Dua hari kemudian
"Saya ingin pernikahan saya dan Livia dimajukan," ujar Adam saat menemui Ananta dan Devi malam itu.
Kedua orang tua Livia kaget, termasuk Livia.
"Ada apa, mengapa harus dimajukan?" tanya Devi kaget.
Adam menghela napas, ia menoleh pada Livia, kembali menatap Devi dan Adam bergantian.
"Terlalu banyak yang mengganggu kami Pak, Bu, Victor yang tiada henti menggangu Livia, juga ada masalah baru, yang saya pikir akan lebih baik jika kami segera menikah, karena jika saya sudah berstatus suami Livia akan lebih menguatkan saya untuk melakukan apapun agar bisa melindunginya," ujar Adam.
Ananta mengangguk, dan menatap Devi yang juga tengah menatapnya.
"Ini masih lima bulan lagi pernikahan kalian, lalu kamu mau memajukan kapan Dam, kalau bajunya in shaa Allah selesai minggu depan, ke pihak catering gampang sih kita tinggal majukan, undangan sudah selesai dan memang nggak banyak yang diundang, yang bingung gedungnya, kita kadung DP untuk yang lima bulan lagi, nggak masalah sih bisa kita anggap hilang jika kita nggak mau pakek itu, gedung kayaknya yang jadi masalah Dam, kamu maunya maju berapa bulan lagi?" tanya Devi.
"Bulan depan Ibu," sahut Adam memantapkan ucapannya.
Devi, Ananta dan Livia menatap Adam dengan kaget karena begitu mendadak rencana Adam dan terlalu cepat memajukan waktu pernikahan.
"Apa tidak terlalu cepat bulan depan Dam, kamu sanggup mencari gedung, atau begini, kelima hotelku kan ada hallnya, siapa tahu bulan depan ada tanggal tersisa yang belum di sewa, ya kita pakai waktu itu saja," ujar Ananta.
"Mas, ada apa, mengapa sampai seperti ini, mengapa mas seperti memutuskan dengan terburu-buru, apa karena masalah Candra, aku sudah bilang kan, aku nggak ada apa-apa sama dia, pada Victor pun aku sudah mencaci makinya, lalu apa lagi?" tanya Livia dengan tatapan sedih.
"Candra?" tanya Devi dan Ananta bersamaan, keduanya kaget karena merasa tidak ada masalah dengan dokter tampan itu.
"Ya, mantan pacarnya menemui saya, kebetulan bertemu tak sengaja di depan pagar rumah ini, dia teman sma saya, sempat berbicara banyak, saya sarankan ia mengejar Candra ke Singapura dan ternyata di Singapura Candra mengatakan pada mantan pacarnya, ia sudah menyukai orang lain, lalu siapa lagi, jika bukan Livia yang ia maksud, dia terlihat akrab dengan Biru, berusaha dekat dengan Livia dan saya tidak mau penantian saya sia-sia Pak, Bu," ujar Adam.
"Ah aku tidak mengira jika Candra..," ujar Devi.
"Ya meski rasanya tak mungkin," ujar Ananta juga.
"Baiklah, mari kita menyegerakan, tak masalah maju Livia, akan lebih baik seperti ini, dan aku minta kau menetap di sini setelah kalian menikah Dam," pinta Ananta.
Devi mengangguk tanda setuju, sementara Livia diam saja.
"Assalamualaikum wah pada kumpul ya?"
Muncul wajah Candra yang sepertinya dia tidak dari rumahnya, melihat wajah lelahnya dan oleh-oleh yang ia bawa.
"Wa alaikum salaaam," sahut semuanya
"Dari mana, kok kayak nggak dari rumah deh?" tanya Devi, Candra hanya tertawa dan duduk di sebelah Livia.
"Iya tante, dari bandara langsung ke sini, eh Livi mana Biru, aku bawakan oleh-oleh," kata Candra sambil mengeluarkan mainan dari tasnya.
"Sudah tidur Ndra, sudah jam segini," sahut Livia.
"Aku kangen Biru, sama emmaknya Biru juga," tawa Candra pecah saat mata Livia membulat.
Devi dan Ananta tersenyum saling pandang, sementara wajah Adam terlihat berusaha menahan kesabaran.
"Jangan ge-er Liviiii aku cuman bercanda aja, ada tunangan kamu di sini, bisa-bisa aku kena bogem ntar," kata Candra masih saja tertawa.
"Eh ada apa kok pada ngumpul?" tanya Candra.
"Bulan depan saya dan Livia akan menikah, kami membahas itu saat ini," sahut Adam dengan cepat dan wajah Candra yang awalnya tertawa berubah datar.
"Oh, mengapa harus cepat, apa ada hal penting yang harus disegerakan, eh maaf cuman nanya?" ujar Candra berusaha wajar.
"Lebih baik disegerakan, dari pada banyak gangguan, lagi pula kami sudah terlalu lama saling dekat bahaya juga kalau terlalu lama tidak di sahkan," sahut Adam lagi.
"Ah baiklah saya pulang om, tante, kapan-kapan saya ke sini lagi, rasanya saya Biru addicted deh," Candra kembali tertawa. Lalu bangkit dan menyentuh kepala Livia, berjalan menuju pintu depan, diantar oleh Devi dan Ananta.
"Kau lihat, dia tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya padamu kan, menyentuh kepalamu tadi, mengatakan rindu padamu, lalu kau mau pembuktian apa lagi?" tanya Adam.
"Mas, dia orang kaya, berada, keluarga terpandang, dia tidak akan mempertaruhkan itu semua demi aku, wanita beranak satu yang statusnya tidak jelas," ujar Livia terlihat tak suka Adam yang mulai sangat posesif.
"Kau tak tahu Livia, jika laki-laki menginginkan wanita, maka ia akan melakukan segala cara, tak peduli wanita itu sepadan atau tidak," sahut Adam.
"Aku mencintaimu sejak lama, aku berjuang sejak lama untuk mendapatkanmu, aku ingin menggapai mimpi bersamamu, aku tidak mau ada orang yang baru datang dalam hidupmu yang dengan seenaknya akan merebutmu, mereka tidak pernah tahu arti memperjuangkan cinta Livia," ujar Adam lagi.
"Mau kan Livi satu bulan lagi?" tanya Adam dan Livia hanya bisa pasrah.
"Terserah mas Adam, aku hanya menuruti saja,"
****
"Mau ke mana Livia?" tanya Devi pagi itu.
"Mumpung hari minggu dan di galery ada yang menggantikan, ada anak-anak baru di sana bunda, mas Adam ngajak saya berbelanja, saya akan di ajak ke rumah yang mas Adam beli beberapa tahun lalu, meski kami belum menempati, dia ingin aku yang memilih barang-barang yang akan ia letakkan di rumah itu," sahut Livia.
"Yah hati-hati Livia," ujar Devi sambil mengantar ke teras dan ternyata Adam sudah menunggu di sana.
****
"Mas, kok kayaknya ada yang ngikutin kita dari tadi," ujar Livia.
"Mana?" tanya Adam.
"Itu, motor dibelakang kita sejak kita ke luar dari rumah aku melihatnya mas," jawab Livia sambil sesekali melihat kaca spion tengah.
"Ck kamu terlalu kawatir, tak akan ada yang membuntuti kita, memangnya kita artis?" tanya Adam.
****
Sesampainya di hypermart, Adam mengambil troly besar, lalu berdua bersama Livia berbelanja kebutuhan yang akan mereka letakkan di rumah Adam.
Saat melewati bagian alat masak, Livia tampak membeli beberapa peralatan masak ukuran mungil.
"Loh kok ambil yang kecil-kecil sih?" tanya Adam.
"Kan kita cuman bertiga mas," sahut Livia.
"Masa Biru nanti nggak punya adik?" tanya Adam lagi dan wajah Livia memerah.
"Eh mas, boleh Livi beli pemanggang roti?" tanya Livia dan Adam menggangguk.
"Apapun yang kamu inginkan, belilah," Adam tersenyum melihat Livia yang tampak bahagia hari itu.
Setelah ke kasir keduanya segera ke luar menuju tempat parkir, menuju mobil Adam yang terparkir agak jauh.
"Aku pegang alat pemanggang roti ini ya mas?" pinta Livia.
"Iya iya, kamu kok seneng banget sih sama benda itu?" tanya Adam sambil tetap mendorong troly besar yang penuh dengan barang belanjaan keduanya.
Livia mendekap benda itu sambil tertawa.
"Aku suka aja mas, sejak lama pengen punya yang model gini, yang kalau rotinya matang maka akan meloncat sendiri rotinya," Livia tertawa bahagia, Adam hanya geleng-geleng kepala.
Saat berbelok ke kanan, tiba-tiba Adam melihat seseorang berjaket warna navy, bertopi serta berkaca mata hitam. Berjalan dengan cepat mendekati Livia dan seketika Adam melompat namun terlambat.
"Aaaaaa mas Adaaaam," Livia sempat mengelak dengan menangkis benda tajam dengan pemanggang roti, Adam sempat memukul orang itu, namun orang itu membalas dan sekali lagi mengarahkan pisau ke arah Livia yang sudah tersungkur dan berdarah. Adam kembali mengarahkan tendangan ke perut orang itu yang akhirnya tersungkur. Namun rintihan Livia membuat Adam menoleh. Dan saat mengarahkan pandangannya orang itu telah lari menjauh.
Kejadian cepat ini membuat banyak orang hanya mampu menjerit, ada yang hanya tertegun dan ada yang berinisiatif memanggil bagian keamanan.
Adam memeluk Livia, ia tidak tahu bagian mana yang berdarah, yang ia tahu lengan dan pinggang Livia berdarah.
"Liviaaa, Liviaaaa...," Adam hanya mampu menangis menatap mata Livia yang terpejam.
****