Seminggu ini ada hal yang membuat Adam terganggu. Ibunya yang menyuruhnya mencari Lauza karena sejak Adam mengatakan tak ingin melihatnya lagi, Lauza jadi menghilang, teman-temannya sudah dihubungi tapi tak ada yang tahu keberadaannya, tapi Adam tak peduli, yang dia resahkan saat ini adalah dokter itu, dua hari sekali diminta oleh orang tua Livia untuk datang ke rumah besar itu, agar memantau kondisi Livia.
Adam kadang melihat dokter itu berbicara berdua dengan Livia di taman belakang, meski Livia hanya mengangguk dan menggeleng namun cukup mengganggu bagi Adam karena kadang meski samar-samar Livia sudah mulai tersenyum.
Dan yang lebih menyesakkan dadanya, Biru kadang berada dalam gendongan dokter itu.
****
Seperti sore ini, ia melihat Biru yang bercanda dengan dokter itu sampai terkekeh geli.
"Maaf, dia kelainan jantung sejak lahir, jangan sampai melakukan aktivitas yang membuatnya lelah, karena pasti dia akan sesak," ujar Adam dan Candra menoleh sambil tersenyum.
"Ya, Livia sudah bercerita pada saya, selama kondisi Biru dalam keadaan baik-baik saja, saya pikir tidak ada masalah," sahut Candra.
"Papa," Biru menggapai Adam dan Candra menyerahkan Biru pada Adam.
Di saat yang bersamaan Livia muncul dan bertanya pada dokter Candra mengenai obat dan vitamin yang baru saja diberikan oleh Candra, dengan sabar Candra menjelaskan.
"Jangan lupa, istirahat yang cukup, makan jangan terlambat dan jangan berpikir segala sesuatu yang membuatmu lelah, aku pulang Livi, mungkin selama tiga empat hari aku tidak bisa ke sini, ada seminar profesiku di Singapura, ok jangan selalu sedih, jalan-jalan atau ke mana gitu ya, atau ikut aku?" Candra tertawa melihat Livia yang hanya menggeleng dan tersenyum.
"Jangan kawatir, ada saya yang akan menjaganya, yang akan membawanya jalan-jalan, anda tidak perlu repot-repot mengajak tunangan saya," ujar Adam memotong pembicaraan Candra.
Candra menoleh dan tersenyum lebar.
"Ah kalian ternyata telah bertunangan, maaf saya hanya bertugas menghibur pasien saya yang hampir depresi, saya pamit, permisi, assalamualaikum," Candra ke luar di antar Livia.
"Wa alaikum salam," sahut Adam dan menurunkan Biru lalu terlihat asik bermain mobil-mobilan.
****
Livia melangkah menuju ruang makan dan terlihat menikmati tehnya sore itu, bi Sum meraih Biru dari gendongan Adam dan masuk ke kamar Livia dengan menggendong Biru, akan memandikannya karena hari telah semakin sore.
Adam duduk di dekat Livia meraih tangannya, Livia menoleh lalu menarik perlahan tangannya.
"Kau masih marah, kau masih belum melupakan kata-kata itu?" tanya Adam.
Livia diam saja, menoleh pada Adam dan menunduk kembali.
"Maafkan aku mas, jika selama ini tak sadar bertahun-tahun mas menjagaku, mendampingiku sejak Biru di dalam kandungan sampai ia sebesar itu, jawab dengan jujur, mengapa mas mau bertahan selama itu, aku hanya wanita yang telah punya anak dan tak jelas statusnya, mengapa mas bertahan di sisiku?" tanya Livia pelan.
"Awalnya hanya simpati, ingat pada adikku, lama-lama aku menyukaimu, mencintaimu, dan akan selalu menjagamu dan Biru sampai kapanpun," jawab Adam.
"Kau tak jijik padamu, aku bekas orang, bekas laki-laki lain, kau masih perjaka mengapa tak mencari gadis?" tanya Livia lagi.
"Kau tahu Livia cinta itu tidak bisa diukur dengan hal seperti itu, kenyamanan dan karena terbiasa kadang lebih indah dari pada cinta, aku tak peduli kau pernah dengan orang lain, aku juga tak peduli kau sudah memiliki anak, jika aku hanya main-main maka tidak akan selama dan sebetah ini aku menunggumu, kita punya rencana besar Livia, kita akan menikah, undangan sudah dicetak, baju pengantin juga tinggal fitting, aku tidak mau hanya karena omongan adikku kamu jadi mundur, aku sudah mengatakan padanya bahwa aku akan membuatnya menyesal jika sampai kita tak jadi menikah," ujar Adam.
Mata Livia membulat, dia menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan mas, aku takut dia semakin membenciku, aku takut diaaaa....,"
Adam merengkuh badan ringkih Livia ke dalam pelukannya.
"Apapun akan aku lakukan untuk melindungimu Livia, meski dia adikku, harusnya dia berterima kasih kami sudah mengganggapnya adik dan anak, tapi dia malah melebihi kewenangan ibu, ibu saja tak masalah jika kita menikah, bahkan ibu yang terus mendorongku untuk tak patah semangat mengejarmu dan bertahan di sampingmu,"
Adam melepas pelukannya, menatap wajah Livia yang mulai tampak segar.
"Aku tidak suka kau dekat dengan dokter itu," ujar Adam.
"Ah Candra, kami hanya berteman, kebetulan dia juga enak di ajak ngobrol dan curhat juga kalau baru putus sama pacarnya," ujar Livia dan mata Adam semakin dalam menatap matanya.
"Naaah kan apalagi...aku tidak mau tahu, kamu jangan terlalu dekat, aku tidak mau semakin banyak penghalang bagi kita Livi," Adam mengusap pipi Livia.
Dari ambang pintu Candra hanya tertegun menatap Adam dan Livia, tangan Adam yang masih memegang pipi Livia entah mengapa membuat Candra merasa diremas, meski baru seminggu lebih mengenal Livia, Candra jadi terenyuh mengetahui kisah hidup Livia dari Devi. Kotak roti yang ia pegang akhirnya ia letakkan di meja ruang tamu, ia kembali ke rumah besar itu karena Livia mengeluh malas makan hingga ia memutuskan membeli roti agar sewaktu-waktu Livia bisa memakannya jika lapar. Perlahan Candra menutup pintu dan melangkah menuju mobilnya.
****
"Aku pulang dulu Livia, ada pesan dari ibu, ibu akan selalu ada di sisimu, dan selalu berharap agar kau segera jadi menantunya," Adam mengusap rambut Livia, lalu bangkit menuju pintu besar, dan Livia mengekor di belakangnya.
Keduanya kaget saat melihat kotak roti yang sangat besar.
"Dari siapa ya?" tanya Livia.
"Ah paling bunda yang beli, lupa masukin tadi paling," ujar Adam dan kembali pamit pada Livia, lalu melangkah menuju mobilnya.
Livia melambaikan tangan pada Adam saat mobil warna hitam berlalu dari hadapannya.
Livia melangkah masuk saat ada bunyi notifikasi di ponselnya. Ia membuka dan ada pesan masuk dari Candra.
Makan ya jangan sampai telat, aku naruk roti di meja, kamu asik pegang-pegangan sama tunangan kamu ya sudah aku pulang
Livia tersenyum dan hanya mengirim emot tertawa
Masuk lagi notifikasi
Sudah sana makan rotinya, tunangan kamu pulang kan, kalau belum ya suru pulang aja..
Livia tersenyum lebar dan mengirim emot tertawa lagi
Males sama kamu, emot aja yang dikirm dari tadi
Livia tak membalas lagi, ia buka roti kiriman Candra dan mulai mengambil satu dan menikmati yang bertopping keju.
****
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Adam menuju rumah livia, ia membawa masakan ibunya yang memang khusus memasak pagi itu untuk Livia.
Saat berhenti di depan pagar rumah besar keluarga Ananta, Adam melihat seorang wanita yang berdiri di samping mobilnya. Melihat ke arah rumah keluarga Ananta.
Adam menepikan mobilnya dan ke luar dari dalam mobil, ia kaget saat melihat teman smanya Feyna yang juga kaget melihat Adam.
"Fey, ngapain kamu berdiri di sini, masuk yuk nyari siapa?" tanya Adam.
"Ini rumahmu, kayaknya bukan deh?" tanya Feyna.
"Rumah tunanganku, ayo masuk, memang siapa yang manggil kamu ke sini, perasaan nggak ada yang sakit deh, yang kapan hari memang ada dokter yang merawat tunanganku, dokter Candra namanya, lah kamu kan masih melanjutkan ke spesialis kan ya Fey?" tanya Adam.
Wajah Feyna terlihat resah, lalu menarik Adam menuju ke seberang jalan, ke sebuah cafe yang hanya menawarkan minuman.
Setelah keduanya duduk, Feyna menatap Adam dengan resah.
"Candra itu pacarku Dam, bulan depan rencananya kami bertunangan tapi ia tiba-tiba memutuskanku seminggu yang lalu, aku akui memang aku salah, aku terlalu sibuk Dam, di rumah sakit papa dan perkuliahanku yang ambil spesialis anak, aku mengabaikannya karena kesibukanku, aku selidiki ternyata seminggu ini ia ke rumah besar itu, adakah wanita muda di rumah itu selain tunanganmu?" tanya Feyna.
"Tidak ada, hanya Livia tunanganku yang sepuluh hari lebih sakit, memang Candra yang merawatnya," jawab Adam.
"Tolong aku Dam, gimana caranya agar mereka tidak dekat," rengek Feyna. Dan Adam memajukan wajahnya.
"Baik Fey, mari kita saling membantu agar orang yang kita cintai tidak lepas dari pelukan kita, kau mau kan mendengarkan saranku?"
****