12

1051 Kata
"Gini Fey, untuk mengembalikan hubungan kalian hanya satu, kurangi kesibukanmu, tunjukkan bahwa kau benar-benar mencintainya, melanjutkan kembali asa yang telah terputus," ujar Adam melihat Fey yang menggeleng lemah. "Kami sudah putus, ia memutuskanku, Dam, memutuskanku," Feyna menangis. Adam menepuk punggung tangan Feyna. "Kau mencintainya?" tanya Adam. "Sangat Dam, sangat," jawab Fey sambil terisak. "Ia sedang ke Singapura, menghadiri seminar di sana, susullah, katakan penyesalanmu, lalu ingat luangkan waktu untuknya, meski hanya ke mall atau duduk di cafe seperti ini," ujar Adam. "Kau tahu Fey, aku menunggu lama untuk sekadar bertunangan, empat tahun kau tahu, lalu datang mantan pacarmu mengacaukan segalanya, aku tak tahu lagi jika Livia tak ada di sisiku, aku pernah berpacaran tapi tidak seperti ini rasanya Fey, apalagi dia sudah punya anak, aku ingin melindunginya," ujar Adam menghembuskan napas lelah. "Anak, kok bisa, dia pernah menikah?" tanya Fey menghapus air matanya. "Panjang ceritanya, dia melakukan itu disaat dan di tempat yang salah, mengantar teman bundanya ke guesthouse yang dalam keadaan mabuk dan laki-laki itu melakukannya padanya dan meninggalkannya untuk kembali ke negaranya, dia hamil Fey, lalu setelah anak itu lahir, eh muncul lagi laki-laki bule itu, dan seenaknya akan bertanggung jawab padahal ia sudah punya istri, dan kau tahu anak itu, anak yang lahir karena insiden tak sengaja itu kelainan jantung sejak lahir, makanya aku ingin melindungi keduanya Fey, aku merasa mantan pacarmu juga terenyuh karena kisah tragis itu, makanya pacarmu jadi rajin ke rumah besar itu, bantu aku Fey, aku sangat mencintainya," ujar Adam memelas. "Aku akan menghubungi papa, hari ini juga aku akan mengusahakan tiket ke Singapura, aku akan menuruti saranmu Dam, makasih sudah ngasi aku jalan, aku pulang Dam," Feyna melangkah cepat ke luar dari cafe, setelah meminta nomor hp Adam, sedang Adam terlihat memesan hot cappucino, setelah pesanannya datang ia menyesap perlahan, berusaha menghilangkan keresahannya. **** "Hei Dam, masuklah," ujar Devi melihat Adam baru masuk ke ruang tamu, Adam menyerahkan makanan dari ibunya. "Hmmm apa ini Dam?" tanya Devi. "Macam-macam bu, ada opor ayam, sambel goreng ati kentang sama semur daging kayaknya, biar Livia mau makan kata ibu," ujar Adam. "Hhhmmm enak nih, tak nyuru bik Sum ke pasar beli lontong, biar Livia semakin semangat makannya, si Biru juga suka opor ayam, makasih ya Dam sampaikan pada ibumu," ujar Devi lagi sambil membawa makanan ke dapur. Tak lama muncul Ananta, Adam mencium punggung tangan Ananta dan tampak duduk berhadapan di ruang keluarga. "Aku melihat mobilmu sejak tadi di depan tapi mengapa kamu baru masuk?" tanya Ananta, Adam terlihat gugup. "Saya bertemu teman lama dan duduk di cafe depan sambil bernostalgia Pak," jawab Adam. "Oh, iya iya," jawab Ananta. **** "Loh Livia sudah mau ke galery, nggak pusing atau lemas Livia?" tanya Devi. "Nggak papa bun, Livia mau bareng mas Adam, Livia sudah lumayan sehat kok," jawab Livi. **** Baru saja Livia melangkahkan kakinya menuju lobby galery, tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Ia menoleh dan kaget saat wajah Victor berada di depannya. "Livi dengarkan aku...aku akan menceraikannya, segera, lalu kita hidup bertiga....karena......," Bugh!!! Sebuah pukulan telak bersarang di rahang Victor. Victor terhuyung memegang rahangnya. "Aku tak ada urusan denganmu," kata Victor. "Semua tentang Livia harus berurusan denganku, ia calon istriku, dia tak ada hubungan denganmu lagi," Adam memegang lengan Livia. "Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku, dulu mungkin aku tertarik secara fisik padamu, dan pengalaman pertamaku denganmu membuatku terobsesi padamu, tapi kini aku bisa menilai laki-laki apa yang tak peduli setelah menanam benih, lalu seenaknya hendak menceraikan istrinya yang tak kunjung hamil saat melihat Biru sebesar itu, enyah dari hadapanku, aku tak mengharapmu lagi, aku akan segera menikah dengan laki-laki yang akan membuatku aman, nyaman dan telah lama mendampingiku dalam suka dan duka," Livia menarik lengan Adam masuk ke galery, membiarkan Victor yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Liviaaaaa...Liviaaa dengarkan akuuu, kau hanya dipengaruhi laki-laki itu, dengarkan akuuu," Victor diseret ke luar oleh petugas keamanan galery. **** Livia menghela napas berkali-kali, ia meraih gelas dan mengambil air dingin di dispenser, lalu meneguknya perlahan. Adam menyentuh bahu Livia... "Tenangkan hatimu, tidak usah emosi, biarkan dia, abaikan dia, maka dia akan lelah juga Livi," Adam melihat Livia yang memutar badannya, menatapnya dan memeluk badan Adam. "Dampingi aku mas, aku mudah goyah, aku mudah rapuh, aku kasihan Biru jika ia ada di tangan orang yang tidak tepat," bisik Livia lirih. "Aku akan selalu di sampingmu Livia, asal kau tak melabuhkan hatimu pada siapapun selain aku," ujar Adam mengelus punggung Livia. **** Sore hari setelah mengantar Livia pulang, tiba-tiba ponsel Adam berbunyi. Ia menepikan mobilnya san meraih ponselnya di dashboard. Ia melihat nama Feyna di sana.. Adam mendengar tangis Feyna di sana... Ada apa Fey, sabar jangan nangis dulu Dia tak memberiku kesempatan lagi Dam, dia mengacuhkanku, mengatakan aku wanita hebat yang tak butuh laki-laki, dia mengatakan telah menyukai wanita lain Fey dengarkan aku, bersabarlah ada banyak cara, kita cari cara lain Fey.. Ponsel Feyna ditutup dan Adam hanya bisa menghela napas berat.. Perjalanan cintanya dengan Livia sepertinya masih akan banyak rintangan. **** Ternyata dugaan Adam benar, dua hari kemudian laki-laki itu tampak bercanda dengan Biru dan terlibat percakapan yang santai dengan Devi dan Ananta juga. "Hai Dam, masuklah, mari bergabung dengan kami," ajak Devi. "Saya hanya akan menjemput Livia bu," sahut Adam. "Oh yaaa itu Livia sudah siap," ujar Devi. Livia ke luar dari kamarnya dan pamit pada ayah dan bundanya, lalu mencium Biru yang di gendong Candra. "Ck pelan-pelan nyium anakmu, hampir saja kena bibirku," ujar Candra yang disambut tawa Devi dan Nanta. Livia memukul lengan Candra. "Sembarangan kamu Ndra, ih wajah kamu jauh," Livia tertawa dan melambaikan saat meninggalkan ruang makan. **** "Aku tak suka laki-laki itu, dia sok akrab padamu, aku tak pernah melihatmu tertawa sekeras tadi," ujar Adam. "Ah mas Adam, nggak usah cemburu sama Candra, dia memang suka bergurau, aku nggak ada perasaan apa-apa padanya," ujar Livia. Wajah Adam mengeras.. "Iya kamu nggak ada perasaan apa-apa, tapi dia, kamu kan nggak tahu," sahut Adam dengan jengkel. "Ah mas Adam ya nggak lah, dia seorang dokter, papa mamanya dan kakak-kakaknya juga, aku nggak level, aku ada di bawah standarnya, dia nggak suka sama aku, dia hanya suka sama Biru," ujar Livia masih tersenyum lebar. "Dia menyukaimu Livia," ujar Adam dengan wajah lelah. Livia menoleh dengan tatapan tak percaya "Kata siapa?" "Mantan pacarnya mengatakan padaku, bahwa laki-laki itu menyukaimu," Livia menatap Adam tak Percaya... ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN