Ellen meringkuk di sofa dengan sisa tangisnya. Arslan berada di samping wanita itu dengan satu pelukan erat yang belum berubah sejak tadi. Punggung Ellen bersandar di d**a bidang Arslan.
"Aku memiliki teman yang dulu sempat trauma pada lelaki. Yang menyedihkan adalah dia kecewa terhadap Ayahnya sendiri. Susah percaya pada lelaki, akhirnya kehidupan yang ia jalani terlalu rumit."
Ellen mendengarkan dengan baik.
"Setelah berani melawan masa lalu dan membuka diri, dia menemukan bahagia. Aku saksi hidupnya.", ucap Arslan.
Tiba-tiba Ellen mengenggam tangan Arslan yang melingkupi perutnya sejak tadi. Dia mengelus disana.
Mendapat respon baik, isak Ellen juga hampir tak terdengar, kini Arslan melanjutkan ucapannya.
"Jadi, siapapun yang membuatmu kacau seperti ini, jangan diam. Ambillah sikap yang lebih berani, kau berhak bersedih tapi jangan menyalahkan diri sendiri."
"Aku tak bisa.", pelan Ellen menjawab.
Arslan menyandarkan wajahnya pada pundak Ellen.
"Bisa. Aku bisa merasakan. Kau hanya perlu mencoba, Ell. Entah kenapa aku merasa dirimu yang sebenarnya adalah bukan seperti itu."
"Kau tidak mengenalku."
"Memang. Tapi pikiranku mungkin benar, hanya kau yang belum sadar."
"Tidak, Ars. Aku hanya orang yang tidak berguna, payah, dan tidak diinginkan."
Arslan terhenyak. Dia menarik tubuh Ellen untuk menghadap padanya.
"Kau tahu, demi apapun yang ada di bumi, saat ini kaulah yang paling kuinginkan. Lihat mataku, katakan jika aku bohong."
Ellen mengunci tatapannya pada mata Arslan. Beberapa saat dia memperhatikan disana.
Entah dengan keberanian darimana, tiba-tiba Ellen maju untuk mengecup bibir Arslan. Satu, dua, tiga kali dan kini kecupan itu berubah menjadi lumatan yang saling menuntut. Kelembutan di awal tak terlihat lagi, tergantikan oleh pergulatan hasrat yang memanas dari keduanya.
***
Nada dering ponsel berbunyi. Ellen enggan membuka mata karena itu bukan miliknya. Arslan harus rela melepas pelukannya dari tubuh wanita itu untuk menggapai ponsel di nakas.
"Ya, morning."
...................
"Oke. I'll be there."
...................
"Thanks."
Setelah menutup panggilan, Arslan tersadar dimana dia berada pagi ini.
Baju ellen dan miliknya berserakan di lantai. Dia sedeikit memutar memori dan sadar apa yang telah terjadi.
Ellen masih tertidur pulas di samping Arslan. Dia tetap cantik. Arslan memutuskan untuk kembali masuk ke selimut dan memeluk Ellen sekali lagi.
"Aku dengar kau harus pergi.", Ellen berucap tanpa membuka mata.
Arslan tersentak namun tidak menjauh. Dia justru menyerukkan wajahnya di tengkuk Ellen.
"Aku minta maaf.", jawab Arslan.
Ellen terdengar menelan ludah.
"Akhirnya kau mengakui ini sebuah kesalahan?", tanya Elllen.
Arslan makin menekan tubuhnya pada punggung Ellen.
"Bukan itu, aku... aku minta maaf karena tadi malam ternyata pertama kalinya bagimu.", lirih Arslan berucap.
Kalimat itu membuat Ellen terbelalak. Dia bangkit dan duduk bersandar. Dengan sedikit terbata Ellen menjawab.
"Aku sadar saat melakukannya. Mungkin sudah saatnya aku merelakan hal itu. Kau jangan khawatir."
Arslan kini merubah posisi sejajar dengan Ellen. Ini bukan hal kecil baginya.
"Kita harus membahas ini, Ell."
"Tidak. Kubilang jangan khawatir, Ars. Kita sudah dewasa dan kita melakukannya dengan aman."
"Tapi...."
"Arslan, please. Sebaiknya kau mandi dan ku pesankan sarapan, oke? Aku tidak mau diganggu lagi oleh panggilan ponselmu. Biarkan aku istirahat."
Akhirnya Arslan mengikuti kemauan Ellen. Mereka belum memiliki banyak kata untuk diungkapkan dengan baik.
***
Mereka berdua berpisah pagi ini karena Arslan memiliki pertemuan penting yang tidak bisa ditunda. Dia berjanji akan menemui Ellen di malam hari, namun hal itu sirna.
Satu pesan datang ke ponsel Arslan ketika dia hendak keluar dari ruang rapat milik partnernya.
'Aku berterimakasih kau sudah menjadi teman saat aku merasa sendirian. Lupakan aku, lupakan kita.' - Ellen.
Sontak Arslan pergi menuju mobil dan melaju ke hotel Ellen, hasilnya : check out. Ellen sudah pergi.
Arslan terduduk lemah di lobby. Dia bahkan belum mengucapkan maaf dengan benar pada wanita itu.
Sambil memijat pelipis Arslan mengingat perkataan Ellen beberapa hari lalu bahwa dia akan kembali ke Indonesia dalam tiga hari, sepertinya hari itu adalah hari ini.
Arslan menghubungi Becca melalui telepon, bermaksud untuk mencari informasi dimana alamat asli Ellen. Hasilnya : nihil.
Ellen pasti meminta Becca untuk tutup mulut tentang ini. Arslan menyerah. Bahkan nama lengkap Ellen pun dia tidak tahu, sulit untuk melacak rekam jejaknya di Indonesia.
Dia hanya akan menyelelesaikan urusan di Venice dan segera kembali. Peluang memang kecil, namun harapan masih tetap ada, pikir Arslan.
***
Bali, Indonesia.
Seorang lelaki mengeluh di depan Arslan yang tengah berjalan menenteng koper.
"Kenapa harus aku yang menjemputmu, huh? Aku punya banyak pekerjaan yang lebih penting daripada ini.", protes Dave, sahabat Arslan.
"Aku merindukanmu, Brother.", jawab Arslan.
"Sial.", balasnya.
Setelah dari Bandara, Arslan mampir ke rumah Dave untuk merebahkan diri. Dia tidak akan pulang ke rumah orang tuanya demi menghindari banyak pertanyaan dan dia juga malas kembali ke apartemen seorang diri.
Beruntung, sudah ada Anne yang menyiapkan makanan.
"Lihat Dave, dia begitu memperhatikan aku.", goda Arslan dengan jetlag yang terlihat berat.
"Diam, habiskan makananmu dan pergilah tidur sepanjang hari.", balas Dave.
Anne tersenyum melihat tingkah keduanya. Sudah lama mereka bersahabat sekaligus menjadi rekan kerja. Ada sedikit peran Arslan dalam keberhasilan hubungan Anne dan Dave.
***
Kantor Pusat G-Group.
Dave berkunjung untuk mendiskusikan beberapa hal dengan pimpinannya yang tampan, Arslan.
"Semua hal bisa kau urus dengan baik, aku tinggal memberi tanda tangan. Bagus, Dave."
Dave bersikap cool seperti biasa, sekalipun sedang dipuji oleh seseorang.
"Apa kau punya sedikit sisa waktu? Ada yang ingin aku tanyakan.", tambah Arslan.
"Kenapa?"
Arslan berdiri mendekati jendela kaca dan berdiri membelakangi Dave.
"Aku melakukan kesalahan. Fatal.", dengan suara berat Arslan berucap.
Dave bersedekap, "Tentang apa ini?"
"Kau harus kecewa karena ini bukan masalah pekerjaan."
"Oke, jadi?"
Arslan menoleh menghadap Dave.
"Aku butuh bantuanmu untuk mencari orang. Apa kau bisa?"
"Ars, kau belum menjawab pertanyaanku tapi kau sudah memberiku pertanyaan."
"Untuk saat ini aku hanya ingin bantuan itu darimu, selebihnya aku coba urus sendiri."
Dave mencoba faham.
"Siapa dia?"
"Nah, kau memiliki banyak koneksi tentang pelacakan, sama seperti kasusmu dulu, bedanya aku tidak memiliki informasi banyak untuk dilacak. Aku hanya tahu nama dan beberapa kegiatan terakhirnya. Itu saja, bagaimana?"
Dave mengerutkan dahi. Ada yang aneh dengan sahabatnya. Begitu mendadak dan diluar kebiasaan.
Biasanya Arslan akan meminta segala informasi melalui sekretarisnya. Jika kali ini tidak seperti itu, maka hal ini sangat diluar masalah pekerjaan.
"Apa aku boleh menebak jika kau akan mencari seorang wanita?", ucap Dave.
Arslan terkejut.
"Jika benar, apa aku terlihat menggelikan, Dave?"
Dave tersenyum tipis mendengar itu.
"Tidak, aku justru merasa kau normal."
"Sialan."
"Yaa, sebelumnya kau hanya pasif pada siapapun, bahkan pada wanita yang dijodohkan denganmu. Tapi sekarang kau menyelediki seorang wanita secara khusus. Sebuah kemajuan. Aku akan berterima kasih padanya nanti."
"Aku bahkan belum memulai apapun. Aku tidak yakin bisa menemukan dia dalam waktu dekat."
"Apa harus dalam waktu dekat?"
Dengan lantang Arslan menjawab, "Iya. Sangat cepat. Aku harus memastikan sesuatu dalam waktu dekat juga."
"Aku semakin penasaran dan tertarik. Apa kau bermain hati?"
Arslan memijit pelipisnya dan sedikit bingung.
"Aku belum yakin, aku hanya penasaran."
"Kau hanya bermain?"
"Tentu tidak."
"Maka kau harus membuat dia menjadi iya atau tidak. Begitu, Ars. Jangan terlalu tebar pesona. Sudah banyak korban harapan palsu darimu."
"Pesonaku memang belum pudar, tapi ingatlah bahwa aku sudah dewasa. Benar-benar dewasa, Dave."
"Sialan."