8

1079 Kata
"Dia tidak akan ke mana-mana, dia akan bersama saya selamanya di sini, di samping saya, silakan nyonya kembali ke negara nyonya, wanita ini akan segera menikah dengan saya, kami baru saja bertunangan, jadi jangan kacaukan kebahagiaan kami dengan kedatangn nyonya yang tiba-tiba mengagetkan ini, jika anda mencintai suami anda pertahankan dia, jangan beri kesempatan dia menoleh pada yang lain, jangan karena kehadiran Biru, lalu mengacaukan rumah tangga nyonya" Adam tiba-tiba memeluk bahu Livia. keduanya kaget dan istri Victor pecah tangisnya. "Terima kasih, saya sangat mencintai suami saya, jangan ambil dia saya mohon, sejak dari Indonesia, dia sering termenung, dia berulang mengatakan pada saya ingin menemui anaknya, saya jadi resah, saya takut dia meninggalkan saya, saya mencintainya, sangat mencintainya, saya tidak akan melarang ia menemui anaknya, jika ia ingin membiayai hidup anaknya silakan, tapi sekali lagi jika boleh saya memohon jangan ambil dia, jangan pisahkan kami, kami sedang mengusahakan bayi tabung untuk punya anak, awalnya dia setuju tapi sejak dari Indonesia dia jadi terlihat resah dan menjauh dari saya," kembali air mata Damira, istri Victor mengalir dengan deras. "Pulanglah nyonya, saya yakinkan nyonya, Livia tidak akan pernah menghubungi atau apapun bentuk hubungannya tidak ada lagi, kami juga tidak melarang jika suami anda akan menemui Biru, tapi tidak ada jalan jika ia akan menemui mamanya Biru," Adam semakin mendekatkan Livia dalam dekapannya. "Benarkan Livia, kita akan segera menikah?" tanya Adam menunduk, menatap mata Livia yang terlihat bingung namun Adam segera melihat anggukan keras Livia. "Iii iiya, kami akan menikah," ucap Livia cepat. "Terima kasih, terima kasih telah menyelamatkan pernikahan kami, saya doakan kalian berbahagia, maafkan jika di masa lalu suami saya membuat kesalahan, dia orang baik, sabar dan tak pernah macam-macam, saya saja kaget saat pertama mendengar masa lalunya hingga meninggalkan kewajibannya di sini, saya pamit pulang, saya menempuh jarak yang cukup jauh, hanya ingin memastikan bahwa kami dan juga kalian baik-baik saja, kebetulan ia sedang ke Thailand seminggu hingga saya memutuskan secepatnya ke sini, saya pamit, terima kasih telah membuat saya pulang ke negara saya dengan hati lega," Damira bersalaman dengan Adam dan saat berada di depan Livia, ia memeluk Livia. "Maafkan suami saya, maafkan jika dia pernah membuat masa lalumu sulit, terima kasih kau telah melepaskan dia untukku, semoga pernikahanmu dilimpahi kebahagiaan," bisik Damira. ia melepas pelukannya, mengusap air matanya, dan berlalu dari hadapan Livia dan Adam. Saat Damira telah berlalu, Adam meraih bahu Livia menghadap wajahnya. "Perhatikan wajah putus asa wanita tadi, kau tega mau menjadi orang ketiga dalam pernikahannya, kau tega membuat rumah tanganya yang baik-baik saja jadi hancur karena kisah masa lalu kalian yang ia tak pernah tahu, kau ada aku dan Biru serta semua keluargamu yang mencintaimu, kau tinggal memilih hidup bahagia dan tenang atau hidup senang namun tak bahagia karena berdosa telah menghancurkan hidup orang lain," Adam mengusap pipi Livia, Adam tahu Livia mudah bimbang dan ragu, ia tak mau terkecoh lagi, ia harus tegas jika ingin bahagia. "Aku akan ada di sisi mas Adam," ujar Livia lirih. "Aku tahu kau ragu, aku tahu kau masih memikirkan laki-laki itu, tapi aku juga tak akan mundur Livia, karena jika kita mundur maka kita akan sama-sama hancur, aku mau kita sama-sama bahagia," Adam meraih Livia dalam pelukannya dan segera melepas saat Devi tiba-tiba masuk. **** "Duduklah Adam, Livia, bunda ada perlu, besok jam sembilan pagi, bunda kan mengajak kalian pesan baju untuk akad dan resepsi nanti, bunda akan jemput kalian ke sini," ujar Devi dan Livia serta Adam menggangguk hampir bersamaan. "Lalu siapa wanita bule tadi kok seperti habis menangis?" tanya Devi, Livia dan Adam saling pandang. Adam bercerit panjang lebar apa yang telah terjadi, Livia terlihat menunduk menatap tangannya yang saling menggenggam. "Jadi pikirkan Livia, bahwa hidup tidak selalu tentang cinta, obsesi, dan apalah itu, semua akan jadi sia-sia saat kau bahagia di atas penderitaan orang lain, Adam, Biru, kami semua ada di sisimu, bukan laki-laki yang hanya menjadi melow setelah tahu ia meninggalkan benih, kau bisa melihat, laki-laki bertanggung jawab itu seperti apa," Devi menatap tajam pada Livia yang lebih banyak menunduk. "Saya yakin setelah kedatangan wanita tadi, Livia jadi bisa berpikir lebih jernih, bu, seandainya bisa saya ingin pernikahan kami lebih cepat lagi, agar Livia tak ragu melangkah," ujar Adam. "Nggak mas Adam, seperti rencana semula saja," ujad Livia pelan. "Baiklah, bunda pulang dulu Livia, Adam, kebetulan tadi ada acara di radio dekat sini jadi bunda mampir, lama sekali mama tak berkecimpung di dunia mama, sejak yaaa adaaa saja dalam hidup Livia, bunda pulang ya," Devi melangkah ke luar dari ruangan Livia dan meninggalkan keduanya. **** Keesokan harinya, setelah mendatangi sebuah butik untuk memesan baju akad nikah dan resepsi,  Devi pulang mengendarai mobilnya dan Livia bersama Adam naik mobil terpisah. Tiba-tiba Adam menghentikan mobilnya di sebuah warung bakso "Aku pengen bakso, kita berhenti di sini ya Livi?" ajak Adam dan keduanya terlihat memasuki warung bakso yang terlihat agak ramai, "Duduk dekat jendela sini Livi, enak sambil lihat jalan," Adam menarik tangan Livia. Setelah memesan lewat pelayan akhirnya datang dua mangkuk bakso yang masih mengepul dan es jeruk. Saat keduanya sedang asik menikmati bakso Adam yang tanpa sengaja melihat ke luar, agak kaget melihat sosok Victor dan beberapa orang Indonesia yang melangkah ke warung bakso itu, mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Livia dan terdengar membicarakan masalah pekerjaan dan proyek penelitian. Adam sengaja mendekatkan duduknya ke arah Livia, mengusap keringat Livia yang mulai tampak di keningnya karena menahan pedas serta mengusap bibi Livia meski di sana tak ada apa-apa. "Mas malu," ujar Livia lirih. "Biarin, kan kita mau nikah juga," sahut Adam. Mata Victor akhirnya menangkap sosok Livia dan Adam yang terlihat mesra, Livia sempat menyandarkan kepalanya pada bahu Adam dan Adam merengkuh bahunya, mereka memunggungi Victor. "Sudah kan, yuk pulang Livi," ajak Adam. Saat bergerak ke luar, langkah Livia jadi kaku waktu melihat mata coklat Victor. Adam memeluk pinggang Livia dan mengajaknya melangkah, sambil berbisik pelan di telinga Livia. "Ingat istri Victor, Livia, dia menunggu suaminya pulang, bahkan mungkin ia masih dalam perjalanan pulang ke negaranya," Victor memanggil Livia saat Adam dan Livia sampau di mulut pintu ke luar. Adam menoleh, menarik Livia menghadap pada badan Victor yang terlihat mengejar mereka berdua. "Apa kabar, anda datang di saat yang tepat, saya hanya akan memberi tahu bahwa kami akan menikah, jika mau, anda akan kami undang, hanya agar tidak ada yang mencurinya saya mengikatnya dengan pertunangan, maaf kami akan pulang, permisi," Adam menarik Livia yang diam saja, untuk bergerak ke arah pintu. "Liviaaaa, benar kau akan menikah?" teriakan Victor menghentikan langkah Livia. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN