SSSTT! HARAP TENANG

1432 Kata
"Pagi, Mas Janu! Tumben pagi banget udah nyampai kantor. Biasanya mepet mulu dah berangkatnya kalau nggak disuruh pagi," sapa Larissa kepada Janu yang terlihat sudah fokus dihadapan komputer meja kerjanya. "Pagi, Ssa. Aku habis antar ibu ke Stasiun Pasar Senen mau balik ke Solo jam delapan pagi nanti. Jadi ya udah deh sekalian aja langsung ke kantor habis ngedrop ke sana. Takut kena macet soalnya. Kamu ngapain juga pagi-pagi gini udah sampai kantor?" balas Janu dengan melambaikan tangannya. "Oh ibu Mas Janu balik ke Solo sekarang toh. Aku pikir mau sekalian lama di sini minimal satu bulanan gitu. Biasalah ngikut sama yang jemput aja, Mas. Dia maunya berangkat pagi karena ada meeting di Bekasi ntar jam delapan katanya," ucap Larissa sembari duduk pada kursi meja kerjanya. "Tadinya rencana awalnya sih mau gitu, Ssa. Tapi karena ternyata hasil check up penyakitnya membaik dan nggak mengharuskan ibu untuk menetap di sini lama, ya udah deh beliau minta pulang aja ke Solo. Katanya kalau kelamaan di sini bosen. Soalnya ya beliau cuma bisa di dalam rumah terus dan tahu sendiri lah kita kalau pulang jam berapa mana belum kena macet atau pas banget harus lembur. Beliau merasa kesepian. Kalau di rumah kan ada Ardella dan kucing-kucing peliharaannya jadinya ramai rumahnya. Hah? Meeting nya kan jam delapan toh? Ngapain dia ke kantor dulu? Kan bisa langsung sekalian ke Bekasi aja," ucap Janu dengan santai sembari melirik ke arah Larissa. "Puji tuhan kesehatan ibu mulai membaik ya, Mas. Iya juga sih ya. Ibu disini juga bingung mau pergi kemana-mana dan partner di rumahnya cuma Mas Janu doang. Katanya nanti berangkat bareng-bareng sama anak timnya gitu plus datang ke sini sekaligus mau ketemu sama Pak Dadang dulu, Mas. I don't know lah ya. Tapi yang jelas dia juga udah planning dari A sampai Z buat kegiatannya ini. Nggak mungkin dia bakalan bikin klien nya nunggu. Tahu sendirilah dia orangnya perfeksionis," ucap Larissa dengan tersenyum tipis. "Iya, alhamdulillah hasil operasi nya bagus dan berangsur membaik kesehatannya, Ssa. Ya mau gimana lagi. Ardella juga pas banget baru minggu-minggu Ujian Tengah Semester di kampusnya. Makanya dia nggak bisa nemenin ibu ke Jakarta. Oh gitu. Oke lah masih masuk di akal. Bukan Perfeksionis sih jatuhnya, Ssa. Tapi lebih ke berat pencitraan plus jaga image PT. Arta Citra Pusaka. Ya secara aja dia kan juga bagian dari keluarga pemilik perusahaan ini ya kali dia mau bikin pamor jelek perusahaan keluarganya ini, Ssa" ucap Janu dengan memelankan suaranya. "Ssst! Mas Janu mah malah jadi ngajak gosip pagi-pagi gini nanti kalau kedengaran yang lainnya gimana. Mana yang digosipin keponakannya pemilik perusahaan ini lagi. Ya aku paham kok sama yang diomongin Mas Janu tentang Mas Pandu. Tapi who knows lah ya. Kita nggak tahu apa yang dia pikirkan dan perasaannya dia kan," ucap Larissa dengan meletakkan jari telunjuknya dihadapan mulutnya serta menggeser kursinya agar lebih dekat ke arah Janu yang meja kerjanya berbeda satu meja saja yaitu milik Ira. "Masih sepi juga kan ini, Ssa. Toh juga yang gue bilang kan bukannya bermaksud untuk jelek-jelekkin dia ini. Malah justru aku apresiasi dia karena walaupun ini perusahaan milik keluarganya dia, tapi dia masih berusaha setidaknya jaga pamor dihadapan klien gitu. Tapi kamu udah yakin sama dia, Ssa?" ucap Janu dengan santai dan menatap ke arah Larissa. "Ya iya sih, Mas. Tapi mendingan kan kita cari aman aja gitu. Takutnya nanti kalau ada tiba-tiba yang datang entah itu dari divisi kita atau divisi sebelah kan berabe kalau mereka salah tangkap dengar omongan kita. Mana divisi samping banyak wanita ularnya pula. Ehm, Gimana ya Mas? Ntah lah aku masih ada perasaan yang ganjel gitu di hati perkara tentang dia," ucap Larissa dengan lirih dan menatap Janu sayu. "Iya deh iya. Aku manut aja sama kamu karena perempuan selalu benar. Lha udah coba kamu komunikasikan sama Pandu belum tentang perasaan yang ganjel itu, Ssa?" balas Janu dengan balas menatap ke arah Larissa. "Etdah! Serius dikit napa, Mas! Ini aku udah mode mau galau eh anda malah merubah suasana jadi menuju kesal. Aku udah coba sekali, Mas. Tapi entah kenapa feedback nya malah jatuhnya kayak ambigu gitu lho, Mas. Bukannya dapat kepastian atas perasaanku yang ganjel itu eh yang ada malah jadi tambah over thinking aku sama jawaban-jawaban dari dia. Dan keliatannya seakan-akan dia emang sengaja tutup akses buat pembahasan tentang itu, Mas. Sumpah rasanya tuh aku malah jadi bingung antara mau maju tapi takut ntar malah mau mundur udah nggak bisa lagi. Tapi mau selesai sekarang takutnya aku cuma salah paham dan parno aja sama kelakuan dia, Mas" ucap Larissa dengan menghela napasnya kasar dan menatap ke arah depan tempatnya duduk. "Lha kan emang bener gitu. Fakta kalau itu mah wanita selalu benar apalagi kalau lagi masa PMS. Ehm, Aku nggak berhak sih ikut campur urusan kalian ini. Tapi selama kita temenan dan kamu banyak cerita tentang hubungan kalian yang kondisinya lagi gini atau gitu lah. Aku bisa tarik kesimpulan sejauh ini Pandu belum bisa dewasa dalam menghadapi suatu masalah. Maka dari itu aku menyangkal dia yang kamu bilang perfeksionis. Ya anggep aja yang dia lakukan itu termasuk bentuk dalam profesionalnya dia dalam mengemban pekerjaannya. Saran aku coba kamu ajak ngobrol lagi empat mata lebih intens buat bahas persoalan-persoalan yang selama ini harus di evaluasi dari hubungan yang kalian jalani. Kalau dia masih kayak sebelumnya itu responnya ya udah mundur aja, Ssa. Daripada kamu terjebak dalam kehidupan rumah tangga yang kayak neraka. Lebih baik lepaskan aja sekarang dan mulai lagi hubungan dengan orang yang baru. Mengubah watak seorang laki-laki itu mustahil bisa dilakukan oleh wanita. Karena kaum kami punya ego yang tinggi dan sifat superioritas jadi mana mau kami diatur-atur sama wanita yang lebih mengedepankan perasaannya aja dibandingkan kami yang lebih berat ke pemikiran yang logis. Kalau bukan dirinya sendiri yang mau berubah jarang banget sih yang akhirnya berubah demi pasangannya. Ya bisa aja kita kurangi kalau di depan dia tapi ya ntar kalau di tempat lain bisa aja balik lagi. Yah alangkah lebih baiknya daripada dituntut ini itu mendingan dia tergerak sendiri untuk berubah sih, Ssa" ucap Janu dengan serius dan bersedekap tangan di depan dadanya. "Hmm, Terserah kamu deh Mas. Iya nih, Aku mau coba obrolin tentang itu lagi nanti kalau ada timing nya yang pas. Awalnya sih aku masib bisa maklumin sifat dia, Mas. Tapi lambat laun setelah dipikirkan lagi aku rasa nggak baik juga jatuhnya kalau tetap memaksakan diri terus menerus memaklumi dia. Karena yang ada bakalan jadi penyakit hati buat aku dan nantinya juga bakalan berdampak ke anak pula. Udah banyak sih yang ngasih aku saran tentang ini, Mas. Aku nerima banget masukkan dari kalian karena yang jelas itu juga buat kebaikan aku pula dan aku yakin kalian juga nggak akan memperkeruh suasana yang nggak ada untungnya juga buat kalian kalau mau ngurusin ini atau nggak. Thank you banget ya Mas buat masukannya," ucap Larissa dengan menatap Janu dan menyunggingkan senyuman tipisnya. "Iya. Setidaknya dengan kamu komunikasikan ke dia kamu bakalan tahu apa isi hati dan pikiran dia selama ini. Ditambah pula adanya kejelasan atas hubungan kalian yang masih bisa dirundingkan kembali antara akan maju ataupun mundur. Soalnya yang ditakutkan kalau udah terlanjut terjebak, Ssa. Padahal aslinya kita tahu dari awal bahwa sebenarnya nggak worth it juga untuk mempertahankannya. Lebih baik sakit di awal deh daripada dibelakangnya. Soalnya kalau udah nikah pasti udah tambah susah buat lepasnya banyak hal yang harus dipertimbangkan, Ssa" ucap Janu dengan lembut dan menepuk pundak Larissa dengan perlahan. "Benar banget, Mas. Doain ya semoga aja jawaban yang diberikan bisa membuat aku ambil jalan yang terbaik untuk hubungan kita ini ya. Takut banget aku Mas kalau bayangin yang jelek-jeleknya nanti gimana ya aku bisa ngehadepinnya. Mana lawan aku lumayan tempramen parah begitu," ucap Larissa dengan memijat batang hidungnya dan mendangakkan kepalanya. "Iya pasti aku bakalan doain yang terbaik buat kamu. Pokoknya kamu yakin aja apa yang ditunjukkan tuhan kepada kamu. Itu pasti adalah jawaban yang terbaik nantinya untuk kelangsungan hidup kalian berdua," ucap Janu dengan mantap. "Amin deh. Thank you so much pakai banget deh Mas Janu udah ngasih petuah di pagi hariku ini. Oh iya udah sarapan belum, Mas?" ucap Larissa dengan menyunggingkan senyumannya. "Ya Sama-sama, Ssa. Tadi di rumah udah makan roti sih. Kenapa emangnya? Kamu belum sarapan po sama Pandu tadi?" jawab Janu dengan mengernyitkan dahinya. "Iya, Mas. Nggak sempat sarapan tadi takut dia telat sampai kantor karena ngejar waktu buat ketemu sama Pak Dadang itu lho. Join bareng pesan Oh-food yuk, Mas. Mau makan apa?" ucap Larissa dengan mata yang berbinar. "Oalah. Ya udah kalau mau pesan Oh-food. Aku ngikut aja kamu mau makan apa beliin yang samaan aja, Ssa" balas Janu sembari kembali menatap ke komputernya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN