"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Adam saat tiba-tiba Ananta menelponnya dan menyuruhnya ke hotel.
"Aku titip Livia, Dam, titip betul, dia mudah goyah, pendiriannya tidak tetap, meski ia bukan anak kandumg kami, tapi cinta kami pada Livia dan Biru seperti perasaan kami pada Ejak, Sena dan cucu-cucu kami yang lain, aku mendengar dari Devi tentang kejadian di rumahmu, aku tak menyalahkan adikmu, tapi kata-katanya akan membuat Livia mundur darimu hanya karena tak percaya diri dan yang aku takutkan ia akan kembali mengejar cinta laki-laki yang memang ia cintai," ujar Nanta.
"Aku minta beberapa bulan ke depan, jangan ajak dulu Livia ke rumahmu, sampai semuanya baik-baik saja, kau tahu sejak pulang dari rumahmu, Livia lebih sering melamun, dan selalu mengatakan bahwa kata-kata adikmu benar, ia katakan itu berulang pada bundanya, aku kawatir Dam, ingatkan adikmu, jangan pernah bertemu Livia lagi sampai kalian menikah, setelah menikah kau tinggal bersama kami, aku hanya ingin Livia baik-baik saja," ujar Nanta sambil menatap wajah Adam yang terlihat resah.
"Maafkan adik saya Pak, ia hanya kawatir Livia tak benar-bemar mencintai saya," ujar Adam.
"Mungkin kata-katanya terlalu kasar, hingga Livia benar-benar merasa tak layak untukmu," sahut Nanta lagi.
"Memang sejak kemarin saya telpon, Livia tak mengangkat sama sekali," keresahan pada wajah Adam benar-benar tak bisa disembunyikan.
****
"Eh Adam, masuk, ayo," ujar Devi saat melihat Adam muncul sore itu setelah pulang dari galery.
"Livia ada bu?" tanya Adam.
Devi menghela napas dan akhirnya mereka duduk di teras.
"Mungkin lebih baik kalian jangan bertemu dulu, dia terlihat sering menangis dan berbicara sendiri Dam, sejak pulang dari rumahmu, dia sering melamun, bahkan mungkin semalam ia kurang tidur, aku tegur dan jawabannya mengejutkan, Livia merasa lebih baik ia tidak menikah dengan siapapun, karena dirinya merasa bekas laki-laki lain, juga tadi malam sempat berbicara tentang kamu Dam, ia sempat melepas cincin pertunangan kalian dan menyerahkannya padaku, menyuruhku mengembalikannya padamu, tapi aku paksa untuk memakainya kembali," Devi terlihat resah dan sedih.
"Aku senang melihat kau datang dan mengkhawatirkannya, tiap kali Livia menatap Biru, dia pasti menangis Dam, dia berkata padaku, kasihan pada Biru yang mungkin sulit mendapatkan papa, karena semua orang pasti melecehkan Biru, kejadian denganmu seharian itu benar-benar mengubah pikirannya, kemarahannya pada Victor yang seenaknya mengatakan akan menceraikan istrinya, membuat Livia sadar bagaimana Victor, juga kata-kata adikmu seolah mengingatkannya bahwa statusnya tidak layak untukmu," Devi menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir.
"Livia bukan anakku Dam, tapi aku merawatnya sejak dia SD sejak aku ambil dia di panti asuhan, anak kecil yang sering melamum, yang selalu merindukan almarhum papa mamanya, yang bunda tahu ternyata mereka juga bukan orang tua kandungnya, orang tua kandungnya seorang dokter, maafkan bunda ya Dam pulanglah, Livia terlihat belum siap kamu temui, aku akan menasehatinya dan membujuknya, serta mengembalikan kepercayaan dirinya bahwa ia layak untuk siapapun," Devi menatap Adam yang menggeleng sejak tadi dengan mata basah.
"Tidak ibu, saya tidak akan pulang sebelum bertemu Livia, ini salah saya, saya yang harus menyembuhkannya,"
Adam berdiri dan Devi tak bisa menolak, ia juga tak tega melarang Adam.
"Ia ada di taman belakang, Biru di bawa Ejak dan Nat, jalan-jalan bersama anak-anak mereka," ujar Devi, Adam menerobos masuk, melangkah cepat dan tertegun saat melihat punggung ringkih Livia.
Seketika dadanya sakit, Adam menyesal telah membawa Livia ke rumahnya di saat yang tak tepat.
Adam melangkah dan mendekati Livia, terlihat Livia menoleh, seketika berdiri, bergegas masuk namun Adam dengan cepat meraih lengan Livia, menariknya dalam pelukannya, Livia memberontak berusaha melepaskan pelukan Adam, namun kekuatan yang tak sebandimg membuat Livia akhirnya menyerah dan menangis di d**a Adam.
"Pulanglah mas pulanglah, jangan temui aku, benar kata adikmu, aku tak pantas denganmu, harusnya aku sadar, harusnya aku tak menyiksamu, kamu yang sabar malah aku sia-siakan, mengejar laki-laki bodoh tak tahu malu, pulanglah, lebih baik kita sudahi semuanya, aku pasrah dan ikhlas jika mas mencari orang lain, aku bekas orang, kehadiran Biru tak dapat dihilangkan...karena mmmppphhh," Livia kaget saat Adam tiba-tiba meraih dagunya dan melumat bibirnya, hal yang selama ini tak pernah dilakukan Adam padanya.
Adam melepaskan ciumannya dan kembali memeluk Livia.
"Maafkan aku, aku tak menemukan cara lain agar kau berhenti bicara, aku tak peduli kau bekas laki-laki lain, jika itu ada dipkiranku sudah sejak dulu aku pergi darimu Livia, aku mencintaimu dan juga Biru, aku ingin setelah menikah kita pergi jauh, tidak di sini, agar tidak ada gangguan dari siapapun, di tempat baru, orang-orang hanya akan tahu bahwa kita pasangan muda dengan satu anak, kau akan merasa nyaman di tempat baru Livia, percayalah padaku, aku tak pernah merendahkanmu, apalagi Biru, jangan pergi dariku Livia, maafkan kata-kata adikku yang membuatmu begini, ia ingin kita baik-baik saja hanya caranya yang salah," Adam melepaskan pelukannya metatap wajah Livia dengan mata sembab dan wajah lelah, namun tak lama Adam merasakan tubuh Livia yang lunglai.
"Liviaaa, Liviaaaa..," Adam menggendong tubuh kecil Livia, membawanya ke kamarnya dan Devi juga beberapa pembantu terlihat panik berlari ke kamar Livia.
"Buatkan teh hangat," kata Devi pada salah satu pembantunya.
Devi menciumi wajah pucat Livia, menangis dan segera menelpon Ananta, menyuruhnya menelpon dokter agar memeriksa kondisi Livia.
****
"Ah silakan masuk, dengan dokter siapa ya?" tanya Livia yang melihat seorang laki-laki belia di depannya.
"Maaf papa sedang sibuk tante jadi menyuruh saya menggantikannya, saya Candra tante," jawab laki-laki muda itu dengan canggung.
"Ah yaaa dokter Waluyo pernah bercerita bahwa putra bungsunya baru saja selesai meraih gelar dokter, mari silakan masuk,"
Devi mengantar dokter Candra ke kamar Livia.
****
"Kondisi putri tante tidak apa-apa, hanya kelelahan, dan sepertinya ada yang dia pikir, selama saya periksa, meski matanya terpejam ia terlihat gelisah," ujar dokter Candra mulai menulis resep dan menyerahkan pada Devi.
"Saya pulang dulu tante, sebisa mungkin jauhkan putri tante dari penyebab kegelisahannya," Candra bangkit, bersalaman pada Devi dan Adam yang sejak tadi berada di sisi Livia.
Setelah dokter Candra menghilang dari pandangan mata Devi dan Adam, segera Devi melangkah masuk, sedangkan Adam pamit untuk pulang dan akan kembali lagi, malam nanti.
****
"Ada apa Dam, mengapa wajahmu resah?" tanya Bu Resti.
"Pasti gara-gara wanita itu bu De," sahut Lauza.
"Ya memang gara-gara wanita itu, yang akar masalahnya berasal dari kata-kata kamu, kau tahu seburuk apapun dia menurut orang lain aku tak peduli, aku mencintainya, dan karena kata-katamu membuat dia jadi berpikir dia kotor dan menolakku, bahkan berpikir untuk mengakiri pertunangan kami, dia depresi gara-gara kata-katamu," ujar Adam dengan kemarahan yang tak disembunyikan.
Lauza kaget karena selama ini Adam lembut padanya.
"Bagus kalau dia sadar siapa dirinya," ujar Lauza dengan mata menatap tajam pada Adam.
"Ulang lagi kata-katamu, perlu kau ingat jika kami baik padamu karena kau adalah sepupu dan keponakan, ikatan itu jelas adanya, tapi untuk masalah ini kau tidak ada apa-apanya bagiku dan ibu, ibu menyetujui hubungan kami sejak awal, karena Livia mengingatkan kami pada almarhum Adisti adikku yang mengalami nasib hampir sama seperti Livia jika sampai Livia bunuh diri seperti Adisti, aku akan memastikan hidupmu tidak akan pernah bahagia, ingat itu, aku menyesal pernah percaya padamu, menganggapmu adik ternyata kau malah hampir membuatku kehilangana dia, aku tak ingin melihatmu lagi," Adam melangkah meninggalkan Lauza dan ibunya.
Tak menghiraukan teriakan ibunya, dan Lauza yang tertegun di tempat duduknya, tak pernah ia sangka bahwa laki-laki lembut dan sabar yang diam-diam ia cintai mampu berkata kasar padanya.
****