Chapter 5 Perjodohan teman

1299 Kata
Semua mulai kembali normal. Perasaanku memang tidak pulih seperti sedia kala. Tapi setidaknya aku sudah mulai terbiasa. Rasa deg degan masih terasa setiap bertemu dengannya. Tapi aku simpan rapi dan tak pernah menampakkannya. Sore ini kami semua mengikuti les Bahasa Inggris yang diadakan kampus. Pakaian bebas rapi. Aku memakai kemeja garis warna merah muda dipadupadankan dengan rok semi jins warna senada. Sambil ngobrol bercanda dengan teman teman sekamar, kami bertemu dengan dosen pengantin baru. Aku pun pura pura tidak melihat. "Sore pak...", serentak teman temanku menyapa, terkecuali aku hanya menunduk diam. "Sore mbak mbak, Segernya yang warna pink", sahutnya yang sontak bikin mataku terbelalak. Dan teman temanku mengejekku.. "cie..cie....", Aku tetap masih pura pura tidak merespon. Sepulang dari Les Bahasa Inggris. Entah mengapa Yanti sepupu Vina mengajak kami lewat jalan pintas, disana ada Gardu (seperti Gasebo tapi sangat sederhana). Disana terlihat seorang pria memakai kaos berwarna putih, bercelana hitam dan memakai kupluk. Perawakannya sedikit kurus, hidung mancung, manis. dan ada tahi lalat di sebelah dagu kiri dekat bibirnya. Tiba tiba dia berdiri dan mendekat ke arah kami. Dan tangannya menjulur ke arahku. Aku sedikit kaget. "Liya ya?, Aku Deddy", dia memperkenalkan diri. Aku bingung, tapi dengan segera akupun menjabat tangannya "Liya", balasku. Dan aku baru sadar kalau semua itu sudah direncanakan teman sekamarku. Mereka mulai berjalan lebih cepat, dan meninggalkanku agar aku bisa berjalan berdua dengan Deddy. Akupun mengobrol dengan Deddy sepanjang perjalanan sampai ke depan asrama. Dia bilang dia sudah lama mencari tau tentang aku. Dan yang membuat ku sangat terkejut. Deddy menyatakan bahwa dia suka denganku. Whatt!!! Dia langsung menembak ku. "Jangan dijawab sekarang, aku tunggu jawaban kamu 3 hari lagi ya", pintanya. Aku hanya melongo sambil memandangnya berlalu pergi dari hadapanku. Senyumannya memang manis, Dan dia memang manis. Sesampainya di kamar, semua pada kepo tanya gimana?? diterima gak? Aku langsung melotot, "Ini siapa yang ngerencanain?? " Aku melotot ke arah Vina. "Bukan aku mbak Liya.. Tapi aku setuju kok mbak Liya Ama bang Deddy, Dia anak nya baik mbak, cocok Ama mbak Liya"..sembari meringis melirik ke arah Yanti. "Gini mbak.., Kapan itu bang Deddy nyamperin aku, nanyain mbak Liya, punya cowok belum?, ya aku jawab, belum. Trus Abang minta dikenalin sama mbak.",jelas Yanti. "Terima aja lah mbak, Abang orangnya baik. sama sama orang Blitar juga," "Dia kan baru kenal, masak iya langsung nembak, aneh kan.., masak iya juga dia gak punya cewek, wajahnya kan lumayan. Manis sih...", "Dia itu mantannya Kakak tingkat mbak, Mbak Wulan, katanya pacaran pas semester 1", nimbrung si Ifa centil teman kamarku juga. "Gak tau lah, dia minta jawaban 3 hari lagi". jelasku. Jam tidur sudah tiba, biasanya dijam segini kami punya ritual malam. Membuka Hp perlahan lahan. Dan ada chat dari nomer baru. Malam Liya.. Ni aku Deddy. Jangan lupa aku tunggu jawabanmu 3 hari lagi. Aku tutup layar Hp tanpa membalas Chatnya. Dan akupun mulai tertidur. Sore itu aku ke toko di lantai bawah asrama. "Liya..dicari Deddy tuh," kata mbak penjaga toko. Aku menoleh ke arah pria yang sedari tadi duduk di atas sepeda motornya sambil tersenyum. Aku melihat situasi di sana, khawatir ada dosen yang melihat. Karena bukan jam berkunjung. Deddy tiba tiba jalan ke arahku, dan membeli minuman untuk mengalihkan perhatian anak anak asrama lainnya. Yang semua nya jelas pada kepo. "Sudah lama disini?", tanyaku basa basi. "Sudah 30 menitan",jawabnya "Gak buka smsku?", tanyanya "Hp disimpan",jawabku polos. "Gimana ?apa jawabannya?" sambil menoleh melihatku. "Aku terdiam, berfikir.. Ya Ampuun ni Sdh 3 hari teryata", pikirku dalam hati. "Hmm.. aku gak bisa bicara disini, nanti saja aku sms", "Gak enak diliat anak anak, takut ada dosen lagi", dengan halus aku menyuruhnya untuk pergi dari asrama. "Oke, tak tunggu ya SMS-nya", sambil berlalu dia membonceng teman nya. Akupun kembali ke kamarku. "Terima aja lah mbak.. kasian.., Abang orangnya baik, dia suka beneran ma mbak." Pinta Yanti yang ternyata dia jadi makcomblang antara Deddy dan aku. "Biar bisa move on dari ayah mbak..", bisik Vina. Terus aja mereka mendesak aku untuk menerima Deddy sebagai pacarku. Meski memang aku belum punya perasaan apa apa dengan Deddy. Suka pun belum. Tapi untungnya dia punya wajah yang imut sih menurutku., manis lagi. IYA AKU MAU itu chat yang aku kirim ke nomer Deddy. Aku memutuskan untuk mulenjalin membuka diri. Siapa tau nanti aku bakal suka beneran dengan Deddy. Makasih Cinta.. Aku hanya terdiam membaca balasan sms dari Deddy. Agak menggelitik dan yang justru perasaanku kosong rasanya. Tidak ada bahagia, sedih atau apalah. Hambar saja rasanya. Mungkin ini yang dinamakan terpaksa. Akhirnya aku resmi pacaran dengan Deddy. Dalam hitungan sekejap, kabar ini sudah merajalela kemana mana. Asrama, Kampus Akbid, asrama putra, kampus keperawatan, dan Ruang Dosen. Ya ya ya...Aku memang salah satu mahasiswa yang dikenal. Diam, kalem, dan pintar (Sedikit sombong hehe). Dan pastinya kabar ini juga didengar oleh mantan , eh.. dia. "Ada yang mau titip beli beli? aku mau ke bawah beli mie," Tanyaku pada teman teman kamarku. bla bla bla.. Banyak titipan. Terlanjur masuk ke toko, aku baru sadar.. ada yang sedang duduk di pojokan dekat kulkas minuman. Mau mundur kepalang tanggung, Ya sudahlah.. aku masuk ke toko pura pura biasa saja dan tak melihat ada orang disana. "Ehm..! " suaranya mau tidak mau memaksaku untuk menyapanya sebagai dosenku. "eh.. pak Hadi..", "Iya mbak Liya.., Beli apa? borong?", "Iya pak.. ini titipan anak anak kamar", jawabku. " Saya dengar katanya Deddy sering kesini ya, Gak boleh lho sering dikunjungi", "Gak kok pak, Deddy ke sini paling beli beli pak, bukan ketemuan sama saya," belaku. "Cari pacar itu mbok yang sama, sama pinternya", Hellloouuww... doi kenapa ya., apa dia gak nyadar disitu ada mbak penjaga toko. Apa kabar kalau dia nanti berpikiran macem macem. Dia cemburu apa ya?? Aku rada kikuk dibuatnya. Aku pura pura tidak mendengar apa yang dia bicarakan alias aku cuekin dia gaeees. "Mari pak, duluan", Pamitku sambil buru buru kembali ke kamar. Entah bagaiman perasaannya, aku gak mau tau. Meski aku merasa senang karena aku yakin dia itu cemburu. Setiap Sabtu sore sekarang aku punya jadwal kencan. Kencan yang dipaksa sih.., Kadang kita pergi makan, kadang hanya sekedar nongkrong di taman kota sambil makan kacang. Pacaran ala anak kosan. hehe.. Aku ngajak balik ke asrama lebih awal, lagi males berduaan lama lama. Dan Deddy menurutinya tanpa bertanya kenapa. "Besok kamu ke kosku ya ta..," Panggilan sayang Deddy ke aku adalah Cinta. Dan aku panggil dia Yank. Memaksa menjadi pasangan romantis. Meski gak keliatan romantis. "InsyaAllah.., aku banyak cucian", "Ya habis nyuci.., ajak Yanti gak papa kalau gak mau sendirian.", seolah olah dia paham. "Iya udah.. besok aku kesana ma Yanti", "Oke, Bye...", Aku sadar ada sepasang mata sedari tadi memperhatikanku dibalik gerobak tua Tukang Sate langganan Asrama. Dan aku pura pura tidak melihatnya. Pas sampai di tangga depan kamarku, telepon saluran 05 berbunyi. Kring..Kring..kring.. Mungkin karena malam ini malam Minggu semua mahasiswa banyak yang berada di luar asrama sampai batas waktu yang ditentukan pukul 21.30wib. Aku berjalan agak keburu segera mengangkat telepon. "Halo Assalammualaikum..", "Waalaikumsalam..", Deg !! Jantungku berdebar. dan masih berdebar. "Dari mana tadi? Jalan ke mana saja?, Sampai lupa kalo banyak orang ngeliat.", Kayak ke suaminya saja pake acara cium tangan", cerocos nada cemburu diseberang telpon . "Makan tadi ke Taman kota, " jawabku singkat dan datar. " Dibilangin jangan pacaran, malah pacaran. sama Deddy lagi. Coba cari yang sama sama pinternya, Sudah..putusin Deddy", Ya ampuuun..ni orang maunya apa ya.., dia gak sadar apa ya.. Dia sudah beristri, dan masih saja ngurusin urusan perempuan lain. "Dia anaknya baik, Itu udah cukup" jawabku ketus. Aku tutup telepon, Aku rada Kessel maunya kok seenaknya sendiri. Kadang aku marah sekali dengan sikapnya. Yang semakin ke sini semakin tidak terkontrol. Aku takut ada gosip yang tidak menyenangkan nantinya. Aku mulai terbiasa dengan hubungan ku, perhatian Deddy dan intensitas kita bertemu membuat aku banyak melupakan dia. Ya.. jadwal untuk melamun hampir tidak ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN