"Kau yakin tidak ada penyewa bernama Ellen beberapa hari ini?"
"Iya. Saya yakin."
"Shit."
Arslan mengumpat setelah mendengar jawaban akhir dari admin rental mobil itu. Sudah ketiga kali dia meminta si admin untuk memeriksa dan hasilnya tetap nihil.
Ada banyak customer yang datang setiap hari mengingat persewaan ini tidak kecil, jadi tiga kali memeriksa selama tiga hari terakhir sudah cukup meyakinkan Arslan bahwa tidak ada nama Ellen disana.
"Lalu apa yang sudah ku lihat? Apa aku berhalusinasi dan wanita tadi sebenarnya bukan Ellen? Sial."
Arslan mengeluh pada dirinya sendiri. Kini dia menghubungi Dave, berharap dia sudah berbicara pada Anne.
"Hallo."
"..........."
"Apa yang Anne katakan, Dave?"
"..........."
"Kau yakin? Anne tidak mengenal nama Ellen sama sekali?"
"..........."
"Baiklah."
Arslan mengacak-acak rambutnya. Kali ini dia frustasi dan memilih menyendiri kembali ke apartemen.
***
Pekerjaan minggu ini sangat berat karena musim liburan telah tiba. Dave dan Anne bersinergi menjaga kestabilan G-hotel. Anne tetap nyaman di posisi Manajer Personalia dan Dave kini telah diangkat menjadi direktur utama. Tidak mian-main Arslan menempatkan sahabatnya.
Hal tersebut tidak dilakukan secara asal. Dave sangat berkompeten dengan latar belakang pendidikan memadai, pengalaman yang sangat panjang, dan dia juga salah satu pemegang saham besar di perusahaan Arslan.
Keluarga Arslan juga sudah lama mengenal pribadi dan rekam jejak Dave sehingga tidak ada keraguan untuk menyerahkan G-hotel ke tangan Dave atau David Andika Brent, sahabat Arslan Gimawan.
Siang ini Arslan ingin melihat keadaan di lapangan. Setelah berkunjung ke beberapa Resort dan Villa miliknya, kini giliran G-hotel.
Arslan berjalan gagah dengan kacamata hitam serta setelan jas abu yang melekat pas di tubuh atletisnya.
Beberapa karyawan terpesona dengan mantan General Managernya ini karena sekarang tidak setiap hari mereka bertemu.
Arslan langsung menuju ruangan Dave. Dia masuk setelah mengetuk pintu dua kali.
"See, aku kesini. Apa kau terkejut, Dave?"
Dave hanya menggeleng pelan dengan menekan tombol save di keyboard nya.
"Kedatanganmu sudah terdaftar di agenda dan aku sudah mengetahuinya lima hari lalu."
Arslan melengkungkan senyum kecil.
"Kau memang susah dikalahkan."
Dave berjalan menuju sofa dimana Arslan menyandarkan punggungnya.
"Walau intensitas pekerjaan sangat tinggi, semua tetap berjalan lancar. Anne membuat karyawanmu jauh lebih baik dan aku jamin tamumu tahun ini naik lebih dari 30%."
Arslan tersenyum.
"Aku percaya itu terjadi. Kalian yang terbaik. Lalu bagaimana dengan investasimu? Apa berjalan lancar? Aku tidak ingin pekerjaan disini membuat kau bangkrut karena terlalu pusing."
Giliran Dave yang tertawa kali ini.
"Tidak perlu khawatir, aku sudah memiliki tim kecil untuk mengontrol segala investasi dan aplikasi yang aku kerjakan. Jangan terkejut jika pendapatanku akan melampaui dirimu."
Arslan tepuk tangan.
"Aku iri padamu, brother. Selamat."
"Terimakasih atas pujianmu. Jangan meminta hadiah untuk ini."
"Hahaaaa tidak. Ingat saja bahwa aku terus berjuang untuk mengalahkanmu juga."
Dave tertawa mengikuti tawa Arslan.
Beberapa saat kemudian ponsel Dave berdering.
Anne.
"Hallo..."
".........."
"Ya. Kebetulan ada Arslan disini. Sebuah ide bagus untuk meminta dia bekerja juga."
".........."
"Oke."
Arslan memicingkan mata dan menjauhkan diri dari Dave.
"Aku mencium bau persengkokolan yang buruk."
Dave tersenyum.
"Hanya sedikit masalah tentang permintaan transportasi yang melonjak drastis. Aku butuh kau untuk memverifikasi satu perusahaan."
"Hey, itu tugas timmu."
"Kita adalah tim, Ars. Jangan menghindar."
"Sial sekali aku kesini."
"Tidak ada yang sial, ini demi kebaikanmu juga."
Arslan akhirnya setuju. Hanya verifikasi dan selesai.
"Kapan aku harus melakukan itu?"
"Sekarang."
"Whaaat? Kau gila."
"Sudahlah. Ayo ke ruang meeting, Anne sudah menunggu lama."
"Wait, kenapa ada Anne di urusan ini? Dia tidak berwenang atas verifikasi partner."
"Ssttt, dia hanya membantuku."
Arslan menggeleng.
"Waah, aku jadi meragukan kerja tim kalian. Ya Tuhan semoga hotel ini tetap bertahan."
Dave memukul punggung Arslan dengan keras.
"Awwww.", keluh Arslan.
"Berlebihan.", kemudian Dave menyeret Arslan begitu saja tanpa mendengar keluhannya di sepanjang jalan menuju ruang meeting.
'Ceklek', pintu terbuka.
Dave dan Arslan masuk ke ruang meeting yang tampak sepi. Sekilas terlihat empat orang didalamnya. Anne, kemudian dua karyawan dibawah Dave dan satu lagi wanita.............
"Ellen.", suara Arslan terbata dan pelan, dia mematung beberapa saat di depan pintu yang sudah tertutup.
Keajaiban untuk Arslan. Ellen tiba-tiba hadir dihadapannya. Ini bukan dalam tindakan pengintaian apapun. Dia belum berhasil menyelidiki identitas asli Ellen tapi sekarang dia sudah berada di satu ruangan, di hotel miliknya sendiri.
Ellen yang selama ini dia cari, Ya Tuhan mata Arslan sedikit berkaca-kaca memandang wanita itu. Untuk beberapa waktu dia belum berhasil bergerak karena masih menikmati kenyataan ini.
Wanita yang dipanggil pun menoleh dengan cepat dan mata mereka saling mengunci satu sama lain.
Dalam hati, Arslan bahagia karena ini bukan halusinasi. Dengan jarak sedekat ini Arslan yakin jika dia adalah Ellen. Wanita yang selama ini dia cari.
Ellen ikut mematung tanpa berucap apapun. Lelaki yang berhasil menguasai dirinya selama di Venice. Lelaki dengan kelembutan yang sempat membuat Ellen merasa nyaman.
"Ehemmm... silahkan masuk Tuan Arslan. Anda bisa duduk disamping Tuan Dave.", pinta Anne dengan satu senyum smirk sama seperti Dave.
Arslan tersadar dan mencari dimana Dave berada. Ternyata sahabatnya sudah duduk duluan di samping Anne. Arslan menyusul.
Ellen ada di seberang Arslan. Beruntung meja di ruangan ini tidak terlalu panjang. Arslan bisa melihat detail wajah wanita yang dia idamkan.
Mereka berdua masih merasa rikuh dengan pertemuan mendadak ini. Dave segera mencairkan suasana dengan fokus pada garis merah pertemuan. Mereka saling melontarkan argumen dan tawaran.
Ellen sempat sedikit panik namun dengan segera Arslan mengalihkan tatapannya ke arah lain agar Ellen tidak terprofokasi kedatangannya. Arslan berpura-pura membaca berkas di hadapannya namun pendengaran tetap tertuju pada suara Ellen yang lama dia rindukan.
Meeting berjalan lancar. Tidak mungkin Arslan menolak tawaran dari perusahaan Ellen. Mereka harus bekerja sama apapun yang terjadi.
Karyawan Dave mulai meninggalkan ruangan. Tersisa mereka berempat. Anne, Dave, Arslan, dan Ellen.
"Waah, aku tidak salah pilih. Kau semakin baik, Ell.", ucap Anne pada Ellen.
Arslan terkejut mendengar itu.
"Aku berusaha keras untuk ini. Kau dan Dave memberi kesempatan yang besar untukku."
Arslan semakin merasa aneh dengan kedekatan mereka. Kini dia menoleh pada Dave, meminta penjelasan.
"Kerjasama ini tidak akan terjadi jika Tuan Arslan kami tidak menyetujuinya, Ell. Kau harus berterima kasih padanya.", tambah Dave.
"Sudahlah jangan terlalu formal. Kita harus makan siang bersama untuk merayakan hal ini.", pinta Anne seraya menarik Ellen untuk keluar ruangan.
Arslan masih termenung dengan kondisi yang dilihatnya.
Dave akan berdiri keluar mengikuti Anne dan Ellen sebelum tangan Arslan menarik jasnya hingga berjungkat satu langkah ke belakang.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Dave."
"Laters, brother. Sekarang aku lapar dan kita sudah ditunggu."
"Mau kemana kita?"
"Makan siang. Apalagi?"
"Kemana?"
"Tidak kemana-mana. Kau punya restoran hebat di lantai satu dan aku tidak ingin mengeluarkan uang sedikitpun untuk merayakan pertemuanmu dengannya."
Arslan melebarkan mata dan menelan ludah. Benar dugaannya. Anne dan Dave sudah mengetahui identitas wanita yang dia cari. Sungguh setelah ini Dave akan memburu penjelasan dari keduanya.