Ellen duduk di ruang tunggu, dia memandang pergerakan Arslan yang berjalan antara meja administrasi dan loket farmasi. Ellen baru saja menemui dokter. Lengannya memang terbentur keras namun tidak ada masalah dengan tulang. Hanya ada beberapa pembuluh darah yang pecah. Arslan mendekat dan duduk di sebelah Ellen. Dia merentangkan satu tangan dan memberi kode kepada Ellen untuk mendekat. Ellen memicingkan mata dengan tindakan itu. Arslan membalas sorot mata Ellen dengan ekpresi menyedihkan yang dibuat-buat. Sialan menggemaskan, Ellen tidak akan menolak. "Tinggal menunggu obat saja?", tanya Ellen dalam rengkuhan Arslan. Wanita ini sudah menggeser duduknya untuk merapat pada tubuh Arslan. Tangan Arslan melingkupi pundak Ellen dengan pas. Sangat nyaman. Sesekali dia mengelus lengan

