Bauer Palazzo Hotel.
Ellen sudah berada di kamar Arslan dengan satu laptop baru di hadapannya, begitu pula Arslan. Entah dengan keajaiban apa mereka bisa duduk manis dalam satu meja dengan kesepakatan Ellen menulis materi sedangkan Arslan membuat ulang power point.
"Dengarkan aku baik-baik. Perkataanku ini adalah apa yang akan aku sampaikan di hadapan mahasiswa. Bisa kau ikuti?", tanya Arslan kepada Ellen.
Ellen mendelik dan membenahi posisi duduk lalu menggelung ke atas rambut hitamnya dan sukses menggoyangkan fokus Arslan selama beberapa detik. Leher jenjang Ellen terpampang nyata di seberang meja.
"Ehm... bisa kau ikuti? Seberapa pelan aku harus berbicara?", ulang Arslan karena belum mendapat jawaban sejak tadi.
"Jadi ini tentang bisnis real estate?", akhirnya Ellen berbicara.
"Kau asing dengan istilah yang mungkin akan muncul?"
"Aku bukan orang bodoh.", hanya itu jawabannya.
"Lalu seberapa pelan aku harus berbicara?", sekali lagi Arslan mengulang kalimat.
"Sial, kau masih akan mengoceh lalu aku pergi atau kau mau memulainya sekarang juga, Tuan Payah?", mata Ellen sudah membulat.
Proses perbantuan dengan segala intro perdebatan tadi akhirnya dimulai.
Ellen fokus menggerakkan jari-jarinya di keyboard dengan merangkai kata tanpa berucap satu katapun karena fokus mendengar kalimat yang Arslan ucapkan.
Di lain sisi, selain mulut, tangan Arslan juga tengah mengerjakan power point sesuai materi yang ada di kepalanya.
Satu jam kemudian mereka selesai.
"Ok, save. Tugasku selesai.", ucap Ellen sambil merenggangkan jari.
"Tunggu, aku perlu memastikan kita benar-benar berdamai dan kau tidak memasukkan kata tidak pantas di dalam materiku, Nona."
Ellen tersenyum smirk.
"Kau benar sekali. Aku tambahkan beberapa hal agar mahasiswa tidak bosan dengan tulisanmu. Segera kirim ke penyelenggara, kuharap kau terkejut."
Mata Arslan melebar.
"Kau sedang bercanda, bukan?"
"Lihat saja sendiri. Aku pergi."
***
Pagi yang cerah di kota Venice. Banyak orang berolahraga di taman kota, begitu juga dengan Ellen. Dia berlari kecil dengan setelan adidas hitam yang sangat pas di tubuhnya.
Sepertinya musik menjadi satu-satunya teman bagi Ellen, terlihat dari earphone yang bertengger manis di telinganya.
Satu panggilan masuk membuat dia berhenti. Mengambil nafas lalu melihat ke layar ponsel. Nomor tidak dikenal.
"Halo?", sapa Ellen.
"Apa aku mengganggu pagimu? Apa kau sudah bangun?", tanya seseorang di seberang sana.
Bahasa Indonesia, dan suara itu tidak lagi asing. Dalam lima detik Ellen sudah yakin itu suara Arslan. 'Sial, darimana dia tahu nomorku?', batin Ellen.
"Hebat, sekarang kau jadi penguntit?", balas Ellen.
"Hmm... mungkin. Tapi satu box pizza super large bisa membuat Becca berbicara. Itu keuntunganku."
Teman Ellen satu itu memang loyal pada apa yang ada di depan mata. Ellen memijit pelipisnya heran.
"Jadi, kenapa kau menghubungiku? Apa mahasiswa-mahasiswa tadi malam gaduh dan melempari kau dengan batu? Aku harap itu benar terjadi."
Arslan tertawa di seberang sana.
"Kau akan melihat luka-lukaku saat kita bertemu langsung. Brunch?", Arslan mencoba peruntungan.
"Aku sibuk.", jawab Ellen.
"Ini weekend dan Becca bilang kau kesini hanya untuk liburan."
Ellen berdecak marah.
"Becca lagi, huh. Dengar, urusanku disini bukan menjadi urusanmu."
"Tentu. Aku hanya menawarkan brunch bersama. Dimana kau sekarang?"
***
"Bruschetta, Risotto, and Rasberi Panna Cotta.", Ellen menutup menu setelah pelayan mencatat pesanannya.
"Porchetta Panini and Macchiato. Just it. Thanks.", Arslan kembali menghadap Ellen setelah pelayan tadi pergi.
Ellen bersedekap sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku benar terkejut sesuai perkiraanmu, Ellen or just Ell?"
"Terserah."
"Oke, Ell. Jadi kau sepertinya juga faham dengan dunia bisnis yang kujalankan."
"Kubilang aku bukan orang bodoh.", jawab Ellen tegas.
"Yaa, pilihan dan tatanan kata-katamu memperindah materiku. Jadi, katakan jika siang ini aku menraktir sebagai ucapan terimakasih."
Ellen tersenyum puas mendengar itu. See?
"Sekarang kau mengakui aku pintar. Kau terlalu berbelit jadi aku memilih untuk merampingkan tulisanmu agar fokus ke poin sesuai kebiasaan mahasiswa disini.", balas Ellen.
"Terbukti, mereka puas, maka aku lega. Ini pertama kali aku bertemu mahasiswa Italy. Kegagalan tentu bukan yang aku harapkan, tadi malam begitu sukses."
Arslan melemparkan senyum tulus pada Ellen.
"Aku membantumu memang demi mereka. Aku pernah menjadi mahasiswa dan aku yakin mahasiswa tidak ingin mendapat ilmu abal-abal."
Suara tawa Arslan muncul membuat Ellen sedikit kaget.
"Aku heran kenapa bisa mendapat hari yang super sial sekaligus super bahagia kemarin. Semua berhubungan denganmu."
"Catat itu di buku pentingmu.", balas Ellen.
"Tentu. Oh, dimana kau tinggal?"
"Kenapa?"
"Hanya bertanya."
"Apa kau sedang mendekatiku?", terang Ellen tanpa basa-basi.
Arslan kembali tertawa.
"Haaa... aku tidak tahu cara mendekati wanita. Apa satu pertanyaan itu bisa diasumsikan sebagai pendekatan?"
"Tutup mulutmu. Jangan sampai orang dibelakang melempar botol.", keluh Ellen melihat tingkah Arslan.
Sejenak kemudian tawa Arslan mereda. Makanan datang lalu mereka menikmatinya.
"Jadi bisnismu ada di Bali?"
Itu adalah pertanyaan serius yang pertama kali Ellen keluarkan selama ini.
Arslan menelan suapan terakhirnya kemudian menjawab.
"Sebenarnya ada di beberapa daerah lain tapi kantor pusat ada di Bali."
"Kurasa sudah menjadi bisnis besar."
"Tidak sebesar perkiraanmu. Aku hanya alat orangtuaku agar hari tua mereka tenang dan lepas dari kerumitan bisnis ini."
"Well, tidak semua bersedia. Kau melakukannya."
Arslan mengernyitkan dahi.
"Apa kau sedang memuji aku?"
"Katakan seperti itu, karena aku tahu tidak mudah untuk bisa di posisimu."
"Jadi bisnis apa yang kau jalankan, Ell? Aku pikir seorang pegawai biasa tidak mungkin memiliki libur panjang di Italy sepertimu."
"Apa kau mengintrogasiku?"
"Sebenarnya tidak, tapi aku tertarik jika itu memiliki jawaban."
Ellen tidak menjawab pertanyaan Arslan dan memilih berdiri. Arslan terkejut.
"Kau pergi?"
"Aku ada urusan setelah ini. Terimakasih sudah membuatku kenyang."
Ellen beranjak pergi.
"Tunggu, apa kita masih bisa bertemu lagi?"
Ellen hanya mengangkat bahu dua kali dan berlalu hilang melewati kerumunan orang-orang yang baru masuk restaurant.