Beberapa hari kemudian.
'Kring kring'
Alarm pagi milik Arslan berdering. Setengah jam berlalu, dia sudah siap dengan setelan rapi karena akan bertemu kolega.
Dia menyempatkan diri membuka ponsel untuk mengirim pesan.
'Good Morning. Jangan terlalu galak untuk hari ini, matahari sedang cerah dan tersenyum sangat bagus untuk kesehatan wajahmu.'
Satu menit Arslan hanya menatap ponsel, tanpa ada tanda terbaca.
"Selalu begini, Ell. Entah kapan pesan-pesanku kau respon. Huufh.", dia bicara seorang diri.
***
Satu meeting room telah dipesan untuk acara tersebut. Arslan masuk setelah pelayan menunjukkan jalan. Tak disangka ada kejutan yang dia dapat hari ini. Ellen.
'Dia berbeda dan tetap cantik.', batin Arslan.
Wajah Arslan sedikit terkejut namun dia masih sadar untuk mengontrol ekspresi di depan Mr. Souch.
"Happy for having you here, Youngmen.", sapa Mr. Souch kepada Arslan. Lelaki itu seumuran dengan Ayah Arslan namun mereka sudah saling mengenal baik sebelumnya.
"My pleasure, Mr. Souch. Nice to meet you.", balas Arslan.
Mr. Souch tersenyum kemudian mulai mengenalkan satu per satu tim yang ia bawa hari itu. Tiba pada orang terakhir yang dia tunjuk yaitu Ellen.
"She's my translator. I can't speak English very well, sorry, but she's Indonesian and you too, so, here is Ellen.", terang Mr. Souch sebagai warga Italy asli.
Ellen sedikit menunduk sebagai sapaan untuk Arslan. Gerakan itu dibalas senyum reflek oleh Arslan selama satu detik dan kembali ke wajah datar saat wajah Ellen mulai diangkat.
Rapat hari itu berlangsung agak lama namun lancar. Sekitar tiga jam mereka membahas beberapa hal termasuk acara makan siang bersama.
Rapat selesai ketika waktu sudah sore. Mr. Souch beserta tim sudah meninggalkan ruangan. Seperti sudah tersistem, tersisalah Arslan dan Ellen disana.
"Sepertinya bukan kesialan lagi yang kita dapat hari ini.", sapa Ellen pada Arslan.
Arslan maju mendekat ke arah Ellen karena sebelumnya mereka berseberangan meja.
"Kebetulan yang sangat menyenangkan, Ell. Kuharap siang ini kau memiliki sisa waktu luang."
Ellen menggeleng.
"Cukup sudah, lelaki petualang, aku tidak ingin kau mengajak aku keluar ataupu.....'
Ponsel Ellen berdering dan pembicaraan seketika berhenti.
"Ya, Hallo?"
.................
"Lakukan saja."
.................
"Tapi aku..."
.................
"Yasudah terserah. Itu urusanmu."
.................
"Tidak, aku baik-baik saja disini."
.................
"Oke, bye."
Arslan memperhatikan wanita di depannya dengan teliti.
"Siapa?", selidik Arslan.
"Kenapa?", balas Ellen.
"Wajahmu berubah. Sebelumnya kau melawan kata-kataku dengan percaya diri namun kau melemah karena panggilan tiba-tiba itu."
Ellen menggeleng sambil tersenyum miring.
"Bagaimana jika kubilang dia kekasihku?"
Deg. Arslan sontak menelan saliva mendengar kalimat Ellen. Kini wajah Arslan lah yang berubah, ellen tertawa melihat itu.
"Lihat wajah ini, kau begitu lucu.", tunjuk Ellen di depan wajah Arslan. Tak disangka tangan itu diraih Arslan untuk digenggam.
"Katakan kau sedang bercanda.", tatapan Arslan tajam ke arah mata Ellen. Wanita itu menghentikan tawa.
"Aku serius.", jawab Ellen.
Arslan melepas genggaman tangan mereka dan menghembuskan nafas keras sambil menyandarkan diri di meja. Ellen berdiri mematung di depannya. Reaksi apa ini? Ellen bingung. Dia lihat wajah Arslan dan bergerak sedikit menjauh. Hanya satu langkah ke belakang, namun sedetik kemudian wajah itu berubah tertawa.
"Haha... ternyata ada penghalang. Kukira aku beruntung.", ucap Arslan.
"Kau memang mendekatiku? Seharusnya kubilang sejak awal."
"Tidak perlu, aku mengetahuinya di awal maupun sekarang sepertinya bukan masalah."
Ellen mengernyitkan dahi.
"Kupikir kau adalah manusia dengan harga diri tinggi.", Ellen menanggapi.
"Aku juga tidak tahu, kita lihat saja nanti.", hanya itu jawaban Arslan.
Ellen mengemasi brang-barangnya dan bermaksud pergi karena pembicaraan ini sepertinya cukup untuk mereka berdua.
"Dengan apa kau kesini? Aku antar pulang.", tawar Arslan.
"Kau sudah menentukan level harga dirimu?", Ellen heran.
"Anggap saja ini tawaran antar rekan kerja atau kau bisa menyebutnya teman baru."
Ellen tertawa melihat kegigihan Arslan. Dia tidak menganggap ini serius sehingga tawaran itu dia terima.
Ternyata tempat tinggal Ellen agak jauh dari tempat pertemuan mereka. Setelah petang mereka baru sampai di sebuah hotel dimana Ellen menginap.
"Kamar nomor berapa?", tanya Arslan tiba-tiba.
Ellen neghentikan gerakan tangannya yang hampir membuka pintu mobil.
"Kau serius menanyakan itu?"
"Iya. Jika saja aku ingin mengunjungi teman, aku sudah tahu alamatnya."
"Haha, aku akan segera kembali ke Indonesia. Hal itu tidak perlu."
"Benarkah?"
"Iya.", jawab Ellen. Arslan terdiam.
Kini dia biarkan Ellen benar-benar keluar dan menutup pintu mobil setelah mengucapkan terimakasih.
***
Ellen memasuki kamar dengan berdecak heran dan tertawa dalam hati pada tingkah Arslan. Setidaknya hari ini dia bersyukur pekerjaan sampingannya berjalan baik.
Ellen membersihkan diri dan berganti baju tidur kemudian menyalakan televisi sebagai hiburan utamanya. Saat dia ingin mengambil minuman kaleng, bel pintu berbunyi. Ellen tidak merasa ada janji dengan siapapun.
'Klek', pintu dibuka.
Ellen berkacak pinggang melihat siapa yang datang.
"Wow, pilihan baju tidur yang sangat berani, Nona. Kau menunjukkan pada tamu yang salah."
"Karena kau bukan tamuku dan aku berpikir akan segera mengsurimu."
Pintu akan ditutup lalu tangan Arslan menahannya.
"Tunggu, Ell. Aku hanya sebentar."
"Apa?", Ellen mengalah dengan sedikit kesal.
Arslan menunjukkan satu kantong obat untuk ellen.
"Aku ingat tadi siang kau memakan seafood dengan orange juice. Memang tidak berlaku pada semua orang tapi beberapa akan merasakan reaksi tidak bagus di badan mereka."
"Kau pikir aku anak kecil?"
"Tidak, aku hanya belum mengenalmu dan aku khawatir kau salah satu yang akan bereaksi terhadap itu. Jadi hanya simpan ini dan gunakan jika perlu.", Arslan menyerahkan kantong obat.
Ellen menerima kemudian senyum aneh pada barang yang dia pegang.
"Kau kesini, menembus resepsionis, hanya untuk ini?"
"Tidak. Bukan resepsionis tapi Becca."
"What? Becca lagi?", Ellen terkejut.
"Iya, kali ini dia meminta satu box besar ayam goreng."
Ellen menggeleng tidak percaya untuk sekian kali Arslan bisa mengorek informasi tentangnya melalui Becca.
"Kupastikan dia tidak akan menjadi temanmu.", kesal Ellen yang dibalas senyuman oleh Arslan.
"Oh, ada satu hal lagi aku kesini."
"Apalagi, huh?"
Arslan mengangkat satu paper bag di depan wajah Ellen.
"Aku butuh teman untuk makan malam."
Ellen melotot.
"Gila. Hilang sudah harga dirimu, Ars?"
Arslan tidak menggubris dan menerobos masuk ke kamar Ellen.
Sambil berjalan Arslan berkata,
"Mungkin wanita sexy tidak terlalu butuh makan malam, tapi melihat apa menumu tadi siang, kupikir kau harus tetap makan."
Dia berjalan memperhatikan ruangan mencari dapur dan bersiap menata makanannya. Mendengar itu Ellen tersenyum dan membiarkan Arslan berulah.