PART 7

708 Kata
Sebuah mobil hitam membawa sepasang manusia berpakaian serba hitam pula. Mereka turun dan segera menuju hall tempat acara berlangsung. Arslan mengulurkan tangan setelah membukakan pintu untuk Ellen. "Aku tidak membayarmu, jangan terlalu tunduk padaku.", ucap Ellen melihat tangan Arslan. "Haha, kacau. Aku ingin bersikap romantis tapi kau menganggapku b***k. " Akhirnya mereka berjalan beriringan tanpa kontak fisik seperti yang Arslan harapkan. "Ell, apa kita terlalu menakutkan untuk sebuah pesta?", menunjuk baju. "Hitam? Aku malas berpikir dan kukira ini yang terbaik, kaupun sangat cantik memakai itu." Ellen mendelik. "Kau ini sebenarnya mengeluh apa memuji? Aku tak faham." Arslan tertawa mengingat kalimatnya memang rancu. "Entahlah, tapi kau benar-benar cantik malam ini. Aku beruntung." "Sudah lima kali kau mengatakan aku cantik. Semua orang tahu itu, tak perlu disebutkan berkali-kali." Arslan tersenyum melihat Ellen bergaya menggoda dengan mengibaskan rambut, sedikit sombong, tapi menarik. Pintu hall dibuka, acara pesta terlihat intimate namun tamu yang hadir juga tidak terlalu sedikit. Ellen berjalan pelan dengan melihat sekitar. Arslan menyadari jika Ellen tertinggal beberapa langkah di belakang. "Apa yang kau lihat?", tanya Arslan. Ellen menoleh, "Tidak, aku melihat beberapa teman lama. Pesta ini tidak akan membosankan untukku." Arslan tidak menjawab, hanya mengangguk dan menggiring Ellen menuju kenalannya. Tangan Arslan memegang pinggang Ellen tanpa penolakan. "Kau boleh pergi setelah aku menyapa beberapa orang.", bisiknya pada Ellen. Sedikit tawa menyertai sapaan Arslan pada orang-orang yang ada disana. Tak disangka Ellen memainkan perannya dengan baik, dia ikut berbaur dan selalu tersenyum pada kenalan Arslan. Ellen juga terlibat dalam pembahasan diantara mereka. Semua terlihat baik. Beberapa saat kemudian Arslan menggiring Ellen ke meja minuman. "Minumlah, banyak senyum palsu berarti memakan banyak energi." Ellen mengambil gelas dari tangan Arslan. "Aku menikmatinya." "Oh, aku terkejut.", balas Arslan pura-pura. "Jadi, sekarang aku bisa menyapa kawan-kawanku?" "Siapa mereka?" Ellen menunjuk segerombol lelaki muda di pojok ruangan. "Aku masih asing dengan wajah mereka.", tanggap Arslan. Ellen tidak heran. "Mereka baru saja mengeluarkan brand komunikasi. Itu teman kuliahku." Arslan tertarik pada perbincangan ini. "Tunggu, kau kuliah disini?" "Mmh... hanya sebentar. Kuliah khusus selama dua tahun, kemudian aku lanjut di Singapore." Arslan mencoba memahami itu. Tentu Ellen punya teman disini. "Oke, sapalah kawanmu. Jangan lupa mengatakan kau kesini bersama siapa.", pinta Arslan. Ellen mencebik. "Tak masalah. Kau dan mereka sama-sama temanku." Kemudian Ellen beranjak mengabaikan reaksi mematung Arslan di belakang punggungnya. *** Arslan berbincang dengan beberapa orang namun pandangannya kadang melengos ke arah Ellen dan kawan-kawannya. Mereka tampak melakukan foto bersama kemudian kembali bergurau. Batas waktu yang disyaratkan Ellen sudah terlewat, sepertinya dia terbawa suasana. Arslan memahami itu. Beberapa waktu kemudian Arslan melihat Ellen sedikit menjauh dari kerumunan untuk menerima telepon. Arslan mengunci tatapannya pada pergerakan Ellen, raut wajah itu kembali berubah, ini bukan lagi Ellen yang sebahagia tadi. Arslan pamit pada orang di depannya dan segera menuju posisi Ellen berada. Sampai disana, telepon sudah berakhir. "Ada apa?", tanya Arslan spontan. "...............", tak ada jawaban. Ellen hanya menggeleng. Wanita ini terlihat lemah tetapi wajahnya memerah. "Kau mau kita pulang?", tanya Arslan dengan lembut sambil menggapai jemari Ellen. Ellen mengangguk. Arslan membawa Ellen pergi tapi sebelum itu Arslan berinisiatif menyambangi kumpulan kawan Ellen untuk sekedar pamit. Ellen hanya menyisakan senyum kecut sedangkan Arslan berperan sebagai wali yang membuat semuanya terlihat normal. Mereka berpamitan lalu keluar. *** Sampai di hotel tempat Ellen menginap. Pintu terbuka, Ellen mengucapkan terimakasih dan langsung akan menutup. Arslan menahan. "Kau begini lagi.", keluh Arslan. "Ars, please. Aku sedang tidak mood menghadapi laki-laki." Laki-laki? Arslan bingung. Satu tarikan dan pintu kini sudah terbuka. "Tunggu. Aku tidak tahu dimana salahnya tapi kau perlu pembenaran. Kau aneh, sadarlah." Ellen tidak terima. "Apa hakmu menilaiku begitu? Kita ini asing, jangan sok tahu." Arslan menurunkan suara. "Maaf jika aku ikut campur, tapi aku peduli. Setidaknya ada yang mengawasimu saat kalut begini." "Aku tidak gila, Ars." "Dan aku tidak bilang seperti itu, Ellen." "Stop. Pergilah.", bentak Ellen. Arslan tersentak. "Apa? Kau mengusirku lalu kau akan terdiam dengan memendam amarah sendirian sampai kepalamu serasa pecah? Kau mencoba menangis tapi tidak bisa akhirnya kau mengamuk kemudian berakhir tidur di sembarang tempat? Sofa, lantai, kamar mandi?", nada tinggi Arslan akhirnya muncul. Ellen terperangah. Darimana Arslan memperoleh pemikiran seperti itu? batinnya. "K...kau? apa yang kau katakan?", terbata Ellen bertanya. Dia serasa tertohok dengan pernyataan Arslan yang tidak sepenuhnya salah. Arslan mendekat dan memeluk Ellen tanpa permisi. Ellen membuang tangan Arslan dari tubuhnya beberapa kali tapi tidak berhasil. Ellen mulai terisak dan melemah. "Apa perkiraanku ada benarnya?", tanya arslan lembut. Ellen memukul lengan Arslan yang masih melingkupi tubuhnya. "b******k, kau.", ucap Ellen dengan air mata. Arslan mengelus lembut punggung Ellen untuk menenangkan. "Aku disini, tenanglah. Kau dengar aku, Ell? Kau tidak sendirian." Tiba-tiba isakan Ellen semakin keras dan ia pun membalas pelukan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN