"Lu dandan lama banget dah, Ssa. Gue sampai kayak rempeyek setengah jam sendiri nunggu di depan kosan lu," ucap Dandi dengan protes pada teras kos-kosan Larissa.
"Namanya juga cewek, Dan. Sabar aja napa sih? Lu dikit-dikit kang protes dan ambekan banget jadi cowok. Gimana mau dapat pacar cepat? Yang ada mereka udah mundur duluan karena mulut lu yang kayak petasan banting gitu," ucap Larissa dengan senewen dan menatap malas ke arah Dandi.
"Gue sih nggak butuh pacar-pacaran. Yang gue butuh duit yang mengalir tanpa henti dan kaya raya. Dengan adanya itu tanpa gue nyari pastinya cewek-cewek juga bakalan langsung lari ke gue, Ssa" ucap Pandu dengan lempeng dan yakin.
"Gila gila! Ya berarti yang ngedeketin lu cuma cewek-cewek yang matre lho, Dan! Sumpah odong banget pikiran lu," ucap Larissa dengan memicingkan matanya menatap Dandi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah sih itu urusan gue juga, Ssa. Biar ntar gue seleksi sendiri calon pacar gue besok-besok," ucap Dandi sembari menatap ke arah Larissa dan kemudian mengambil helm yang berada di tangan Larissa, "Lu dari tadi cuma ngajak ngobrol gue yang nggak penting. Mendingan sat set sat set siap-siap buat berangkat. Daripada kita berdua sama-sama telat ke kantornya malah jadi kena omelan Bu Indira bareng nantinya. Padahal niat gue jemput lu kan biar lu kagak telat" sembari memakaikan helm milik Larissa.
"Iya deh iya Bapak Dandi. Bentar gue pakai sepatu dulu, Dan" ucap Larissa yang langsung duduk pada kursi dan lekas menggunakan high heels setinggi tiga senti meter berwarna hitam miliknya.
"Lu jadi mau cari sarapan dulu nggak, Ssa?" tanya Dandi saat mereka berdua sudah naik di atas motor gagah milik Dandi.
"Emangnya sekarang jam berapa sih? Bentar-bentar, Dan" ucap Larissa sembari melihat jam tangan yang ia pakai pada tangan kirinya, "Masih jam setengah tujuh sih, Dan. Kira-kira kalau kita sarapan dulu keburu nggak ya buat ke kantor?"
"Mayan sih masih ada waktu satu jam, Ssa. Tapi kalau mau cari aman mendingan kita cari sarapan di sekitar kantor aja. Biar jadi tenang gitu. Soalnya kan kita nggak tahu juga nih jalanan yang bakalan kita lewatin semacet apa nantinya. Walaupun kita naik motor, tapi kan kalau udah kena macet juga nggak bisa ngapa-ngapain lagi," sahut Dandi memberikan pendapatnya dan pertimbangan yang terbesit pada pikirannya kepada Larissa.
"Iya juga sih, Dan. Ya udah deh kita cari sarapan di gang samping kantor aja biar tenang kayak yang lu bilang tadi," ucap Larissa yang setuju dengan perkataan Dandi yang tak lain sudah menjadi sahabatnya selama ia bekerja tiga tahun pada perusahaannya saat ini.
"Oke. gue mulai tancap gas ya, Ssa. Lu jangan sampai ada barang yang jatuh. Apalagi file-file yang lu kerjain tadi malam!" ucap Dandi memberikan peringatan kepada Larissa agar menjaga dirinya dari kantuk dan mulai melajukan motor miliknya.
"Oh jelas itu file-file harus dijaga seperti malika kedelai hitam yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh pemiliknya, Dan" ucap Larissa dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.
"Lu udah tahu belum siapa klien kita yang digadang-gadangkan bakalan rada alot dengan pengajuan tender kita kali ini, Ssa?" tanya Dandi sembari melirik Larissa dari spion motornya.
"Katanya dari perusahaan real estate dan perhotelan yang terkenal di Indonesia kan? Tapi gue masih belum bisa nebak-nebak sih sampai sekarang. Lu tahu sendirilag di Indonesia ini banyak banget yang kelas bintang lima dan gue juga bukan termasuk orang yang sekepo itu buat cari-cari info tentang itu. Emangnya siapa sih dan terkenal sesusah itukah buat ditembus, Dan?" tanya Larissa dengan rasa penasarannya yang membuncah.
"Iya benar banget PT Indra Cipta Abadi, Lu tahu kan ya? Nama CEO-nya Pak Kaisar. Gue denger dari anak-anak yang lain sih kita udah dua kali nyoba ajuin tender ke situ, tapi selalu kalah sama PT Adi Husada Merpati. Kalau pada bilang sih beliau orangnya terkenal idealis dan perfeksionis banget. Mana lempeng pula orangnya. Jadi susah buat ditebak-tebak pikirannya gitu kata mereka," ucap Dandi menjelaskan kabar-kabar burung yang ia dengar dari rekan-rekan kantornya.
"Mungkin si PT Adi Husada Merpati yang punya saudara atau anaknya kali. Maksudnya masih ada hubungan kekerabatan gitu sama si Pak CEO PT Indra Cipta Abadi itu, Dan. Makanya dia selalu dipilih buat menang tender ini terus," ucap Larissa mengajukan pendapatnya sembari mengusap-usap dagunya pertanda bahwa dia berpikir dengan keras.
"Hush! Gila benar negative thinking lu, Ssa. Dipikir kayak si Dito yang masuk ke tempat kita lewat Pak Ilham apa? PT Adi Husada Merpati emang gue acungin jempol buat desain arsitektur dan perancangannya. Rapi dan terstruktur banget kalau mereka presentasi. Gue soalnya pernah ikut sekali pas gantiin Bu Indira buat presentasi bagian rancangan anggaran keuangan pengajuan proyek kita pas PT Indra Cipta Abadi ada proyek pembangunan Villa di Nusa Tenggara Barat dua tahun lalu. Apalagi buat kelas perusahaan real estate dan perhotelan seterkenal plus kelas A kayak PT Indra Cipta Abadi. So pasti mereka bakalan merasa klop satu sama lain. Karena kerjaan PT Adi Husada Merpati tuh All out banget. Sedangkan PT Indra Cipta Abadi juga nggak segan-segan ngeluarin gelontoran dana buat pembangunannya, Ssa. Dan ya jadilah bangunan-bangunan megah yang kokoh itu deh," ucap Dandi dengan excited nya menyangkal perkataan wanita yang menggonceng di belakang motornya tersebut.
"Gue jadi penasaran deh kayak gimana sih Pak Kaisar orangnya," ucap Larissa setelah menelaah kembali lontaran perkataan-perkataan dari sahabatnya tersebut. Yang terbesit di dalam pikirannya saat ini hanyalah pria yang lempeng, perfeksionis, jaim, dan diktator pula menjadi satu kemungkinan besar yang melekat utuh pada diri Pak Kaisar tersebut.
"Masih bisa dibilang muda sih. Tapi emang orangnya kayaknya tertutup gitu deh tipikalnya. Benar-benar susah buat disentuh gitu. Dan menurut gue kesannya jadi kayak songong gitu jatuhnya. Tapi sebanding lah ya sama apa yang dia punya. Mana tuh kekayaan juga hasil jerih payah usahanya sendiri. Jadi ya masuk-masuk aja kalau dia songong dan jaim gitu," ucap Dandi dengan maklum.