7

1060 Kata
Livia menatap Adam dengan tatapan bingung. "Aku hanya butuh jawaban mau atau tidak, itu saja, jika mau maka kita menikah enam bulan lagi, jika tidak maka selesai perjalanan kita Livi, aku tidak akan membiarkan hidupku tak pasti, aku akan menerima tawaran kerja dari temanku di Bandung, dan menetap di sana jika kau memang tak ingin kita bersama," ujar Adam dan tangan Livia memegang bahu Adam, matanya terlihat memelas. "Iya aku mau mas, aku mau," Ada kelegaaan di hati Adam, meski sebenarnya ia tidak akan sanggup meninggalkan Livia dan Biru terlalu lama, Adam hanya butuh kepastian Livi. "Ternyata aku juga tak sanggup jauh terlalu lama dengan mas Adam, aku tidak tahu ini cinta atau hanya karena terbiasa bersama, yang pasti aku bingung saat mas Adam tak ada, lebih-lebih Biru, ia selalu jadi sulit makan jika tidak melihat mas," ujar Livia menatap Adam yang terlihat terus memandangnya. "Terima kasih Livia, aku akan berbicara pada Pak Ananta, ayahmu, juga bundamu, lalu aku akan mengatakan pada ibu, jika aku akan menikahimu, tapi aku akan mengikatmu dulu, kita akan bertunangan seminggu lagi Livia," "Terserah mas Adam," akhirnya Livia hanya pasrah pada keinginan Adam. **** Seminggu kemudian acara pertunangan berlangsung, terlihat wajah bahagia Devi dan Bu Resti, ibunda Adam, lama keduanya berpelukan. "Makasih Bu Devi akhirnya Livia luluh juga," mata ibunda Adam berkaca-kaca. Tidak banyak yang hadir dalam pertunangan itu, dari keluarga Adam hanya ibunya, adik Adam, dan adik-adik ibundanya. Sedang dari pihak Devi, hanya dirinya dan Ananta, Ejak serta Natasha, juga Broto dan Wulan. Untunglah acara berlangsung santai karena tampak Bima anak Wulan dan Bayu anak Ejak selalu saja saling rebut sesuatu dan bertengkar. Ejak hanya tertawa saja dan Broto geleng-geleng kepala saat melihat Nat dan Wulan memisahkan kedunya, sementara Banyu tampak tenang tanpa ekspresi dipangkuan Ejak. "Pak Lik kok senyam-senyum sih lihat Banyu?" tanya Ejak. "Anakmu itu hanya wajahnya saja yang sama Jak, tapi sifatnya beda jauh, Bayu yang ribut aja dan iseng, sedang si Banyu dieeem anteng, kayak kamu," ujar Broto. Ejak tertawa pelan, lalu terlihat Nat yang melangkah ke arahnya sambil menggendong Bayu. "Nih anak usil banget, gangguin Bima aja, padahal si Bimanya ya asik sendiri eh kuenya Bima loh diambil sama Bayu," ujar Nat jengkel. "Biar nggak papa Naaat, lah namanya juga anak-anak, ntar lagi mereka akur," ujar Wulan sambil terkekeh melihat wajah jengkel Nat. **** Setelah acara pertunangan selesai, tampak Livia dan Adam masih duduk berdua, meski keluarga Adam sudah pulang. "Terima kasih akhirnya kau mau melangkah ke arah lebih dekat lagi, aku ingin kau tahu jika aku bersungguh-sungguh Livia, bersungguh-sungguh ingin hidup denganmu dan Biru, tak masalah jika kau masih belum ingin punya anak denganku, menunggu Biru sampai usia siap memiliki adik," Adam meraih tangan Livia dan menggenggamnya dengan erat, menatap dengan lekat ke manik mata Livia. "Aku mencintaimu Livia," Livia menatap Adam dengan gugup karena tak biasanya Adam menatapnya sampai seperti itu. "Kamu tidak harus menjawab Livi, kau diam saja, diam di sisiku, sampai kau akhirnya sadar jika kau juga mencintaiku," ujar Adam. **** Berselang satu jam kemudian tampak Sena dan Nira yang baru datang dari bandara. "Maaf bunda, ayah, kami terlambat," ujar Nira dan Devi segera mencium Nira lalu mencium pipi bayi Nira dan Sena. "Adu cucu cantik nenek, sini, gendong nenek, berapa bulan dah ini Zamora, Nira?" tanya Devi sambil meraih bayi Sena dan Nira. "Sepuluh bulan bunda, sudah mulai belajar berdiri, hanya masih takut melangkah," sahut Sena sambil meletakkan travel bagnya, segera mencium punggung tangan Ananta yang sejak tadi memandangnya dengan rindu, lalu memeluk Ejak yang terlihat tiduran di depan tv, dengan si kembar Bayu dan Banyu. "Mana yang tunangan nih, mau ngucapin selamat," ujar Nira. "Stttt tuh masih ngadakan kesepakatan kayaknya," ujar Ejak sambil matanya menunjuk ke arah Livia dan Adam yang masih saja duduk di taman samping. "Ah biarin aku ke sana saja, yuk sayang kita ngucapin selamat ke mereka," Nira menarik tangan Sena dan melangkah ke taman lalu terlihat suasana yang ramai karena Nira yang memang selalu berpembawaan ceria. **** Malam hari suasana tampak menyenangkan, Bayu yang selalu bergerak hingga Nat dan Ejak yang bergantian menjaga, sedang Biru dan Banyu yang terlihat tenang duduk berdua sambil disuapi oleh Devi. Nampak bayi Za yang masih saja menyusu pada Nira. "Kemana Bu Lik Wulan ya bun?" tanya Sena. "Tadi dia ke sini sama Broto dan Bima, tapi ya gitu, duuuh rame terus Bima sama Bayu, tengkar nggak ada habisnya," ujar Devi tertawa sambil menyuapi cucunya. "Hei ayo kalian makan malam, nggak bisa bareng kalau sudah kayak gini, siapa yang sempat duluan gih makan dulu, mas Nanta, dahar dulu, makan malam sudah siap sejak tadi," ujar Devi, meraih air minum dan meminumkan pada cucunya. "Iya nggak papa, biar Sena sama Ejak dulu, aku belum lapar rasanya lihat cucu semuanya berkumpul kayak gini," ujar Ananta tertawa. Ananta menatap Livia yang sejak tadi termenung, menatap Sena yang dengan mesra menyuapi Nira yang tengah menyusui bayinya. Juga Ejak dan Nat yang menjaga Bayu berdua. "Menikah itu menyenangkan Livia, akan ada orang yang menjagamu,menikmati suka dan duka bersama, lihat Sena dan Nira, serta Ejak dan Nat, mereka bisa merasakan bagaimana jadi orang tua, anakmu butuh figur papa, jangan pernah bimbang lagi, melangkahlah ke depan, jemput melihat lagi ke belakang," Livia hanya mengangguk dan termenung lagi. **** Tiga hari Sena dan Nira berlibur di Jogja, kemudian mereka pamit kembali ke Denpasar karena pekerjaan Sena yang tak mungkin di tinggalkan terlalu lama, apalagi sejak papa Nira meninggal ia jadi bertanggung jawab pada beberapa hotel serta bisnis yang lainnya peninggalan papa Nira, untung Broto ikut membantu. Sena dan Nira sempat ke rumah Broto, bertemu dengan Wulan dan anaknya juga, hubungan Nira dan Broto juga semakin baik sejak Pak Julio, papa keduanya meninggal dunia. Keduanya menangani perusahaan peninggalan papa mereka yang tersebar di beberapa daerah dengan baik, meski kadang Broto masih banyak bertanya pada Ananta. **** Hingga suatu saat, ketika Livia sedang sibuk di galery tiba-tiba ada yang mencarinya. "Mbak Livi, ada tamunya, dia maksa banget pengen ketemu mbak Livi, nunggu di sofa depan pengambilan tiket tuh" ujar Nia. "Iya sebentar Ni, aku ke sana," sahut Livia. Setelah selesai, Livia melangkahkam kakinya menuju ruangan paling depan dari galery itu. Dan Livia tertegun saat ia melihat istri Victor di sana. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Livia. "Aku datang hanya ingin memastikan, apakah kau ingin kami bercerai, apakah ada keinginan di hatimu untuk bersama Victor?" Livia menatap wanita di depannya dengan tatapan bingung. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN