Malam selanjutnya Arslan berkunjung ke rumah Dave. Seperti biasa, disana juga ada Anne.
Mereka bertiga bersahabat sejak lama. Banyak kisah yang mereka lalui hingga kedekatan ini semakin baik.
Tidak disangka, dua sahabat Arslan itu terlibat cinta terlalu dalam hingga menyisakan Arslan sebagai orang ketiga bukan pengganggu di hubungan ini.
Rumah Dave tidak terlalu jauh dari G-Hotel, rumah ini dia beli tidak lama setelah dia datang dari New York untuk pindah ke Indonesia. Salah satu alasan dia menetap adalah Anne.
Beberapa kali Arslan menawarkan rumah untuk ditempati Dave namun lelaki itu menolak karena dia lebih dari mampu untuk membeli dan memilih sendiri nanti jika waktunya sudah tepat. Dia dan Anne sudah berencana untuk menikah.
Rumah minimalis dan nyaman milik Dave nyatanya membuat Arslan betah dan menjadikannya tempat pelarian dari masalah.
"Apa sudah ada kemajuan?", tanya Arslan pada Dave yang tengah bersantai di ruang tengah.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Ini baru sehari tapi kau sudah terburu-buru. Aneh.", keluh Dave.
Anne datang menginterupsi dari arah dapur.
"Ada apa? Buru-buru untuk apa?", tanyanya.
Arslan segera beralih topik.
"Hanya pertanyaan ringan antar pemimpin. Pegawai biasa tidak boleh ikut campur.", goda Arslan.
"Kurang ajar kau, aku lebih senior daripada Dave ya. Dan kau sebenarnya juga tidak lebih pintar daripada aku, Ars."
Arslan tertawa mendengar itu.
"Biar saja dia membual. Dia hanya lelaki kesepian, tak ada cinta. Aku merasa kasihan.", Dave balas menggoda.
Tawa Arslan terhenti seketika.
"Oh oke, tunggu tanggal mainnya."
"Apa? Kau sudah dapat?", tanya Anne.
"Belum."
"Huh, selalu kasihan."
"Hey, cukup. Tidak sopan. Kalian menggoda seorang bos besar. Aku memang payah tapi aku tidak akan kalah dari kalian."
Anne tertawa.
"Hanya sekedar mengingatkan. Kau boleh sok cool di depan wanita, tapi cepatlah pilih satu yang kau suka. Jangan cuma menyapa, tertawa, kemudian lupa."
Arslan mendengus, "Iyaaa, aku seperti anak remaja yang selalu kau nasehati setiap saat, Ann."
***
Dua hari kemudian adalah hari pertunangan Dave dan Anne. Pesta outdoor yang intimate diadakan di resort milik Arslan dan Dave. Mereka memang banyak melakukan bisnis bersama di bidang real estate.
Semua tamu memakai baju serba putih, selaras dengan dekorasi yang ada.
Arslan mengambil dua minuman, satu ia berikan pada Dave yang sedang ditinggal Anne menemui teman-temannya.
"Masih belum ada kabar?", tanya Arslan tentang misi pencarian mereka.
"Demi Tuhan, kau menanyakan itu di hari tunanganku."
"Kenapa? Kurasa tidak masalah. Aku ingin bertanya dan kau tetap bertunangan."
"d***u sekali. Kau membuat bahagiaku beralih sedih karena melihat kau tidak tenang sepanjang waktu."
"Maka cepat temukan dia, Dave."
Dave menarik ujung baju Arslan untuk mendekat kepadanya.
"Hampir. Informanku hanya berkata jika dia sudah kembali ke Indonesia. Jejaknya di Venice sudah tidak ada. Temannya yang bernama Becca juga membenarkan hal ini."
Arslan mengerutkan dahi. Mereka berbicara dengan lirih seolah hal ini lebih penting daripada rahasia perusahaan.
"Oke Good. Berita bagus walaupun aku sadar Indonesia itu sangat luas. Kuharap informanmu tahu dimana dia mendarat."
"Itu yang ingin kuberitahukan padamu. Jangan melompat mendengar kabar selanjutnya."
Arslan melebarkan mata karena penasaran.
"Apa? Dimana?"
Dave berdehem sementara mereka berdua sama-sama melihat ke berbagai arah untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan ini.
"Dia mendarat di..."
"STOP!! Stop Dave.....", Arslan menelan ludah dan terbata-bata berucap kembali, "Ba..li. BALI. Dia disini.", sahut Arslan saat tatapannya terpaku pada sekumpulan wanita di dekat pintu keluar. Arslan bergegas pergi tanpa menoleh pada Dave.
"Hey, tunggu kau mau kemana, Brengsek."
Anne mencubit pinggang Dave hingga membuatnya terkejut.
"Aw, sakit sayang."
"Bisa kau jaga ucapanmu? Keluarga kita ada disini."
Dave sadar dia baru saja mengumpat sahabatnya.
"Oh, maaf. Arslan bertingkah dan dia membuatku terkejut."
"Ada apa dengan kalian, huh? Kau yakin tidak akan memberitahuku?"
Dave menggeleng pelan.
"Biar dia cerita sendiri. Dia hanya sedikit malu. Tapi aku yakin dia sangat butuh masukan darimu."
Anne menghembuskan nafas berat.
"Kalian berdua menyebalkan."
"Iya memang, but I do love you."
Anne meraup wajah Dave dengan cepat.
"Ssstt... jangan merayu di saat seperti ini, Dave. Menggelikan."
***
Arslan mempercepat langkahnya karena sekumpulan wanita di ujung sana sudah hampir membubarkan diri. Pandangannya kali ini tidak salah. Dia yakin, dia melihat Ellen. Ya, ada Ellen diantara wanita-wanita itu.
Sudah melewati pintu keluar, Arslan mengedarkan pandangan diantara jalan menuju parkiran mobil. Satu, dua, tiga wanita bukanlah Ellen. Dia berjalan lagi menuju beberapa arah, berharap menemukan Ellen di suatu tempat.
"Oke, bye. See u soon."
Suara itu. Samar-samar Arslan mencari sumbernya. Dia menajamkan pendengaran hingga menemukan seorang Ellen tengah berdiri tersenyum di balik pintu mobil. Dia sedang melambai pada wanita yang sudah melajukan mobil lainnya.
"Ellen.", teriak Arslan dari tempatnya berdiri.
Ellen tidak mendengar, kini dia sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat.
Langkah kaki Arslan tidak bisa menggapainya. Dia kehilangan jejak, namun dia berhasil menghafal plat mobil itu.
Arslan mengambil ponsel dan mengetik pesan pada Dave. Dia mengirim nomor polisi di plat mobil Ellen kemudian berlari kembali ke dalam venue.
Arslan mencari keberadaan Dave dan menemukan dia sedang duduk bersama rekan kerjanya.
"Permisi, bisakah saya meminjam Dave sebentar?"
Mereka terkejut karena Arslan, sang pemimpin tempat mereka bekerja tiba-tiba muncul dengan ekspresi aneh.
Dave berdiri dan menarik Arslan menjauh.
"Kau kenapa?"
"Aku menemukan dia, Dave. Aku yakin."
Arslan tidak berhenti bergerak sejak tadi.
"Tenanglah, Ars. Bicara dengan baik."
Arslan mengusap rambutnya dengan kasar.
"Aku melihatnya lalu kehilangan jejak lagi. Aku sudah mengirim plat mobilnya padamu, minta informan untuk melacak itu. Kumohon."
Dave tidak mengerti, seberapa penting wanita itu hingga berhasil membuat seorang Arslan kacau.
Dave segera membuka ponsel lalu memforward pesan itu pada informannya.
"Kau melihat dia disini? Di acaraku?", tanya Dave.
"Iya, oh maksudku tidak. Ahh... aku tidak yakin. Dia tidak memakai gaun putih tapi berkumpul dengan beberapa orang bergaun putih. Apa aku harus bertanya pada Anne? Mungkin dia tahu."
Dave tampak berpikir.
"Benar. Tapi Anne sudah pergi bersama keluarganya."
"s**t. Aku harus bertemu Anne sekarang, Dave. Ayolah."
"Tenang. Kau jangan gegabah.....".
Tiba-tiba terdengar notifikasi di ponsel Dave. Pesan dari informannya. Gerak cepat.
Dave membaca sekilas dan menunjukkan itu pada Arslan.
"See. Mobil tadi adalah mobil sewaan. Jadi, kau lebih memilih bertemu Anne atau bergerak ke tempat rental itu?", tawar Dave.
"Aku akan pergi kesana, dan kau harus tetap menemui Anne."
"Sial. Apa yang harus ku tanyakan pada Anne jika kau tidak memiliki foto atau nama lengkap?"
"Kau pasti bisa membantuku. Terimakasih. Bye.", tanpa banyak kata Arslan pergi meninggalkan Dave.
Beberapa detik setelah Arslan pergi, Dave memutar memori dikepalanya.
"Ellen....Ellen.... Ellen. Kenapa nama ini tidak asing di telingaku? Tapi siapa dia? Kenapa dia disini?", Dave berkata lirih sambil memijit pelipisnya.