"Aku duluan turun ya, Yang, Mbak Ghina!" ucap Larissa dengan menatap ke arah dua orang yang berada di suatu lift bersamanya.
"Oh udah sampai lantai empat toh, Ya udah kalau gitu Yang. Kamu semangat ya buat kerjanya. Nanti untuk pulangnya aku kasih kabar lagi ya," balas Pandu dengan mengacak lembut rambut Larissa.
"Hmm, Kamu juga semangat dan hati-hati ya buat perjalanan ke Bekasi nya, Yang. Pokoknya kalau apa-apa harus laporan ya!" ucap Larissa dengan tegas dan menatap ke arah Pandu dengan lembut.
"Haha, Siap-siap! Pokoknya nanti dari berangkat sampai pas mau pulang lagi ke sini pasti aku kabarin sama bikin spam bunyi handphone kamu, Yang," ucap Pandu dengan menyunggingkan senyuman sumringah dan terkekeh.
"Ya udah. Bye bye! Nanti ketemu banyak karyawan lainnya yang pada antri mau naik ke lift ini. Malah kasian mereka nggak jadi naik karena segan sama kita," ucap Larissa dengan tersenyum tipis.
"Oke, Yang! Kami berdua ke atas dulu ya untuk ke ruangan Pak Dadang dan sekaligus untuk ke ruangan kita berdua," ucap Pandu dengan memberikan hormatnya kepada Larissa.
Setelah lama bercengkrama dengan Pandu dan Ghina. Ntah kenapa ini seperti ada sesuatu yang menurutnya kurang ataupun mengganjal dari kepribadian Ghina. Pagi ini Ghina saat melihatnya sangatlah berbeda dibandingkan kemaren first impression nya. Pagi ini dia terlihat menjadi sangat dingin sekali. Tak hanya itu bahkan sama sekali seperti tidak menggubris keberadaan Larissa selama di lift tadi.