Keesokan harinya.
Tiba-tiba Becca menghubungi Arslan agar segera datang ke kantornya. Hari masih pagi tapi Arslan memutuskan untuk berangkat saat itu juga.
"Ada apa, Becc?"
Becca menunjukkan pesan terakhir Ellen di ponselnya. Arslan membaca dengan seksama.
Disana tertulis jika Ellen sangat berterimakasih pada Becca untuk semuanya, dia akan menyimpan itu sebagai hal yang sangat indah. Ellen juga mengucapkan kata perpisahan di akhir.
Becca sempat membalas namun tidak ada tanda diterima.
"Apa maksudnya ini?", tanya Arslan.
"Aku tak akan mencarimu kalau aku menganggap ini normal. Aku mengenalnya sudah cukup lama.", jelas Becca.
"Kita harus menemukan dia."
"Benar. Karena aku tahu kau yang tadi malam bersamanya, kuharap kau juga membantu."
"Tentu, tapi aku tak punya clue apapun."
Becca tampak berpikir.
"Jangan terlalu panik. Dia tidak akan bertindak bodoh dengan mengorbankan diri, aku hanya takut dia berulah sesuatu yang akan merugikan."
Arslan mengerti.
"Jadi, darimana bisa kumulai?"
Becca menyebutkan beberapa tempat yang sering dikunjungi Ellen.
"Aku tidak bisa meninggalkan kantor untuk saat ini. Aku minta maaf, tapi aku bantu untuk menghubungi temanku yang lain."
"Oke, aku berangkat.", hanya itu yang Arslan ucapkan.
Becca mengangguk yakin bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
***
Sudah lokasi ketiga tapi Arslan belum menemukan Ellen. Kali ini dia memakai sopir karena belum terlalu hafal rute perjalanan sekaligus untuk mempersingkat waktu.
"Next destination, Sir? It's a beach."
"Oke.", jawab Arslan.
Sampai di tempat yang dimaksud.
'Tempat yang tenang, Ellen pasti disini.', yakinnya dalam hati.
Dia melepas sepatu, melipat kemeja putihnya hingga ke siku lalu bergerak menyusuri pantai.
Benar saja, dari kejauhan tampak seorang wanita sedang bermain air sendirian di antara batas air dan daratan.
Wanita itu memakai pakaian pendek serba putih dan Arslan sudah sangat hafal dengan lekuk tubuh itu. Sudah pasti Ellen. Dengan tergesa Arslan menghampirinya.
Dari radius setengah meter, Arslan menarik siku Ellen hingga membuat mereka berhadapan dengan jarak yang lebih dekat. Ellen sempat terkejut namun justru senyum yang dia tunjukkan.
"Kau bodoh? ... Kau puas membuat Becca ketakutan? Membuatku batal ke pertemuan dan lihat ini, kau sedang bermain air? Sedang bermain?", Arslan sedikit meninggikan suara tanpa berteriak.
Ellen tetap tersenyum. Dia melepaskan diri dari pegangan Arslan dan berjalan ke tepi. Berhenti di bawah tenda merah, Ellen mempersilahkan Arslan duduk disampingnya.
"Ada pertanyaan lain?", mulai Ellen.
Arslan heran.
"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku."
"Okey, aku disini untuk liburan. Selesai."
Dengan santai Ellen mengatakannya. Arslan hampir marah tapi dia urungkan karena kenyataannya memang Ellen tidak melakukan apapun. Ellen bahkan baru saja tersenyum. Senyum favorit Arslan.
"Hal itu bisa diterima.", jawab Arslan kemudian.
"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk menerima."
"Aku mengkhawatirkanmu."
Ellen menggeleng.
"Becca yang menyuruhmu, bukan?"
Arslan tidak mengelak.
"Benar, tapi bukan dia yang berkeliling kota asing ini seharian. Demi Tuhan sebentar lagi gelap dan kau hanya.... hah sudahlah."
Ellen kini tertawa.
"Sebenarnya apa yang kalian khawatirkan, huh? Aku hanya bilang aku berterimakasih pada Becca yang banyak memberi ilmu baru dan mengucapkan perpisahan karena sebentar lagi aku kembali ke Indonesia. Apa aku salah?"
Arslan menghembuskan nafas berat dan membuang pandangan ke arah lain.
"Siapa yang tahu maksudmu adalah seperti itu? Bodoh."
Arslan masih bersabar untuk tidak mengucapkan kata yang lebih pedas daripada itu.
Sedetik kemudian.
Tunggu. Arslan kembali membaca sesuatu yang aneh dari tingkah Ellen kali ini. Reaksi Ellen menyambut kedatangan Arslan sungguh janggal.
"Ellen, kau sudah memperkirakan ini akan terjadi, bukan? Seperti Becca khawatir lalu dia menghubungiku untuk mencarimu. Aku benar?"
Ellen terperanjat.
"Ap...apa begitu terlihat?"
Arslan mengangguk.
"Oh, aku tertangkap.", jelas Ellen.
Arslan kembali terkejut untuk kesekian kali.
"Apa maksudmu, huh?", balas Arslan.
Ellen kembali tersenyum walaupun sedikit kecut.
"Awalnya aku tidak memikirkan apapun. Hanya ingin mengirim pesan pada Becca, tapi sedikit drama sepertinya menarik. Aku ingin tahu bagaimana orang mengkhawatirkanku."
Arslan tak memahami alasan ini. Sunnguh aneh. Tak habis pikir, dia hanya memijat pelipisnya.
"Apa katamu? Jadi ini hanya candaan? Oh shit."
"Demi apapun ini bukan masalah besar, kau yang menyerahkan diri untuk terlibat."
Arslan tak menyangka.
"Pikiranmu sakit, Ell."
Dia mengangguk, "Ya, bisa jadi. Aku merasa jenuh dan tidak berguna. Aku marah tapi tak bisa. Entahlah."
Arslan meluruhkan emosi mendengar itu. Ellen sudah masuk ke mode mellow yang belum ia fahami.
"Kau tidak mau bercerita? terserahmu. Aku hanya yakin bahwa kau sekarang butuh teman."
Ellen mengangkat sebelah alis sembari bermain pasir di depannya.
"Apa kau ingin mendengar aku berterimakasih?", tanya Ellen.
"Terserah."
Ellen memandang Arslan.
"Apa kau marah?"
Arslan balik memandang Ellen.
"Apa aku terlihat marah? Apa kekhawatiranku masih belum jelas di matamu?", pungkas Arslan.
Ellen kembali tersenyum dengan sangat manis. Senja dan senyum Ellen adalah pemandangan terbaik yang Arslan dapatkan selama di Venice.
"Baiklah, karena aku yang salah, aku akan membelikanmu makan malam.", tawar Ellen.
Arslan menggeleng.
"Tidak semudah itu."
Ellen mendelik. Penasaran.
"Lalu?", tanyanya.
"Mr. Souch mengundangku untuk datang. Aku tak ingin pergi sendiri."
"Apa? Dia tidak menghubungiku."
"Karena ini bukan pertemuan bisnis, Ell. Dia mengundangku ke sebuah pesta. Kau pasti tahu bahwa di samping lelaki tampan harus ada wanita cantik, bukan?"
Ellen sempat tersentuh dengan kalimat terakhir Arslan, cantik? Oke. Sebuah pujian yang bagus, tapi logika Ellen kembali berjalan normal. Dia bangkit berdiri dan menggelengkan kepala.
"Kau gila. Cari saja wanita lain. Aku malas berbasa-basi dan memberi senyum palsu ke banyak orang."
Arslan ikut berdiri sejajar dengan Ellen.
"Aku tidak akan memaksa tapi aku bisa memohon, dan ingat, kau berutang maaf padaku."
"Sial.", keluh Ellen. Sambil membuang muka.
"Jadi ini sebuah persetujuan?", tanya Arslan.
Ellen menyibakkan rambut dengan dua tangan sekaligus.
"Asal kau berjanji aku tidak akan mendapat gaun yang rumit dan kita tidak akan menghabiskan setengah jam untuk berbasa-basi disana."
"Oke, deal.", sambar Arslan tanpa berpikir dua kali. Toh mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Setengah jam, kurang atau lebih dari itu sangatlah tidak penting, yang jelas Arslan sudah mendapat teman pestanya.
Senyum kembali terukir di bibir lelaki itu.
Ellen hendak berjalan mendahului Arslan untuk meninggalkan pantai namun sekali lagi Arslan menahan dengan menarik satu tangan Ellen.
"Wait."
"Apalagi?", sergah Ellen.
Arslan tersenyum tulus.
"Terlepas masalah pesta, ada satu hal yang ingin aku lakukan."
"Apa?"
Arslan mendekat kemudian memeluk Ellen dengan erat. Arslan mengelus rambut Ellen hingga ke punggung dengan satu tangan dan satu lainnya sudah bertengger melingkupi pinggang sexy Ellen.
"Sepertinya tadi belum kukatakan bahwa entah kenapa aku lega kau baik-baik saja.", Arslan berucap dengan lirih.
Ellen terpaku tanpa bisa bergerak atau menjawab kalimat itu. Senja, pelukan, syahdu, manis, dan aman adalah perpaduan hangat yang baru pertama kali Ellen dapatkan selama ini.