Arslan berjalan lemah di lobby rumah sakit. Dia sepenuhnya memilih untuk tidak mengejar Ellen beberapa waktu lalu. Ya, cukup sekali dia dipermalukan. Banyak orang berlalu-lalang, Arslan terlihat lebih kusut daripada pasien yang ada di sana. Ekspresi wajah menonjolkan bagaimana hatinya saat ini. Ellen, Ellen, dan Ellen. Shit..... Wanita itu..... Masih di sini??? Mata Arslan membelalak sempurna. Apakah dia berhalusinasi? Tapi dia melihat Ellen tengah berdiri bersama Martha. Ya, Arslan masih mengingat nama itu. Dengan perlahan Arslan mendekat, tentunya dalam radius aman yang tak terlihat namun bisa mendengar percakapan mereka. "Terimakasih kau sudah menemani memilih dokter spesialis untuk Ayahku.", ucap Martha. "Easy. Semoga konsultasi berkelanjutan bisa meringankan keluhannya."

