatakan padaku tidak akan mengganggumu, hanya dia ingin diberi kesempatan bertemu Biru, dan dekat dengan Biru, terus terang aku bingung menjawabnya sayang," Adam tiba-tiba memeluk Livia. "Aku tidak mau bertemu dia lagi mas," sahut Livia pelan. "Lalu bagaimana, Biru memang anaknya," ujar Adam sambil melepas pelukannya menatap wajah Livia yang terlihat sedih. "Aku tidak mau tahu, tapi aku salah jika melarangnya bertemu Biru, mas yang urus, jangan melibatkan aku," ujar Livia dan Adam kembali memeluk istrinya. "Aku mencintaimu Livi," ujar Adam. "Livi Juga," sahut Livia perlahan, Adam melepas pelukannya, menatap tak percaya pada istrinya. "Kau...?" suara Adam tercekat matanya berkaca-kaca. "Akuuu, aku mencintai mas Adam," suara pelan Livia hilang dalam pelukan erat Adam, air mata meluncur tanpa Adam sadari. "Setelah bertahun-tahun Livi...," ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN