SABAR

1028 Kata
Akhirnya pada pukul tujuh lebih dua puluh menit mobil milik Pandu telah memasuki pelataran tempat parkir yang berada di depan Gedung PT. Arta Citra Pusaka. Larissa melihat sekeliling kantornya. Ya, benar saja sudah tertebak pastinya akan masih sepi dikarenakan jam masuk kantornya terjadwal pada pukul delapan pagi dengan masa waktu toleransi terlambat adalah maksimal sepuluh menit. "Masih rada sepi ya, Yang? Kantin udah buka atau belum ya?" tanya Pandu sembari melepas seat belt yang ia gunakan dan kemudian dilanjut dengan berkaca pada spion tengah untuk merapikan rambutnya. "Kalau dilihat dari parkiran sama lobby sih sepi, Yang. Tapi nggak tahu juga kalau udah pada di ruangan sama mereka parkirnya di basement. Setahuku malah biasanya baru siap-siap jam setengah delapan, Yang. Soalnya kalau pagi pada jarang ke kantin deh. Kalau divisiku karena pada mager buat ke kantin yang rada di belakang akhirnya pada milih buat Oh-food aja ntar dititipin ke Pak satpam terus dianter deh sama Pak Satpamnya, haha" ucap Larissa dengan terkekeh. "Pantesan ya kalian pada akrab banget sama tukang satpam kantor kita. Udah terkenal sih Divisi keuangan, Divisi Pembangunan, dan Divisi Perencanaan tuh yang sukanya jajan di luar, Yang" ucap Pandu dengan menyunggingkan senyum geli dan menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Ya gimana ya. Kan mumpung beli di luar ya udah deh jadi pada nitip jadi satu sekalian. Biar ongkirnya juga bisa ditanggung bersama lho, Yang" ucap Larissa dengan melepaskan seat belt yang ia gunakan dan memakai high heels nya dengan benar. "Haha, Iya deh iya. Kamu tuh kalau mode judes dan ngambek gini tuh lucu deh, Yang" ucap Pandu dengan gemas serta mencubit pipi Larissa. "Hih! Hobi kamu tuh sukanya ya cuma godain aku biar ngambek ataupun kesel kan kerjaannya. Udah yuk keluar! Ntar dikirain kita malah ngapain lagi kok lama di mobil dan nggak buruan turun-turun dari tadi pas datang,Yang" ucap Larissa dengan tegas dan menatap ke arah Pandu tajam sembari melepaskan cubitan pria tersebut dari pipinya. "Haha, Iya deh iya kanjeng Ratu Istanaku!" ucap Pandu dengan tawanya dan mengacak rambut Larissa. "Hey! Kamu tuh, Yang! Jadi berantakan lho rambutku," ucap Larissa dengan merengut dan mengamati rambutnya dari kaca spion tengah dan kemudian memukul bahu Pandu dengan bogeman nya yang tidak seberapa tenaganya dibandingkan oleh Pandu tersebut. "Haha, Sini abang rapiin, Dek! Kan abang yang bikin salah. Maaf ya, Dek" ucap Pandu dengan nada yang dibuat-buat genit. "Ish, bisa diam tidak itu mulut. Geli tahu abang adek. Udah deh kita buruan keluar aja. Kamu kan juga mau ketemu sama Pak Dadang kan, Yang? Emangnya jam segini beliau udah datang?" ucap Larissa dengan merapikan baju yang ia kenakan dan kemudian membuka pintu mobil Pandu. "Ampun dah aku nggak bisa nahan ketawa pagi ini, Yang. Kamu lucu banget dan mood boster ku buat bekal ke Bekasi sih ini. Iya, Janjiannya sih pagi ini aja. Beliau katanya kemaren di chat sih bilangnya jam tujuh diusahakan sudah sampai di kantor terlebih dahulu sih dibandingkan kita," balas Pandu yang juga membuka pintu mobilnya dan menenteng tasnya yang berisi peralatan-peralatan kerjanya. "Oh jadi alasan kamu maksa buat jemput aku ternyata karena ini? Pagi banget ya tuhan! Ya udah gih buruan kamu samperin beliau, Yang" ucap Larissa dengan menatap Pandu. "Haha, Kan emang udah rutinitas aku buat antar jemput kamu kan selama masa hubungan kita ini berjalan, Yang. Agak ntaran juga nggak papa sih. Aku cuma tugasnya ketemu sama Pak Dadang tuh buat minta file perencanaan sama berkas penandatanganan MOU gitu lah, Yang. Soalnya untuk proyek ini yang bertanggung jawab kan Bidang Perencanaan jadi kami sebagai humas hanya menghubungkan diantara keduanya aja. Nanti juga anak buahnya Pak Dadang ada yang ikut ke Bekasi kok," balas Pandu sembari menggandeng tangan Larissa, "Yuk kita masuk, Yang!" ucap Pandu dengan menyunggingkan senyumannya. Larissa dan Pandu berjalan beriringan dengan gandengan tangannya untuk memasuki Gedung Kantor PT. Arta Citra Pusaka. "Pagi Mas Pandu dan Mbak Larissa!" ucap Pak Satpam yang berjaga di depan pintu lobby Gedung PT. Arta Citra Pusaka. "Pagi Dino. Masih sepi ya ini?" sapa Pandu dengan menepuk pelan bahu Dino. "Beberapa sudah ada yang hadir, Pak. Ada yang sudah ke ruangan dan ada juga yang masih di Lobby," ucap Dino memberikan penjelasan dengan tenang dan tanpa berbelit. "Oh oke. Thank you ya, No. Saya parkir di depan karena cuma mampir sebentar aja. Nanti setelah itu saya ada tugas ke Bekasi kok," ucap Pandu sembari menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir rapi pada halaman parkir Gedung PT. Arta Citra Pusaka. "Sama-sama, Pak. Oh, Baik. Tidak apa-apa kok, Pak," ucap Dino dengan menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kami masuk dulu ya, Bang Dino. Semangat buat jaganya!" ucap Larissa dengan semangat dan mengepalkan tangannya sebagai isyarat bahwa dia memberikan semangat pada Dino. "Siap, Mbak Larissa! Tadi Mas Janu sudah datang, Mbak" ucap Dino dengan memberikan hormat kepada Larissa. "Oke, dah. Nanti kalau kami mau pesan Oh-food minta tolong diantarkan ke atas ya, Bang! Ya udah kita masuk dulu ya," ucap larissa dengan menyunggingkan senyumannya. "Oke siap, Mbak! Mari!" ucap Dini dengan membukakan pintunya untuk Pandu dan Larissa dengan lebar. Saat sudah memasuki Lobby. Ternyata sudah ada beberapa pegawai yang hadir dan duduk-duduk pada kursi-kursi yang disediakan oleh kantor untuk para tamu. "Ndu! Ssa!" panggil seorang wanita sembari melambaikan tangannya saat Pandu dan Larissa melewati wanita tersebut. "Oh kamu udah datang, Ghin?" ucap Pandu sembari menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Ghina. "Iya, Ndu. Aku takut terlambat kalau berangkatnya agak siangan dikit. Toh kita semua kan harus berangkat ke Bekasi jam delapan kan katanya Azil kemaren," ucap Ghina dengan menyunggingkan senyuman tipisnya. "Iya juga sih ya. Soalnya kan jauh juga dari apartemen kamu. Ya udah ayok ke atas. Yang lainnya pada belum datang ya?," ucap Pandu menyetujui perkataan Ghina. "Iya eh. Aku mau ke atas takut soalnya masih sepi. Dan yang lainnya aja masih pada di sini," ucap Ghina dengan berdiri dari duduknya sembari merapikan bajunya yang sedikit kusut saat duduk. Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam lift. Sedangkan Larissa sedari tadi hanya terdiam saja. Karena entah mengapa Pandu dan Ghina malah lebih asyik membahas pekerjaan mereka sedangkan Larissa pun juga bingung jika harus ikut nimbrung dalam percakapan mereka berdua. Entah mengapa Larissa kok merasa kurang sreg dengan wanita yang bernama Ghina tersebut. Dan yang tak lain adalah seniornya pula pada kantor tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN