KUPING PANAS

1260 Kata
"Mbak Ssa! Ini bukannya aku ada niatan mau gosipin Mbak loh ya. Cuma mau konfirmasi aja. Kemaren Jum'at bener nggak kalau Mbak Larissa pulang sama pegawai kantor sini?" ucap Ira dengan berbisik-bisik. Larissa yang sedang fokus dengan garapan laporan keuangan yang berada di layar komputernya otomatis langsung mengalihkan pandangannya dan langsung menatap ke arah Ira yang duduk santai di meja kerjanya yang berada di samping meja kerja miliknya. "H-hah? Kamu tahu dari mana, Ra? Bukannya waktu itu kamu udah balik duluan kan," balas Larissa lirih dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Ira dan menatap ke sekeliling untuk memastikan rekan kerjanya yang lain tidak ada yang mendengar percakapan mereka berdua. "Ehm, Kan pas itu aku nunggu jemputan Oh-jek di seberang jalan, Mbak. Wah Mbak Larissa berarti nggak nyimak obrolan kita pas di Pos Satpam," ucap Ira dengan mengerutkan keningnya. "Iya kah? Kok kamu nunggunya di seberang jalan sih, Ra? Kamu lihat sampai mana?" tanya Larissa dengan menggigit bibirnya. "Kan benar! Mbak nggak nyimak omonganku pas itu. Aku nunggu di seberang jalan soalnya biar lebih gampang dapat driver Oh-jek karena mereka jarang ada yang mau jemput di kawasan deretan perkantoran ini soalnya kan bakalan macet kalau jam-jam pulang kerja, Mbak. Ya aku lihatnya-" balas Ira dengan berbisik dan tiba-tiba terhenti karena adanya kedatangan dari Bu Indira. Sontak saja Larissa dan Ira menghentikan percakapan diantara keduanya dan fokus kembali dengan pekerjaan yang disajikan oleh layar komputer mereka. "Dandi, Siapa yang bertanggungjawab atas pengerjaan laporan keuangan PT. Anugerah Intan Buana?" ucap Bu Indira dengan menepuk pundak Dandi yang berada paling dekat dengan wanita tersebut. "Saya, Bu Indira. Tapi melalui finishing Larissa. Apakah ada koreksi lagi, Bu?" balas Dandi lugas dengan menatap ke arah Bu Indira. "Oh ya? Kalian berdua ikut ke ruangan saya sekarang!" ucap Bu Indira dengan tegas dan menunjuk ke arah Dandi dan Larissa secara bergantian kemudian setelah itu kembali masuk ke dalam ruangannya. "Eh ada apa nih? Kalian kena lagi kah? Dikumpul kapan tuh?" tanya Bernard yang tak lain adalah salah satu trouble maker dari divisi keuangan tersebut. "Bodo amat dah, Nard. Lu tutup mulut aja mendingan. Gue sama Larissa mau langsung ke Ruangan Bu Indira aja. Ngeladenin lu sampai mulut berbusa juga lu nya kagak dong juga apa maksudnya. Keburu Bu Indira ngamuk nih. Ntar aja bahas nya kalau udah keluar dari ruang serigala. Yuk, Ssa!" ucap Dandi dengan tegas dan berdiri dari kursi meja kerjanya dengan I-pad yang berada ditangan kanannya. "Bentar-bentar, Dan. Gue print dulu kerjaan terakhir yang sebelum diserahin ke Bu Indira," ucap Larissa sembari menunjuk printer di meja kerjanya yang sedang beroperasi tersebut. "Oke. Gue tunggu!" ucap Dandi dengan menganggukkan kepalanya. Setelah selesai dengan print berkas yang dia inginkan, Larissa dan Pandu akhirnya langsung bergegas menuju ke ruangan Bu Indira. "Semangat ya kalian berdua! Semoga kesalahannya nggak ada yang fatal. Chayoo gaes!" ucap Mbak Sarah dengan mengepalkan kedua tangannya sebagai isyarat memberikan suntikan semangat kepada kedua juniornya. "Siap! Doain ya setelah keluar dari sarang serigala kita nggak kena tekanan mental," ucap Dandi dengan menghela napasnya berat dan kemudian mengajak Larissa untuk bergegas ke ruangan Bu Indira. "Kita salah apa ya buat yang kali ini, Ssa? Perasaan kalau menyangkut laporan pertanggungjawaban eksternal gini pasti ada aja masalahnya," ucap Dandi disela perjalanan mereka. "Ntahlah, Dan. Gue harap sih seperti kata Mbak Sarah bukan kesalahan yang fatal. Kayak biasanya aja itu human error dikit lah," ucap Larissa dengan lirih dan menundukkan kepalanya. "Tenang di proyek ini yang ngerjain kan nggak cuma kita berdua. Ada si koclok Bernard juga yang ngerjain bagian awalnya kan?" ucap Dandi dengan rahang yang mengeras dan kesal. "Tapi kan penanggungjawab nya lebih ke kita berdua karena yang terhubung sama pihak PT. Anugerah Intan Buana dengan intens ya kita berdua. Sumpah, Dan! Gue takut banget ini. Mana tadi mukanya Bu Indira lempeng banget pas manggil kita plus nada suaranya rendah banget lagi. Berarti ada yang nggak beres sih ini," ucap Larissa dengan menatap Dandi dengan berkaca-kaca. "Tenang aja! Kita tanggung bareng-bareng kalau memang ada masalah yang memang merugikan banget buat kita berdua. Udah yuk kita masuk! ntar Bu Indira tambah menjadi-jadi lagi marahnya karena kita kelamaan datangnya," ucap Dandi sembari menunjuk pintu ruangan Bu Indira yang sudah berada dihadapan mereka berdua. "Lu deh yang ketok pintunya, Dan. Gue mau nyiapin hati dulu dari segala caci maki yang nantinya dilontarkan kepada diriku ini," ucap Larissa sembari menunjuk ke arah dadanya. "Haduh. Belum juga kejadian lu udah mikir yang aneh-aneh aja, Ssa!" ucap Dandi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian mengetuk pintu ruangan kerja Bu Indira selaku kepala divisi keuangan tersebut. "Masuk!" balas Bu Indira dari dalam ruangannya dengan tegas. Akhirnya Dandi membuka pintu ruangan kerja Bu Indira dan berjalan beriringan dengan Larissa untuk segera menuju sofa panjang yang berada dihadapan Bu Indira yang duduk pada sofa singel yang berada diseberang meja. "Kalian sudah mencoba cari tahu apa kesalahan yang telah diperbuat hingga saya memanggil kalian berdua seperti ini?" tanya Bu Indira dengan menatap secara bergantian ke arah Larissa dan Dandi. "Ehm, Mohon maaf Bu Indira. Kami belum mengoreksi kembali laporan tersebut setelah ibu memanggil kami berdua tadi," balas Dandi dengan menatap ke arah Bu Indira. "Terus apa yang kalian lakukan selama dua belas menit sebelum menuju ke sini? Mengobrol?" tanya Bu Indira dengan tenang namun terlihat sekali jika perkataan tersebut adalah sarkasme. "Mohon maaf sekali ibu, Tadi saya memakan waktu lama untuk mengeprint file laporan tersebut agar lebih mudah dalam menyimak koreksian yang akan diberikan oleh Bu Indira saat ini," ucap Larissa dengan lirih dan menunjukkan hasil print berkas laporan tersebut kepada Bu Indira sebagai buktinya. "Hah! Ya Allah paringono sabar. Kalian tahu apa kesalahan kalian? Ini lebih fatal dibandingkan seperti biasanya. Benar ini semua garapan kalian berdua saja?" ucap Bu Indira dengan pertanyaan yang bertubi-tubi serta memijat batang hidungnya. "Fatal, Bu? Sebenarnya laporan ini awalnya saya serahkan ke Bernard untuk dikerjakan terlebih dahulu dengan saya berikan file-file lampiran kwitansi serta catatan pengeluaran selama proyek Perumahan Cluster ini berjalan, Bu. Setelah laporan PT. Darussalam selesai baru akhirnya saya ambil alih dari Bernard dan saya selesaikan. Kemudian di finishing oleh Larissa, Bu" balas Dandi dengan memberikan penjelasan runtut dan fakta yang dihadapi mereka dalam pengerjaan laporan keuangan proyek Perumahan Cluster oleh pihak PT. Anugerah Intan Buana tersebut. "Iya, Sangat fatal. Sepertinya kalian tidak mencoba untuk cross check dengan isi catatan pengeluaran dan lampiran kwitansi yang ada dulu sebelum melanjutkan pengerjaan dari Bernard. Karena hasil cross check dengan pihak keuangan PT. Anugerah Intan Buana laporan kita tidak valid dan banyak miss atau bisa dibilang blunder money," ucap Bu Indira dengan menegakkan posisi duduknya. Larissa dan Dandi sontak saja terkejut bukan main. Bagaimana bisa tidak sinkron dan hingga ditengarai adanya blunder money atau biasa disebut dengan penggelapan uang? Sontak saja Dandi langsung membuka i-pad nya dan mengecek kembali laporan tersebut dengan catatan pengeluaran dan lampiran kwitansi serta perhitungan-perhitungannya. "Kalian cari dimana letak kesalahan kalian. Percuma sekarang kita menyalahkan Bernard karena yang jelas sebagai penanggung jawab dari proyek ini adalah kalian berdua. Perbaiki laporan ini hingga sempurna dan kemudian validasi kepada pihak keuangan PT. Anugerah Intan Buana. Saya harap dalam waktu dua hari masalah ini sudah terselesaikan! Jangan sampai pihak atas tahu tentang hal ini dan berakhir kalian terfitnah melakukan penggelapan uang. Tidak hanya Surat peringatan saja yang akan melayang nantinya tapi bisa jadi jabatan kalian disini usai!" ucap Bu Indira dengan mengeraskan rahangnya. "Baik, Bu! Akan segera kami kerjakan dan koreksi!" balas Dandi dengan sigap dan menegakkan posisi duduknya. "Saya tunggu garapan kalian yang kedua. Jangan sampai ada kesalahan lagi untuk yang kedua kalinya dan seterusnya pada proyek-proyek selanjutnya!" ucap Bu Indira dengan tegas dan menatap tajam ke arah Larissa dan Dandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN