Setelah selesai menyantap bubur ayam yang menjadi menu santapan sarapan Larissa dan Dandi, yang mereka beli sekitar tujuh ratus meter dari kantor keduanya.
"Tinggal dua puluh menit lagi nih, Dan. Kira-kira bakalan nyampai nggak ya tanpa kita telat absen gitu lho," ucap Larissa dengan gelisah dan panik saat melihat kemacetan pada jalan yang mereka lalui tersebut.
"Gue berharapnya sih kagak bakalan telat juga, Ssa. Apalagi hari ini bakalan ada presentasi tender di kantor kita. Pastinya bakalan jadi bulan-bulanan Bu Indira kalau kita sampai telat. Ntah itu nanti dicecar yang nggak disiplin lah, kurang kredibiltas, atau lebih parahnya lagi dibilang nggak profesional kayak Seno pas kemaren telat," ucap Dandi sembari memandang lurus jalanan dihadapannya dan memikirkan cara agar dapat keluar dari kemacetan yang mereka hadapi tersebut.
"Lah kalau si Seno kan kemaren emang udah telat kesembilan kalinya dan kerjaannya selalu nggak beres rapi gitu. Pantes aja lah kalau dibilang sama Bu Indira kurang profesional. Menurut gue yang kesel juga nggak cuma Bu Indira karena kita semua jadi kena getahnya juga," ucap Larissa mengajukan pendapatnya yang sepemikiran dengan Bu Indira yang tak lain adalah kepala tim departemennya.
"Iye dah, gue juga sependapat sama lu kalau masalah Seno. Gegara kerjaan dia yang kurang dan gue kagak ngecek teliti plus langsung ngelanjutin tuh data dari dia. Pas gue ajuin ke Bu Indira auto kena semprot gue, njir! " ucap Dandi dengan kesal dan mendengus.
"Lu juga odong banget sih! udah tahu Seno sering bikin kesalahan, kenapa nggak lu cek lagi kerjaan dari dia?" ucap Larissa dengan keheranan dan tidak habis pikir dengan Dandi.
"Ya gue waktu itu cuma ngetes sekilas doang kerjaan dia. Ditambah lagi waktu itu gue ada tugas meeting di luar kantor. Jadi fokus pikiran gue pecah deh," ucap Dandi membela dirinya, "Lu pegangan yang yang kenceng. Gue mau nyelip-nyelip di sela-sela itu aja deh, daripada kita cuma diem disini kagak ada progress buat maju jalan" lanjut Dandi dengan menunjuk celah kecil diantara mobil-mobil yang memungkinkan motornya dapat nyempil melewatinya.
"Iya gua akuin lu emang kagak bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu sekaligus sih, Dan. Gue ngikut lu aja deh. Yang penting kita nggak telat absen aja dan cepat sampai kantornya," jawab Larissa sembari mencengkram kedua bahu Dandi.
Dandi melajukan motornya untuk menyempil-nyempil celah mobil yang terkena kemacetan. Namun tiba-tiba laju motornya terhenti saat tiba-tiba ada satu mobil yang membuka pintu mobil bagian penumpangnya. Hal tersebut membuat Dandi kaget dan reflek mengerem dadakan motornya agar tak menabrak pelaku yang keluar tiba-tiba dari mobilnya tersebut. Akhirnya motor Dandi menjadi oleng dan kehilangan keseimbangan. Larissa dan Dandi jatuh dari motornya dan naasnya motor Dandi juga menimbulkan baret pada dua mobil yang ada. Salah satu mobil yang baret tersebut adalah milik pelaku utama tragedi tersebut.
Mereka berdua dibantu oleh beberapa orang yang memiliki niat baik untuk menyelamatkan mereka dari kepungan kemacetan yang ada. Dandi dan Larissa dibawa ke arah trotoar terdekat dari lokasi mereka jatuh.
Larissa terlihat seperti kebingungan dan shock saat di gotong oleh beberapa orang untuk dibawa ke pinggir trotoar. Sedangkan Dandi terlihat pada lengan kemejanya yang terkoyak dengan sedikit percikan darah yang merembes dari balik kemeja berwarna biru mudanya.
"Ssa, Lu kagak kenapa-napa kan?" tanya Dandi mengajak ngobrol Larissa yang terlihat seperti melamun dan terdiam membisu.
"Maaf! Saya tadi sedang terburu-buru dan ingin mencari ojek online. Jadi dengan seenaknya membuka pintu mobil saya dengan tiba-tiba. Saya pikir tidak akan ada motor yang berani lewat celah antara mobil saya itu karena terlihat sempit. Dan ternyata kalian malah melewatinya," ucap Pria yang menjadi pelaku utama insiden kecelakaan tunggal tersebut.
"Ah, eh tidak apa-apa, Pak. Saya juga minta maaf karena terburu-buru untuk ke kantor jadi membuat kerusakan juga untuk mobil Bapak," ucap Dandi dengan merasa sungkan.
"Kalian ingin dibawa ke rumah sakit? Sepertinya lengan kamu terluka dan temanmu mengalami shock," ucap Pria tersebut memberikan penawaran pertanggungjawaban atas perilakunya.
"E-eh nggak usah, Pak. Cuma kegores dikit aja kok ini. Ssa, Lu nggak papa kan ya?" balas Dandi dengan menolak halus dan menyenggol lengan Larissa agar rekan kerja wanitanya itu sadar dari lamunannya.
"Hah? Lho kok kita bisa disini, Dan? Jadi telat ke kantornya dong," ucap Larissa yang terkesiap dan mulai sadar dari shock serta lamunannya.
"Kecelakaan kita mah. Ya udah pasti telat sampai kantor ini. Nggak usah pikirin masalah telatnya deh. Lu ada luka-luka gitu nggak?" jawab Dandi sembari mengamati Larissa dari atas sampai bawah.
"Ehm, kayaknya nggak ada deh. Cuma ini bolong dikit aja sama memar, Dan," ucap Larissa dengan menunjuk celananya yang bolong pada bagian lutut kaki kanannya.
"Ya udah, berarti kita nggak butuh buat dibawa ke rumah sakit kan?" tanya Dandi dengan menatap memohon ke arah Larissa.
"Ehm, Sejauh ini aman. Lu gimana tuh tangan?" tanya Larissa sembari menunjuk ke arah lengan Dandi yang terkoyak dan terlihat adanya luka yang berdarah.
"Cuma kegesek doang kok ini. Amanlah. Ntar diobatin pakai kotak P3K di kantor aja," ucap Dandi dengan tenang, "Kami tidak papa kok, Pak. Jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit" sembari menatap ke arah pria yang berada dibalik tubuh Larissa.
"Oke kalau gitu. Untuk masalah baret mobil kalian nggak perlu khawatir. Saya yang akan tanggung semuanya," ucap Pria tersebut dengan santai dan lugas.
"E-eh, Tidak usah Pak. Lagian saya juga salah kok," ucap Dandi dengan ragu dan cepat.
"Kamu mah nggak salah, Dan. Kan dia yang tetiba buka pintunya. Coba kalau dia nggak buka tuh pintu mobil kita mah sekarang udah absen di kantor dan nggak bakalan ada kecelakaan kayak gini. Itu sih emang emang udah kewajibannya dia buat tanggungjawab," ucap Larissa dengan senewen.
Dandi yang mendengar lontaran perkataan Larissa langsung saja memberikan kode kepada Larissa untuk menghentikan bacolan kekesalannya.
"Ya sudah, Kantor kalian dimana? Biar saya antar dan saya jelaskan kepada atasan kalian bahwa kalian terlambat ke kantor karena tragedi ini," ucap Pria tersebut dengan lempeng dan dingin.
Dandi langsung saja menutup mulut Larissa yang akan menjawab perkataan pria yang menyebabkan kecelakaan itu.
"Apaan sih, Dan? Kan emang benar apa yang aku omongin," ucap Larissa memberikan protes atas bekapan mulutnya yang dilakukan oleh Dandi.
"Daripada kalian hanya menghabiskan waktu untuk berdebat hal yang tidak penting, Lebih baik sekarang langsung masuk ke mobil saya saja. Kunci motor kamu mana? Biar supir saya yang bawa," ucap Pria tersebut dengan tegas.
"Sumpah ya! Anda yang salah kok malah yang lebih galak sih. Seharusnya kami yang berhak marah. Lho kok kamu?" omel Larissa dengan kesal dan langsung membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapakah pria menyebalkan yang mengakibatkan dirinya dan Dandi mengalami kecelakaan itu. Namun tanpa terduga ternyata pria tersebut adalah orang yang paling tidak ingin ia temui lagi setelah itu.